Lotus Of East Palace

Lotus Of East Palace
Chapter 7 (Shuu)


__ADS_3

"Kita akan terus berlari, Shuu. Kita bisa kembali ke Orient, atau bersembunyi di Westeria. Aku tidak peduli asalkan kita bisa pergi dari sini." Ucap Kaze.


Aku setuju dengannya, terutama di bagian bersembunyi di Westeria. Aku merasa kembali ke Orient bukan lah pilihan yang bijak untuk saat ini, atau kapan pun di masa yang akan datang. Kalau boleh jujur, aku tidak pernah ingin kembali ke Orient.


"Kita sebenarnya tidak perlu lari. Bukan kita pelakunya." Kataku sambil terengah. Naga Air tidak suka berlari. Terbang, mungkin. Berenang, pasti. Tapi berlari, terlebih sebagai manusia yang sudah hidup di Istana sejak lahir, jelas bukan kegiatan kesukaanku.


Kaze berbeda. Saat dia berlari, dia seolah sedang menyatu dengan angin dingin yang menampar-nampar wajahnya. Dia juga terengah, nafasnya pendek-pendek, jantungnya berpacu cepat sebagaimana jantungku—kami dapat merasakan detak jantung masing-masing seolah kami berbagi jantung yang sama. Tapi Kaze tampak senang bahkan meski dia masih ketakutan. Wajahnya yang beberapa hari ini terlihat pucat karena kekurangan sinar matahari dan selalu tegang saat berada di dekat Pangeran Yi, kini ada rona semu kemerahan di kedua pipinya. Membuat wajahnya serupa buah persik segar.


"Tapi kita saksi! Kita saksi hidup. Orang-orang yang jahat bisa memutarbalikkan fakta dan menuduh kita sebagai pembunuh. Kita bisa mencari Raja dan Ratu kita. Atau ke mana pun yang penting kita harus pergi jauh." Dia bersikeras.


Aku akan mengikutinya ke mana pun dia ingin pergi.


Kaze menggenggam tanganku dengan sangat erat. Padahal tanpa begitu pun aku tetap akan mengikutinya, berlari secepat yang aku bisa untuk mengimbanginya. Kami adalah dua insan dengan satu hati dan satu jiwa, dan aku tidak akan pernah bisa jauh darinya, begitu pun halnya Kaze yang tidak akan bisa jauh dariku. Tidak setelah kami dipertemukan beberapa tahun yang lalu.


Saat itu usiaku sebelas tahun tapi aku sudah masuk ke Istana Air. Padahal Naga Air sebelumnya—aku di kehidupan sebelum ini—Huang Hui Jun yang adalah kakekku, baru memasuki Istana Air di usia dua puluh tahun setelah menikah. Sebagai anggota Klan Huang, aku bisa dibilang setara dengan pangeran di Orient. Aku memiliki hak-hakku sendiri. Aku diperbolehkan masuk ke Istana Air kapan pun aku mau, asalkan saat Kaisar membutuhkanku, untuk perang atau sekedar menghancurkan musuh-musuhnya, aku sudah siap dan terlatih. Tapi aku bersikeras untuk masuk ke Istana Air secepatnya.


Sejak aku lahir, Klan Huang sudah tahu bahwa aku adalah reinkarnasi kakekku, bahwa aku adalah Aquinier yang ada dalam legenda. Aku tetap anak dari ayah dan ibuku, tapi saat mereka memasuki kamarku, mereka diwajibkan mengetuk pintu lebih dahulu, mendapat izin dariku, kemudian masuk sambil menunduk dan membungkuk. Orang tuaku diwajibkan memperlakukanku dengan penuh hormat. Saat ada hari perayaan, keluarga besarku, Klan Huang baik yang sudah sepuh maupun yang baru lahir, akan berkumpul di rumahku untuk bersujud di hadapanku serta memohon berkah dariku. Aku adalah dewa yang hidup di tubuh anak kecil bagi mereka semua. Aku dianggap suci, sakti dan sempurna. Padahal aku hanya anak biasa seperti anak-anak lainnya.


Di saat saudara-saudaraku atau anak-anak seusiaku bermain bersama, aku tidak diizinkan bergabung dengan mereka. Di saat aku bosan karena terus berada dalam rumah dan belajar sepanjang hari, aku tidak boleh mengeluh. Pernah satu kali aku mengeluh dan menghela napas, semua orang tampak takut dan memohon ampunan padaku seolah mereka baru saja melakukan dosa besar. Katanya, kalau Naga Air mengeluh, atau marah, atau sedih atau merasakan emosi apa pun, sungai Yaozhi akan meluap dan membanjiri seisi kota, atau Laut Timur akan tumpah ruah menghanyutkan separuh kekaisaran.


Itulah sebabnya aku masuk ke Istana Air lebih awal. Tapi setelah selama itu diperlakukan layaknya Dewa, begitu memasuki Istana Air, aku bertemu dengan seorang gadis kecil suku Ilbon yang memukul tanganku hanya karena aku mendahuluinya mengambil kue saat acara jamuan kedatanganku pertama kali. Sebenarnya, itu memang salahku. Aku seharusnya mempersilahkan dia terlebih dahulu mengambil kue karena dia tamu di Istana Air. Tapi aku sudah terbiasa didahulukan dalam hal apa pun sehingga aku melupakan tata krama dasar itu.


"Kau ini dibesarkan di kandang ayam ya?" Dia membentakku dengan logat khas suku Ilbon. Suaranya teramat nyaring sehingga telingaku yang terbiasa mendengar orang bicara dengan halus dan penuh sopan santun padaku rasanya hampir berdarah.


Gadis kecil itu sangat tidak sopan. Tutur katanya kelewat kasar—aku yakin dia berasal dari pedalaman atau kampung tempat tinggal orang-orang miskin. Selera berpakaiannya tidak seanggun para perempuan suku Jung—dia selalu mengenakan kimono berwarna terang yang mencolok serta beragam permata di rambutnya yang berwarna perak. Dan aku tidak terbiasa dengan semua itu. Jadi di hari pertama pertemuan kami di Istana Air, tentu saja, kami bertengkar.


Saat aku baru akan membanjiri Istana Air dengan meluapkan danau, gadis kecil itu sudah terlebih dahulu mendatangkan angin topan dan menghancurkan sebagian atap Istana Air. Aku masih ingat betapa setelah itu para pelayan dan pengawal Istana Angin bersujud di hadapan kami serta memanjatkan doa-doa keselamatan seolah pertengkaran kami adalah awal mula kehancuran kekaisaran. Jadi kami berhenti bertengkar dan adu kekuatan demi mereka. Setelahnya, aku diminta mengungsi terlebih dahulu di Istana Angin sementara Istana Air diperbaiki. Lebih tepatnya, mereka memohon padaku sambil bersujud.


Karena berbulan-bulan tinggal bersama di Istana Angin, kami pun mulai saling mengenal dan dengan cepat menjadi akrab. Bukan hanya karena kami adalah Naga Kembar, bukan hanya karena jika yang satu mengalami sakit maka yang lainnya turut merasa sakit, melainkan karena hanya dengan Kaze aku bisa menjadi manusia biasa bukan sejenis Dewa atau senjata mematikan. Saat atap Istana Air sudah selesai diperbaiki, rasanya aku ingin membuat kehancuran lainnya agar aku diizinkan tetap tinggal di Istana Angin. Kaze mengetahui keinginan itu hanya dari sekali lirik pada wajah murungku. Dengan senyum jail, dia berpura-pura bertengkar denganku dan kembali memorak-porandakan sebagian besar Istana Angin dengan angin topannya. Dengan begitu, dia yang diungsikan ke Istana Air bersamaku.


Saat mengingat semua itu, kami sudah berubah menjadi Naga Air dan Naga Angin. Aku sedang berenang di samudra Tygriss dan Kaze terbang di langit Nordhalbinsel. Tiba-tiba saja, jantungku terasa sangat sakit sampai kupikir sesuatu mungkin terjadi pada Kaze. Jadi aku berenang ke permukaan air.


"Apa itu?" Tanya Kaze. Bukan dia yang terluka.


"Kau merasakannya juga?"


Kaze menggeram. Petir menyambar-nyambar di langit. Sebentar lagi badai akan datang.


Aku tahu alasannya.


"Earithear... Naga Bumi..." Bisik Kaze.


"Aku tahu."


Aku tidak bisa mengungkapkan rasanya dengan baik. Yang jelas, aku merasa sedih dan marah. Dan sepertinya mitos-mitos yang ada di Orient itu benar adanya. Saat Naga Air mulai merasakan emosi-emosi seperti itu, ombak bergulung tinggi, menghanyutkan seisi kota yang ada di pinggir laut. Aku tidak tahu kota mana saja yang terimbas saat itu, aku bahkan tidak mau peduli. Saudari kami telah tewas. Seseorang atau mungkin beberapa orang telah membunuhnya.


Aku hanya bisa berharap Naga Api Agung di kehidupan sekarang punya kendali diri yang cukup untuk membendung apinya agar tidak menghanguskan seluruh daratan. Mungkin dia bisa mengendalikan dirinya sendiri andai saja Ratu kami ada di sampingnya. Hanya Ratu kami yang dapat membungkam kekuatannya dan menenangkan apinya yang meluap-luap. Semoga saja kata-kata Ratu Eleanor benar bahwa Raja dan Ratu kami telah bertemu di kehidupan ini.


"Kita harus menemukan Raja dan Ratu kita segera." Ucapku.

__ADS_1


...****************...


Berhari-hari kemudian, kami akhirnya memutuskan untuk bersembunyi di Westeria. Tempat itu adalah tempat paling aman untuk bersembunyi. Aku menyatu dengan lautan dan Kaze menyatu dengan angin. Begitulah caranya kami melewati gerbang Westeria—yang kulupa namanya—serta pengamanan ketat mereka.


Satu masalahnya. Kami berdua tidak bisa bahasa Westernia. Dan orang-orang Westernia enggan mempelajari bahasa lain selain bahasa mereka sendiri.


Di Westernia, kami tidak perlu bersembunyi. Kami dapat berjalan di antara keramaian kota tanpa menutupi wajah kami karena tidak ada yang mengenal kami. Awalnya semua itu menyenangkan. Kami menggunakan sedikit uang yang kami bawa untuk tinggal beberapa hari di penginapan. Kami melipur kesedihan kami karena kematian saudari kami dengan berjalan di pusat kota Westernia yang dipenuhi kehangatan, tawa warga sekitar, serta bunga beraneka warna. Setelah lama berada di Nordhalbinsel dengan suhu udara yang dingin, kami akhirnya dapat melepas mantel kami dan menikmati musim semi yang hangat di Westeria. Meski tidak sehangat udara musim semi di Orient, Westeria cukup untuk mengobati rindu kami pada cahaya matahari.


"Aku lapar." Kata Kaze setelah lama kami hanya berjalan kaki sambil melihat-lihat beraneka toko dan kios-kios pinggir jalan. Kami sudah kehabisan uang saat ini.


"Kita tidak punya uang. Kita tidak bisa membeli makanan."


Kaze kemudian melepas salah satu jepit berhias permata ruby yang ada di rambutnya. "Kita jual ini untuk membeli salah satu pastry di sana."


Aku melihat ke arah yang ditunjuk Kaze. Sebuah kios pinggir jalan yang menjual beraneka pastry dalam ukuran mini. Aroma mentega dari kejauhan membuat perutku keroncongan. Tapi kemudian tatapanku kembali tertuju pada jepit rambut Kaze. Jika kami menjualnya, seharusnya uangnya cukup untuk membeli rumah dan biaya hidup selama beberapa tahun—kalau kami tidak berfoya-foya seperti yang biasa kami lakukan di Istana.


Aku berpikir keras. Di mana kami bisa menjual perhiasan berharga tinggi seperti itu tanpa menuai kecurigaan? Dan bagaimana kami bisa menjualnya dengan harga yang pantas? Orang-orang Westeria mungkin tidak akan tahu bahwa jepit rambut itu dianggap keramat di Orient karena sudah dipakai oleh Naga Angin dari beberapa generasi. Jepit rambut itu pertama kali diberikan oleh seorang Kaisar Orient dari beberapa ratus tahun yang lalu untuk Naga Angin pertama yang dia temui. Dan aku yakin harganya sangat tinggi jika kami menjualnya di Orient. Kami tidak bisa menegosiasikan harga di sini karena tidak mengerti bahasa Westeria. Kami bisa saja ditipu padahal itu satu-satunya harta yang kami bawa yang dapat membuat kami bertahan hidup tanpa kembali ke Orient.


"Kita harus menyimpan jepit rambut itu." Kataku akhirnya. Kaze segera mengangguk setuju dan buru-buru menyimpan jepit itu di sakunya. Aku tahu bahwa itu adalah jepit rambut kesukaannya dan dia sebenarnya tidak ingin menjualnya. Mungkin jiwa Naga Angin di masa lalu yang membuatnya sangat menghargai jepit rambut itu.


"Tapi aku lapar sekali." Kata Kaze.


Aku tidak tega melihatnya seperti itu. "Tunggu sebentar di sini. Aku akan segera kembali membawa makanan." Kataku padanya. Kaze menurut dan duduk diam di kursi dekat air mancur tengah kota.


Aku adalah Naga Air. Aku berasal dari Klan Huang yang sangat dihormati. Aku tidak pernah mencuri, dan tidak akan pernah melakukannya. Ini bukan mencuri. Aku akan membayarnya nanti. Tapi tidak sekarang.


Pusat Kota Westeria adalah tempat yang tidak ada di mana pun di dunia ini. Jalanannya terbuat dari batu-batu alam yang sudah dibentuk sehingga tidak membuat orang-orang yang berjalan kaki merasa kesulitan. Di beberapa tempat, tumbuh rumput-rumput hijau seperti permadani tempat orang-orang Westeria menggelar alas duduk dan menikmati cuaca cerah bersama orang-orang terdekat di bawah rindangnya pepohonan bunga yang tidak kuketahui namanya, sambil memakan makanan yang mereka beli di beberapa kios. Yang paling menakjubkan, meski itu adalah pusat kota, sebuah sungai besar yang bercabang-cabang mengalir deras seolah membagi jalanan menjadi beberapa bagian. Di sepanjang pinggir sungai yang jernih itu, orang-orang membuka kios makanan dan minuman dan menyediakan tempat duduk agar para pelanggan mereka dapat duduk dekat sungai sambil menikmati makanan dan minuman yang sudah mereka beli. Salah satu kios yang ada di pinggir sungai adalah kios pastry yang tadi ditunjuk oleh Kaze.


Aku mengambil beberapa pastry saat si penjual sedang sibuk melayani pembeli. Dan setelah si penjual kembali menoleh ke belakang, ke arah pastry-pastry nya, aku sudah jauh dari anak sungai sambil membawa beberapa Pastry yang sedikit basah. Kaze berterima kasih dan segera melahap pastry-pastry itu. Aku tidak bisa menahan senyumku setiap melihat dia makan dengan lahap.


"Itu! Anak laki-laki itu yang mencuri pastry-pastry ku!"


Jantungku hampir berhenti. Aku tidak berani menoleh dan segera mengajak Kaze berlari secepat mungkin melewati keramaian kota.


"Kau mencuri?" Tanya Kaze.


"Aku meminjam. Aku akan membayarnya nanti."


"Itu mencuri namanya!"


"Kau kelaparan."


"Kau tidak ahli mencuri. Seharusnya bilang padaku. Aku lebih ahli dalam hal itu!"


"Sudah lah. Lebih baik sekarang kita mencari tempat persembunyian. Atau tempat sepi untuk merubah wujud."


"Ini pusat kota! Di mana-mana ramai! Kita tidak—“


'Buk!'

__ADS_1


Aku dan Kaze jatuh bersamaan. Seseorang membuat kami tersandung. Orang itu, siapa pun dia, kini telah berdiri di hadapan kami dengan kedua tangan terlipat di depan dada dan ekspresi wajah tidak senang. Dia memegang pedang yang kuketahui tadi digunakannya untuk membuat kami tersandung. Awalnya aku berpikir kami dalam masalah besar. Kami akan tertangkap dan tidak ada yang dapat menolong kami karena tidak ada yang mengerti bahasa kami. Tapi kemudian aku melihat wajah orang itu.


Dia seorang gadis Orient. Aku tidak mungkin salah. Meski dia berpakaian seperti Westerian, wajahnya tidak dapat membohongi kami. Akhirnya! Akhirnya kami menemukan orang yang dapat berbicara bahasa kami.


"Noona, tolong ampuni kami. Tolong biarkan kami pergi." Kataku dalam bahasa Orient sambil memelas. Sebisa mungkin menghilangkan gaya bicaraku yang selalu terdengar ningrat. Kaze sering mencemooh gaya bicaraku itu.


"Eonni, ibu kami di desa sedang sakit keras. Ayah kami pergi entah ke mana bersama seorang gadis muda. Kami kelaparan, ibu kami juga sudah lama tidak makan. Kami terpaksa mencuri." Kaze menambahkan, Dia juga sebisa mungkin menghilangkan logat khas suku Ilbon. Kaze selalu pintar dalam hal seperti ini. Aku tidak bisa mengerti bagaimana cara dia mengarang semua itu dalam waktu beberapa detik saja. Ekspresi wajahnya niscaya membuat siapa pun yang melihatnya akan mengeluarkan air mata dan sekantung uang untuk diberikan.


Gadis Orient itu jelas lebih tua dari kami itulah sebabnya aku memanggilnya dengan sebutan 'noona' yang dalam bahasa kami digunakan untuk menyebut perempuan yang lebih tua. Usianya mungkin empat atau lima tahun lebih tua dariku. Rambut panjangnya yang hitam berkilau diikat ekor kuda. Dia mengenakan blus dan celana panjang yang umum digunakan wanita di Westeria—dengan pedang tersampir di pinggangnya. Di Orient, tidak ada perempuan yang mengenakan pakaian seperti itu. Perempuan Orient selalu terlihat anggun dengan rok panjang. Jadi sungguh ganjil rasanya melihat perempuan Orient mengenakan pakaian seperti itu.


Aku mengikuti sandiwara ciptaan Kaze. Memasang wajah yang mudah-mudahan terlihat menyedihkan.


Ha! Wajah ningratmu sama sekali tidak cocok untuk sandiwara ini. Kaze memprotes. Aku menahan diri untuk tidak membalasnya maupun melemparkan tatapan tajam padanya.


Kami menunggu. Gadis Orient itu mungkin akan menolong kami dengan menjelaskan pada si penjual pastry tentang 'ibu kami yang sakit' atau pun tentang 'ayah kami yang kabur dengan gadis muda'. Atau mungkin dia akan membayarkan pastry-pastry yang sudah kuambil dan mungkin memberikan sedikit uang untuk kami. Paling tidak mungkin dia akan membiarkan kami lari dari kejaran si penjual pastry dan petugas keamanan yang sudah hampir dekat itu.


"Berikan!" Perintahnya dalam bahasa Orient. Sudah kuduga, dia benar-benar orang Orient. Dari logatnya, dia mungkin berasal dari suku Han. Tapi warna matanya tidak seperti orang-orang suku Han. Matanya seperti orang-orang suku Jung.


Dengan berat hati kuserahkan beberapa pastry yang masih belum kami makan padanya.


"Bukan ini." Katanya sambil memberikan pastry-pastry itu padaku. Lalu dia melirik ke arah Kaze. "Kau mencuri sebuah jepit rambut. Aku melihatnya tadi."


"Aku tidak mencuri jepit—“


Sebelum Kaze menyelesaikan kalimatnya, noona itu sudah mengambil sesuatu dari saku pakaian Kaze. Itu adalah jepit rambut Naga Angin.


"Dari mana dua anak imigran yang saking miskinnya hingga mencuri pastry dari kios pinggir jalan seperti kalian mendapatkan jepit rambut seperti ini? Ini pasti milik seorang bangsawan Orient. Kalian mencurinya!”


"Aku bersumpah tidak mencurinya! Itu memang milikku!" Kaze kini berteriak. Aku melihat ke sekitar, khawatir ada angin topan atau awan badai yang tahu-tahu hadir di tengah cuaca secerah ini. Tapi tidak ada. Kaze sudah bisa mengontrol emosinya dengan baik.


Gadis Orient itu kemudian melaporkan kami pada petugas keamanan. Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan karena mereka menggunakan bahasa Westeria. Aku hanya bisa menangkap beberapa kata yang pernah kupelajari di Istana. Penjara. Anak. dan Ibu. Juga kata 'sakit'. Kurasa gadis itu sedang menjelaskan cerita karangan Kaze pada si petugas keamanan.


...****************...


Kupikir kami akan dibawa ke penjara dan di kurung di sana tanpa ada yang bisa membela kami. Kupikir gadis Orient itu akan menyerahkan kami. Ternyata tidak.


Berkat penjelasan dari gadis Orient itu, kami tidak ditangkap. Bahkan dia membayarkan pastry-pastry yang sudah kuambil. Aku bersumpah akan segera membayar semuanya nanti padanya. Aku tidak suka berhutang budi seperti ini.


Gadis Orient itu kemudian mengajak kami ke rumahnya. Dia tinggal bersama seorang pria tua Orient yang buta dan wanita Westeria yang bahkan lebih tua lagi. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Lee Yeon-Hwa. Sudah kuduga, dia berasal dari suku Han. Kuduga matanya berwarna hitam alih-alih kelabu seperti halnya orang-orang suku Han dikarenakan ayahnya, pria tua buta itu, berasal dari suku Jung.


"Jadi, siapa yang mau menceritakan dari mana kalian mendapatkan jepit rambut ini?" Tanyanya kemudian setelah kami disambut dan dijamu dengan baik oleh nenek tua yang ramah di rumah itu. Nenek tua itu tidak banyak bicara karena tahu kami tak saling memahami bahasa masing-masing, tapi dia memperhatikan kami seolah kami adalah cucunya yang telah lama hilang.


Kita mau berbohong atau terus terang saja? Tanyaku pada Kaze.


Jika kita berterus terang, memangnya dia akan percaya?


Jadi aku mencoba membaca pikiran mereka semua. Membaca pikiran Lee Yeon Hwa, ayahnya yang buta dan neneknya yang sama sekali tidak mirip dengannya.


Akhirnya, aku menoleh ke arah Kaze yang sejak tadi menunggu keputusanku apakah kami harus berbohong lagi atau tidak. Tunjukkan semuanya pada Lee Yeon-Hwa. Tunjukkan wajah Raja dan Ratu. Dia mungkin bisa membantu kita.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2