Lotus Of East Palace

Lotus Of East Palace
Chapter 6 (Elias)


__ADS_3

"Temukan Xavier. Jika sulit menemukannya, cari Putri Anastasia, beliau tahu dimana Xavier berada. Jika kau berangkat sekarang, kau mungkin bisa menemukan Putri Anastasia di Menara Schere. Kau harus membawa Xavier ke Istana Utama secepatnya."


Begitulah pesan dari Elle sebelum dia dimasukkan ke dalam penjara bawah tanah atas tuduhan pembunuhan terhadap Raja Vlad. Jadi pagi itu, meski matahari belum sepenuhnya terbit di atas langit kelabu negeri kami, aku beserta ratusan pasukan serigalaku baik yang sudah dewasa dan terlatih maupun yang masih kecil, muda dan susah diatur berlari ke Schiereiland.


Aku tidak berani menghitung korban jiwa. Lebih tepatnya, aku tidak bisa. Ada terlalu banyak korban jiwa baik di medan pertempuran di hutan duri mawar yang mistis nan aneh, maupun di sepanjang jalan menuju reruntuhan menara Schere. Yang paling membuatku sedih adalah kematian beberapa serigala dalam pertempuran itu. Mereka yang tewas adalah para serigala muda yang belum sepenuhnya terlatih. Aku mengenal mereka semua. Aku hafal nama dan wajah mereka semua serta alasan mereka bergabung ke Pasukan Serigala Winterthur karena aku yang merekrut mereka dan menerima sumpah mereka. Adrik yang berusia empat belas tahun baru bergabung setahun yang lalu karena ingin membawa kehormatan untuk keluarganya yang tinggal di desa. Dominik yang berusia dua belas tahun ingin mengikuti jejak mendiang ayahnya yang juga sudah lebih dulu menjadi anggota Pasukan Serigala. Ivan yang berusia tujuh belas tahun bergabung dengan Pasukan Serigala agar memiliki uang yang cukup untuk melamar gadis yang dia cintai. Maksim, Sergei, Viktor, Aleksei, Edmon, aku mengingat mereka semua sebagai adik-adikku yang harusnya dapat kulindungi. Mereka semua adalah tanggung jawabku.


Tidak hanya para serigala, aku juga harus menanggung kematian orang-orang yang tidak kukenal. Seorang pedagang yang baru akan berangkat ke pasar menjadi sarapan Demyan saat si pedagang lewat di depan si serigala cilik. Seorang wanita penghibur dengan aroma parfum menyengat yang sepertinya baru akan pulang menjadi santapan dua serigala lapar. Seorang anak, seorang kakek tua, seorang ibu, tua maupun muda, perempuan maupun laki-laki, siapa pun warga Schiereiland yang kebetulan berada di jalanan saat kami lewat tidak pernah sempat melihat matahari terbit pagi itu. Mereka semua mati. Itulah yang terjadi saat aku akhirnya membawa para serigala muda yang sulit dikendalikan untuk turun dari gunung Elbrus.


Kami pada akhirnya berhasil menemukan Xavier. Xavier pada akhirnya berhasil menjadi Raja. Dan Raja kami itu pada akhirnya berhasil menyelamatkan Elle dan orang tuaku dari hukuman mati. Mengulur waktu, lebih tepatnya. Kami belum sepenuhnya selamat dari pemenggalan. Tapi paling tidak, nasib kami jauh lebih baik dari puluhan, mungkin ratusan orang yang tewas pagi itu.


Setiap kali aku merasa bersalah atas semua kematian 'tidak disengaja' itu, setiap kali aku memikirkan betapa aku tidak bisa melatih para serigala atau memimpin mereka, ayah pasti akan berkata,


"Bukan salahmu. Tapi kau tetap akan terus merasa bersalah. Kau harus terus menanggung beban rasa bersalah itu. Dengan begitu kau tidak kehilangan rasa kemanusiaanmu."


Seolah kata-katanya akan bisa mengembalikan nyawa-nyawa yang telah hilang, aku mengangguk dan berhenti memikirkan semuanya. Itu memang salahku. Aku memang bertanggungjawab atas semua kematian itu. Aku tidak akan mengelak. Tapi aku tidak boleh selamanya terlarut dalam rasa bersalah itu dan tidak melakukan apa pun. Ada banyak tugas menanti. Dan yang hidup, harus tetap menjalani kehidupan. Aku mengingat moto hidup keluarga kami, Dingin seperti es, tajam seperti taring serigala, tak terpatahkan seperti pedang. Kami tidak diizinkan untuk berlama-lama terlarut dalam duka dan kesedihan.


Aku hidup untuk tugas-tugasku. Salah satu tugasku adalah melindungi negeriku dan Rajaku. Dan saudari kembarku serta keluargaku. Singkatnya, semua orang.


Honey Welsh, kunci untuk menemukan putri Seo-Hwa dan mencegah perang dengan Orient, menghilang. Elle bilang gadis itu mengambil cuti panjang untuk upacara peringatan kematian ibunya. Saat aku protes dan bertanya kenapa dia mengizinkannya, dia berkata,


"Kau sendiri yang meminta agar para pengawal ratu memiliki cuti yang bisa diambil kapan pun!"


Sial. Dia benar. Itu memang permintaanku.


Jadi di sini lah aku sekarang, di Istana Wisteria, di Westeria. Di hadapan Ratu Eugene yang muda belia, aku berlutut padanya.


Aku tidak dilahirkan untuk berlutut pada siapa pun. Klan Winterthur setara dengan keluarga kerajaan. Ratu-ratu Nordhalbinsel kebanyakan berasal dari keluarga kami. Bahkan meski kami adalah 'Anjing Raja paling setia', kami tidak berlutut pada raja kami. Ayahku tidak pernah berlutut di hadapan Raja Vlad sama seperti aku tidak pernah dan tidak akan pernah berlutut di hadapan Xavier. Harga diri kami terlalu tinggi.


Tapi aku rela membuang harga diri kelewat tinggi itu demi keselamatan kerajaanku serta orang-orang yang hidup di dalamnya jika harus.


"Baginda Ratu, saya membutuhkan bantuan Anda. Tolong, izinkan saya dan pasukan saya memasuki Westeria dan mencari seseorang."


Lututku perih. Aku lelah setelah berhari-hari belum tidur karena masalah-masalah yang ada di negeriku. Tapi untungnya, permohonanku pada akhirnya dikabulkan. Bukan karena nada memohonku dalam setiap kata yang kuucapkan, bukan juga karena aku berlutut pada Ratu Westeria, melainkan karena Pangeran Jeffrey, suami Ratu Eugene, adik tiri Xavier, meminta Sang Ratu untuk mengabulkan permintaanku.


Ada persyaratannya, tentu saja. Aku boleh membawa pasukan serigala memasuki Westeria tapi kami hanya boleh berkeliaran pada malam hari dan Ratu akan memberlakukan jam malam agar tidak ada warganya yang berkeliaran malam hari. Kami juga tidak boleh melukai warga Westeria. Untuk setiap satu nyawa warga Westeria yang tewas akibat taring kami, maka Ratu Eugene akan memberi hukuman mati pada satu serigala. Aku meyakinkan Ratu Eugene bahwa aku sendiri yang akan dihukum mati jika ada satu saja warga Westeria yang terluka.


Jadi malam ini aku hanya mengajak para serigala dewasa. Mereka sudah bisa mengendalikan diri untuk tidak mengacau maupun makan sembarangan.


Elle berhasil melakukan keahliannya sebelum penangkapannya malam itu usai kematian Raja Vlad. Kini aku tahu aroma Putri Lee Seo-Hwa. Seperti campuran antara lavender dan vanila, juga sedikit aroma... kue? Entah lah. Yang jelas aromanya manis dan terasa familier. Setiap manusia memiliki aromanya masing-masing yang unik dan berbeda, meski biasanya orang yang serumah atau sedarah memiliki aroma yang mirip. Jika kami tidak dapat menemukan Putri Seo-Hwa dengan melacak aromanya, paling tidak aku cukup yakin kami dapat menemukan orang yang tinggal serumah dengannya atau mungkin kerabatnya.


Ingat! Jangan melakukan hal yang tidak perlu. Kita mencari seseorang yang akan membantu kita, jadi jangan sampai dia terluka seujung jari pun. Perlakukan dia dengan baik dan jangan tunjukkan taring kalian. Jangan membuatnya takut. Kendalikan diri kalian.


Aku memberi komando sebelum kami mulai berkeliaran ke seluruh Westeria saat matahari mulai terbenam dan hari sudah gelap.


Malam tiba. Kami hanya punya waktu satu malam untuk dapat menemukan Putri Seo-Hwa. Saat matahari terbit esok, entah kami akan menemukan Putri Seo-Hwa atau kami akan pulang dengan tangan kosong. Xavier tidak akan senang jika kami gagal, tapi dia biasanya selalu punya rencana cadangan. Kuharap begitu.


Kami berpencar untuk memudahkan pencarian. Aku bisa memercayai mereka. Mereka sudah cukup terlatih, bahkan sebagian besar adalah rekan ayahku. Mereka pasti tidak akan melukai siapa pun. Semoga saja. Karena kalau tidak, saat matahari terbit nanti, meski aku bisa menghindari pemenggalan di Nordhalbinsel, aku tidak akan bisa menghindari entah hukuman mati macam apa yang ada di Westeria.


...****************...


Fajar hampir menyingsing. Tapi belum. Kami masih punya waktu satu jam sebelum matahari terbit untuk menemukan Putri Seo-Hwa. Dan kurasa aku akan berhasil. Dari aromanya, aku tahu kami sudah dekat.


Aku dan lima serigala yang ikut bersamaku pergi menuju wilayah kekuasaan Klan Ortiz, si pembaca pikiran. Kami telah sampai di Pueblo Azul. Desa Biru. Tapi karena langit masih gelap dan matahari belum bersinar, aku tidak yakin desa ini disebut biru karena apa, semuanya tampak kelabu.


Aku merasakan aroma itu kian dekat. Aroma putri Seo-Hwa. Lavender, vanila dan kue yang lezat seperti terbuat dari susu dan keju. Atau mungkin aku hanya sedang sangat lapar?

__ADS_1


Jenderal, ada manusia. Kata Erik, salah satu serigala yang sudah mengabdi pada keluarga kami sejak ayahku masih memimpin.


Aku mempercepat lariku ke depan. Saat sudah berada di samping Erik, barulah aku dapat melihatnya. Seorang manusia. Perempuan. Aku tidak bisa melihat wajahnya dari jarak sejauh ini. Rambutnya yang hitam panjang hingga pinggul mengintip dari balik kain yang dia gunakan untuk menutupi kepalanya. Dia sedang berjalan seorang diri di tengah kumpulan bunga—aku tidak tahu nama bunga itu karena di Nordhalbinsel tidak ada bunga selain Tulip kristal.


Bukankah Ratu Eugene sudah memperingatkan semua warganya untuk tidak keluar sebelum matahari terbit?


Mungkin dia tidak mendengar peringatan itu.


Mungkin dia dengar, tapi dia mengabaikannya.


Jangan dekati dia. Kita tidak boleh terlihat olehnya. Kataku.


Tapi, Jenderal... Aromanya...


Aku mengerti maksudnya. Aromanya... Tepat saat aku menghirup lebih dalam lagi, saat itu angin bertiup, menerbangkan kain yang menutupi kepalanya hingga jatuh ke pundaknya, dan menerbangkan aromanya padaku. Perempuan itu, siapa pun dia, memiliki aroma yang sama persis dengan aroma Putri Seo-Hwa.


Ini gila! Aromanya ternyata lezat sekali!


Aku tak tahu bagaimana yang lain merasakannya, tapi instring serigalaku bangkit dan hampir mengalahkan akal sehatku.


Aku baru akan memberi perintah untuk mendekati perempuan itu pelan-pelan agar dia tidak terkejut dan tetap mengawasi keadaan sekitar, sampai aku melihat dari arah berlawanan, seekor serigala sedang berlari menuju perempuan itu. Serigala yang lebih kecil dariku. Warnanya krem keemasan. Larinya sangat cepat.


Demyan!


Dengan cepat aku berlari menuju Demyan sambil terus  memperingatkannya agar berhenti berlari dan jangan mendekati perempuan itu. Tapi Demyan berbeda dengan para serigala dewasa yang kuajak malam ini. Dia masih sulit dikendalikan. Dia selalu lapar. Dan aroma perempuan di bukit biru itu memang benar-benar menggiurkan.


Demyan! Berhenti!


Aku menambah kecepatanku saat menaiki bukit menuju tempat perempuan itu masih berjalan pelan untuk menjumpai kematian di ujung taring serigala muda. Kenapa juga Demyan ada di sini? Seingatku aku tidak mengajak satu pun serigala muda. Dia pasti menyusup masuk di antara rombongan serigala dewasa. Seharusnya aku tahu anak itu tidak akan menuruti perkataanku.


Aku tidak akan sempat mengejarnya. Jarak di antara mereka terlalu dekat sedangkan aku terlalu jauh dari mereka. Aku hanya bisa terus meneriakkan perintah kepada Demyan yang sepertinya tidak mendengarkan.


Sampai akhirnya aku melihatnya dari kejauhan, ada seorang pria yang berlari menyusul perempuan itu. Pria itu memegang pedang. Kupikir dia mungkin akan melukai perempuan itu. Tragis benar, selamat dari taring serigala dia malah akan tewas oleh serangan seorang pria berpedang.


Dugaanku salah. Pria itu berlari melewati si perempuan. Pria itu berlari menuju Demyan dengan pedang terhunus.


"Appa!" Aku mendengar perempuan itu berteriak memanggil pria itu. Bahasa apa itu? Orient?


Seperti halnya Demyan yang tidak mendengarku, pria itu juga tidak mendengar si perempuan dan terus berlari maju. Larinya sangat cepat.


Kejadiannya berlangsung teramat cepat. Saat aku hampir sampai di dekat Demyan, pedang pria itu sudah mengoyak tubuh Demyan. Serigala kecil itu tumbang dengan suara lolongan yang menghancurkan hatiku. Aku dapat merasakan kematian yang sangat menyakitkan hanya dengan mendengarnya. Darah membanjir keluar menodai bulu-bulunya yang masih halus, menciprati bunga-bunga—yang kini kuketahui berwarna biru—yang mengelilinginya. Matanya terbelalak terkejut. Tapi sinar dalam matanya sudah hilang. Serigala kecil itu telah tewas.


Demyan!


Aku tidak peduli lagi. Aku berlari menerjang pria keji yang telah membunuh serigala termuda dalam pasukanku. Anak didikku. Adik kecilku. Taringku siap membalaskan kematiannya. Aku menubruknya hingga pria itu jatuh di bawah keempat kakiku. Saat aku menggeram padanya, sorot matanya yang kosong dan hampa gemetar ketakutan. Pria itu sudah tua, terlihat dari kerutan di sekitar bawah matanya, tapi dia belum setua ayahku. Rambutnya masih hitam tanpa uban. Dari matanya, aku tahu dia orang Orient.


Aku membuka mulutku, memperlihatkan deretan taringku yang merupakan perwujudan kematian paling mengerikan yang dapat dibayangkan siapa pun. Kematian yang akan segera dijumpai pria Orient itu. Kematian yang pantas untuk pembunuh keji seperti dia.


"Menyingkir dari ayahku!" Itu suara perempuan. Aku mendongak. Perempuan yang tadi, yang memiliki aroma Putri Seo-Hwa. Anehnya, dia menggunakan bahasa Nordhalbinsel dengan fasih dan aku mengenali suara angkuh itu. "Kubilang, menyingkir! Aku yang kau cari. Bukan beliau."


Aku mundur beberapa langkah, menjauhi pria Orient itu. Aku melakukannya bukan karena perintah dari perempuan itu, tapi karena aku terlalu terkejut pada apa yang kulihat. Berdiri di hadapanku, dengan pedang terhunus dan sorot mata penuh tekad seperti yang pernah kulihat, bukan Putri Seo-Hwa. Perempuan itu, yang memiliki aroma Putri Seo-Hwa, ternyata adalah Honey Welsh.


Bodohnya aku karena terlalu terkejut pada kehadirannya. Aku lengah. Itu murni kebodohanku. Saat aku masih mencerna semua ini, pria itu sudah berdiri dan menyerangku terlebih dahulu. Aku berhasil menghindar, tapi aku kurang cepat. Pedangnya berhasil menggores salah satu kaki depanku.


Tidak ada gunanya aku melawan jika Honey Welsh adalah orang yang selama ini kucari. Jika dia ternyata adalah Putri Seo-Hwa, sebaiknya aku bersikap baik padanya dan tidak melukainya. Xavier menginginkannya terjaga dan aman, tanpa luka maupun ancaman.

__ADS_1


Tapi dia terlalu muda. Aku tidak yakin usianya sudah mencapai usia dewasa. Gadis itu, Honey Welsh, terlihat sangat muda. Sedangkan menurut dataku, putri Seo-Hwa seharusnya sudah berusia lima puluh atau paling tidak hampir lima puluh tahun.


Aku segera merubah wujudku kembali menjadi manusia. Honey Welsh tampak terkejut.


"Jenderal? Kenapa—“


Aku mengangkat tanganku untuk menghentikan rentetan pertanyaan yang mungkin akan keluar dari mulutnya. Sial. Ternyata tanganku yang ini adalah yang tadi tergores pedang ayahnya. Aku meringis. "Sebelum kau bertanya lebih lanjut, aku ingin kau menjawab pertanyaanku terlebih dahulu. Apakah kau Putri Seo-Hwa dari Orient?"


Honey Welsh tidak langsung menjawab pertanyaanku. Sebagai gantinya, pria Orient yang membunuh Demyan, orang yang sepertinya adalah ayahnya, menanyakan sesuatu padanya dalam bahasa Orient. Aku hanya mengerti beberapa kata. Ada kemungkinan dia menanyakan siapa aku.


Mereka berbincang menggunakan bahasa Orient dengan lancar dan cepat sehingga aku tidak benar-benar bisa menyimak isi percakapan mereka. Tapi suasananya tegang. Pria itu tampak marah. Tidak, bukan marah. Dia khawatir.


"Appa! Keumanhae!" Honey berteriak pada ayahnya. Tapi ayahnya mengabaikannya dan maju sampai tepat berada di hadapanku.


"Kau..." Katanya dalam bahasa Nordhalbinsel yang sangat kaku. "Duel. Bisa?"


"Saya tidak akan melawan Anda. Saya hanya punya urusan dengan putri Anda."


"Tidak boleh!"


"Saya tidak akan menyakiti putri Anda. Saya hanya akan membawanya. Saya membutuhkannya. Negeri kami membutuhkannya."


"Saya tidak akan ikut dengan Anda, Jenderal." Kata Honey Welsh. "Kenapa Anda mencari saya sampai ke sini?"


"Aku mencari Putri Seo-Hwa."


"Anda tidak akan bisa menemukannya ke mana pun Anda pergi."


"Kau ini keras kepala sekali! Apa susahnya membantu negeri yang telah memberimu tempat bernaung dan pekerjaan yang bagus? Kalau kau tetap menolak, aku akan pastikan kau tidak bisa kembali ke Nordhalbinsel dan kau akan kehilangan pekerjaanmu."


"Terserah apa kata Anda. Lebih baik Anda segera pergi dari sini."


"Aku akan pergi kalau kau bersedia ikut."


"Saya bukan Putri Seo-Hwa!"


"Lalu kenapa aku mencium aromanya padamu?"


Honey Welsh mengernyit bingung. Dia menoleh pada ayahnya yang masih menatap lurus ke depan dengan tajam. Bukan menatapku, aku baru sadar. Dia hanya menatap lurus ke depan. Dia buta.


Dia buta, tapi berhasil membunuh Demyan dan bahkan menyerangku. Gerakannya cepat dan tepat. Sangat cepat sampai aku kesulitan menghindarinya tadi. Kekuatannya luar biasa meski usianya sudah tidak muda. Kali ini aku memusatkan perhatianku pada pria itu. Mencocokkan usianya dengan satu orang lagi yang bisa kucari untuk menemukan Putri Seo-Hwa. Orang yang mungkin menyelamatkan Putri Seo-Hwa saat keluarga Kaisar terdahulu dibunuh oleh Qin.


Jika Putri Anastasia dari Schiereiland memiliki Jenderal Leon yang melindunginya selama ini, maka Putri Seo-Hwa dari Orient memiliki...


"Wu Yi-Xing? Panglima Wu?" Aku bertanya pada pria itu. "Anda adalah Dewa Petir yang menghilang bersama Putri Seo-Hwa malam itu?" Aku mengeluarkan jepit rambut Putri Seo-Hwa dan memberikannya pada pria buta itu. Dia meraba-raba jepit rambut yang pasti dia kenali itu.


Tapi pria itu tidak menjawabku. Dia hanya tampak terkejut saat aku menyebut nama aslinya. Dan lebih terkejut lagi saat mengenali jepit rambut yang kuberikan padanya. Anehnya, Honey Welsh juga tampak terkejut. Jangan-jangan dia selama ini tidak tahu siapa ayahnya sebenarnya.


"Kalau begitu..." Kataku, masih setengah termenung. Sementara itu, matahari mulai terbit. Semburat kemerahan menghiasi langit biru Westeria. Memperlihatkan warna-warna yang sebelumnya tidak kulihat. Bukit ini dipenuhi warna biru. Terutama bunga-bunga berwarna biru yang ada di sekeliling kami. Bunga biru yang mengelilingi serigala kecil berbulu krem keemasan yang sudah tak bernyawa. Aku menatap Honey Welsh dan ayahnya bergantian. "Kalau kau bukan Putri Seo-Hwa, sedangkan pria ini yang kau sebut ayahmu adalah Wu Yi-Xing... Kau... Kau adalah anaknya. Kau adalah putri mereka. Kau adalah anak dari Panglima Wu dan Putri Seo-Hwa."


Aku tidak perlu jawaban untuk mengkonfirmasi asumsiku. Ekspresi mereka berdua sudah cukup menjawab. Sekarang semuanya mulai masuk akal bagiku. Kenapa Honey Welsh menolak membantuku menemukan Putri Seo-Hwa. Kenapa aroma putri Seo-Hwa ada padanya. Kenapa dia menghindariku sejak awal.


"Di mana ibumu?" Tanyaku pada Honey Welsh. "Di mana Putri Seo-Hwa? Cepat katakan! Kerajaanku membutuhkan pertolongannya."


Tapi aku seharusnya tidak butuh jawaban darinya. Aku ingat perkataan Elle. Honey Welsh mengambil cuti panjang untuk upacara peringatan kematian ibunya. Itu artinya, Ibunya sudah meninggal. Putri Seo-Hwa sudah meninggal. Harapan terakhir kami telah lama tiada.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2