Lotus Of East Palace

Lotus Of East Palace
Chapter 18 (Ludwig)


__ADS_3

Dua bulan yang lalu...


Aku melihatnya datang. Sesuai dengan pesan yang dia kirimkan padaku, dia akan datang menjemput adik-adiknya. Di surat itu juga tertulis dia tidak ingin melihatku. Jadi aku tidak turun ke ruang tamu untuk menyapanya atau sekedar melihatnya dari dekat. Sebagai gantinya, aku menugaskan Wilhelm dan Heinrich untuk menyambutnya. Biar bagaimana pun, dia sekarang sudah menjadi Grand Duchess. Kami berkewajiban menyambut kedatangannya.


Constanza hanya datang sebentar, hanya untuk menjemput tiga adiknya kemudian langsung pergi kembali ke Schiereiland. Aku melihat kereta kudanya meninggalkan kediaman kami. Aku bisa saja berteleportasi, menghentikan kereta kudanya dan memintanya untuk tidak pergi. Tapi itu tidak kulakukan. Aku tahu dia membenciku.


"Kakak, ada tamu." Heinrich mendatangiku di kamarku.


"Bukankah tamunya baru saja pergi?"


"Bukan wanita itu. Tamunya berpesan bahwa aku tidak boleh memberitahu kakak siapa dirinya. Tamu itu hanya berpesan bahwa dia menunggu di ruang kerja kakak."


Ini tidak bagus. Tidak ada orang yang kukenal—selain Constanza—yang mengetahui tempat tinggal kami di daerah perbatasan ini. Aku sengaja membeli mansion di daerah terpencil untuk saat-saat seperti sekarang, agar tidak ada yang bisa melacak keberadaan kami bertiga. Bahkan ibu sekalipun tidak tahu tentang mansion ini. Jadi seharusnya tidak ada tamu selain Constanza.


"Di mana Wilhelm?"


"Dia langsung lari dan bersembunyi di kamarnya begitu melihat tamu itu."


"Tetap di sini. Jangan keluar. Jika aku tidak kembali, maka turuti semua perkataan Wilhelm dan jangan menentangnya. Mengerti?"


Heinrich mengangguk patuh.


Aku segera berlari menuju lantai bawah tanah, tempat ruang kerjaku berada. Dugaanku benar. Tamu itu adalah Xavier.


Dia duduk di tempat dudukku, membaca kertas-kertas hasil pekerjaanku, hasil penelitianku, seolah itu semua adalah miliknya. Sejak dulu, semuanya adalah miliknya. Istana adalah miliknya. Ayah kami adalah miliknya. Mahkota yang sekarang sedang tidak dia kenakan, itu juga miliknya. Dia berhak atas segala sesuatu di dunia ini sedangkan aku tidak.


"Kenapa ada banyak sekali cincin di sini?" Tanyanya sambil mengamati penemuan terbaruku. Hasil percobaanku yang baru selesai. Dia mendongak menatapku setelah beberapa saat aku masih belum menjawabnya. Dia sangat mirip dengan ayah kami sampai-sampai aku mau tak mau terkejut setiap kali menatapnya. Seolah aku sedang menatap ayah. Dan hal itu otomatis membuatku menjawab pertanyaannya.


"Itu cincin transformasi. Aku menjadikan sihir transformasi ke bentuk sebuah cincin sehingga orang yang bukan penyihir pun dapat menggunakan sihir transformasi tanpa mempelajarinya."


"Orang yang bukan penyihir bisa membayar jasa penyihir untuk penggunaan sihir transformasi. Apa kelebihannya dibanding menggunakan jasa penyihir?"


"Sihir transformasi biasa akan hilang jika nama asli orang itu disebut. Tapi cincin transformasi tidak seperti itu. Untuk kembali ke rupa asalnya, pemakai cincin transformasi hanya harus melepas cincin itu."


"Apakah harus memakai cincinnya? Apa tidak bisa jika hanya dipegang saja?"


"Bisa. Yang terpenting cincin itu harus menyentuh kulit."


Dia mengangguk-angguk mengerti sambil kembali membaca catatan-catatanku. "Jadi hanya perlu memasukkan darah orang yang akan ditiru ke dalam batu cincin ini, lalu pemakai cincinnya bisa berubah menjadi orang itu? Ini bagus. Ini penemuan yang brilian." Dia memujiku.


"Jadi apa yang dilakukan Baginda Raja di tempat ini?" Tanyaku.


Xavier menaruh kembali catatanku dan kini sepenuhnya menaruh perhatian padaku. Dia mengamatiku, jadi aku balas mengamatinya. Dia sedikit berbeda dari yang terakhir kulihat. Apa kematian ayah membuatnya sulit tidur sehingga dia terlihat lebih pucat? Atau mungkin pekerjaan sebagai Raja membuatnya terjaga sepanjang malam?


"Kau masih sama." Katanya, tidak menjawab pertanyaanku sebelumnya. "Senang bereksperimen dan membuat hal-hal baru yang menakjubkan. Sejak dulu kau sangat tertarik pada penemuan dan ilmu pengetahuan. Sangat khas orang Clera."


"Berhenti berbasa-basi dan katakan alasanmu ke sini. Apa kau mau menangkapku dan adik-adikku?"


Dia tampak bingung. "Wilhelm dan Heinrich juga adik-adikku. Kau juga adikku."


Aku tertawa sarkas. "Beginikah strategimu untuk menangkap kami dan memenjarakan kami? Dengan berpura-pura menjadi seorang kakak setelah sekian tahun kau seolah tidak menganggap kami ada?"


"Kau yang tidak menganggapku. Kau yang menjauhiku lebih dulu. Berapa kali aku meminta tolong padamu setiap kali Selena hampir membunuhku sewaktu kita masih kecil? Tapi saat itu kau diam saja dan menyaksikan dengan tenang seolah aku memang pantas disiksa dan dibunuh. Selena mungkin mengatakan bahwa aku adalah sainganmu makanya kau jadi—ah, sudah lah." Xavier menghela nafas dengan berat seolah dia kesulitan bernafas dengan benar. "Lebih baik jangan bahas masa lalu. Tidak akan ada habisnya. Lagi pula aku ke sini bukan mau menangkapmu atau pun memenjarakanmu. Kalau aku mau menangkapmu, Ludwig, aku akan menyuruh orang lain. Aku tidak akan repot-repot mencarimu berhari-hari seorang diri."


"Bagaimana kau bisa menemukan kami di sini?"


Xavier kemudian mengeluarkan sesuatu dari kolong meja. Sebuah botol anggur diikat pita. "Hadiah ulang tahun. Aku tahu. Ulang tahunmu sudah berlalu. Tapi saat itu semua orang terlalu sibuk pada pemakaman ayah dan penobatanku, jadi mereka mungkin tidak ingat kalau putra kedua Raja sedang berulang tahun."


Aku semakin tak mengerti maksud sesungguhnya kedatangan dia ke sini. Dia selalu seperti ini. Bersiasat, berpura-pura, dia tidak menyerang secara terbuka. Kurasa perlakuan ibuku padanya sejak kecil membuatnya jadi seperti ini. Tidak. Itu bukan salah ibuku seorang, itu salah semua orang di Istana.


"Jangan terlalu dipikirkan. Aku tidak memasukkan racun atau semacamnya. Masih tersegel rapat. Kecuali kalau tunanganmu ternyata memasukkan racun ke dalam anggur-anggur yang dia bawakan untukku." Katanya. Dia kemudian mengambil dua gelas dari sudut ruangan dan menuangkannya. "Grand Duchess Smirnoff datang jauh-jauh dari Schiereiland untuk memberikanku sepeti penuh anggur. Dia tahu anggur dapat mengurangi sedikit sakit yang kurasakan akibat... perbuatannya. Dia kemudian mengatakan bahwa dia akan pergi ke tempat lain setelah menemuiku, makanya dia tak bisa berlama-lama. Dari situlah aku menemukan rumahmu ini."

__ADS_1


"Kau mengikuti Constanza."


"Benar."


Aku menahan diri untuk tidak langsung menyerangnya dengan sihirku. Dia mengikuti Constanza!


"Katakan. Apa maumu?"


"Aku ke sini karena aku membutuhkanmu. Aku ingin meminta tolong padamu, dan kuharap untuk kali ini kau bisa menolongku."


Jawabannya membuatku tertawa. "Katakan sekali lagi. Sepertinya aku mabuk karena aku barusan salah mendengar—“


Kata-kataku langsung terhenti saat Xavier menggulung lengan pakaiannya hingga ke atas sikunya. Dia memperlihatkan lengannya yang dilukisi garis-garis hitam. Tidak. Garis-garis hitam itu bukan cat lukis. Itu pembuluh darahnya yang menonjol seperti akan keluar dari balik kulit pucatnya. Itu adalah efek racun Morta. Racun buatanku.


Aku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku saat melihatnya, "Demi Dewi... Dari mana—“


"Tunanganmu." Katanya. "Dia berniat membunuhku. Tadinya begitu, tapi aku sudah memaafkannya karena dia memberiku sepeti anggur gratis. Oh, maaf, aku salah sebut dari tadi, maksudku mantan tunanganmu. Dia menggunakan racun yang kau buat dan menembakkannya padaku. Hampir mengenai jantung, tapi tidak sampai."


"Dan kau tidak mati?"


"Kau... kecewa?"


"Kau harusnya sudah mati!"


Kali ini dia yang tertawa. "Aku belum mau mati. Belum saatnya. Masih banyak urusan yang belum kuselesaikan."


Sekarang aku mengerti alasannya mendatangiku. "Jadi itu alasanmu datang ke sini. Kau membutuhkan penawar racunnya. Sia-sia saja kau datang jauh-jauh ke sini. Aku tidak punya penawarnya. Aku sudah berusaha untuk membuatnya, tapi tidak bisa. Morta diciptakan untuk membunuh langsung dalam hitungan detik, jadi racun itu tidak memiliki penawar. Kau mungkin akan segera mati, jadi terima saja nasibmu."


"Sudah kuduga..." Katanya. "Aku memang tidak terlalu mengharapkan adanya penawar racun. Bahkan kalau pun kau memang memilikinya aku cukup yakin kau tidak akan memberikannya padaku. Dan sungguh, aku ke sini bukan untuk memintamu membuatkan penawarnya. Aku hanya ingin kau kembali ke Istana dan menjadi Raja."


Aku tersedak udara. "Kau mabuk?"


"Sedikit. Aku sudah bilang, kan? Anggur mengurangi rasa sakitku. Itulah sebabnya belakangan aku jadi lebih sering minum. Anggur membuatku tidak terlalu merasakannya saat racun itu menghancurkan... segalanya." Dia membuat gerakan menunjukkan seluruh organ dalam tubuhnya. Aku tahu apa saja yang dihancurkan Morta. Hati. Ginjal. Lambung. Paru-paru. Jantung. Tulang. Semuanya. Dan seharusnya tidak ada yang bisa bertahan hidup. Xavier tampak puas saat melihatku meringis membayangkan sakit yang dia rasakan efek Morta padanya. Dia melanjutkan, "Tapi aku cukup waras dan sadar untuk tahu bahwa aku tidak akan bisa bertahan lama. Kau mungkin bisa menjadi Raja yang lebih baik dariku. Kau jenius dan bisa membuat apa saja. Kau akan menjadi Raja yang hebat di kemudian hari."


"Kau adikku. Kau putra kedua mendiang Raja. Bisakah kita melihatnya dari sudut pandang itu?" Dia diam sebentar, tampak mengernyit menahan sakit, kemudian menambahkan, "Kau bertemu dengan Anna, di Menara Schere. Anna cerita padaku bahwa kau menyelamatkannya. Terima kasih banyak. Aku berhutang padamu."


"Aku tidak bermaksud menyelamatkannya."


"Berhenti berpura-pura, Ludwig. Anna membuatku menyadarinya, bahwa kau selama ini juga menderita. Kau tidak ingin bersaing denganku. Tapi kau tahu... Kau juga berhak atas mahkota itu."


Aku tahu. Aku tahu aku berhak. Terkadang, saat kami masih kecil, saat aku sedang iri pada Xavier karena dia lebih diperhatikan oleh ayah, aku membayangkan suatu hari nanti ayah akan mewariskan mahkotanya padaku. Tapi itu hanya berlangsung sesaat karena aku tahu aku tidak akan pernah menjadi Raja. Xavier selalu lebih unggul atas segalanya dan aku sendiri mengakui hal itu. Dia bahkan tidak perlu belajar sihir untuk diakui oleh orang-orang.


"Kau tahu, aku akan bertunangan dengan Putri Anastasia." Aku tak tahu kenapa aku mengatakan hal itu. Aku seperti anak-anak yang berhasil merebut permen kesukaan kakaknya. Aku tahu Xavier menyukai Sang Putri dan seolah dengan mengatakan hal itu, aku bisa lebih menyakitinya dari apa yang sudah racunku lakukan padanya.


Ekspresi wajahnya berubah saat aku menyebutkan nama Putri Anastasia. Tapi dia bisa mengendalikan emosinya dengan baik. Untuk sesaat dia hanya diam dan mengangguk dengan tenang. "Aku tahu." Katanya. "Aku tahu. Anna juga sudah menceritakannya padaku."


"Aku tidak akan menikahinya." Kataku langsung sebelum dia salah paham.


"Kau mungkin harus menikahinya. Ibumu ingin kau menguasai Schiereiland juga."


Jika aku berada di posisi Xavier, dan saudaraku sendiri mengatakan akan merebut wanita yang kucintai, aku mungkin akan meledak marah. Aku kini kesal karena dia tidak marah dan justru mendukung rencana ibuku. "Gila ya! Kau ini kenapa sih? Apa yang membuatmu—“


"Aku sekarat!" Dia memotong perkataanku. Suaranya serak seolah dengan mengatakan hal itu saja, dia bisa segera mati di hadapanku. "Waktuku tidak banyak, Ludwig. Kau juga tahu itu. Kalau pun aku ingin menikahi Anna—yang sebenarnya sangat ingin kulakukan—aku hanya akan meninggalkannya dan membuatnya menjadi janda. Kalau pun aku bersikeras mempertahankan posisiku sebagai Raja, usai kematianku—yang mana takkan lama lagi—kau tetap akan menjadi Raja. Jadi kenapa tidak sekalian saja kuberikan semuanya padamu sekarang? Tidak ada salahnya menyenangkan ibu tiriku sekali-kali sebelum aku mati. Dia pasti sangat bangga melihatmu duduk di singgasana mengenakan mahkota."


"Sebenarnya apa yang kau inginkan? Kenapa kau mendatangiku dan menyerahkan semua milikmu padaku?"


"Yang kuinginkan?" Dia merenung. Matanya memerah menahan air mata. Aku tahu dia takut. Tahu bahwa umurnya takkan panjang tak peduli berapa banyak rakyat yang meneriakkan 'panjang umur Baginda Raja' padanya setiap kali dia lewat di kota. Tahu bahwa dia akan segera meninggalkan dunia ini, atau menderita selama sisa hidupnya dengan rasa sakit yang diakibatkan oleh racun itu. "Yang kuinginkan hanya mempertahankan negeri kita agar tidak hancur dan memastikan Anna tetap hidup, berumur panjang dan bahagia sepanjang hidupnya. Itu saja. Tapi bahkan keinginanku itu terlalu berlebihan." Dia tertawa getir, lalu menatapku. "Tapi kau... Kau bisa mewujudkan semuanya. Aku akan membantumu mempersiapkan diri untuk mengambil alih tugas-tugasku. Aku akan memberitahumu apa saja yang harus kau lakukan sebagai Raja dan bagaimana cara melakukan semuanya. Jadi pergilah ke Istana saat para bangsawan datang menjemputmu. Jadilah seorang Raja yang bijaksana, dan..." Dia mencengkeram dadanya, memejamkan matanya, tampak kesulitan menahan rasa sakitnya. Sepertinya racun itu mulai menyerangnya. Dia segera meminum anggur dan mengatur nafasnya yang tersengal seolah bernafas saja terasa menyakitkan baginya. Tentu saja menyakitkan jika paru-parunya dihancurkan dari dalam. "Dan tolong jaga Anna untukku. Tolong buat dia bahagia." Dia melanjutkan kata-katanya. Dia bersungguh-sungguh atas semua ucapannya. Terutama yang terakhir itu.


Aku menatap kakakku yang kini sedang duduk sambil menahan rasa sakit. Kulitnya memucat, pembuluh darahnya tampak menonjol berwarna hitam. Dia tidak seperti orang yang kukenal, yang mampu melakukan apa saja dan selalu menjadi nomor satu di mata Ayah. Dia tampak mudah ditumbangkan kapan pun. Jika ibu melihatnya seperti ini sekarang, akankah dia merasa puas dan senang? Tapi kenapa aku tidak merasa senang sama sekali?


"Baiklah..." Ucapku akhirnya setelah menimbang-nimbang apakah aku harus mempercayai semua perkataannya. "Permintaan lainnya mungkin bisa kulakukan. Aku bisa menjadi Raja dan belajar dengan cepat untuk menggantikanmu. Tapi masalahmu dengan Putri Anastasia harus kau urus sendiri. Aku tidak mau menikahinya dan aku yakin sekali dia juga tidak mau menikah denganku."

__ADS_1


"Tapi—“


"Aku hanya akan menikah dengan Constanza." Potongku langsung sebelum dia mendebatku lagi.


Dia tampak terkejut. "Ibumu tidak akan setuju."


"Bahkan jika ibuku tidak setuju. Aku mencintai Constanza. Hanya dia. Dan aku hanya akan menikah dengannya. Jika Constanza tidak bersedia maka aku tidak akan menikahi siapa pun."


Xavier menghela nafas. Entah karena lelah berdebat denganku atau karena racunnya. Dia tampak merenung, entah memikirkan apa. Kurasa aku takkan sanggup berada di posisinya. Aku tak tahu apa yang membuatnya berpikir bahwa aku akan bisa menjalankan apa yang selama ini dia kerjakan. Aku ilmuwan, bukan politisi apalagi Raja. Aku terbiasa mengurung diri di ruang kerjaku dengan semua hasil penelitianku dan buku-bukuku, bukan berbicara di hadapan orang-orang dan bersikap layaknya orang paling penting di Negeri ini. Tapi Xavier percaya padaku. Dia menyerahkan negeri ini padaku, anak dari wanita yang sudah menantikan kematiannya sejak hari dia dilahirkan.


Dia kemudian menatapku dengan serius. "Baiklah. Begini saja..."


Xavier menjelaskan rencananya padaku. Dia kemudian kembali ke Istananya sementara aku mempelajari apa saja yang kelak akan kukerjakan sebagai Raja. Sebelum pergi, Xavier mengambil dua buah cincin transformasi yang kuciptakan. Dia bilang akan membutuhkannya untuk menjalankan misi rahasia.


Setelah itu, Xavier tidak menampakkan diri di hadapan semua orang selama berhari-hari. Dia tidak keluar dari kamarnya sama sekali sehingga membuat semua orang khawatir. Para bangsawan akhirnya memintaku datang ke Istana untuk menggantikan Xavier sementara waktu. Saat aku datang ke Istana, aku sudah tahu apa saja yang harus kulakukan sehingga semua urusan kenegaraan dapat kukerjakan dengan lancar. Siang hari, aku menjadi pengganti Raja. Malam hari, aku tetap pergi ke tempat kerjaku di rumahku, mencoba kembali membuat penawar Morta dengan meneliti sampel darah Xavier. Aku harus bisa membuatnya. Aku harus berhasil.


Hingga akhirnya hari itu tiba. Ibu mengirimkan surat padaku untuk datang ke Schiereiland untuk menemui Putri Anastasia. Dia memberitahuku rencananya untuk menjadikan Nordhalbinsel dan Schiereiland menjadi milikku—miliknya.


Saat menemui Sang Putri, aku diberitahu bahwa dia kini bisu. Aku pun meminta semua orang membiarkanku berdua dengan calon tunanganku itu. Aku harus bicara dengannya. Dan aku tahu dia tidak bisu sungguhan.


Aku memberitahu Putri Anastasia tentang pertemuanku dengan kakakku. Aku memberitahu semua padanya. Terutama tentang kondisi kesehatan kakakku itu. Tentang racun ciptaanku yang masih melahapnya dari dalam.


Dia hanya diam mendengarkan. Bukan karena dia bisu, tapi karena dia terlalu terkejut untuk dapat mengatakan apa pun. Dia tampak sangat terpukul saat mengetahui kondisi Xavier. Saat mengetahui bahwa Xavier takkan bisa bertahan lama.


Dia tidak menangis. Kurasa dia sudah banyak menangis belakangan ini akibat kematian ibunya, sehingga dia tidak punya lagi air mata untuk ditumpahkan. Pertama-tama dia hanya diam dan menatap kosong sampai kupikir dia kerasukan sesuatu. Lalu dia menuduhku berbohong. Detik berikutnya dia jatuh terduduk di lantai sampai kupikir dia pingsan. Tapi dia tidak pingsan. Dia menutupi wajahnya dengan tangannya. Bahunya berguncang. Dia menangis tanpa suara. Aku ingin melakukan sesuatu untuknya, apa saja untuk bisa menenangkannya, tapi aku tak tahu harus melakukan apa. Constanza tidak pernah menangis seperti ini. Dia akan marah, mengamuk, mencaci-maki, mendendam, menghancurkan, tapi dia tidak akan terlihat sehancur ini.


Lalu mulai terdengar isak tangis darinya, semakin lama semakin kencang. Tiba-tiba saja di luar turun hujan deras, entah kebetulan atau bukan. Dia kemudian menangkap tanganku, dengan usaha keras, dia mendongak menatapku yang masih berdiri di hadapannya. Wajahnya berderai air mata. Aku tak tega melihatnya seperti itu.


"Tolong selamatkan dia." Suaranya tak lebih dari sekedar bisikan kecil dengan suara serak. "Tolong... Tolong buat penawarnya. Tolong selamatkan dia." Matanya memerah, air matanya terus mengalir sementara dia terus memohon padaku seolah hanya aku yang bisa menyelamatkannya. Seolah aku adalah Dewa yang bisa merubah takdir seseorang.


Dengan susah payah aku mengeluarkan suaraku, "Aku tidak bisa."


"Apa pun. Apa saja yang kau inginkan, aku akan memberikannya padamu asal kau memberinya penawar racun. Kau menginginkan Schiereiland kan? Itu sebabnya kau datang ke sini, bukan? Karena Luna—karena ibumu ingin kau menguasai Schiereiland."


"Aku tidak menginginkan kerajaanmu." Jawabku.


Dia melepaskan tanganku dan tenggelam kembali dalam tangisannya. Dia memegangi dadanya seolah seseorang baru saja menikam jantungnya. "Kenapa rasanya sakit sekali. Kenapa..." Dia tampak kesulitan bernafas. Aku segera mengedarkan pandangan ke sekitar, mencari obat penenang. Tapi tidak ada. Apa selama ini dia tidak pernah mengonsumsi satu pun obat penenang? Bahkan setelah semua kehilangan yang dia alami itu? Bagaimana dia mengatasi semuanya selama ini?


Seiring tangisannya yang semakin menjadi, hujan di luar semakin deras. Saat itu, aku melihat lewat jendela kamarnya, ratusan mawar yang tadinya bermekaran di taman di depan kamar ini mulai layu. Langit menjadi semakin gelap mencekam padahal hari masih siang.


Aku akhirnya hanya bisa memberinya segelas air. Dia menerimanya, tapi tidak meminumnya. Dia hanya memegangi segelas air itu sambil melamun, membiarkan air matanya mengalir begitu saja hingga jatuh ke dalam gelas.


"Kenapa dia tidak mengatakan apa pun padaku? Kenapa dia menyembunyikannya dariku? Kenapa dia memberitahumu tapi tidak memberitahuku?" Dia bertanya padaku.


"Dia tidak ingin kau tahu."


"Tapi kenapa? Kupikir dia mencintaiku, jadi kenapa dia merahasiakannya dariku?" Tanyanya di sela tangisnya.


"Itu karena dia mencintaimu. Dia mencintaimu lebih dari dia mencintai dirinya sendiri. Lebih dari apa pun. Bahkan saat tahu keadaannya, saat tahu tidak ada harapan baginya untuk bertahan hidup lebih lama, yang dia pikirkan hanya kau. Dia mengkhawatirkanmu. Dia bahkan memintaku untuk menikahimu agar aku bisa menjagamu karena dia tidak tahu kapan Leon akan kembali padamu. Dia tidak mau melamarmu karena dia tahu dia akan segera meninggalkanmu."


Aku berada di sana, di kamarnya entah berapa lama, sampai tangisannya berhenti, atau sampai dia tak punya air mata lagi. Aku tak bisa melakukan apa pun untuknya. Aku tak tahu apa yang bisa kulakukan atau kukatakan untuk menghiburnya. Jika aku mengatakan bahwa aku masih berupaya membuat penawar racunnya, itu hanya akan membangkitkan harapan palsu padahal belum tentu aku akan berhasil. Jadi aku hanya menemaninya sampai dia cukup tenang untuk kembali bicara. Aku curiga jika aku meninggalkannya sendirian dia mungkin akan melakukan sesuatu yang berbahaya.


Sekarang aku jadi paham kenapa Xavier tidak ingin dia tahu. Jika tahu dia akan sehancur ini, aku juga takkan memberitahunya. Aku kurang lebih dapat memahaminya, Putri Anastasia kehilangan semua orang yang dia sayangi, Ayahnya, Ibunya, Leon dan kini Xavier. Jika aku berada di posisinya, jika aku kehilangan ibuku, Wilhelm, Heinrich dan Constanza, kurasa aku takkan bisa hidup lagi. Aku lebih baik mati. Membayangkannya saja aku tidak sanggup.


"Bisakah kau berpura-pura untukku, Ludwig?" Tanyanya akhirnya setelah dia cukup tenang. Aku mendengarkan. "Anggap kita tak pernah bertemu hari ini. Pura-pura lah bahwa aku tak tahu tentang kondisinya. Jangan beritahu dia bahwa aku sudah tahu dan aku akan berpura-pura bahwa aku tak tahu. Aku dan Xavier akan pergi ke Orient, entah untuk berapa lama. Kami akan berada di sana untuk berusaha mencegah terjadinya perang antara kerajaan kalian dengan Orient. Aku bisa menghilangkan rasa sakitnya selama aku berada di dekatnya sama seperti dia bisa menghilangkan rasa sakitku. Jadi aku akan terus bersamanya. Jika kau tidak dapat membuat penawarnya, paling tidak aku bisa membuatnya tidak merasa sakit lagi."


"Tapi pertunangan—“


"Constanza yang akan menggantikanku bertunangan denganmu." Potongnya. "Ubah dia menjadi semirip mungkin denganku. Jalankan saja peranmu seperti biasa dan Constanza akan berperan menjadi diriku."


"Kenapa kau mau melakukan ini semua? Bukankah percuma saja? Kakakku akan segera mati. Tak peduli apa pun yang kau lakukan, dia tetap akan mati. Jadi kenapa kau—“

__ADS_1


"Karena aku mencintainya." Katanya. "Aku tidak bisa menyerah begitu saja pada keadaannya. Dia tidak pernah menyerah pada keadaanku. Sehancur apa pun diriku, bahkan ketika aku tenggelam dalam dukaku, dia tidak meninggalkanku, dia tetap ada untukku dan menemaniku sampai aku pulih, sampai aku bisa bangkit kembali. Aku akan melakukan hal yang sama untuknya. Jika bisa, akan kurebut dia dari kematian."


...****************...


__ADS_2