Lotus Of East Palace

Lotus Of East Palace
Chapter 13 (Elias)


__ADS_3

Dia menangis sambil menatapi bintang-bintang yang berjatuhan.


Kenapa? Apa dia merindukan ayah dan ibunya? Merindukan rumahnya? Apa dia sedang punya masalah? Apa karena tugas ini terlalu berat untuknya? Memang menurutku juga tugas menjadi mata-mata sangat sulit terlebih lagi yang dia awasi adalah anggota keluarga Kaisar. Jika ketahuan dia bisa dipenggal.


"Berikan ini padanya." Bisikku pada Shuu sambil memberikan sapu tanganku.


"Kenapa tidak Anda saja yang memberikannya langsung, Tuan?"


"Dia tidak akan mau." Dia mungkin akan membuangnya.


"Saya juga tidak mau." Kata Shuu. Apa semua remaja di Orient selalu tidak patuh seperti ini atau karena dia Naga Air makanya dia menyebalkan seperti Xavier? Apa semua Naga memiliki sifat seperti ini? Apa sifat menyusahkan dan menyebalkan mengalir dalam darah mereka? "Saya tidak menyebalkan. Saya hanya ingin Anda yang memberikannya langsung, Tuan. Maaf kalau sikap saya menyinggung Anda. Anda bisa memberikan sapu tangan itu padanya sambil meminta maaf padanya."


"Minta maaf untuk apa?"


"Anda yakin mau saya menyebutkannya satu-persatu?"


"Apa karena itu dia menangis? Apa karena aku?"


"Tanyakan saja langsung padanya, Tuan."


"Sini biar aku saja yang memberikannya. Kalian para pria sangat tidak peka!" Kaze mengambil sapu tangan itu dan memberikannya pada Yeon-Hwa. Dan Yeon-Hwa menerimanya.


...****************...


Saat melihat bintang jatuh, aku teringat pada pembicaraanku dengan ayahku. Saat itu beliau sudah putus asa mencoba membuatku bertunangan dengan salah satu putri bangsawan maupun putri kerajaan dari berbagai negara. Aku selalu berhasil menggagalkan rencana pertunangan itu. Mudah saja. Aku tinggal menyebarkan rumor palsu tentang Putra Grand Duke yang memiliki banyak kekasih dan bersikap menyebalkan pada calon tunanganku saat kami dipertemukan. Cara itu selalu berhasil. Dan setelahnya ayahku akan sangat marah. Tapi aku bersikeras tidak mau menikahi siapa pun kecuali wanita yang sudah ditakdirkan untukku. Pasangan jiwaku. Dan aku masih menunggunya.


"Hari saat kau akhirnya menemukan wanita itu, adalah hari di mana bintang-bintang akan jatuh dari langit!" Katanya. Sebenarnya itu adalah sebuah ungkapan di negeri kami, bintang-bintang jatuh dari langit berarti akhir dunia.


Semua ini dimulai ketika usiaku lima belas tahun, setelah Elle dan Xavier bertunangan. Aku agak terlambat dalam mengalami perubahanku sampai-sampai ayahku awalnya berpikir bahwa dia lah Serigala terakhir dari Klan Winterthur. Dia pikir karena menikah dengan seorang penyihir maka keturunannya tidak akan mewarisi kutukan itu. Dugaannya melenceng. Elle memang tidak mewarisi kutukan itu, dia tidak menjadi Serigala karena dia perempuan. Elle hanya mewarisi bakat sihir dari ibu. Tapi aku berbeda. Aku mewarisi keduanya, bakat sihir Klan Grimoire serta kutukan Klan Winterthur.


Ayah tidak pernah mengajariku atau pun memberitahuku bahwa pada malam tertentu aku bisa kehilangan kendali dan menjadi Serigala sepenuhnya. Dan itu menjadi malapetaka. Hampir.


Malam itu, aku, Elle dan Xavier sedang pergi ke bukit cahaya, sebuah tempat yang hanya kami bertiga yang tahu. Kami sering berkumpul bersama di sana menyaksikan ribuan cahaya di kaki bukit yang berasal dari lampu rumah-rumah penduduk. Kejadiannya sangat tiba-tiba, seluruh sel dalam tubuhku seperti dibakar, rasanya luar biasa menyakitkan. Lalu aku benar-benar kehilangan kesadaran. Hal berikutnya yang aku tahu, Elle jatuh di atas salju sambil gemetar ketakutan. Dia menangis. Saat itu, aku hampir saja memakan saudari kembarku sendiri.


Elle terlalu takut untuk mengatakan apa pun padaku. Xavier yang akhirnya menceritakan padaku apa yang terjadi. Aku berubah menjadi Serigala untuk pertama kalinya dan hilang kendali hingga hampir menerkam Elle. Tapi Xavier berhasil menghentikanku hanya dengan satu kata perintah darinya. Aku kemudian diberitahu oleh ayahku bahwa itu hal yang wajar, bahwa kedepannya hal itu akan terus terjadi padaku. Bahwa jika tiba saatnya untuk berburu, aku lebih baik pergi ke daerah perbatasan dan berburu di sana agar tidak melukai siapa pun. Bahwa saat hal itu terjadi, saat aku menjadi monster kelaparan tanpa akal sehat, tidak akan ada yang bisa menghentikanku selain Raja dan pewarisnya.


"Apa ayah tidak pernah melukai ibu saat ayah berubah menjadi serigala?" Tanyaku saat itu. Aku masih merasa bersalah karena membuat Elle ketakutan meski saudari kembarku itu berulang kali mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Aku khawatir dia akan selamanya takut padaku dan kami jadi menjauh.


"Tidak pernah. Ibumu berbeda. Dia bisa menghentikanku, sama seperti Raja bisa menghentikanku."


"Karena ibu adalah penyihir yang kuat." Aku bergumam.


Ayah menggeleng. "Karena ibumu adalah pasangan jiwaku."


"Apa maksudnya itu?"


"Dia adalah wanita yang ditakdirkan untukku. Pasanganku. Takdirku. Hanya pasangan jiwamu yang dapat mengembalikanmu ke wujud semula dan menghentikanmu saat kau lepas kendali."


"Kalau begitu aku akan menemukan pasangan jiwaku. Aku hanya akan menikah dengannya."


Ayah tertawa mendengarnya. "Sangat jarang orang yang bisa benar-benar menemukan pasangan jiwanya. Aku sangat beruntung. Setahuku, para Serigala Winterthur terdahulu tidak ada yang berhasil menemukan pasangan jiwa mereka. Mereka terlalu berfokus untuk melestarikan darah keturunan mereka dengan menikahi saudari mereka sendiri. Mungkin juga karena terlalu sulit menemukan pasangan jiwa."


"Memangnya dari mana ayah tahu bahwa ibu adalah pasangan jiwa ayah?"


"Ada tanda-tandanya, nak. Ibumu bilang, bahkan sebelum dia meninggalkan Istana Utara, sebelum dia bertemu denganku, dia selalu bermimpi bertemu dengan serigala. Dia bertemu denganku dalam wujud serigala di mimpi itu. Dan dia mengatakan, di mimpi itu, dia bisa melihat jati dirinya di mataku—Dia melihat dirinya sendiri apa adanya, lengkap dengan kelemahan dan kekurangannya yang dia sembunyikan dari semua orang."


Sejak saat itu aku benar-benar sudah bertekad untuk tidak menikahi siapa pun selain pasangan jiwaku. Aku tidak mau hal yang hampir menimpa Elle malam itu, terjadi pada istriku kelak. Aku tidak mau istriku nanti terluka—atau mungkin mati—karena perubahanku, karena aku hilang kendali. Karena kutukanku. Jadi setiap kali aku bertemu dengan wanita yang dipilih oleh ayahku untuk menjadi calon tunanganku, hal pertama yang kutanyakan adalah, "Apa kau pernah bermimpi bertemu dengan serigala?"


Sejauh ini, jawaban mereka tidak ada yang membuatku ingin menikahi mereka. Dan setiap kali pertemuan dengan calon tunanganku usai, reputasi burukku semakin meningkat. Semakin banyak rumor buruk tentangku. Ayahku semakin frustasi.


Wanita yang terakhir adalah Andromeda Navarro. Kami seharusnya bertunangan setahun yang lalu. Ayah pikir aku tidak akan berani membuat seorang Navarro kesal hingga membatalkan rencana pertunangan. Dia salah.


Aku tidak perlu membuat Andromeda kesal dengan sikap burukku maupun rumor-rumor palsu yang sengaja kusebar. Dia lebih dewasa dariku. Dan dia seorang Westerian. Para wanita Westerian terkenal tangguh dan mandiri. Banyak di antara mereka yang memutuskan untuk tidak menikah dan menjalani hidup bahagia seorang diri—aku sama sekali tidak mengusili keputusan itu. Menurutku, para wanita Westerian sangat luar biasa. Mereka tahu apa yang terbaik untuk diri sendiri dan tidak menggantungkan kebahagiaan mereka pada ikatan pernikahan dengan seorang pria yang belum tentu dapat membuat mereka bahagia.

__ADS_1


Setelah mengetahui bahwa Andromeda bukan pasangan jiwaku, aku langsung berterus terang bahwa aku tidak berniat menikah dengannya.


"Klan Navarro akan menganggap penolakan itu sebagai penghinaan terhadap kami. Kau tahu apa yang bisa dilakukan oleh Klan Navarro, bukan?" Tanyanya.


"Aku tahu."


Andromeda kemudian tersenyum senang. "Ada baiknya jika kau dan keluargamu menjauh dari wilayah Westeria untuk sementara ini, paling tidak sampai satu tahun. Aku akan berusaha untuk memberitahu ayahku dengan baik-baik. Beliau biasanya mendengarkanku karena aku pewarisnya."


"Begitu saja?"


"Aku menyukaimu." Katanya dengan riang. "Maksudku, aku suka kau tidak berbelit-belit dan langsung mengatakan bahwa kau tidak mau menikah denganku. Pria lain biasanya akan takut untuk menolak karena aku seorang Navarro. Sebenarnya, aku juga tidak ingin menikah. Awalnya kalau kau berniat untuk melanjutkan pertunangan ini, aku sudah bersiap membuatmu lumpuh total sehingga keluargaku akan memaklumi jika aku menolak menikahimu. Jangan salah paham, menurutku kau adalah makhluk paling rupawan yang pernah kutemui, kau luar biasa sempurna untuk dijadikan calon suami, tapi aku tidak ingin menikahi siapa pun."


Dan begitu lah akhirnya aku berhasil menggagalkan pertunangan yang hampir mustahil digagalkan. Setelahnya, aku dan Andromeda tetap menjalani hubungan pertemanan yang baik dan kami sering berkirim surat jika kami sedang tidak disibukkan oleh urusan kami masing-masing—aku sibuk dengan tugas-tugasku, dan Andromeda sibuk sebagai calon pemimpin Klan Navarro yang baru.


Usai Andromeda, ayahku berhenti berusaha mencarikanku calon tunangan. Dan kupikir aku tidak akan pernah bisa menemukan pasangan jiwaku karena aku terlalu sibuk dengan urusan kenegaraan serta tugas-tugas dari Xavier. Tapi sepertinya kini aku sudah menemukannya.


Dia sedang menunjukkan tarian yang sudah dilatihnya selama berhari-hari. Tariannya benar-benar indah. Bagaimana bisa seseorang bergerak seindah itu? Apakah benar dia hanya manusia biasa? Bukan peri seperti yang ada di dongeng-dongeng Westeria atau malah Dewi yang turun dari langit?


Aku tidak mengerti seni dan budaya. Di Nordhalbinsel, kami berdansa di pesta dansa, tapi tidak ada tarian tradisional yang dilakukan oleh seorang penari. Tidak ada penari, terlebih lagi yang mengenakan pakaian minim seperti itu—bisa-bisa mereka mati beku jika mengenakan pakaian seperti itu di Nordhalbinsel. Aku sama sekali tidak tahu budaya Orient. Negeri ini sepenuhnya asing bagiku sebelumnya. Tapi tarian yang kusaksikan saat ini membuatku ingin mempelajari budaya Orient dan mengenal segala hal tentang kekaisaran ini. Entah apakah karena tariannya, atau musiknya, atau suasananya, atau karena orang yang sedang menari di sana dengan indahnya.


Ironis sekali. Aku dikirim ke sini untuk menghancurkan kekaisaran ini dari dalam, aku berakhir ingin mengenal negeri ini lebih dalam.


Semua orang tampak terpesona pada Yeon-Hwa. Bahkan Pangeran Haru, Putra Mahkota Orient, tampak tak berkedip sama sekali saat melihatnya. Kami semua tersihir olehnya. Dia menari di atas sebuah kolam kecil setinggi mata kaki yang ditaburi kelopak-kelopak bunga sakura. Setiap kali kaki telanjangnya bergerak mengikuti irama musik petikan dawai dan taburan gendang, air di bawah kakinya seperti ikut menari. Air itu tampak berkilauan di sekelilingnya, memantulkan cahaya dari ribuan bintang di langit serta cahaya dari lampion-lampion beraneka warna di sekelilingnya. Gelang kaki dan gelang-gelang di tangannya, setiap kali dia bergerak, menimbulkan bunyi kerincing yang lebih indah dari musik mana pun. Dia tidak menari bersama musik—musik lah yang menari bersamanya.


Saat ritme musik semakin cepat, Yeon-Hwa merunduk mengambil sesuatu dari dasar kolam. Sebuah pedang. Apakah itu pedang sungguhan? Tidak mungkin kan? Terlalu berbahaya. Itu pasti hanya properti tariannya.


Musik berhenti. Dia kemudian mengucapkan sesuatu dalam bahasa Orient yang sama sekali tak kumengerti artinya. Aku sudah berusaha mempelajari bahasa itu dengan Shuu. Tapi terlalu sulit. Dan cara bicara Yeon-Hwa berbeda dengan Shuu maupun Kaze. Sepertinya setiap orang Orient memiliki cara bicara yang berbeda-beda.


Seseorang kemudian melempar sesuatu ke arahnya. Yeon-Hwa dengan cepat mengayunkan pedangnya dan membelah dua benda itu yang ternyata adalah buah semangka. Jadi itu memang pedang asli.


Lalu para penabuh gendang kembali bekerja keras menghasilkan tempo yang lebih cepat. Jantungku berdetak mengikuti irama musik itu. Yeon-Hwa kini menari dengan pedang sungguhan di atas kolam air dan kelopak sakura. Dia seharusnya tegang sebagaimana aku merasa tegang saat ini. Sebagaimana para penonton tampak tegang saat ini. Bahkan Pangeran Haru tampak mengepalkan kedua tangannya dari tempatnya duduk. Yeon-Hwa bisa saja terpeleset, lalu jatuh, lalu melukai dirinya sendiri dengan pedang itu. Tapi itu tidak terjadi. Dia justru tampak sangat menikmati ketegangan yang dialami para penontonnya. Dia tampak bebas. Senyuman yang menggambarkan kebahagiaan murni akan perasaan bebasnya itu terlukis sempurna di wajahnya. Dia terlihat sangat cantik.


Sial! Apa yang baru saja kupikirkan?


Aku buru-buru pergi meninggalkan tempat itu sebelum aku semakin kesulitan meninggalkannya. Bisa saja itu bukan dia. Bisa saja mimpinya hanya kebetulan. Mungkin bukan Yeon-Hwa orangnya. Mungkin aku sudah terlalu lama menanti pasangan jiwaku hingga aku berpikir bahwa Yeon-Hwa lah orangnya. Pikiranku tidak boleh teralih di saat Rajaku masih sekarat dan negeriku di ambang kehancuran.


Yan membaur dengan cukup baik di antara orang-orang yang menghadiri festival malam ini di balai kota. Dia memiliki rambut hitam sehingga mudah baginya berpura-pura menjadi orang Orient. Kami kemudian berteleportasi jauh hingga ke tempat yang cukup tersembunyi.


"Jadi kau sudah memeriksanya?" Tanyaku langsung. Aku tidak suka basa-basi. Yan pun tampaknya ingin segera melaporkan segala yang dia ketahui padaku.


"Benar, Jenderal." Sikapnya masih saja seformal itu. Padahal semua Serigala sudah tahu bahwa aku bukan lagi Jenderal. "Arizona Navarro dan Diana Vinogradoff yang asli saat ini berada di Schiereiland di kedai anggur mereka yang bernama Bloody Rose. Mereka bersama dua anak mereka, Camilla dan Estelle."


Sudah kuduga. Sejak awal aku sudah mencurigai pasangan pemilik Dong-gung itu. Riz dan Diana yang ada di Dong-gung bukan lah yang asli. Mereka penipu. Atau mungkin mata-mata yang diutus seseorang untuk mengacaukan misiku.


"Dari mana kau yakin bahwa mereka asli?" Tanyaku.


"Saya melihat dengan mata saya sendiri saat Arizona Navarro yang ada di kedai Bloody Rose menggunakan kemampuannya saat ada perkelahian di kedai anggurnya. Dia tidak mungkin palsu."


"Kalau begitu sudah pasti bahwa Riz dan Diana di Dong-gung adalah palsu." Gumamku. Sial! Sudah berapa banyak informasi yang kusampaikan pada Riz? Aku percaya padanya karena Naga Kembar dan Yeon-Hwa percaya padanya. Jadi aku menyampaikan informasi-informasi untuk Xavier melalui Riz agar aku tidak perlu terlalu sering bolak-balik antara Orient dan Nordhalbinsel. Teleportasi sejauh itu menguras tenagaku dan Xavier melarangnya. "Terima kasih atas kerja kerasmu, Yan." Ucapku.


Tapi Yan bergeming. Tampaknya masih ada yang ingin dia katakan.


"Apa ada kabar lainnya dari Schiereiland?" Tanyaku.


"Saya mendengar berita di Schiereiland, Jenderal. Ini tidak ada hubungannya dengan tugas yang Anda berikan. Tapi..."


"Katakan saja."


"Semua orang di Schiereiland sedang membicarakannya jadi saya pikir Anda juga sebaiknya tahu. Putri Anastasia sudah bertunangan dengan Pangeran Ludwig. Pernikahan mereka akan diadakan kurang dari sebulan lagi."


"Sebulan? Apakah normalnya secepat itu? Tidak kah mereka harusnya menyiapkan pesta yang megah sehingga membutuhkan waktu paling tidak tiga bulan untuk pernikahan anggota keluarga kerajaan?"


"Saya rasa itu karena Raja Alexis ingin mempercepatnya agar beliau juga bisa segera menikahi calon istrinya."

__ADS_1


"Dan kenapa Putri Anastasia tiba-tiba bertunangan dengan Pangeran Ludwig? Bagaimana bisa itu terjadi? Apa sih yang ada di pikiran Xavier sampai membiarkan hal seperti ini terjadi? Aku hanya pergi selama beberapa minggu dan semua langsung kacau!"


Aku kesal sekali sampai rasanya aku ingin segera berteleportasi ke ruang kerja Xavier di Istana Utama dan menamparnya berulang kali agar dia sadar bahwa dia baru saja menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa menikahi wanita yang dia cintai. Terlebih lagi, adik tirinya lah yang akan menikahi Sang Putri.


Tidak. Aku tidak perlu ikut campur. Aku sudah terlalu terbiasa mengurusnya sejak kecil. Tapi kini Xavier sudah cukup dewasa untuk menangani masalahnya sendiri. Ikut campur dalam masalah pribadinya hanya akan membuatku semakin stres. Dia mungkin punya alasannya sendiri dan itu seharusnya bukan urusanku.


"Satu lagi, Jenderal..." Yan tampak ragu. Mungkin dia membaca situasi. Saat ini aku memang sedang sangat kesal dan kurasa aku takkan bisa menerima berita buruk lainnya. Tapi aku tetap mengisyaratkan Yan untuk melanjutkan kata-katanya. Seburuk apa pun itu, kami masih memiliki negara yang utuh. Orient belum menyerang. Perang belum terjadi. Aku harus bisa berpikir positif. "Ratu Eleanor—“


"Kau bertemu dengannya? Bagaimana keadaan Elle?" Aku langsung memotongnya. Aku merindukan saudari kembarku itu. Setiap kali melihat Shuu dan Kaze, aku jadi iri karena mereka tampak sangat dekat. Semenjak beranjak dewasa, aku dan Elle sibuk masing-masing dan kami jarang bertemu.


"Baginda Ratu baik-baik saja. Beliau terlihat sehat. Perutnya kini sudah terlihat membesar dan sepertinya beliau sudah bisa makan dengan normal. Beliau makan banyak sekali."


"Syukurlah..." Aku bernafas lega. "Apa yang mau kau sampaikan tadi?"


"Baginda Ratu meminta saya menyampaikan ini langsung pada Anda; Singa dari Selatan sudah sadar."


Leon. Akhirnya Sang Singa bangun dari tidur panjangnya. Paling tidak ini berita bagus.


"Apa Raja sudah diberitahu?" Tanyaku. Elle seharusnya sudah memberitahu hal ini pada Xavier. Tapi bagaimana caranya? Tidak boleh ada yang tahu bahwa Elle sedang bersembunyi di mansion. Elle tidak bisa langsung menemui Xavier maupun mengirimkan surat padanya. Mungkin itu sebabnya dia memberitahu hal ini pada Yan untuk kemudian memberitahukannya padaku.


"Baginda Raja sudah lama tidak bisa ditemui. Saya pikir Jenderal sudah tahu."


"Aku sama sekali tidak tahu. Sudah lama sekali sejak terakhir aku menemuinya." Kalau tidak salah itu sebelum aku pergi ke Dong-gung. Terakhir kali aku menemuinya, Xavier memberitahuku tentang Dong-gung dan bahwa orang-orang di sana bisa kupercaya untuk menyampaikan informasi. Lalu Riz dan Diana menjadi perantaraku dengan Xavier juga perantara Yeon-Hwa dengan Putri Anastasia. Riz mengatakan padaku bahwa Xavier melarangku untuk berteleportasi ke Nordhalbinsel untuk sementara waktu dan memintaku menyampaikan informasi lewat para Naga atau lewat Riz. "Raja melarangku untuk kembali ke Nordhalbinsel sementara waktu karena terlalu berisiko... Apa yang terjadi pada Raja? Kenapa dia tidak bisa ditemui? Dia tidak mati atau semacamnya kan?"


Sekarang aku jadi panik. Apa racunnya semakin menyebar? Apa kondisinya semakin parah? Apa dia benar-benar sudah berhenti menemui Putri Anastasia sehingga tidak ada lagi penyembuhan untuknya?


"Saya tidak yakin tapi sepertinya Baginda Raja sedang sakit." Kata Yan.


"Itu hanya asumsimu saja atau memang ada kabar bahwa beliau sakit?"


Apa mungkin semua orang sudah tahu tentang kondisinya? Kondisi kesehatan Raja seharusnya menjadi rahasia, paling tidak untuk saat ini. Xavier belum memiliki pewaris—putra yang dikandung Elle tidak bisa dianggap sebagai pewaris karena memang bukan putra Xavier. Jika dia ketahuan sedang sekarat, akan mudah bagi para bangsawan yang mendukung Permaisuri Selena untuk menjatuhkannya dan memindahkan mahkotanya ke kepala Ludwig. Posisinya sebagai Raja belum aman. Aku setengah berharap dia bisa sekejam ayahnya dan memberi hukuman mati pada semua bangsawan yang mendukung Selena. Tapi Xavier tidak seperti itu.


"Saya mendengar desas-desus di kalangan para pelayan Istana Utama. Raja tidak meninggalkan kamarnya selama berhari-hari dan tidak dapat ditemui. Para pelayan hanya diizinkan menaruh troli makanan untuk Raja di depan pintu kamarnya. Bahkan Dokter Istana yang sempat ingin memeriksa kondisinya diusir pergi."


"Lalu siapa yang mengerjakan urusan negara?" Tanyaku. Firasatku tidak bagus.


"Pangeran Ludwig. Para bangsawan mengadakan rapat dadakan begitu mendengar Baginda Raja tidak bisa ditemui, mereka mendesak agar Pangeran Ludwig kembali ke Istana dan mengambil alih tugas-tugas Raja untuk sementara waktu sampai Baginda Raja keluar dari kamarnya."


"Kenapa Pangeran Lud—tunggu... Semuanya aneh. Ludwig bertunangan dengan Putri Anastasia. Dia juga kini mengambil alih tugas Raja. Aku tidak diizinkan kembali ke Nordhalbinsel. Riz dan Diana ternyata palsu. Kenapa semuanya—“


Apa kami sudah kalah? Atau justru sebaliknya?


Aku harus segera mencari tahu. Tapi siapa yang mungkin bisa mengetahui apa yang terjadi sebenarnya?


Shuu. Naga Air itu mungkin tahu sesuatu. Dia bisa membaca pikiran. Dia seharusnya bisa mengetahui isi pikiran Riz dan Diana palsu di Dong-gung.


"Ada lagi?" Tanyaku.


"Jenderal, mungkin Anda lupa... Besok adalah malam berburu. Anda sebaiknya kembali ke Nordhalbinsel segera. Terlalu berisiko jika Anda ada di sini saat malam berburu."


Sial! Aku terlalu sibuk belakangan ini sampai lupa pada malam berburu.


"Aku mengerti. Sampaikan pada semua Serigala di Orient untuk kembali ke Nordhalbinsel malam ini juga. Pergilah ke daerah perbatasan dan lakukan seperti biasa. Aku akan menyusul nanti. Aku masih ada urusan di Orient. Jika aku tidak ada di Nordhalbinsel besok malam, kalian tetap harus melakukannya seperti biasa. Ayahku mungkin akan memimpin perburuan."


"Baik, Jenderal. Akan segera saya laksanakan."


"Baiklah. Kalau tidak ada lagi yang ingin kau laporkan, kau boleh pergi. Pastikan tidak ada yang mengetahui semua informasi tadi selain kita berdua."


Yan menunduk penuh hormat, "Saya mengerti, Jenderal." Lalu dia menghilang.


Banyak sekali masalah. Banyak sekali yang harus kukerjakan. Tapi pertama-tama, aku harus memastikan Yeon-Hwa kembali ke Dong-gung dengan selamat.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2