
Ratu Utara ternyata bukan Ratu Agung Zhera. Bukan Ratu kami. Dan ternyata Raja kami tidak ada di sini juga. Aneh sekali, padahal firasat kami biasanya tidak salah. Padahal kupikir Raja kami ada di Nordhalbinsel.
Bukan tanpa alasan, tentu saja. Pertama, Naga Api Agung pertama kali turun ke bumi di tanah ini, saat dia menyelamatkan Zhera yang putus asa akibat kematian suaminya dan hampir bunuh diri. Kedua, Nordlijk, putra mereka, menjadi raja pertama di Nordhalbinsel. Dan ketiga, aku dan Shuu dapat merasakannya. Seolah ada sesuatu yang menarik kami untuk pergi ke Negeri Es ini sejak dulu. Bahkan sejak kami belum ditemukan oleh Torakka—para pelacak naga yang diutus kekaisaran—beberapa tahun yang lalu.
Di Orient, Kaisar merekrut orang-orang yang terlahir dengan mata naga sebagai Torakka—Pelacak Naga. Para Torakka diberi bayaran besar dan dijamin kehidupannya. Dan jika si pemilik mata naga menolak menjadi Torakka, biasanya mereka akan dibinasakan. Jadi, siapa pun pasti lebih memilih untuk menjadi Torakka daripada mati. Torakka dilatih untuk menguasai berbagai bahasa dan berbagai jenis ilmu bela diri dan dapat menggunakan senjata apa pun. Mereka semua setara dengan panglima perang. Saat ini di Orient hanya ada 3 orang Torakka. Mereka semua gadis muda dari suku yang berbeda-beda. Gyeoul dari suku Han, Eri dari suku Ilbon dan Yi-Zhuo dari suku Jung. Aku ditemukan oleh Eri saat usiaku masih lima tahun di rumahku, di sebuah pedesaan terpencil di puncak gunung Fuku yang ditempati oleh orang-orang Suku Ilbon paling miskin.
Lebih tepatnya, orang tuaku menjualku. Kami sangat miskin. Bahkan mereka tidak mampu untuk memberiku makan. Karena aku adalah satu-satunya anak perempuan di keluarga itu, dan karena kebiasaan orang-orang Orient untuk mengutamakan anak laki-laki mereka, aku biasanya dilewatkan saat pembagian jatah makanan dengan alasan jika aku gemuk kelak tidak akan ada lelaki yang melamarku. Padahal aku sangat kurus dan mungkin hampir mati kekurangan gizi. Jadi saat Eri datang membawa pasukannya dan mengatakan pada orang tuaku bahwa putri bungsu mereka adalah Naga Angin seperti yang ada di legenda, bahkan meski tidak percaya pada legenda itu, orang tuaku menyerahkanku pada Eri. Bukan karena takut pada Eri dengan mata naganya yang berwarna merah dan pasukannya yang bersenjata lengkap, melainkan karena Eri membawa satu peti emas dan mengatakan bahwa orang tuaku dan lima orang kakakku akan diberikan harta yang berlimpah dan uang saku bulanan seumur hidup. Mereka dapat menikmati hidup enak tanpa kerja keras. Kehidupan mereka akan dijamin oleh Kaisar dengan syarat mereka menghapusku dari kehidupan mereka dan tidak menceritakan hal ini pada siapa pun. Orang tuaku mengatakan pada semua orang bahwa putri bungsu mereka telah mati akibat kekurangan gizi—penyebab kematian paling umum di tempat asalku. Sejak itu, aku bukan lagi Kaze Yamazaki. Aku adalah Kaze, Sang Naga Angin. Fū ryū. Aerinear. Senjata Kaisar paling mematikan.
Setelah itu aku tinggal di Istana Angin. Istana yang digunakan oleh Naga Angin secara turun temurun. Naga Angin, diriku, ternyata terus bereinkarnasi. Dan seorang Kaisar Orient terus menemukanku dalam kehidupanku yang mana pun. Aku tidak benar-benar ingat kehidupanku yang lalu, tapi aku cepat menyesuaikan diri dengan kemewahan yang kudapat di Istana Angin.
Aku diperlakukan layaknya putri kesayangan Kaisar. Pakaian mewah yang beraneka warna, permata yang senantiasa menghiasi rambutku, makanan enak yang belum pernah kulihat sebelumnya. Awalnya kupikir inilah kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan penuh kemewahan yang pantas kudapatkan.
Tak lama setelahnya, aku mulai diwajibkan untuk belajar. Aku mempelajari banyak hal. Mulai dari ilmu budaya, seni dan bahasa, sampai yang serius-serius seperti politik, ekonomi dan yang paling penting, sejarah. Aku mempelajari sejarahku sendiri. Siapa diriku di masa lalu, siapa saudara-saudariku, siapa Raja dan Ratuku yang sejati. Aku akhirnya bertanya pada salah satu guru yang mengajarku, ada apa di utara sana? Kenapa rasanya aku selalu ingin pergi ke sana? Hal yang sama pernah kutanyakan pada ibuku. Ibu kandungku, yang setelah bertahun-tahun hidup di Istana kini tak kuingat lagi wajahnya. Yang aku ingat, ibuku menjawab sama persis seperti jawaban guruku.
"Di utara hanya ada daratan es abadi yang dipenuhi penyihir jahat, kaum barbar berkulit seputih salju dan serigala mereka yang kejam serta bertaring tajam."
Jadi aku berhenti bertanya. Padahal aku yakin sekali ada lebih dari itu.
Torakka Eri suatu hari mendatangiku di Istana Angin. Dia tidak sering mendatangiku, tapi aku senang tiap kali dia datang. Dia sudah seperti kakakku sendiri karena kami berasal dari suku yang sama, suku Ilbon. Kami bicara bahasa daerah yang sama dan menyukai makanan yang sama. Dia membawa kabar bahwa Istana Air akhirnya terisi. Dia menawariku untuk berkunjung ke sana untuk menemui saudara kembarku di kehidupan yang lalu. Aquinier. Sui ryū. Naga Air.
Dan itulah saat pertama kali aku dipertemukan dengan Shuu. Berbeda denganku, Shuu bukan ditemukan oleh seorang Torakka. Dia memang datang ke Istana Air karena sudah saatnya.
Shuu adalah putra bangsawan yang berasal dari suku Jung. Suku yang sama dengan Kaisar. Klan Huang, klannya, adalah salah satu klan besar yang dekat dengan Kaisar dan berjasa bagi kekaisaran. Naga Air ternyata selalu terlahir di antara para pria Klan Huang selama ratusan tahun. Pendahulunya adalah kakeknya sendiri. Saat kakeknya meninggal, Shuu lahir. Dan semua orang langsung tahu bahwa Shuu adalah Naga Air. Dia dilatih di rumahnya sendiri yang mewah seperti Istana, dia tidak pernah dipisah dengan orang tuanya dan dijanjikan akan mulai mengabdi ketika dia sudah siap. Itulah sebabnya dia baru datang ke Istana Air bertahun-tahun setelah aku tinggal di Istana Angin.
Kami adalah Naga Kembar, tapi alangkah jauhnya perbedaan nasib kami. Meski begitu, kami cepat akrab. Dan aku tidak lagi merasa sendirian. Aku merasa akhirnya ada seseorang yang benar-benar paham seluruh isi hatiku. Jadi aku bertanya padanya,
"Ada apa di utara sana?"
Awalnya itu hanya pertanyaan basa-basi usai pelatihan kami di suatu sore. Karena aku bosan. Karena dia pendiam dan aku harus selalu mengajukan pertanyaan agar dia banyak bicara. Juga karena aku ingin tahu apakah dia juga merasakan yang kurasakan.
"Raja kita." Jawabnya langsung, penuh keyakinan. Dia menoleh padaku dan aku bisa melihat dari sorot matanya, bahwa dia serius tentang hal itu. Raja kita ada di utara. Di Negeri Es. Negeri para serigala dan penyihir. "Suatu saat nanti kita pasti bisa bertemu dengannya. Juga dengan Ratu kita, dan saudari kita, Sang Naga Bumi."
Dan itulah sebabnya aku dan Shuu mengompori Pangeran Yi untuk mengajak kami ke Nordhalbinsel. Itulah sebabnya kami menyiarkan ramalan palsu pada Kaisar Qin agar beliau mengizinkan Pangeran Yi membawa kami ke Negeri Es itu. Kami ingin bertemu dengan Raja dan Ratu kami.
Alih-alih bertemu dengan Naga Api Agung, kami justru dipertemukan dengan Ratu Es. Ratu Eleanor persis seperti yang digembar-gemborkan setiap pria di belahan dunia mana pun. Cantik luar biasa. Seperti Dewi Es. Tapi dia lebih terlihat rapuh dan letih. Sepertinya bukan kebohongan bahwa dia sedang berduka.
"Suamiku belum lama ini meninggal. Aku masih sangat berduka atas kematian orang yang sangat kucintai. Kuharap pangeran mengerti jika aku belum bisa menjawab pinangan Anda." Begitulah katanya dalam bahasa Orient yang sempurna saat Pangeran Yi datang dan mengajukan pernikahan dengannya. Orang satu ini selalu terburu-buru. Dia tidak belajar dari kegagalannya dalam upaya menarik perhatian Putri Eugene dari Westeria.
__ADS_1
Tapi entah karena wajah cantiknya yang memikat, tutur katanya yang halus saat mengucapkan kata-kata itu dalam bahasa kami, suaranya yang lembut, atau pembawaannya yang terkesan kalem dan rapuh, Pangeran Yi menyetujuinya. Para pria di Orient suka dengan wanita yang kalem, lembut dan terkesan lemah. Wanita yang perlu dilindungi, yang tidak berdaya dan tidak bisa melawan. Dan Sang Ratu berhasil menciptakan kesan tersebut. Di luar dugaan, Pangeran Yi benar-benar setuju untuk menunggunya sampai Sang Ratu berhenti berduka atas kematian suaminya. Padahal kupikir dia akan langsung menyuruhku dan Shuu untuk menciptakan badai untuk mengancam Sang Ratu karena beliau memperkenalkan kami sebagai Naga Kembar di hadapan Ratu Eleanor.
Kutengok Shuu di sampingku. Dia sedang menunduk. Bukan karena bersikap sopan, aku menyadari, tapi karena menyembunyikan senyuman. Tidak. Dia menyembunyikan tawa. Padahal jarang sekali dia tertawa.
Ratu Eleanor ternyata pintar berakting. Katanya.
Kami dapat bertelepati. Satu dari sekian banyak bakat kami. Kurasa itu lebih karena kami adalah Naga Kembar. Tapi Shuu bukan hanya bisa bertelepati denganku, dia juga bisa membaca pikiran semua orang. Dia pasti sudah membaca isi pikiran Ratu Eleanor.
Dia berbohong?
Bukan begitu. Dia memang berduka. Tapi bukan atas kematian Raja Xavier. Dia berduka atas kematian kekasih simpanannya. Ayah kandung bayi itu.
Bayi?
Dia sedang mengandung. Sudah kuduga tidak ada yang menyadarinya.
Dia kurus sekali! Perutnya belum membesar. Mana ada yang bisa menebak.
Satu lagi.
Apa?
...****************...
"Bagaimana Shuu?" Pangeran bertanya pada Shuu, mencari tahu apakah Ratu berkata yang sesungguhnya, saat kami sudah diantar ke sebuah mansion yang akan kami tempati selama kami berada di Nordhalbinsel.
"Sang Ratu benar-benar sangat sedih dan masih belum melupakan cintanya." Jawab Shuu. Jawabannya sama sekali bukan kebohongan. Sang Ratu memang masih berduka. Dan memang belum bisa melupakan orang yang dia cintai. Tapi bukan Raja Xavier yang dimaksud.
"Wanita malang. Sayang sekali, padahal kesedihan bisa mengikis kecantikannya. Dia sepertinya sangat sedih sampai lupa makan."
Astaga! benarkah Pangeran Yi...
Jatuh cinta sungguhan pada Ratu Eleanor. Kurasa begitu. Shuu meneruskan kata-kataku.
"Mungkin Anda sebaiknya memanfaatkan saat ini, Yang Mulia." Kataku. Mengompori adalah salah satu bakatku. Bukan sebagai Naga Angin, melainkan sebagai diriku sendiri. "Anda bisa mengisi hatinya yang sedang kosong. Mengajaknya makan bersama. Wanita yang sedang berduka seperti itu biasanya lebih mudah luluh dengan perhatian. Sambil menunggu beliau mengatasi dukanya, Anda bisa mendekatinya dengan perlahan."
"Lalu jika Anda sudah berhasil memikatnya, Anda bisa menikahinya dan menjadi Raja. Dan Nordhalbinsel akan jatuh ke tangan Anda." Tambah Shuu setelah paham apa rencanaku.
__ADS_1
Alih-alih menjadikan kami monster dan menakut-nakuti Ratu, jauh lebih aman jika kami melakukan pendekatan ini. Lagi pula Pangeran Yi memang sudah terpikat pada pesona Sang Ratu. Dengan begitu, Ratu akan memiliki banyak waktu sampai Raja Xavier benar-benar kembali dan kami tidak perlu mendatangkan badai dan mengancam orang-orang tak bersalah ini.
...****************...
Mansion yang kami tempati memang tidak semewah dan seluas Istana Utama. Tapi itu luar biasa besar. Lantainya berupa marmer mengkilap seperti kaca. Seperti es. Langit-langitnya yang berlukis awan-awan dan langit biru ditopang oleh pilar-pilar kurus tinggi berwarna emas. Orang-orang yang diutus Ratu mengatakan bahwa mansion ini adalah salah satu dari sekian banyak mansion milik mendiang Raja Xavier.
Pangeran Yi disibukkan dengan rapat dengan para prajurit kami. Aku dan Shuu tidak dibutuhkan dalam rapat itu, jadi kami memutuskan untuk berkeliling menjelajahi tempat indah ini.
Dinding-dinding lorong dipenuhi oleh lukisan wajah-wajah yang tidak kami kenali. Tapi mereka kurang lebih punya satu kesamaan. Kulit seputih salju dan rambut sehitam arang. Tidak semua berambut hitam, ada juga yang pirang, tapi mayoritas mantan Raja Nordhalbinsel memiliki rambut hitam. Kuduga itu merupakan ciri khas keluarga kerajaan Nordhalbinsel. Tapi kemudian Shuu mengingatkanku akan sesuatu.
"Itu adalah ciri khas Raja Nordlijk. Kulitnya seputih salju. Bahkan lebih pucat lagi. Rambutnya hitam kelam, tapi matanya semerah api."
"Mirip seperti ayahnya. Nordlijk sangat mirip dengan Raja kita. Naga Api Agung dalam wujud manusianya." Tambahku.
"Mirip seperti orang ini. Siapa pun dia." Kata Shuu kemudian. Tatapannya terpaku pada lukisan di hadapannya.
Aku segera menghampirinya, menjauhi lukisan salah satu mantan Raja Nordhalbinsel yang memiliki mata sekelam kehampaan. Tepat di samping lukisan itu adalah lukisan yang sedang Shuu amati. Aku paham kenapa dia begitu terpana melihat lukisan tersebut.
Itu adalah Raja kami. Aku tidak mungin salah mengenali. Wajahnya persis seperti seribu tahun yang lalu. Bedanya, alih-alih mata semerah api yang harusnya dia miliki, matanya hijau terang seperti permata emerald yang ada di salah satu mahkota Kaisar Qin.
Saat melihat lukisan itu, jantungku berdetak kencang sampai sakit sekali. Seluruh sel dalam tubuhku seolah sedang berteriak untuk berlutut di hadapan lukisannya. Aku tidak sanggup mengalihkan tatapanku dari lukisan itu. Sepasang mata emerald itu seolah sedang menatapku langsung, padahal itu hanya lukisan.
"Sayang sekali beliau mati muda." Kata seseorang yang baru datang dengan bahasa Orient yang sangat payah. Logat utaranya tidak bisa dihilangkan. Sangat tidak cocok menggunakan bahasa kami. Itu adalah penerjemah yang diutus oleh Ratu Eleanor untuk membantu kami selama kami menginap di mansion ini. Aku tidak ingat namanya. Dia adalah seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahun atau lebih. "Beliau adalah yang tertampan diantara raja-raja terdahulu. Semua orang berpendapat demikian. Aku setuju."
"Dia siapa?" tanyaku dengan bahasa Nordhalbinsel sebisanya. Aku bukannya tidak bisa menggunakan bahasa Nordhalbinsel, hanya saja aku lebih pasif. Jika mendengarkan orang bicara, aku dapat mengerti maksudnya. Tapi jika aku harus menggunakan bahasa mereka, aku tidak bisa menggunakan bahasa formal. Bahasa mereka sulit dan terlalu banyak huruf vokal serta huruf yang tidak perlu dibaca atau cara pengucapannya beda tergantung konteks kalimat. Benar-benar bahasa yang merepotkan.
Si penerjemah menatapku. Aku tidak tahu arti tatapan itu. Apa dia tersinggung karena aku tidak menggunakan bahasa formal? Atau aku salah bicara?
Tapi kemudian dia tersenyum. Senyumnya sedih. Aku melirik ke arah Shuu untuk menjelaskan isi pikiran orang itu.
Astaga... Kata Shuu.
Kenapa? Kau tahu siapa orang yang ada di lukisan itu?
Tapi bukan Shuu yang menjawab pertanyaanku. Si penerjemah, kali ini dengan bahasanya sendiri karena tahu kami mengerti bahasanya, sambil masih memakukan pandangannya pada pria bermata emerald yang ada di lukisan, berkata dengan lirih, "Dia mendiang Raja Xavier. Dia mati sebelum sempat dinobatkan menjadi Raja, tapi karena istrinya, Ratu Eleanor sudah dinobatkan, dia otomatis sudah menjadi Raja."
Itu dia. Raja Xavier adalah Raja kita. Naga Api Agung. Shuu menambahkan.
__ADS_1
...****************...