Lotus Of East Palace

Lotus Of East Palace
Chapter 24 (Elias)


__ADS_3

"Pergi lah ke puncak gunung Reux di Montreux. Temui seorang wanita yang tinggal di sana, dan minta dia untuk ikut denganmu ke sini. Perlakukan dia dengan baik dan penuh hormat seperti caramu memperlakukan ibumu. Katakan Naga Api Agung membutuhkan bantuannya segera."


Itulah perintah dari Xavier. Di saat kami seharusnya mencari Yeon-Hwa, dia justru memerintahkanku untuk pergi jauh ke Montreux, menemui wanita yang tinggal di atas gunung bersalju.


Sudah berhari-hari berlalu sejak kepulangan keluarga Kaisar ke Jungdo, tapi aku masih belum bisa menemukan Yeon-Hwa. Aku ingin membawa pasukan serigala dan melepas mereka ke seluruh penjuru Orient untuk menemukannya, tapi Xavier melarangku dengan alasan keberadaan mereka bisa menyulut pertikaian dengan kekaisaran. Jadi Xavier memintaku bersabar dan menyerahkan tugas mencari Yeon-Hwa pada Naga Kembar. Aku pun tak bisa menentang perintahnya.


Sudah seminggu lebih berlalu dan tak satu pun dari Naga Kembar terlihat di Dong-gung. Entah itu artinya mereka berhasil menemukan Yeon-Hwa namun kesulitan membawanya kembali, atau mereka tertangkap dan justru dalam bahaya. Dua-duanya sama buruknya. Tapi Xavier tampak tenang seolah dia dapat mengendalikan keadaan yang sedang kacau ini. Aku tak benar-benar yakin padanya, tapi aku harus percaya padanya.


Satu hal yang kuyakini, Yeon-Hwa belum mati. Dia pasti masih hidup. Ayahku pernah berkata, saat salah satu dari pasangan jiwa mati, maka pasangannya pasti akan merasakannya. Setidaknya perkataan ayahku itu bisa membuatku tenang.


Jadi aku pergi ke Montreux dengan berteleportasi. Sial. Aku lupa kalau dinginnya udara di sini bisa mematikan. Aku lupa memakai pakaian tebal dan masih memakai hakama.


"Halo, apakah ada yang bisa kubantu?" Suara seorang perempuan mengejutkanku.


Aku berbalik dan melihat perempuan itu di sana. Seorang wanita dewasa yang kuperkirakan usianya tidak jauh dariku. Tidak juga. Semakin kuperhatikan, dia terlihat semakin muda. Kulitnya bersinar seolah dia baru saja menelan cahaya matahari. Dia mengenakan gaun putih yang sederhana dan tidak mengenakan perhiasan apa pun. Rambutnya yang panjang hingga mata kaki berwarna emas dan dihiasi berbagai bunga yang juga tumbuh di sekitarnya. Wanita itu sedang menyirami tanaman-tanamannya. Aku baru ingat bahwa sekarang aku berada di puncak gunung Reux. Normalnya, tidak ada tanaman yang dapat tumbuh di tanah ini. Tapi nyatanya, kini kakiku berpijak di atas hamparan padang rumput hijau dengan berbagai tanaman dan bunga-bunga yang tumbuh subur.


Wanita itu tersenyum saat melihatku kebingungan. "Elias Winterthur, pewaris Grand Duke Winterthur, benar?" Tanyanya. Aku mengangguk. Kali ini senyumannya bertambah lebar. "Kau perpaduan sempurna ayah dan ibumu. Wajah ibumu, dengan warna mata dan warna rambut milik ayahmu. Bagaimana kabar Wolfgang dan Lilithier?"


Aku masih membisu. Aku sama sekali tak mengenalnya, tapi dia sepertinya sangat mengenalku dan orang tuaku. "Maaf, apakah saya seharusnya mengenal Anda, Lady?"


"Terakhir kali kau melihatku, usiamu masih tiga tahun. Jadi mungkin kau tidak akan mengingatku."


Aku berusaha mengingat-ingat siapa dirinya, tapi tidak berhasil. "Maaf, saya sama sekali tidak ingat."


"Namaku Lucielle. Aku dulu bekerja di Istana sebagai ahli herba kerajaan."


Oh. Sekarang aku tahu. "Raja Vlad mengusir Anda dari Istana karena—“


"Gagal menyembuhkan Ratu Irene." Dia memotong perkataanku. Ekspresinya berubah sedikit muram saat mengatakannya. "Benar."


"Tapi kau masih sangat muda. Dan kejadian itu sudah dua puluh tiga tahun yang lalu."


"Lebih tepatnya, aku tidak menua." Ucapnya sambil kembali tersenyum. "Oh, kau pasti kedinginan di luar sini. Kenapa kau berpakaian seperti orang timur? Pakaian itu tidak cukup untuk menghalau dinginnya udara di atas sini. Ayo cepat masuk ke dalam." Katanya. Padahal dia sendiri mengenakan gaun tipis yang sama sekali tak cocok dikenakan di iklim dingin membekukan puncak gunung Reux.


Lucielle mengajakku masuk ke pondok kecilnya yang terbuat dari kayu. Dia tinggal seorang diri di atas gunung bersalju ini hanya bermodalkan tanaman-tanamannya. Bagaimana bisa?


Aku memperhatikan rumah kecil itu. Ini bahkan tidak pantas disebut rumah. Entah karena aku kurang teliti, tapi aku tidak melihat ada perapian sama sekali di dalam rumah ini. Meski begitu, anehnya rumah ini terasa hangat. Tidak ada ruangan apa pun, hanya ada beberapa perabotan besar seperti lemari dan rak-rak kayu yang memisahkan antara tempat tidur dengan sofa ruang tamu. Hampir semua perabot yang ada di rumah itu terbuat dari kayu. Di langit-langit rumah itu tergantung bunga-bunga berwarna pastel—beberapa sudah hampir kering sehingga warnanya menjadi cokelat—yang membuat rumah kecil itu dipenuhi aroma yang menyenangkan seperti aroma seperti taman bunga Schiereiland di musim semi. Di salah satu sisi ruangan itu terdapat sebuah rak yang sangat besar dipenuhi berbagai buku yang tampak sudah tua dan lapuk. Di depan rak tersebut, terdapat sebuah meja panjang yang di atasnya terdapat banyak sekali gelas-gelas kaca dan toples-toples kaca berisi cairan beraneka warna. Di sekitar meja tersebut terdapat dua buah kursi kayu yang tinggi. Dia mempersilahkanku duduk di sana.


"Kau mau meminum sesuatu?" Tanyanya saat melihatku sedang memperhatikan cairan beraneka warna itu.


"Aku pernah melihat yang seperti ini di rumah saudari kembarku." Kataku akhirnya setelah selesai mengamati cairan-cairan aneh itu.


"Eleanor kecil sepertinya sudah tumbuh menjadi penyihir yang pintar dan hebat. Oh, apa harusnya aku menyebutnya Baginda Ratu sekarang?" Dia kemudian sibuk memasukkan berbagai cairan ke dalam sebuah gelas dan mengaduknya. Dia mengambil gelas lain, menakar beberapa cairan beraneka warna itu dan mencampurnya lalu memanaskannya di kuali, di atas tungku—aku sekarang mengerti kenapa rumah ini terasa hangat. Aroma ruangan langsung berubah mirip aroma yang kukenal tapi aku tak tahu apa—aroma yang hangat, menyenangkan dan memabukkan. "Apa keadaannya baik?" Tanya Lucielle sambil mengaduk-aduk isi kuali, tak sedikit pun beralih dari kualinya.


"Aku sudah lama tak bertemu dengan Elle. Tapi sepertinya dia baik-baik saja." Karena kalau tidak, aku pasti sudah tahu.


"Temuilah dia barang sebentar. Dia pasti merindukan saudara kembarnya." Lucielle kemudian mengambil segelas cairan panas dari dalam kuali dan meniupnya. Saat ditiup, cairan yang tadinya berwarna keemasan itu berubah menjadi kelabu. Dia memasukkan cairan kelabu itu ke dalam sebuah botol dan menyerahkannya padaku. "Berikan itu padanya. Bagus untuk kesehatannya. Kudengar dia sedang mengandung. Meskipun anak itu tidak akan menjadi pewaris takhta kerajaan, anak itu tetap berharga. Kau harus menjaganya. Lindungi saudari kembarmu."


Aku segera menyimpan botol itu di kantung yang kubawa. Aku tidak akan bertanya bagaimana dia tahu tentang semua itu padahal dia tampak hidup terisolasi di atas gunung ini. Ada sesuatu yang aneh dan mistis tentang wanita yang tidak menua yang tinggal seorang diri di atas gunung bersalju ini. "Terima kasih banyak. Aku akan memberikan ini padanya nanti. Tapi, ada sesuatu yang lebih mendesak sekarang."


Lucielle tampak bingung. "Kupikir kau datang ke sini karena ingin meminta ramuan itu untuk saudari kembarmu. Dugaanku ternyata salah ya?"


"Aku sangat berterima kasih atas ramuan ini. Tapi, aku datang ke sini karena diutus untuk membawamu ke Orient. Naga Api Agung membutuhkan bantuanmu segera."


...****************...


Aku berhasil membawa Lucielle ke Dong-gung, dan wanita misterius itu, entah bagaimana caranya atau apa yang dia lakukan, berhasil membuat Ratu Anastasia menjadi sehat seperti sebelum dia hamil.


"Kupikir kau sedang menunggu bantuan dari Klan Huang." Kataku pada Xavier di suatu pagi setelah aku selesai mengantarkan Lucielle kembali ke puncak gunung Reux. "Kenapa kau tak bilang kalau kau mengenal seseorang seperti itu? Dia... bukan manusia biasa kan?"


"Shuu tidak kembali." Katanya sambil setengah melamun. Dia terdengar seperti orang yang baru saja kehilangan putranya. "Aku sudah menunggunya selama dua hari, tapi dia tidak kembali."


"Jadi kau mengutus Shuu untuk pergi ke Istana Klan Huang? Kupikir kau menugaskannya untuk mencari Yeon-Hwa."


"Maaf aku tak menceritakannya padamu." Katanya. Pandangannya tampak menerawang, tidak benar-benar menatapku. Ada rahasia yang belum dia beritahukan padaku. Kali ini aku tak menyela, aku menunggunya mengatakan kalimat selanjutnya dengan kesabaran yang dipaksakan. "Kami sudah menemukan Yeon-Hwa."


Refleks aku langsung berdiri, bersiap untuk pergi. "Di mana dia sekarang?"


"Duduk lah, akan kuberitahu kalau kau tenang."


Jadi aku duduk. "Di mana dia sekarang?"


"Istana Giok."


"Jadi dia selama ini ada di Jungdo?"

__ADS_1


"Benar." Katanya. Tapi dia menunduk seperti sudah melakukan kesalahan. Aku baru menyadari sejak tadi dia tak berani menatapku.


"Kenapa dia ada di Istana Giok? Kau memberinya tugas baru?" Aku memastikan nada bicaraku tetap tenang, padahal aku sama sekali tidak tenang. Gelagatnya menyatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Jadi bagaimana bisa aku bersikap tenang-tenang saja.


"Tidak. Dia tertahan di sana. Dia tidak bisa pergi dari sana untuk sementara waktu."


"Aku tak mengerti. Kau tinggal menyuruh Naga Kembar untuk menjemputnya. Kau bisa memerintahkanku dan aku bisa pergi ke sana sekarang juga. Kenapa kau bilang tidak bisa?"


Xavier menatapku. Ada penyesalan dalam mata emerald itu. Dia biasanya jarang menyesal terhadap apa pun yang berhubungan denganku. Tapi kali ini dia benar-benar menyesal. Sesuatu benar-benar sedang terjadi.


Kemudian dia menceritakan semuanya. Setiap kata yang keluar dari mulutnya, setiap fakta yang baru dia beberkan, terasa seperti hantaman bagiku. Semakin banyak informasi yang kudengar, semakin terasa tak nyata, semakin sulit bagiku untuk mencernanya. Bagaimana bisa dia tak memberitahukan semua itu padaku sejak awal?


"Aku akan ke sana. Aku akan menjemputnya tak peduli apa yang kau katakan. Aku harus menjemputnya sekarang." Tanganku terkepal, menahan diri sendiri untuk tidak langsung menerjang menerobos masuk ke dalam Istana Giok. Aku tahu betul bahwa saat ini kami tidak boleh bertindak buru-buru dan harus memikirkan semua konsekuensinya. Tapi aku tidak bisa diam saja. Ini terkait Yeon-Hwa.


"Kau hanya akan membahayakan nyawanya dan membahayakan dirimu sendiri. Untuk saat ini, percayakan semuanya pada Kaze. Dia bisa menjaga Yeon-Hwa di sana."


"Kau memintaku untuk mempercayakan nyawanya pada gadis kecil berusia tiga belas tahun? Kau tidak serius kan? Jangan melarangku. Aku harus pergi sekarang."


"Kaze bukan sekedar gadis kecil berusia tiga belas tahun. Dia Naga Angin. Dan kau tidak akan pergi ke sana. Kau tidak akan menentangku, Elias."


"Kau tidak berhak melarangku!"


"Aku masih Rajamu!"


"Dia pasangan jiwaku, Xavier!"


"Dan dia adalah prajurit Nordhalbinsel. Dia mata-mata kita yang handal. Dia ksatria wanita Montreux. Dia bisa melakukan tugasnya, dan kita harus percaya padanya. Jika kau pergi ke sana, kau hanya akan menambah rumit keadaan. Jika mereka melihatmu, mereka bisa memanfaatkan ini untuk menyerang kerajaan kita. Sudah cukup kita berkonflik dengan mereka karena kematian Pangeran Yi. Jangan menambahkan masalah."


"Kematian Pangeran Yi bukan kesalahan kita. Bukan Elle pelakunya."


"Kita tidak bisa membuktikannya, bukan?"


Xavier memang benar. Seyakin apa pun kami bahwa Elle tidak membunuh Pangeran Yi, akan percuma jika kami tak bisa membuktikannya. Dan Aku mengerti bahwa keberadaan Yeon-Hwa di sekitar Haru mungkin dapat membantu untuk mendapatkan bukti bahwa Elle tak bersalah. Tapi bagaimana jika Yeon-Hwa benar-benar menikah dengan Haru? Dan bagaimana jika mereka juga membunuh Yeon-Hwa?


"Biar aku saja yang ke sana." Itu suara Ratu Anastasia.


Aku menoleh ke belakangku, ke arah tangga menuju lantai tiga. Sang Ratu berdiri di atas tangga. Dia sudah mengenakan pakaian khas Orient—Yeon-Hwa menyebutnya hanbok. Dia membiarkan rambut merahnya yang kini sudah panjang digerai namun tetap tertata dengan rapih. Rona wajahnya membuatnya terlihat sangat hidup dibanding berhari-hari sebelumnya. Dengan langkah mantap dia menuruni anak tangga seolah belum pernah terbaring selama berhari-hari di atas tempat tidur. Dia terlihat sangat sehat dibanding kapan pun.


Ratu Anastasia berhenti di hadapanku. Aku, secara otomatis, menunduk penuh hormat padanya.


"Dia terlibat karena aku. Karena aku yang pertama menugaskannya. Biarkan aku yang bertanggung jawab." Kata Ratu Anastasia. Dia mengalihkan pandangannya dariku ke Xavier. Xavier tampak sangat tidak setuju dengan perkataannya.


Ratu Anastasia mengernyit bingung, "Kenapa aku harus pergi ke Westeria?"


"Ya. Kenapa dia ke Westeria jika dia memang bisa melakukan sesuatu untuk membebaskan Yeon-Hwa dari Istana Giok dan rencana gila Ibu Suri? Biarkan dia pergi ke Istana." Kataku. Aku tidak bisa menahan emosiku.


"Diam, Elias." Xavier memperingatkan.


"Aku bukan anjingmu. Jangan menyuruhku diam."


"Kau serigalaku. Aku Rajamu dan dia Ratumu. Kau akan patuh pada perintah, dan istriku tidak bisa masuk ke Istana Giok. Risikonya terlalu besar."


Aku tidak bisa tenang lagi. Aku menggebrak meja yang ada di antara kami, membuat Raja dan Ratuku terkejut. "Yeon-Hwa menghadapi risiko besar itu sekarang!"


Untuk sesaat, keduanya tampak diam. Xavier tampak menahan emosinya, sedangkan Sang Ratu tampak terkejut. Aku jadi menyesal meninggikan nada suaraku di hadapan Sang Ratu.


Ratu Anastasia meraih tangan suaminya itu, membujuknya, berusaha meredakan suasana yang menegang di antara kami. Dia bicara dengan sangat lembut, "Elias benar, sayang. Biarkan aku menjemput Yeon-Hwa. Aku bisa menyamar menjadi Diana, menjadi salah satu dayang. Lagi pula mereka mencari Ratu para naga. Aku lah yang mereka cari. Dan jika ketahuan, aku bisa melawan mereka. Aku masih punya pedang pemberianmu. Biarkan aku pergi ke Istana Giok."


Xavier tampak bimbang. Aku mengerti perasaannya. Dia tidak mau istrinya berada dalam bahaya, sama seperti aku tak ingin pasangan jiwaku dalam bahaya.


"Tidak." Dia menggeleng. "Kau sedang hamil, Anna. Jangan—“


"Aku hamil, bukan sekarat." Kata Sang Ratu dengan tegas. Dia tampak menahan amarah. Tapi matanya berkaca-kaca seperti menahan air mata. "Aku masih bisa bertarung. Berhenti memperlakukanku seolah aku tak berdaya. Bukan aku yang sedang sakit. Aku tahu kau berencana datang ke sana sendiri. Kalau kau saja masih bisa bertarung, maka aku juga bisa. Aku tidak akan membiarkanmu pergi, jadi biarkan aku saja yang ke sana."


Jantungku hampir berhenti. Aku terdiam saat menyadari kata-kata Ratu Anastasia seolah menyiratkan bahwa dia sudah tahu. Dia tahu tentang kondisi Xavier.


"Apa maksudnya itu?" Xavier menoleh padaku, menuntut penjelasan seolah aku melakukan suatu kesalahan. Lalu dia kembali menatap istrinya, "Apa maksudmu, Anna?" tanyanya dengan hati-hati.


Suara Sang Ratu tercekat, air matanya menggenang di pelupuk mata, "Kau yang sedang sakit. Kau yang sedang melawan racun itu. Kau yang sekarat, bukan aku. Aku sudah tahu, Xavier. Jadi berhenti pura-pura baik-baik saja di hadapanku, kau boleh mengeluh padaku, jangan menahannya. Kau boleh mengandalkanku. Dan berhenti menghadapi semuanya seorang diri seolah kau tidak punya siapa-siapa di sisimu."


"Aku bersumpah aku tak mengatakan apa pun padanya." Jawabku langsung sebelum Xavier menuduhku.


Xavier tampak kehilangan kata-kata. Dia menatap istrinya dalam diam.


"Ludwig yang memberitahuku." Kata Ratu Anastasia. "Aku sudah tahu sejak lama. Bahkan sebelum aku memintamu untuk melamarku malam itu saat festival seribu bintang. Aku menunggumu memberitahuku karena aku cukup yakin kau takkan merahasiakan apa pun lagi dariku. Dugaanku salah."

__ADS_1


"Anna..."


"Kau tidak memberitahuku! Kau membiarkanku tak tahu apa pun tentang kondisimu yang sebenarnya!" Sang Ratu berteriak dan menangis di saat bersamaan. Marah dan sedih di saat yang sama. Dan aku tak tahu harus bagaimana. Inilah yang kutakutkan, Ratu bisa mengetahui tentang hal ini dari orang lain dan dia pasti akan sangat kecewa dan marah. Sang Ratu menoleh ke arahku, tatapannya mampu membuatku sekalipun takut, "Jadi kau juga sudah tahu tapi tak memberitahuku?" Katanya padaku. Sekarang aku jadi merasa bersalah karena turut merahasiakannya. Padahal aku hanya menjalankan perintah.


Xavier menunduk, tampak sangat bersalah, "Jangan salahkan Elias. Itu salahku. Maafkan aku, Anna. Aku hanya—“


"Kau pikir bagaimana perasaanku saat mengetahui hal itu dari mulut orang lain? Orang lain tahu, tapi aku tidak. Kau pikir bagaimana rasanya saat tahu kau mengalami semua itu? Kau menderita sendirian dan menyimpan semuanya sendiri. Harusnya kau beritahu aku sejak awal jadi aku bisa membantumu. Aku bisa berusaha melakukan apa pun untuk menyembuhkanmu." Tangisnya. Aku tak yakin harus memberikan sapu tanganku atau tidak, tapi tepat sebelum aku memutuskan, Xavier sudah memeluknya.


"Kau tidak bisa. Kau sudah mencoba. Kau sudah berusaha. Tapi tidak ada yang bisa kau lakukan. Aku tahu kau akan begini makanya aku masih mencari cara untuk memberitahumu tanpa membuatmu khawatir. Maafkan aku."


"Jangan meninggalkanku."


"Aku tidak ke mana-mana."


"Kau harus melawan racun itu. Kau harus bertahan. Kau harus sembuh. Kita akan menyingkirkan racun itu bagaimana pun caranya."


Xavier tidak mengatakan apa pun. Kuduga karena dia sendiri juga tidak bisa menjanjikannya. Tapi jika informasi dari Yeon-Hwa benar, jika Ludwig memang bisa membuat penawar racunnya, mungkin ada harapan untuknya. Aku masih belum memberitahu Xavier tentang informasi itu karena aku takut membangkitkan harapannya.


"Apakah sakit sekali rasanya? Saat racun itu menguasaimu, apakah sakit?" Tanya Sang Ratu di sela isak tangisnya yang mulai mereda.


"Sama sekali tidak."


Ratu melepaskan diri dari pelukan Xavier dan memukulnya pelan, "Dasar pembohong." kemudian dia menoleh ke arahku, "Apakah dia kesakitan?"


"Benar." Jawabku langsung. Aku tidak mau lagi membohonginya. Lebih tepatnya, aku tidak bisa.


"Tidak benar." Sanggah Xavier. "Saat kau ada di dekatku, aku tidak merasa sakit sama sekali. Racunnya takut padamu."


"Jadi selama ini saat kita terpisah... Saat aku berada di Schiereiland dan kau di Istanamu..."


"Dia sampai muntah darah beberapa kali dalam sehari. Terkadang darahnya keluar dari matanya juga. Terkadang dia sampai meringkuk di atas lantai dan menjerit karena tak sanggup menahannya." Aku membeberkan fakta. "Jika kau sedang tidak bersamanya, dia minum banyak sekali anggur untuk meredakan rasa sakitnya. Atau mungkin itu dia lakukan agar dia cukup mabuk untuk tidak merasakan apa pun."


"Elias!" Xavier memelototiku. Aku tak peduli. Aku tidak bisa berbohong pada Ratuku.


"Tatap aku dan jawab dengan jujur, saat racun itu sedang menyerangmu, seperti apa rasa sakitnya?"


Xavier menatapnya, tampak kesulitan menggambarkan rasa sakit yang dia rasakan. "Rasanya kematian terasa jauh lebih mudah dan menyenangkan." Dia akhirnya memutuskan untuk menjawab dengan jujur.


"Kau tidak akan mati. Kita akan mencari cara untuk mengeluarkan racun itu. Aku sudah meminta Saintess Lucia untuk mencari tahu caranya. Dia bilang itu sihir hitam yang sangat kuno sehingga dia membutuhkan waktu untuk mencari tahu cara mengeluarkannya." Kata-kata Ratu Anastasia terdengar seperti janji yang meyakinkan.


Tunggu. Siapa tadi katanya? "Saintess Lucia?" Aku terperangah. "Yang ada di kitab-kitab suci kuno itu? Yang membantu Ratu Agung—maksudku kau di masa lalu—untuk bertemu dengan keempat naga?"


"Lady Lucielle dari gunung Reux yang baru saja kau antarkan, wanita itu adalah Saintess Lucia." Xavier menjelaskan.


Sekarang semuanya jelas. Pantas saja wanita itu tidak tampak seperti manusia biasa.


"Kalau begitu, aku tidak akan pergi ke Istana Giok." Kata Sang Ratu. "Aku tidak mau meninggalkanmu dan membuatmu merasakan rasa sakit itu. Jadi biarkan Elias saja yang pergi ke Istana Giok. Lagi pula dia bisa berteleportasi, pasti lebih mudah jika dia yang pergi."


Xavier menghela napas, "Baiklah." Katanya. Dia beralih padaku, "Aku mengizinkanmu pergi ke Istana Giok. Tapi tidak sekarang. Ada hal penting dan mendesak yang harus kau lakukan terlebih dahulu."


"Apa? Katakan saja. Aku akan langsung melaksanakannya sekarang juga." Kataku dengan bersemangat. Aku sangat berterima kasih pada Ratu Anastasia karena berkatnya aku diizinkan pergi ke Istana Giok. Sebenarnya, aku akan tetap pergi ke sana bahkan meski Xavier melarangku. Tapi dengan cara seperti ini, aku jadi tidak perlu melanggar perintahnya.


"Kau harus bertemu dengan Maharani Sae-Byeok." Kata Xavier. Kali ini dia dan Sang Ratu sudah duduk di sofa yang ada di ruang tengah lantai dua ini. Padahal itu hanya sofa biasa, tapi entah bagaimana mereka membuatnya seolah mereka sedang duduk di singgasana. Kini mereka lebih terlihat seperti Kaisar dan Maharani Orient dengan pakaian itu—dan interior ruangan ini, daripada Raja dan Ratu Nordhalbinsel.


"Kenapa aku harus bertemu dengannya?" Tanyaku.


"Karena dia mengenalmu. Karena kau juga mengenalnya."


"Kau pasti salah. Aku sama sekali tak mengenal Sang Maharani. Aku bahkan belum pernah bertemu dengannya."


"Kau bilang Elias pasti mengenalnya." Kata Ratu Anastasia pada Xavier.


"Dia mengenalnya. Dia hanya lupa." Xavier beralih padaku lagi, "Kau yakin tidak mengenal Maharani Sae-Byeok? Bagaimana dengan Danika Lee?"


"Siapa—“ Aku baru mau bertanya lagi, tapi kemudian ingatan dari beberapa tahun yang lalu langsung menghantamku. Sial. Aku mengenal nama itu.


Dulu. Dulu sekali waktu aku masih remaja—aku tak ingat persisnya waktu umur berapa tahun mungkin dua belas atau tiga belas aku tak yakin, seorang gadis bernama Danika pernah membuatku menangis selama satu minggu. Bodoh, aku tahu. Kalau dipikir lagi sekarang, aku jadi ingin menampar diriku di masa lalu. Tapi waktu itu aku masih sangat muda. Danika adalah cinta pertamaku sekaligus patah hati pertamaku.


Aku bertanya-tanya bagaimana Xavier bisa tahu. Elle mungkin memberitahunya.


"Baiklah, aku mengenalnya. Apa hubungannya dengan Maharani Orient?" Tanyaku. Danika tidak lagi mengisi pikiranku sejak lama, aku bahkan hampir melupakan namanya. Tapi karena Xavier menyebutkannya, semua kenangan lama itu menyerbuku. Menyebalkan.


Danika, seingatku, bukan murni orang Nordhalbinsel. Kalau tidak salah ayahnya berasal dari Orient. Dia dan keluarganya pindah ke Nordhalbinsel karena terjadi pembantaian terhadap keluarga besar dari pihak ayahnya. Klan Lee. Pembantaian terhadap Klan Lee terjadi saat Qin mengambil alih pemerintahan dan membunuh Kaisar Lee yang merupakan ayahnya sendiri.


Danika Lee. Klan Lee. Lee Sae-Byeok.

__ADS_1


Aku tidak mau mendengar penjelasan dari Xavier, tapi Ratu Anastasia lah yang akhirnya mengatakannya padaku, "Danika Lee adalah Maharani Lee Sae-Byeok."


...****************...


__ADS_2