Lotus Of East Palace

Lotus Of East Palace
Chapter 5 (Yeon-Hwa)


__ADS_3

Mereka mengejar lagi. Sialan!


Aku akhirnya memutuskan untuk mengambil cuti. Padahal aku setengah mati ingin berlama-lama di Istana Utama agar bertemu lagi dengan Jenderal Leon. Tapi toh aku tidak akan bisa mengatakan apa-apa lagi jika beliau sudah ada di hadapanku. Dan lagi pula, menurut perkataan orang-orang, Ratu membawa Sang Singa dari Selatan ke kediamannya. Hal itu tentu memicu beragam spekulasi di kalangan semua orang yang ingin tahu. Kenapa pula mereka pergi ke sana?


Kupikir akan sulit mengajukan cuti panjang, terlebih karena alasanku pasti terdengar tidak masuk akal bagi orang-orang utara. Aku menerima surat lagi dari ayah. Beliau menegaskan akan datang ke Nordhalbinsel dan menyeretku kembali ke Westeria kalau aku tidak pulang segera. Jadi aku izin kepada Baginda Ratu untuk cuti selama dua minggu dengan alasan upacara peringatan kematian Ibuku. Terpujilah segala kemurahan hatinya, Ratu Eleanor mengizinkanku mengambil cuti dua minggu.


Dan di sini lah aku malam ini. Di hutan wilayah perbatasan antara Nordhalbinsel dan Westeria. Bersiap pulang ke rumahku sambil berlari karena entah bagaimana kereta kuda yang kutumpangi rusak, jalanan ditutup karena malam sudah sangat larut dan saat aku mulai berjalan menyusuri hutan yang gelap tanpa penerangan yang memadai, para serigala kembali muncul mengejarku.


Persis seperti di mimpiku, Si Serigala Salju memimpin pasukan serigalanya. Aku lelah bukan main. Kakiku tidak bisa berlari lebih lama lagi. Tenagaku terkuras habis. Paru-paruku memberontak, memintaku untuk berhenti dan mengambil nafas. Tapi aku tidak boleh berhenti berlari.


Sedikit lagi. Aku hanya perlu melewati perbatasan ini dan sampai di Westeria. Mereka mungkin tidak diizinkan berkeliaran di Westeria. Ratu Eugene tidak akan mengizinkannya. Bukan hanya Serigala, tapi orang-orang dari luar Westeria yang bukan Westerian tidak akan diizinkan masuk begitu saja. Proses masuk ke Westeria sangat rumit dan membutuhkan izin dari Ratu Eugene. Westeria sangat tertutup dari orang luar karena mempertahankan status sebagai negara yang damai dan anti konflik.


Tapi aku bukan orang luar. Aku adalah Westerian. Aku dilahirkan dan dibesarkan di Westeria, memiliki nama Westeria dan orang tuaku berkewarganegaraan Westeria. Akan sangat mudah bagiku untuk masuk ke Westeria. Aku hanya perlu menunjukkan dokumen yang mengesahkan bahwa aku memang Westerian.


Itu dia. La Gran Puerta. Gerbang besar yang harus dilewati siapa pun yang akan memasuki wilayah Westeria. Gerbang yang dijaga oleh orang-orang dari Klan Ortiz dan Klan Torres. Dua Klan terkemuka yang sudah secara turun temurun menjaga keutuhan Westeria berkat kekuatan mereka. Klan Ortiz adalah mereka yang memiliki mata Sapphire dan diketahui dapat membaca pikiran bahkan mengendalikan pikiran. Sedangkan Klan Torres adalah pemilik mata Ruby yang dapat meniru kemampuan orang lain siapa pun lawan mereka.


Bahkan dari kejauhan aku sudah dapat melihat mata Sapphire yang menyala dalam kegelapan milik seorang Klan Ortiz. Aku berteriak minta tolong di dalam pikiranku. Aide-moi! Aide-moi! Kemudian aku tersadar bahwa itu bahasa Nordhalbinsel. Saat sedang panik, kadang aku lupa harus menggunakan bahasa apa. Tolong aku! Teriakku dalam bahasa Westernia di pikiranku. Kuberitahu padanya bahwa aku orang Westeria dan aku sedang dikejar oleh sekelompok serigala. Aku berharap siapa pun seorang Ortiz yang sedang bertugas menjaga gerbang malam ini dapat membaca isi pikiranku dan segera membukakan gerbang untukku.


Aku Honey Welsh. Putri tunggal dari Daniel dan Sally Welsh. Cucu dari Tania Welsh. Lahir dan besar di Westeria.


Aku menyebutkan alamatku, tempat lahirku serta nomor seri dokumen pengesahanku di dalam pikiranku menggunakan bahasa Westernia. Bahasa yang sudah lama tak kugunakan karena di Nordhalbinsel aku tidak membutuhkan bahasa itu. Sedangkan ketika berkirim surat dengan ayah, kami menggunakan bahasa Orient. Aku terus mengulang-ulang semua itu seiring tiap tarikan napasku yang tersengal-sengal. Aku tidak kuat berlari lagi.


Betapa leganya aku saat melihat dari kejauhan, gerbang itu terbuka lebar. Aku terus mempercepat lariku sampai aku benar-benar sudah beberapa meter masuk ke wilayah Westeria di dalam gerbang.


"Selamat datang kembali, Welsh." Sapa seseorang.


"Terima kasih..." Ucapku sambil terengah. Aku tidak langsung mencari tahu siapa orang itu. Aku segera menoleh ke belakangku. Mataku sibuk mencari-cari tanda keberadaan para serigala. Gerbang sudah tertutup rapat. Dan aku tidak melihat satu pun serigala di luar sana seolah sejak tadi aku hanya berhalusinasi. Atau mungkin aku memang berhalusinasi efek mimpi buruk terus menerus.


"Hey... tenang lah. Mereka tidak akan bisa masuk." Kata orang itu lagi.


Aku menoleh padanya. Mata Sapphire. Klan Ortiz. Orang yang tadi membaca pikiranku dan mengizinkanku masuk. Ternyata bukan hanya karena data-data yang kuteriakkan dalam pikiranku. Melainkan karena orang itu mengenalku. Aku mengenalnya.


Dia calon tunanganku. Putra bungsu Klan Ortiz. Si Pangeran Ortiz. Raphael.


"Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat." tanyanya.


Dia seorang Ortiz. Dia seharusnya tidak perlu bertanya. Dia hanya perlu masuk ke dalam pikiranku.


"Kalau kau tidak suka, aku tidak akan membaca pikiranmu. Meski isi pikiranmu selalu menghiburku." Senyum miringnya selalu sangat menawan. Brengsek menawan. Tapi aku tidak akan tertipu. Ada alasan kenapa dia adalah 'calon tunanganku' dan bukan 'tunanganku'. Aku masih berusaha menghindari pertunangan itu. Klan Ortiz memang keluarga terhormat, kerabat jauh Ratu Eugene, kaya raya, tidak diragukan lagi. Kehidupanku akan terjamin jika masuk ke keluarga mereka. Honey Ortiz, nyonya bangsawan Westeria yang memiliki suami yang suka main mata pada setiap wanita yang dia temui. Tidak. Terima kasih. "Aduh, jantungku! Tatapanmu masih setajam biasanya. Berdarah tidak?" Kata Raphael sambil berlagak memegangi jantungnya.


Aku memutar bola mata. Tanpa meladeninya, aku melangkah pergi menjauh dari pos penjagaan Klan Ortiz.


"Mau kuantar?" Tanya Raphael. Dia masih mengikuti di sampingku, berusaha menyejajarkan langkahnya. "Sudah sangat malam. Bahaya."


Aku tertawa sinis. "Predator paling berbahaya di negeri ini ada tepat di sampingku."


"Maksudku serigala-serigala itu." katanya sambil menoleh ke belakang seolah para serigala itu bisa saja menembus gerbang. Gawat kalau itu benar. "Lagi pula bagaimana ceritanya sampai kau bisa dikejar serigala sih? Bisa-bisanya kau menarik perhatian serigala. Mereka punya selera yang bagus rupanya."


"Mereka tidak akan bisa masuk. Kalau tidak, kau akan kehilangan pekerjaanmu dan keluargamu akan kehilangan nama baik." Ucapku dengan ketus. Sebenarnya, itu lebih terdengar seperti ancaman. Aku memang bermaksud begitu. Padahal bagiku itu adalah harapan. Harapan bahwa gerbang itu akan selamanya menghalau para serigala. Harapan bahwa Klan Ortiz dan Klan Torres akan selamanya menjaga gerbang itu tetap tertutup rapat. Westeria adalah satu-satunya tempat aman bagiku sekarang. Entah bagaimana jadinya jika para serigala itu bisa masuk ke wilayah kerajaan ini.


"Bahasa Westernia-mu masih bagus padahal sudah lama kau tidak pulang. Aku merindukanmu. Sungguh." Dia berusaha mengalihkan topik. Aku sudah hafal kebiasaannya. Biar bagaimana pun, bisa dibilang dia adalah teman masa kecilku. Aku tinggal di wilayah kekuasaan keluarga Ortiz sejak aku dilahirkan. "Kau tidak benar-benar mau pulang dengan berjalan kaki kan? Lebih cepat dan praktis jika naik kuda bersamaku."


"Dan membiarkanmu masuk ke dalam pikiranku selama tujuh jam perjalanan? Tidak, terima kasih. Aku masih hafal jalan pulang. Aku punya uang untuk menyewa penginapan terdekat dan menyewa kereta kuda besok pagi. Selamat tinggal, Raphael."


...****************...


Ada sebuah desa kecil di pinggir kota, di Bukit Biru wilayah Pueblo Azul yang dikuasai oleh Klan Ortiz. Dalam bahasa kuno Westernia, Pueblo Azul artinya Desa Biru. Bukan hanya karena dikuasai oleh orang-orang Klan Ortiz yang memiliki mata biru Sapphire, atau pun karena kebanyakan rumahnya dicat biru, danau-danaunya berwarna biru terang, tapi juga karena bunga-bunga Blue Iris yang membentang di seluruh perbukitan. Di Desa itulah aku tinggal bersama seorang ayah yang sudah tua dan nenek yang sudah kelewat tua.


Sudah bertahun-tahun sejak terakhir aku menapaki jalanan penuh bunga berwarna biru ini. Seharusnya aku lupa jalan pulang. Tapi ternyata tidak. Aku ingat bahkan sampai ke tiap kerikil yang harus kuhindari agar tidak tersandung. Aku lahir dan besar di rumah sederhana kami di Desa ini.

__ADS_1


Setelah kematian Ibuku, Ayahku merasa sangat terpukul. Dia jadi lebih protektif terhadapku dan melarangku pergi ke mana pun. Aku sebenarnya bukan tipe anak pembangkang, tapi aku tidak suka dikurung. Jadi suatu hari, aku memutuskan untuk kabur dari rumah, pergi ke Nordhalbinsel dan menjadi prajurit wanita.


Perjalananku tidak semulus itu. Sebelum diterima di Kastil Montreux, aku adalah pengembara muda yang berwajah Orient di tengah-tengah orang utara berkulit salju. Aku tidak punya uang, tidak punya kenalan dan tidak ada yang mau menerima orang Orient untuk bekerja pada mereka. Bahkan saat aku menjadi tukang cuci piring di salah satu kedai bir di pinggir kota, aku difitnah mencuri dan akhirnya dipecat tanpa uang pesangon meski sudah berhari-hari bekerja di sana.


Bahkan ketika aku mencoba untuk menjadi orang yang jujur, mereka tetap menuduhku pencuri. Jadi sekalian saja aku mencuri.


Aku diajari berbagai ilmu pengetahuan oleh Ibuku sejak kecil. Aneh, bukan? Tapi nyatanya ibuku yang hanya seorang imigran biasa menguasai berbagai ilmu seperti politik, sejarah dan bahasa. Aku jago menari dan memainkan Zhuitar, alat musik petik tradisional asal Orient, berkat ibuku yang mengajarkannya padaku. Aku juga menguasai berbagai bahasa berkat ibuku. Tapi tidak hanya itu, aku juga dilatih oleh ayahku sejak kecil. Aku bisa ilmu bela diri, bisa berpedang dan berkelahi. Aku juga bisa melangkah tanpa mengeluarkan suara. Dengan memanfaatkan semua ilmu dan pelatihan itu, aku menguasai jalanan. Aku pencuri yang cukup handal dan penipu yang lebih handal lagi. Aku hidup dari hasil kerja kerasku mencuri dan menipu. Sampai suatu ketika, aku mencuri sesuatu dari orang yang salah. Aku tanpa sengaja mencuri dari Permaisuri Selena.


Aku seharusnya sudah mati saat itu juga tanpa sempat meminta maaf pada Ayahku. Permaisuri Selena adalah wanita paling berkuasa di Istana sekaligus penyihir paling berkuasa di Menara. Tapi Permaisuri justru memaafkanku dan mengatakan bahwa bakatku dapat dimanfaatkan. Aku bekerja untuknya dan menjadi mata-mata di Schiereiland. Aku memata-matai anggota keluarga kerajaan Schiereiland. Itulah sebabnya saat pertama kali bertemu dengan Anna, aku langsung tahu bahwa dia adalah Putri Anastasia dari Schiereiland karena aku pernah melihatnya.


Saat itulah, saat aku memata-matai anggota keluarga kerajaan Schiereiland, aku mengetahui tentang Jenderal Leon, putra angkat Raja Edward dan Ratu Isabella. Aku belum pernah bertemu dengannya di Istana Schiereiland. Aku hanya pernah melihat wajahnya di lukisan anggota keluarga kerajaan dan mendengar tentangnya dari semua orang yang membicarakannya. Aku terinspirasi olehnya. Dari situlah aku mulai menyadari bahwa jalan yang kuambil ini salah. Aku kabur dari Schiereiland dan pergi ke Montreux, tempat Jenderal Arianne menerimaku sebagai muridnya lalu sebagai salah satu prajuritnya.


Dan sejak itu, aku sering mengirimkan surat pada Ayahku. Aku meminta maaf padanya karena pergi dari rumah begitu saja. Aku tidak menceritakan bagian dimana aku mencuri dan menjadi mata-mata. Itu adalah bagian kelam dalam hidupku dan aku tidak ingin Ayah tahu. Ayah pasti akan sangat kecewa jika tahu putrinya menjalani kehidupan seperti itu. Aku menceritakan padanya bahwa kini aku menjadi ksatria Montreux dan aku tidak pernah merasa sebahagia ini. Di luar dugaan, Ayah mendukungku. Selama ini dia tidak memaksaku untuk pulang meski aku tahu dia sangat menantikan kepulanganku. Tapi entah kenapa, belakangan ini ayah sering memintaku untuk pulang.


Maka itulah yang kulakukan.


"Appa..." Aku memanggil ayahku dengan sebutan ayah dalam bahasa Orient sambil mengetuk pintu rumah kami yang terbuat dari kayu pohon ek. "Na wasseoyo." Aku pulang.


"Anak durhaka!" sahutnya dari balik pintu dengan bahasa Westernia.


Sudah kuduga akan begini jadinya. Itulah sebabnya aku membawa pedangku dan sudah membuka sarung pedangku begitu ayah membuka pintu rumah. Dia adalah ayahku dan aku mengenalnya lebih dari siapa pun.


Ayah mengayunkan pedangnya dengan sangat cepat. Tapi aku masih sempat menangkis serangannya. Ayah maju dan melancarkan serangan bertubi-tubi padaku. Aku langsung mengingat semua pelajaran darinya. Biarkan. Tahan. Lalu saat lawan sudah mulai lelah dan lengah, serang. Ilmu berpedang dari ayahku selalu kuingat meski aku sempat mempelajari gaya berpedang ala orang-orang utara dari Jenderal Arianne Montreux.


Aku mundur setiap langkah maju ayah. Kami semakin jauh dari rumah dan mulai memasuki jalan setapak dengan bunga Blue Iris di sepanjang pinggir jalan. Biarkan.


Saat kami sudah cukup jauh dari rumah, dan yakin bahwa Abuela—cara kami menyebut nenek Tania—tidak akan mendengar suara denting pedang kami yang saling beradu, aku berhenti mundur. Aku mulai melawan. Tahan.


Lalu saat ayah mulai lengah, aku menyerangnya lebih cepat. Ayah tidak tahu apa saja yang sudah kupelajari di Nordhalbinsel, jadi aku coba mempraktikkannya. Gerakan itu membuatnya kewalahan tapi belum cukup untuk membuatnya berhenti. Meski begitu, ada satu keunggulanku. Aku masih memiliki mataku. Ayahku buta.


Aku menjauh beberapa langkah darinya, melangkah dengan sangat sunyi. Aku hafal arena ini karena kami sering berlatih di sini. Aku tahu setiap batu dan ranting. Aku hafal tanah mana yang tidak boleh kupijak agar tidak menimbulkan suara. Aku tahu cara berjalan tanpa bersuara. Setelah berada di luar jangkauannya, aku kembali menyerang dengan cepat dari belakang. Ayah segera berbalik begitu menyadari keberadaanku. Tapi gerakan tiba-tiba itu sungguh di luar dugaannya. Setiap gerakan sudah kuperhitungkan dengan baik. Ayah berusaha menangkis setiap serangan dariku tapi dia akhirnya menyerah.


Aku tersenyum lebar. Itu adalah sebuah pujian. "Appa sudah tua."


Ayahku tertawa mendengarnya. Senang dapat mendengar tawa ayah lagi. Ibuku pernah bercerita padaku, dia jatuh cinta pertama kali pada ayah karena tawanya. Karena ayah jarang tertawa. Dan saat tertawa, biasanya dia akan menangis juga. Benar saja, dia menghapus air matanya yang menggenang di pelupuk mata.


Ayah tidak buta sejak awal. Sebuah insiden mengerikan merenggut penglihatannya. Aku tidak tahu bagaimana ceritanya ayah menjadi buta, tapi itu terjadi saat aku masih sangat kecil. Meski begitu, terkadang aku lupa bahwa ayah buta. Ayah dapat 'melihat' jauh lebih baik dari pria mana pun yang memiliki sepasang mata yang sehat.


"Benar, Yeon-Hwa. Appa-mu ini sudah tua." Katanya, menyebut nama lahirku. Yeon-Hwa. Lee Yeon-Hwa, itulah namaku. Nama yang sudah bertahun-tahun tidak kugunakan. Lee adalah nama keluarga ibuku, bukan nama keluarga ayahku. Ayah tidak pernah memberitahuku nama lahirnya. Dia selalu menjadi Daniel Welsh, putra angkat Tania Welsh si perawan tua yang baik hati yang menjadikan ayahku sebagai putranya sehingga kami mendapat izin menjadi warga Westeria. "Jadi kapan kau akan bertemu dengan Tuan Ortiz dan membicarakan pernikahan?"


Demi Naga! Orang-orang Orient dan kegelisahan mereka terhadap anak perempuan yang belum menikah! Di Nordhalbinsel aku tidak pernah mendengar pertanyaan macam itu. Bahkan Ratu Westeria yang sebelumnya, Ratu Elizabeth, tidak menikah. Sementara itu ayah masih saja dengan pemikiran kolot khas orang timur bahwa anak perempuan harus segera dinikahkan. Nanti aku akan memamerkan pada ayah bekas luka yang ada di pinggangku yang kudapat di Montreux. Bekas luka itu niscaya akan mengusir pelamar mana pun yang datang.


"Aku dan Raphael adalah teman masa kecil, Appa." Aku memberi alasan.


"Lebih bagus lagi kalau begitu. Kalian tidak perlu bertunangan terlebih dahulu untuk saling berkenalan. Karena sudah saling kenal, kalian bisa langsung menikah saja."


"Appa!"


"Lee Yeon-Hwa..." Aku mulai ngeri kalau ayah sudah menyebut nama lengkapku seperti itu. Dia menghela napas. Aku curiga sebenarnya itu dia lakukan karena dia lelah setelah sesi berpedang tadi. Tatapannya lurus ke arah mataku seolah dia benar-benar dapat melihatku. "Appa tidak akan memaksamu kalau kau memang tidak mau menikah. Sungguh, Appa berusaha untuk berpikir layaknya seorang Westerian bahwa pernikahan itu bukan kewajiban. Tapi siapa nanti yang akan menjagamu setelah aku kembali pada Eomma mu? Appa mu ini sudah tua, sebentar lagi akan mati dan tidak akan ada yang menjagamu serta Abuela Tania."


"Aku bisa menjaga diriku sendiri, Appa. Aku juga bisa menjaga Abuela. Jadi berhentilah bicara soal kematian maupun pernikahan. Keduanya sama mengerikannya." Aku mulai berjalan menuju rumah kami. Appa mengikuti di sampingku. Aku tidak perlu menuntunnya karena sepertiku, ayah juga sudah hafal jalanan ini. Lagi pula itu akan melukai harga dirinya jika aku berusaha menolongnya. Aku melirik ke ayah di sampingku. Dari raut wajahnya, aku tahu dia masih ingin bersikeras membicarakan pernikahanku. "Lagi pula, tidak akan ada yang berani menggangguku. Aku kan anak Appa." Tambahku dengan nada manja sambil menggandeng tangan penuh bekas luka milik ayahku, dengan begini, aku bisa membantunya tanpa benar-benar terasa seperti sedang membantunya.


Betapa aku sangat pandai berbohong. Pernyataanku tadi pada ayah itu bohong. Padahal baru semalam aku diganggu oleh sekumpulan serigala. Aku hanya bisa berharap Raphael tidak menceritakan tentang serigala-serigala itu pada ayahku. Ayah akan melarangku kembali ke Nordhalbinsel kalau tahu tentang serigala-serigala itu dan aku akan dikurung lagi di rumah.


...****************...


Upacara peringatan kematian ibu berlangsung dengan lancar dan tenang. Hanya aku, ayah dan Abuela yang hadir karena ibu tidak punya keluarga lain selain kami. Paling tidak begitulah yang ayahku ingin ibu percayai.


Ayah membohongi kami semua.

__ADS_1


Ayah selama ini mengarang seluruh kehidupan ibu. Ibuku yatim piatu, memang, tapi kakek dan nenekku bukan mati akibat kecelakaan. Mereka mati dibunuh. Seluruh keluarga ibuku mati dibunuh dan hanya ibuku yang selamat.


Lee Seo-Hwa. Itulah nama lahir ibuku. Bukan Sally Welsh seperti yang selama ini diyakini oleh semua orang. Ibuku adalah orang Orient dari suku Han, Klan Lee. Ibuku bukan orang Westeria yang kehilangan orang tuanya kemudian dirawat oleh Abuela. Ibuku bukan putri tunggal, ibuku memiliki banyak saudara dan saudari yang sudah tewas, kecuali satu saudara tirinya yang kini menjadi Kaisar Orient. Benar. Ibuku adalah Putri Orient.


Aku diberitahu olehnya beberapa tahun yang lalu saat ibu mulai sering sakit. Sepertinya ibu tahu bahwa penyakitnya tidak dapat diobati. Jadi dia hanya bisa pasrah sambil menunggu ajal. Suatu hari, dia memintaku menemaninya. Dia mendongengkan padaku kisah dari timur tentang seorang putri dan seorang jenderal.


Sang Putri kehilangan ingatannya akibat tragedi mengenaskan yang menimpa keluarganya. Sang Jenderal yang sangat menyayanginya dan ingin melindunginya, membuatkan identitas baru untuknya lalu membawanya ke sebuah negeri yang damai. Mereka kemudian bekerja merawat kebun milik perawan tua yang tinggal sendirian di atas bukit dan diadopsi oleh si perawan tua. Beberapa tahun kemudian, mereka menikah, punya anak dan hidup bahagia selamanya.


Tapi Sang Putri hidup dalam kebohongan. Dan 'selamanya' ternyata sangat sebentar. 'Selamanya' selalu terbentur oleh kematian. Manusia tidak abadi. Kami tidak benar-benar mengenal arti selamanya. 'Selamanya' memiliki tenggat waktu. 'Selamanya' memiliki akhir.


"Jadi selama ini Eomma mengingat semuanya? Eomma membohongi Appa dengan berpura-pura lupa ingatan bahwa Eomma adalah Putri Orient?" Tanyaku saat itu. Aku merasa dikhianati.


"Bukan begitu. Aku memang lupa ingatan awalnya. Tapi beberapa tahun kemudian, perlahan aku mulai mengingat semuanya. Saat itu aku sudah sangat jatuh cinta pada Appa mu. Appa mu melakukan segalanya untuk melindungiku dan memastikan aku hidup tercukupi. Lagi pula, aku memang ingin hidup tenang dan damai bersama Appa mu. Jadi sejak saat itu, aku memutuskan untuk benar-benar melupakan segalanya, lalu aku mengajaknya menikah. Appa mu sangat terkejut saat itu, dia berkali-kali menanyakan apakah aku serius tentang hal itu. Apakah aku bersedia hidup sederhana dengannya. Aku bilang padanya bahwa itu adalah kehidupan paling sempurna yang bisa kuimpikan."


Aku mengingat kata-kata itu. Saat mengatakannya, mata ibuku berbinar-binar seolah bintang-bintang hidup di sana. Aku sama sekali tidak mengerti cinta, tapi kurasa itu dapat membuat seorang putri Kaisar melupakan masa lalunya, meninggalkan semuanya untuk memulai hidup baru bersama cintanya. Kehidupan yang tenang dan damai. Hidup yang sederhana bersama orang yang dicintai. Kedengarannya memang bagus, indah, seperti dongeng belaka. Tapi apalah artinya semua itu jika mereka selama ini saling membohongi?


Ayah membohongi ibu dengan tidak menceritakan bahwa ibu adalah Putri Orient. Ibu membohongi ayah dengan tidak memberitahunya bahwa ibu sudah mengingat semuanya. Dan mereka berdua membohongiku beserta Abuela serta semua orang di sekitar kehidupan kami, semata-mata agar mereka dapat hidup tenang dan damai. Hidup dengan cinta. Cinta yang dibumbui kebohongan. Benarkah cinta seperti itu?


Jadi aku tidak mau mengenal cinta. Aku tidak mau jatuh cinta. Itu terlalu rumit dan sulit dimengerti.


...****************...


Selama berada di rumah, aku membantu Ayah merawat kebun Abuela di pagi hari, lalu berlatih sepanjang hari. Pada malam hari kami bersantai di beranda rumah bersama Abuela yang duduk di kursi goyangnya, meminum teh hangat dan kue Lotus buatan ayah. Ayahku bisa melakukan segalanya, mulai dari memasak, merawat kebun, merawat Abuela, hingga berburu. Semua itu dapat dia lakukan tanpa melihat. Kata ayah, saat kehilangan penglihatan, manusia dapat melihat dengan cara lain. Getaran, suara, tekstur, aroma, semua menjadi sesuatu yang dapat 'dilihat'.


Saat hari sudah sangat larut, ayah masuk untuk menyiapkan tempat tidur Abuela. Abuela sudah sangat tua sehingga beliau tidak kuat udara dingin malam hari. Jadi ayah akan memastikan tempat tidurnya cukup nyaman dan perapian menyala. Sementara itu, aku menemani Abuela dan mengobrol dengan bahasa Westernia.


"Daniel mengkhawatirkanmu sampai hampir gila." Katanya sambil menyesap teh hangatnya dengan santai.


"Appa selalu begitu."


"Hanya kau yang dia miliki sekarang."


"Appa masih memiliki Abuela."


Abuela tertawa. Suara tawa nenek tua yang telah bertahan hidup melajang seumur hidupnya. "Yeon-Hwa..."


"Honey. Namaku Honey Welsh."


"Dasar anak keras kepala! Namamu Yeon-Hwa. Di luar sana terserah kau mau menjadi siapa, tapi di rumah ini kau adalah Yeon-Hwa." Abuela tidak bisa didebat, jadi aku diam dan mendengarkan. "Jangan pergi lagi. Tetaplah di rumah ini. Kau boleh menolak pernikahan dengan putra bungsu Ortiz, kau mau melajang selamanya sepertiku pun tidak apa-apa, tapi tetaplah di sini bersama Appa mu. Dia membutuhkanmu."


"Appa bisa menjaga dirinya sendiri bahkan tanpa matanya sekalipun."


"Bukan itu maksudku."


Aku tahu maksudnya. Ayah merasa sangat hancur ketika ibu meninggal. Saat ibu meninggal, bisa dibilang ibu pergi dengan membawa seluruh hatinya bersamanya. Hanya aku yang tersisa dari ibu. Aku sangat mirip dengan ibu dan keberadaanku mungkin bisa menjadi pelipur lara bagi ayah. Pengingat bahwa kehadiran ibu dalam hidupnya adalah nyata. Bahwa ibu benar-benar pernah hidup bersamanya. Bahwa mereka benar-benar saling mencintai dan hidup bahagia. Dan akulah bukti hidup itu.


Aku menatap Abuela Tania cukup lama. Abuela memiliki tipikal wajah wanita tua Westeria, wajah bulat, kulit kecokelatan yang sudah berkeriput, hidung besar, mata bulat lebar dengan bulu mata yang tebal dan alis yang tebal. Saat dia tersenyum, kerut di bagian bawah matanya akan terlihat sangat jelas, tapi kerutan itu tampak cantik. Dia tampak cantik. Tapi kini matanya tidak tersenyum. Matanya sedang balas menatapku, cucu durhaka yang sulit diatur.


"Abuela... Aku punya pekerjaan di Nordhalbinsel. Gajiku cukup besar sehingga aku akan bisa langsung membeli rumah besar di kota Noord lengkap dengan pelayan dan kereta kuda setelah satu tahun bekerja. Aku akan mengajak Appa dan Abuela tinggal di sana bersamaku nanti setelah aku membeli rumah. Aku berjanji."


Begitulah percakapan kami selesai. Abuela hanya menghela napas berat seolah yang dia hirup itu batu bukannya udara. Abuela tidak menginginkan rumah baru terlebih lagi di Nordhalbinsel, di tempat yang dingin di mana dia tidak bisa memiliki kebun. Aku tahu itu, tapi aku tidak akan tinggal di Westeria lagi. Westeria akan selalu mengingatkanku pada ibu dan kehidupannya yang penuh kebohongan dan persembunyian.


Setelah lebih dari seminggu—aku tidak yakin sudah berapa lama waktu berlalu tepatnya, aku membereskan barang-barangku dan bersiap kembali ke Nordhalbinsel. Hampir. Sesuatu menghentikanku. Pagi itu, aku mendapat berita yang sangat mengejutkan lewat sepucuk surat pemberitahuan dari Nordhalbinsel yang dikirimkan kepada seluruh pengawal yang sedang mengambil libur atau cuti.


Raja Vlad meninggal dunia, diduga diracuni oleh menantunya sendiri, Ratu Eleanor. Dan semua pengawalnya akan disidang. Semua orang yang melayani Ratu Eleanor akan dianggap sebagai komplotan Sang Ratu dan dihukum mati.


Sekarang aku takkan bisa kembali lagi ke Nordhalbinsel.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2