
"Dengan ini aku menyatakan bahwa Lee Yeon-Hwa dari Klan Lee akan segera menjadi Selir kehormatan segera setelah upacara pernikahan diadakan. Tertanda, Kaisar Orient. Semoga berkah para Naga menyertainya."
Pada akhirnya, aku berhasil mengalahkan ratusan gadis dari seluruh penjuru dunia yang mengikuti pemilihan Selir ini. Aku akan segera resmi menjadi Selir Kaisar besok pagi. Upacara pernikahanku dengan Haru akan diadakan besok pagi.
Tapi sebelum itu, ada hal yang lebih penting yang harus kulakukan.
Malam memang masih belum larut, tapi aku tidak punya kesempatan lain selain sekarang. Orang-orang suruhan Sae-Byeok mungkin akan menyakiti ayah dan Abuela lagi jika aku tidak bergegas. Aku memang membuat kesepakatan dengan Ibu Suri, tapi satu hal yang kupelajari dari hidup ini, jangan pernah percaya pada siapa pun. Aku harus selalu punya rencana cadangan seandainya Ibu Suri tidak menepati janji. Setelah memastikan tak ada yang mengikutiku, aku segera mengendap-endap ke ruang penjara bawah tanah untuk membebaskan ayah dan Abuela.
Selama mengikuti pemilihan selir ini aku sama sekali tak bertemu dengan Kaze. Saat aku dipertemukan dengan Ibu Suri itu adalah terakhir kali aku melihat Kaze. Aku tak berani membayangkan apa yang terjadi padanya. Sejauh ini aku tak melihat para Torakka sibuk, mereka sering terlihat sedang bersantai di taman Istana atau berlatih tanding bersama para prajurit, itu artinya mereka sedang tidak aktif bekerja. Itu hanya memiliki dua arti, Kaze masih hidup sehingga Torakka tidak mencari Naga Angin yang baru, atau Kaze masih terkurung entah di mana dalam keadaan tak berdaya. Aku hanya bisa berharap, di mana pun dia berada, dia dalam keadaan baik-baik saja.
Aku tidak bisa meminta bantuan Kaze. Aku harus bisa menyelesaikan masalahku sendiri.
Tinggal di Istana Giok membuatku menghafal denah Istana ini di luar kepala. Aku bahkan tahu beberapa jalan rahasia yang tidak dilewati oleh para pelayan dan penjaga. Aku berbelok menuju taman tengah yang menghubungkan ruangan selir dengan bangunan utama. Di taman tengah, aku tidak berjalan lurus menuju bangunan utama, melainkan menuju sebuah pohon besar. Di balik pohon itu, ada semak-semak yang dibiarkan tumbuh lebat. Dan di sana lah terdapat pintu rahasia menuju penjara bawah tanah. Aku tidak menemukannya, Sae-Byeok yang memberitahuku. Sebagai jaminan bahwa aku akan bisa menemui ayah dan Abuela kapan pun.
Aku menuruni tangga curam menuju lorong bawah tanah. Gelapnya bukan main. Tapi aku tidak boleh menarik perhatian dengan membawa alat penerangan, jadi aku menyusuri lorong bawah tanah yang gelap gulita itu hanya bermodalkan tangan dan kakiku yang meraba-raba permukaan kasar tanah.
Berbelok ke kanan dua kali, belok kiri satu kali. Aku mengingat-ingat pertunjuk dari Sae-Byeok. Dan tak jauh dari tempatku berpijak saat ini, aku dapat melihat cahaya dari lentera yang menerangi penjara bawah tanah. Aku mempercepat langkahku. Jantungku berpacu cepat. Aku harus bisa membebaskan mereka sekarang.
Tapi betapa terkejutnya diriku saat mendapati sel kurungan mereka kosong.
Ayah dan Abuela tidak ada.
Aku panik, tentu saja. Tapi di saat yang sama aku harus tenang dan berpikir jernih. Mungkin Sae-Byeok memindahkan mereka ke sel lain. Mungkin Ibu Suri memang menepati janjinya dan sudah membebaskan mereka. Mungkin mereka berhasil kabur entah bagaimana. Mereka tidak mungkin mati. Tidak mungkin kan?
Saat aku berjalan dengan langkah gontai kembali menuju kamarku, aku mendengar sayup-sayup suara beberapa prajurit dan komandan mereka. Aku menajamkan pendengaran, berusaha menangkap isi pembicaraan.
"...Dua orang."
"Yang wanita sudah tua."
"Orang Westeria.... Dengan seorang pria."
"...Perintah rahasia Maharani."
"Cepat cari!"
Potongan-potongan percakapan itu tidak sepenuhnya kumengerti, tapi dari sedikit perkataan mereka yang dapat kutangkap, sepertinya mereka mendapat perintah dari Sae-Byeok untuk mencari ayah dan Abuela. Itu artinya ayah dan Abuela berhasil kabur entah bagaimana tanpa sepengetahuan Sae-Byeok. Apakah mungkin Ibu Suri yang membantu membebaskan mereka? Tapi Ibu Suri berjanji akan membebaskan mereka segera setelah aku resmi menjadi Selir Kaisar. Itu seharusnya besok, bukan malam ini. Jadi apa yang sebenarnya terjadi?
"Lady Lee Yeon-Hwa." Panggil seseorang.
Aku segera menoleh dan mendapati jenderal muda Xing yang merupakan kakak laki-laki dari Torakka Yi-Zhuo. Aku tahu karena kemiripan mereka yang luar biasa, dan karena semua orang membicarakannya. Dia mungkin memiliki tingkat popularitas sebanding dengan Jenderal Leon di Schiereiland.
Jenderal muda Xing membungkuk padaku. "Kaisar ingin bertemu dengan Anda." Katanya.
"Kaisar? Sekarang? Tapi ini sudah larut malam."
"Perintah dari Kaisar. Mohon ikut dengan saya."
Pada akhirnya aku tidak bisa menolak. Aku mengikuti jenderal muda Xing menuju kamar Kaisar di Istana Giok.
Haru biasanya tidak menempati Istana ini. Sebagai Kaisar, dia seharusnya ada di Istana Kaisar di pusat Jungdo. Tapi karena pernikahan kami akan diadakan besok pagi di aula utama Istana Giok, maka sore tadi dia datang ke Istana ini.
Saat aku memasuki kamarnya, dia sedang minum teh sambil menghadap ke jendela. Aku dapat melihat taman tengah yang sunyi dari jendela itu. Jenderal Muda Xing segera undur diri, meninggalkanku berdua saja dengan Haru di kamar ini. Aku bergerak secara otomatis merapatkan mantelku meski udara malam ini tidak dingin.
"Aku tahu." Katanya. Suaranya sejernih kristal. Haru mengalihkan perhatiannya dari taman di luar jendelanya padaku. Sudut bibirnya terangkat menampilkan senyuman setengah yang meremehkan. "Kau ingin kabur bukan?"
Aku diam.
Dia tidak sepenuhnya salah. Aku memang ingin kabur. Tapi dia juga tidak benar. Aku ingin membebaskan ayah dan Abuela terlebih dahulu sebelum kabur. Aku bahkan tak tahu apakah bisa kabur atau tidak. Melarikan diri kini berada dalam peringkat kedua dalam prioritasku. Peringkat pertama adalah memastikan ayah dan Abuela terbebas dan aman.
"Siapa? Cepat katakan padaku siapa yang mengancammu. Apakah itu Sae-Byeok? Atau Ibu Suri?" Dia berjalan cepat ke arahku karena aku masih belum menjawabnya. Memperpendek jarak di antara kami hingga wajahnya hanya beberapa senti dariku. Aku bisa mencium bau arak beras darinya. Ternyata yang dia minum bukan teh melainkan arak beras. Dia menelengkan kepalanya, mengamatiku. "Aku tak tahu calon selirku tidak bisa bicara."
"Saya tidak mengerti maksud Anda, Paduka. Mohon jelaskan maksud Anda." Jawabku sambil terus menundukkan pandanganku.
Dia tertawa sinis, lalu mundur beberapa langkah, memberiku ruang yang kuperlukan. "Kau pikir aku akan percaya pada cerita Sae-Byeok tentang putri Klan Lee terakhir yang masih hidup selain dirinya? Kau bukan putri dari Lee Yun. Kau sama sekali tidak mirip dengannya." Aku memberanikan diri menatapnya. Senyumnya membuat seluruh tubuhku gemetar. Dia tahu. "Kau adalah putri tunggal dari Putri Lee Seo-Hwa dan Panglima Wu Yi-Xing. Kau diutus oleh Raja Xavier untuk memata-mataiku."
__ADS_1
Aku berusaha untuk tidak gemetar, tapi sulit. Inikah akhirnya? Aku sudah ketahuan. Kaisar Orient sudah tahu siapa aku. Dia mungkin akan langsung menyerang Nordhalbinsel karena tahu bahwa Raja Xavier mengirimkan mata-mata ke kekaisaran.
Aku tertawa dalam hati. Aku yang berada dalam bahaya, aku yang paling berisiko untuk mati saat ini juga, tapi bisa-bisanya aku mencemaskan kerajaan yang bahkan bukan tanah airku. Kerajaan yang dingin dan kejam, yang pernah membuatku merasa terlantar bertahun-tahun lalu sebelum aku menjadi prajurit Montreux, yang tidak menerima kehadiran gadis timur yang tak punya apa-apa.
Tidak. Bukan kerajaannya yang kejam. Orang-orang di sana yang kejam. Tapi tidak semuanya begitu. Di sana ada Natasha, rekan kerjaku, teman bergosipku yang tidak pernah mempermasalahkan kewarganegaraanku. Di sana juga ada Jenderal Arianne yang selalu baik padaku dan memperlakukanku seperti putrinya sendiri. Dan ada Elias. Elias yang entah sekarang ada di mana. Elias yang entah apa alasannya, bersikap baik padaku belakangan ini. Tapi aku sudah lama tak berjumpa dengannya. Aku mungkin memang merindukannya.
"Katakan kalau aku salah." Tuntutnya. Perkataannya terasa seperti sebilah pisau yang siap menggorok leherku kapan saja.
"Anda salah." Jawabku sambil memberanikan diri menatapnya. Tapi tanganku yang gemetaran tak dapat berbohong. Dan Haru melihatnya.
"Yeon-Hwa... Aku tidak pernah bermaksud untuk membuatmu takut. Jangan khawatir, aku takkan melakukan apa pun padamu." Katanya dengan lembut seperti sedang bicara pada anak kecil. "Jadi, informasi apa saja yang sudah kau sampaikan padanya?"
"Saya bukan mata-mata utusan Raja Xavier." Jawabku. Tak sepenuhnya bohong karena yang menugaskanku sebenarnya adalah Anna.
Haru menatapku dari dekat. Mencari kebohongan yang kusembunyikan di mataku. Menerka-nerka isi kepalaku. Tapi dia takkan menemukan apa pun. Aku dilatih untuk ini.
Namun tatapannya melunak. Tatapan itu tidak memancarkan amarah seorang Kaisar, justru lebih seperti seorang pria yang merindukan kekasihnya. Apa dia melihat wajah ibuku saat menatapku?
Haru berbalik, memunggungiku. Dia kemudian berjalan semakin jauh dariku, menuju tempatnya tadi duduk sambil minum arak beras. Dia menenggak segelas lagi. Dan lagi. Sampai akhirnya dia menghabiskan satu kendi. Dan aku hanya diam mengamati. Jika dia sudah mabuk, aku mungkin bisa kabur dengan selamat dari sini. Jika dia tidak mabuk, aku mungkin harus melawannya untuk menyelamatkan diri. Aku mungkin harus membunuhnya sebelum dia membunuhku. Aku mungkin harus membunuhnya sekarang.
Aku mengedarkan pandanganku ke sekelilingku, ke seisi kamar ini. Haru pasti menyimpan senjata di kamarnya. Dia seorang Kaisar, dia perlu melindungi dirinya sendiri bahkan meski puluhan pengawal di Istana ini sudah pasti siap melindunginya. Dia mungkin tidur dengan menyimpan sebilah pisau di bawah bantalnya atau katana di bawah ranjangnya. Tidak. Aku tidak bisa mencari benda yang belum tentu ada. Aku harus bisa memanfaatkan apa saja untuk bisa menyelamatkan diriku sendiri. Aku mungkin harus memecahkan salah satu guci mahal di salah satu sudut ruangan kamarnya dan menggunakan pecahannya untuk memutus urat nadi di lehernya untuk membunuhnya.
"Apa kau tahu berapa usia ibumu saat dia melarikan diri ke Westeria bersama ayahmu?" tanyanya tiba-tiba, membuyarkan rencana pembunuhan di kepalaku.
Aku tidak mengantisipasi pertanyaan itu. Jadi aku hanya diam tanpa bisa menjawab apa pun karena aku benar-benar tak tahu jawabannya. Dan aku tak tahu ke arah mana pembicaraan ini.
Haru melanjutkan, "Saat itu dia lebih muda dari usiamu sekarang. Delapan belas tahun. Usiaku saat itu masih lima belas tahun. Kami hanya berbeda tiga tahun, tapi dia tadinya akan dinikahkan dengan ayahku untuk menjadi salah satu selirnya. Tentu saja aku tak rela. Dia adalah cinta pertamaku. Jadi saat malam itu kulihat dia sedang melarikan diri bersama Panglima Wu, bahkan meski itu artinya aku harus berbohong selamanya pada ayahku, aku membiarkannya pergi dan memastikan dia benar-benar meninggalkan kekaisaran ini dengan selamat."
Haru menoleh ke arahku yang masih berdiri kaku di dekat pintu. "Duduk lah di sini."
Dan aku pun menurutinya. Aku mungkin benar-benar takut mati sehingga menjadi sangat penurut.
"Aku tahu di mana mereka tinggal selama ini. Aku juga tahu saat mereka menikah. Dan aku tahu saat kau lahir. Kalau tidak salah waktu itu usiaku dua puluh dua tahun. Aku sudah mengawasimu sejak saat itu. Aku mengirimkan mata-mata ke Westeria untuk melaporkan semua hal tentang Seo-Hwa dan tentangmu. Aku mengutus orangku untuk memastikan kalian tidak dilukai dan tidak ditemukan oleh siapa pun. Hingga akhirnya aku mendapat kabar bahwa kau menghilang usai kematian Seo-Hwa. Aku benar-benar panik karena aku sangat takut kalau kau juga mati. Kau tidak bisa dilacak sama sekali hingga aku mulai kehilangan harapan."
Itu pasti saat aku kabur dari rumah dan pergi ke Nordhalbinsel. Mungkin orang-orang yang diutus Haru tidak dapat pergi ke Nordhalbinsel untuk mencariku. Atau mungkin aku terlalu pandai melarikan diri.
Haru berhenti sejenak untuk menatapku. Kemudian dia melanjutkan, "Kalau boleh jujur, sejak kau dilahirkan, aku sudah tak peduli menikah dengan siapa pun, aku tak peduli jika aku tak memiliki penerus, aku akan menyerahkan takhta padamu. Pewaris sah kekaisaran ini adalah kau. Bukan ayahku, bukan Yi, dan bukan aku, melainkan kau."
"Saya bukan—“
Kata-kataku terpotong saat dia tiba-tiba berlutut di hadapanku dan menggenggam erat kedua tanganku. Aku hanya bisa diam dalam dudukku sambil mau tak mau terperangkap dalam tatapan mata yang sekelam malam itu. Haru berkata, lebih seperti memohon padaku,
"Jadi jangan kabur, Yeon-Hwa. Menikah lah denganku dan jadilah Maharani. Bukan karena ancaman siapa pun, bukan karena terpaksa, bukan karena aku, tapi karena memang inilah takdirmu. Inilah jalan hidupmu yang sebenarnya."
Apa ini? Ini di luar dugaanku. Bukankah Haru seharusnya marah karena dimata-matai? Bukankah Haru seharusnya menganggapku sebagai ancaman atas takhta yang dia pertahankan selama ini? Tapi kenapa dia justru ingin menyerahkan takhtanya padaku?
Tangan Haru terasa sejuk dan halus, tidak seperti tanganku yang kapalan karena sering berlatih pedang selama di Montreux. Haru tersenyum padaku, "Jangan khawatirkan apa pun. Kita hanya akan menikah untuk formalitas, untuk membuatmu menjadi Maharani. Aku tidak akan menyentuhmu sama sekali, kalau itu yang menjadi pertimbanganmu."
Aku tidak menanggapi lamarannya itu. Toh apa pun jawabanku bukankah aku memang harus menikah dengannya besok?
Diamnya kami berdua membuat suasana malam terasa semakin sepi. Aku bahkan dapat mendengar suara serangga malam dari arah taman tengah. Aku menajamkan pendengaranku untuk mencari suara-suara lain yang kukenal. Jika aku mendengarkan lebih baik, aku mungkin akan bisa mendengar suara orang yang datang yang akan bisa membawaku pergi dari sini. Tapi tak ada suara apa pun. Tak ada yang datang menolongku.
Karena melihat aku masih terdiam—karena begitu bingung dengan situasi saat ini—Haru melepaskan kedua tanganku dengan kecewa. Dia kemudian kembali duduk di tempatnya dan melanjutkan, "Aku jadi merasa bersalah pada Sae-Byeok. Dia jadi berbuat seperti itu padamu karena dia merasa terancam. Kau pasi tidak tahu. Tidak ada yang tahu. Sae-Byeok bukannya tidak bisa punya anak, tapi aku yang tidak mau menyentuhnya sama sekali." Aku memperhatikan tatapan Haru tampak kosong menerawang ke depan ke arah taman tengah saat membicarakan Istrinya itu. Aku kini menyimak dengan seksama, "Sebelum Sae-Byeok, aku dinikahkan dengan seorang wanita suku Jung. Kami seumuran. Dia dulunya temanku, jadi meski itu perjodohan, kami cukup akur. Hubungan kami harmonis, begitu pun dengan hubungan keluarga kami. Tapi saat dia mengandung anak kami, seseorang membunuhnya. Pembunuhnya langsung bunuh diri begitu tertangkap dan tidak memberitahu siapa orang yang menyuruhnya. Aku menikah lagi tak lama kemudian untuk mempertahankan posisiku sebagai Putra Mahkota. Kali ini dengan putri tunggal dari menteri keuangan. Dia berasal dari suku Ilbon, suku yang sama dengan ibuku. Dia wanita yang baik dan penurut dan sama sekali tak keberatan dijodohkan. Dia tidak menuntut apa pun dan hanya ingin berbakti pada orang tuanya sehingga dia tak menolak perjodohan itu. Tapi nasib yang sama menimpanya. Dia dibunuh saat sedang mengandung."
Semua yang dia nikahi, yang mengandung pewarisnya akan dibunuh. Karena dia pewaris takhta. Karena mereka tidak ingin dia yang duduk di singgasana. Tapi Haru pada akhirnya berhasil menjadi Kaisar meski tanpa memiliki seorang penerus. Entah karena hatiku yang mudah tersentuh atau karena ceritanya memang menyakitkan, aku jadi merasa kasihan padanya.
Haru melanjutkan ceritanya, "Jadi saat Sae-Byeok yang waktu itu masih remaja datang ke Istana untuk dinikahkan denganku, aku bersumpah pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan membiarkan dia dibunuh. Sehingga aku sebisa mungkin menjaga jarak darinya. Karena aku tak ingin dia mati seperti yang lain."
Lama aku terdiam memikirkan kata-katanya. Haru mempertahankan posisinya sebagai Putra Mahkota selama ini, meski harus beberapa kali kehilangan istri dan anak yang ada di kandungan para wanita itu, dia bertahan hanya untuk menyerahkan kekaisaran ini padaku. Pada putri tunggal dari cinta pertamanya yang menikahi orang lain. Masuk akal kah itu? Adakah orang yang benar-benar bisa mengorbankan semuanya seperti itu hanya atas nama cinta? Jika ini semua hanya kebohongan, apa yang sebenarnya dia inginkan? Kenapa menceritakan semua itu padaku?
Jika aku menerima tawarannya, jika aku menikah dengannya dan menjadi Maharani, dan aku tak perlu memberinya keturunan, lalu kepada siapa dia akan menyerahkan takhtanya setelah kami mati?
Kenapa juga aku harus memikirkan semua itu. Aku sama sekali tak menginginkan pernikahan ini. Aku juga tak ingin menjadi Maharani. Yang kuinginkan saat ini hanyalah pergi secepatnya dari Istana ini dan menemukan ayah dan Abuela.
"Kau ternyata tak banyak bicara ya?" Katanya kemudian setelah lama kami hanya diam sambil menatap taman. "Sepertinya sifatmu lebih mirip dengan Panglima Wu, karena Seo-Hwa tidak pernah kehabisan hal untuk dikatakan."
__ADS_1
"Jadi saya benar-benar tak perlu menjalankan kewajiban sebagai seorang Istri."
Astaga! Kenapa aku mengatakan hal itu?
Haru tersenyum menanggapi, "Sama sekali tidak perlu. Pernikahan kita hanya untuk menjadikanmu sebagai Maharani."
"Lalu bagaimana dengan Anda? Apakah Anda tidak punya visi untuk Kekaisaran ini? Kenapa harus saya yang menjadi Maharani? Dan jika tidak ada penerus, bagaimana nasib Orient kedepannya? Siapa yang akan memimpin kekaisaran setelah saya dan Anda mati?"
Astaga! Kenapa mulutku tidak bisa diam!
Haru mengerjap beberapa kali, tampak bingung sesaat karena rentetan pertanyaan tiba-tiba yang muncul dariku. Aku saja terkejut, jadi aku memakluminya. Tapi dia kemudian tertawa. Sepertinya ini pertama kalinya aku melihatnya tertawa lepas seperti itu. Selama ini aku sampai mengira bahwa ada peraturan tak tertulis bahwa Kaisar tidak boleh terlihat tertawa karena dia tak pernah tertawa.
"Kutarik ucapanku sebelumnya. Kau ternyata benar-benar mirip dengan ibumu." Katanya setelah tawanya reda. "Apa kau tahu? Sejak dulu ibumu dan aku memiliki visi yang sama tentang Orient di masa depan."
"Apa itu?" Tanyaku.
"Merubah Kekaisaran Orient menjadi Republik Orient. Menghentikan warisan turun temurun ini. Kami sama-sama memimpikan negeri di mana rakyat memiliki suara. Rakyat dapat menjadi pemimpin. Dan rakyat dapat memilih pemimpin mereka sendiri. Kekuasaan mutlak berada di tangan rakyat."
"Itu gila." Tapi brilian! Aku tak mengatakannya keras-keras.
"Akuilah kau juga ingin melihat Orient yang seperti itu." Katanya padaku. Aku tidak langsung mengakuinya, tapi kurasa perkataannya benar. "Perebutan takhta dengan saling membunuh saudara sendiri, membunuh para istri dan anak-anak hanya untuk mendapatkan posisi sebagai penguasa, semua itu seolah sudah menjadi tradisi turun-temurun. Aku muak dengan hal itu. Lagi pula, sebagai Kaisar, aku sendiri cukup yakin bahwa aku bukan orang terbaik yang pantas duduk di singgasana. Dan itu bukan hanya karena ayahku adalah anak haram Kaisar sebelumnya dan mendapat posisinya dengan cara yang licik dan kejam. Masih banyak hal yang belum kuketahui mengenai dunia ini. Jika dibandingkan dengan para guru besar, ilmu yang sudah kukuasai bisa dibilang hanya setetes air di samudra luas."
"Dan apa yang membuat Anda yakin bahwa ada orang lain, dari kalangan rakyat biasa, yang memiliki wawasan lebih luas dari Anda, ilmu yang lebih banyak dari Anda, yang lebih pantas untuk memimpin negeri ini dibandingkan Anda sendiri?"
Haru tak langsung menjawabku. Kali ini dia berdiri dan berjalan mondar-mandir di dekat jendela sambil masih menatap ke luar jendela. Aku memperhatikan bahwa itu adalah kebiasaannya saat sedang berpikir.
"Aku memang tidak yakin." Katanya. "Itulah sebabnya aku masih punya banyak kekurangan. Tapi apa kau tahu? Tidak ada pemimpin yang sempurna. Dan kita takkan pernah bisa memuaskan semua orang. Kita tidak bisa adil untuk semua rakyat. Karena kita hanya manusia biasa. Tapi jika memang begitu, bukankah itu artinya kita semua sama? Kita semua sama-sama manusia, jadi apa yang membuat keturunan Kaisar diistimewakan dibanding rakyat biasa yang mungkin memiliki visi yang sama terkait nasib kekaisaran di masa yang akan datang?
"Kesempatan. Pilihan. Kekuasaan. Harta. Kalian memiliki semua itu." Jawabku.
Haru tersenyum sinis. "Kau bicara seolah kau bukan bagian dari kami, Yeon-Hwa. Kau memiliki darah kaisar pertama lebih murni dari siapa pun yang ada di Istana ini. Kau tentu tahu bahwa ayahku bukan keturunan Kaisar. Ayahku adalah anak haram dari selir kakekmu."
"Benar. Tapi itu tidak merubah kenyataan bahwa kalian memiliki segalanya untuk bisa menjadi penguasa."
"Kalau begitu kenapa tidak kita bagi-bagikan semua itu secara adil kepada semua rakyat? Beri mereka kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang sama dengan yang diberikan pada para aristokrat. Dirikan sekolah di mana para kaum bangsawan dan rakyat jelata dapat belajar bersama tanpa adanya kesenjangan sosial. Beri mereka kesempatan untuk bisa mencalonkan diri sebagai pemimpin. Beri mereka kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, kesempatan untuk mengembangkan diri, kesempatan untuk mengubah nasib. Yeon-Hwa... bayangkan semua manusia memiliki kesempatan yang sama. Keadilan bagi seluruh rakyat. Kebebasan berpendapat dan memilih pemimpin. Negeri seperti itulah yang ada di visiku dan ibumu dulu."
Kata-kata Haru terdengar seperti sebuah mimpi yang manis. Tapi dia adalah Kaisar. Dia satu-satunya orang yang dapat mewujudkan semua itu. Tidak. Bukan hanya dia. Aku juga mungkin dapat mewujudkan negeri impian itu. Aku mungkin bisa meneruskan visi ibuku yang ingin merubah kekaisaran ini menjadi lebih baik.
Dan mungkin, jika aku benar-benar menjadi Maharani, aku bisa menghentikan penyerangan terhadap Nordhalbinsel. Aku mungkin bisa membujuk Haru agar tidak berperang dengan Nordhalbinsel. Aku bisa menyelamatkan Negeri Es itu.
Jika aku menjadi Maharani, ayah dan Abuela pasti akan aman. Tidak akan ada yang berani menyakiti mereka di mana pun mereka berada.
"Jika saya setuju untuk menjadi Maharani... Apakah saya juga dapat memimpin bersama Anda? Bukan hanya sebagai pendamping, tapi juga bisa memutuskan segala sesuatunya bersama Anda? Apa suara saya akan didengarkan dalam rapat-rapat kenegaraan?"
Haru tampak sangat senang, seolah aku bukan hanya bertanya melainkan menjawab lamarannya. Aku mungkin memang akan menerima lamarannya jika itu artinya aku bisa menyelamatkan semuanya. "Kau memang yang akan memimpin Orient, Yeon-Hwa. Dan kita akan mengakhiri kekaisaran ini. Bersama-sama kita akan menciptakan era baru. Kita akan membangun Republik Orient."
Wahai Langit, tolong berikan pertanda jika memang bukan ini jalanku. Tapi jika takdirku memang untuk menjadi Maharani Orient, maka aku akan menerima lamaran Haru. Dengan begitu Nordhalbinsel akan aman dari ancaman serangan Orient. Dengan begitu ayah dan Abuela akan hidup tenang tanpa pernah diusik oleh siapa pun lagi.
"Baiklah." Aku memulai perkataanku, "Saya—“
Kalimatku terhenti begitu tiba-tiba seekor serigala sebesar kuda dengan bulu tebal berwarna seputih salju muncul di kamar ini, di antara aku dan Haru.
Jantungku hampir berhenti saat melihatnya.
Elias.
Untuk beberapa detik yang singkat aku dan Haru sama-sama terkejut hingga tak bisa melakukan apa pun maupun mengatakan apa pun.
Yeon-Hwa cepat naik!
Suara itu seperti bergema di kepalaku. Itu suara Elias. Tapi Serigala itu tak membuka mulutnya sama sekali.
Yeon-Hwa! Cepat lah kita tidak punya banyak waktu!
Karena begitu terkejut, karena aku tak tahu harus bagaimana, karena Elias berkata seperti itu, maka aku buru-buru naik ke atas punggung Serigala besar itu. Kupikir akan sulit seperti mencoba menaiki kuda tanpa pelana, tapi dugaanku salah. Serigala salju itu menunduk, membiarkanku menaikinya. Lalu kami bersama-sama menghilang dari pandangan Haru.
__ADS_1
...****************...