
"Kau dari mana saja!" Aku kesal bukan main. Bisa-bisanya Kaze menghilang selama lebih dari satu jam meninggalkanku sendiri di keramaian.
Kaze tampak pucat. Nafasnya terengah-engah seolah dia habis berlari jauh. "Apa pendaftarannya sudah selesai? Apa kau bisa tampil nanti malam?" Tanyanya.
"Tentu saja! Aku kan sudah lama berlatih. Mereka bilang tarianku bagus dan aku diperbolehkan menunjukkan tarianku nanti malam."
"Lalu sekarang bagaimana? Apa kita akan menunggu sampai malam di sini?"
Tidak. Aku tidak mau lebih lama lagi berada di keramaian dengan pakaian ini.
Jadi kami memutuskan untuk kembali ke Dong-gung. Tepat saat waktunya makan siang, kami sudah sampai di Dong-gung. Aku sudah membeli makanan untuk makan siang kami karena aku tahu kami akan makan bubur lagi jika aku tidak membeli apa pun di kota. Pasangan aneh pemilik Dong-gung itu dua-duanya tidak bisa masak dan tidak pernah ada yang masak jadi kami selama ini hanya membeli makanan di kios makanan terdekat.
Saat aku baru akan menyajikan lauk dan sayur yang kubeli di kota untuk makan siang kami, aku mendengar suara pintu dibanting dari lantai tiga.
"Mereka kenapa lagi?" Tanyaku pada Shuu, karena hanya dia yang berada di dalam Dong-gung hingga siang ini. Jenderal Elias, maksudku Elias—aku selalu lupa dia bukan seorang Jenderal lagi—entah ada di mana. Aku tidak mau memedulikannya.
Shuu tidak langsung menjawabku. Dia menoleh menatap Kaze dalam diam, sorot matanya tampak mengkhawatirkan gadis kecil itu. Aku yakin mereka sedang bertelepati. Kaze tampak lebih diam semenjak kami pulang dari balai kota. Padahal biasanya dia selalu ceria. Wajahnya juga terlihat pucat. Tapi dia tidak menceritakan apa pun yang terjadi padanya tadi dan aku tidak mau mencampuri urusan para Naga jika mereka tidak mau aku ikut campur. Aku percaya Kaze akan cerita padaku jika sudah saatnya nanti.
"Halo! Aku di sini! Tidak bisakah kita bicara dengan normal tanpa telepati?" Tanyaku setelah sekian lama tidak ada yang bicara. Aku mulai kesal dengan urusan para Naga ini.
"Aku sudah bilang, kan! Tidak aman untuk mereka! Terlalu berbahaya. Kenapa kau membiarkannya?" Kali ini terdengar suara Diana dengan logat khas orang Schiereiland di lantai tiga. Rupanya mereka sedang bertengkar.
"Dia baik-baik saja. Dia kembali dengan selamat. Tenang lah." Riz mencoba menenangkan. Aku salut padanya. Bisa-bisanya seorang Navarro bersikap selembut itu jika di hadapan Istrinya.
"Bagaimana kalau dia juga mati... Bagaimana kalau—“
"Tidak akan. Aku pastikan mereka tetap aman. Kita akan menjaga mereka. Untuk itulah kita ada di sini."
Lalu hening.
"Haruskah kita memanggil mereka dan mengajak makan siang bersama atau kita bisa makan lebih dulu? Aku sudah sangat lapar kalau harus menunggu drama rumah tangga mereka selesai." Tanyaku pada Shuu. Dia bisa membaca pikiran, jadi dia pasti tahu apa yang harus kami lakukan di saat seperti ini.
Shuu tampak sedang mendengarkan isi pikiran pasangan itu. Dia mendongak ke atas, ke arah kamar Diana dan Riz. Lalu mengalihkan pandangannya padaku. Dia sepertinya sedang menahan senyum. Entah apa yang terjadi di atas sana, sepertinya pertikaian suami istri itu sudah usai karena tidak terdengar suara apa pun.
"Kita makan duluan saja." Kata Shuu kemudian.
...****************...
Kali ini aku berada di puncak gunung bersalju.
Ini aneh, karena Orient sedang musim semi dan tidak ada gunung dengan puncak yang bersalju seperti ini. Lebih aneh lagi, meski berada di puncak gunung bersalju, aku tidak merasa kedinginan sama sekali, justru aku merasa hangat. Kalau begitu aku pasti sedang bermimpi.
Keberadaan makhluk di hadapanku semakin meyakinkan diriku bahwa ini hanya mimpi. Serigala Salju. Dia masih tampak besar dengan bulu seputih salju dan mata indah sebiru es serta taring-taring yang besar di mulutnya. Tapi dia tidak tampak menyeramkan lagi. Atau mungkin aku yang sudah berhenti takut padanya setelah aku tahu siapa Serigala itu.
Aku tidak mengatakan apa pun, begitu pun dengan si Serigala. Kami hanya saling berdiri dan menatap dalam diam. Selama ini aku selalu berlari darinya. Selama ini aku selalu berusaha menghindarinya jadi dia selalu mengejar. Ternyata setelah kini kami saling berhadapan, dia tidak menerkamku. Dia tidak tampak berbahaya.
Mata biru es itu bagaikan sebuah cermin. Aku bisa melihat diriku sendiri di sana. Aku masih sama. Putih pucat dan putus asa. Tapi aku tidak lagi tampak ketakutan. Aku hanya tampak... rapuh. Aku tidak lagi melihat diriku sebagai ksatria wanita Montreux. Bukan pula pewaris takhta Orient. Aku tidak berhak menjadi keduanya. Aku lemah. Aku bukan ksatria wanita yang pantas. Aku juga bukan orang yang pantas mengenakan mahkota itu. Aku bukan siapa-siapa. Mata Serigala itu seolah memberitahuku semuanya. Memperlihatkanku sosok di dalam diriku yang selalu tidak percaya diri dan takut.
Serigala itu membuka mulutnya seolah siap menerkam. Aku menanti ajalku dalam damai.
Tapi dia bukannya mau menerkamku, dia mengatakan sesuatu.
"Yeon-Hwa..."
...****************...
"Yeon-Hwa..."
Saat aku membuka mataku, Elias Winterthur ada di hadapanku. Aku segera bangkit dan duduk. Sial. Kepalaku rasanya pusing berputar. Aku buru-buru memejamkan mata kembali.
"Astaga! Kenapa sulit sekali membangunkanmu! Kau pingsan ya?"
"Kenapa Anda membangunkan saya!"
"Matahari sudah terbenam. Kau sudah tidur berjam-jam."
Aku segera membuka mataku dan menoleh ke luar jendela. Sial! Aku ketiduran di sofa sejak tadi siang dan kini hari sudah malam. Ini pasti efek kelelahan karena aku terus berlatih tarian dengan Shuu setiap pagi dan bekerja sebagai pelayan hingga malam di Istana Giok.
"Jam berapa sekarang?" Tanyaku.
"Tujuh." Jawab seseorang dalam bahasa Orient. Aku menoleh dan mendapati Diana sudah mengenakan Hanbok yang sangat indah berwarna merah muda. Rambutnya yang biasa digulung ke atas mengikuti gaya rambut para wanita Orient yang sudah menikah, kali ini dibiarkan tergerai panjang. Kalau pun dia menyembunyikan pisau-pisaunya, aku tidak dapat melihatnya. Mungkin khusus malam ini dia tidak membawa pisau-pisaunya. Sebagai gantinya, dia mengenakan banyak perhiasan seperti cincin dan kalung dengan permata emerald yang terlihat tidak asing. Diana kemudian melanjutkan dengan bahasanya sendiri. "Belum terlambat. Tadi kau tidur sangat nyenyak jadi aku tidak tega membangunkanmu. Jangan khawatir, nanti Tuan Elias bisa mengantarmu ke balai kota dengan berteleportasi. Benar kan, Tuan?" Diana tersenyum ramah pada Elias.
"Aku tidak pernah bilang akan—“
"Tadi Anda sudah berjanji. Saya pikir pria utara tidak pernah ingkar janji." Kali ini Kaze turut bergabung meski dengan pengucapan yang masih kaku. Kaze juga sudah mengganti pakaiannya. Dia berasal dari suku Ilbon, jadi dia tidak mengenakan Hanbok. Dia mengenakan pakaian adat sukunya berupa kimono panjang berwarna biru muda. Gadis kecil itu tampak sangat cantik sekaligus menggemaskan.
__ADS_1
Elias menghela nafas berat seolah mengantarku ke balai kota adalah cobaan terberat dalam hidupnya. "Baiklah."
"Di mana yang lain?" Tanyaku pada Diana. Saat berbicara dengan Diana, sebisa mungkin aku menggunakan bahasanya meski Diana bisa bahasa Orient. Kurasa penting untuk menghargai bahasa dan budaya orang lain.
"Riz dan Shuu sudah menunggu di lantai tiga. Kita akan menyaksikan bintang jatuh dari sana. Ayo ikut."
Aku baru akan bangkit dari sofa saat menyadari aku masih mengenakan pakaian penari di balik selimut yang entah bagaimana menutupiku. Aku tidak ingat mengambil selimut sebelum tertidur di sofa.
"Ini milik Anda?" Tanyaku.
"Pakai saja." Kata Elias sambil pergi menuju tangga ke lantai ketiga.
Aku pun menggunakan selimut itu untuk menutupi tubuhku dan menghalau udara malam. Daerah ini merupakan dataran yang lebih tinggi dari pusat kota Jungdo, jadi udara malam akan terasa lebih dingin. Meski sebenarnya, udara dingin tidak terlalu berpengaruh padaku karena aku sudah cukup lama tinggal di Nordhalbinsel.
"Jadi apa itu festival seribu bintang?" Tanyaku pada Shuu saat kami semua tengah berkumpul di lantai tiga, menunggu bintang jatuh. Semua orang mematikan lampu dan lentera sehingga satu-satunya cahaya berasal dari bintang-bintang di langit. Bintang-bintang itu kini tampak jauh lebih terang dari kapan pun sehingga kami tetap dapat melihat dengan jelas ke sekeliling kami. Aku dapat melihat Riz yang mengenakan Hanbok yang serasi dengan milik Diana. Sementara itu, Shuu mengenakan hanfu, pakaian adat suku Jung, yang juga berwarna biru muda sewarna dengan kimono milik Kaze. Sekarang mereka benar-benar seperti Naga Kembar.
Shuu menatapku tak percaya karena bertanya seperti itu. "Kau ini orang Orient bukan sih? Masa kau tidak tahu festival seribu bintang?"
"Aku lahir dan dibesarkan di Westeria. Jadi aku Westerian." Jawabku sambil merapatkan selimut ke tubuhku karena udaranya ternyata benar-benar dingin. Aku butuh minuman hangat.
Shuu dan Kaze tampak memutar bola mata setiap kali aku mengaku sebagai Westerian. Katanya, orang Orient, dimana pun mereka dilahirkan, dibesarkan maupun tinggal, akan selalu menjadi orang Orient.
"Kami juga tidak tahu tentang perayaan ini. Bisakah kau menjelaskannya, Shuu?" Tanya Diana. Riz di sampingnya menggenggam tangannya. Rupanya mereka sudah berbaikan dari pertikaian tadi siang.
"Baiklah, akan kujelaskan." Shuu berdehem beberapa kali seolah akan mulai mendeklamasikan puisi atau berpidato. "Festival Seribu Bintang dirayakan setiap malam ke lima puluh musim semi atau saat seluruh kuncup bunga sakura sudah bermekaran. Pada malam ini, seribu bintang akan jatuh dari langit. Konon, siapa pun yang mengucapkan ikrar pernikahan saat bintang jatuh dari langit akan mendapat restu dari Sang Langit—di negeri lain di kenal juga sebagai Dewi Langit atau Etherna. Setiap bintang itu melambangkan restu dari Sang Langit. Sebenarnya, bukan hanya untuk pernikahan saja, tapi juga untuk hal lainnya. Siapa pun yang memiliki keinginan yang belum tercapai, ucapkan keinginan itu dalam hati maka Sang Langit akan mengabulkannya."
Keinginan yang belum tercapai... Apa aku memilikinya?
Aku bertanya-tanya sendiri, apa keinginanku. Apa yang kuinginkan? Sebelum ini, aku sendiri tidak yakin apa yang sebenarnya kuinginkan. Aku ingin hidup bebas. Aku tidak ingin terikat oleh pernikahan yang tidak kuinginkan maupun cinta palsu yang semu dan fana. Aku ingin bisa hidup sebagai diriku sendiri. Dan aku ingin, jika suatu saat nanti aku bertemu dengan orang yang sudah ditakdirkan untukku, orang itu akan bisa menerimaku apa adanya. Baik sebagai Honey Welsh, gadis Westerian yang mengabdi sebagai ksatria wanita Montreux, maupun sebagai Lee Yeon-Hwa, pewaris takhta Orient tanpa mahkota. Aku harap orang itu bisa bersabar karena aku mungkin takkan langsung bisa menerima keberadaannya begitu saja. Aku masih belum bisa percaya pada cinta dan takdir atau hal semacam itu.
Tepat saat itu, saat aku selesai mengumpulkan keinginan-keinginanku dalam hati, bintang-bintang berjatuhan.
Seperti tetes-tetes hujan di malam hari, namun alih-alih air, ribuan cahaya yang berkelap-kelip seolah jatuh ke bumi. Jika Sang Langit memang ada, jika Sang Langit bisa menangis, mungkin inilah air matanya. Berupa ribuan cahaya yang saking indahnya, bisa membuat siapa pun yang melihatnya turut meneteskan air mata. Tanpa kusadari, aku mulai menyebutkan keinginan-keinginanku dalam hati...
Aku ingin ayahku sehat selalu. Aku ingin ayahku bisa hidup bahagia meski tanpa ibuku. Aku ingin ayah bisa merelakan kepergian ibuku dan mulai melanjutkan hidup sesuai keinginannya.
Aku ingin Abuela menemukan cinta sejatinya sebelum beliau tutup usia. Karena kurasa, semua orang berhak menemukan cinta sejatinya.
Aku ingin Ibuku tenang di alam sana. Aku ingin ibuku tahu bahwa aku dan ayah sangat mencintainya. Bahwa pilihannya untuk bertahan hidup dalam persembunyian adalah pilihan terbaik karena pilihan itulah yang membuatku dapat hidup di dunia ini. Pilihan itulah yang membuatku berada di sini sekarang menyaksikan keajaiban di langit malam Orient.
Aku ingin semua doa dan harapan orang-orang yang ada di sini bersamaku terkabulkan. Bahkan meski harapan mereka terkesan mustahil, kuharap semua harapan mereka terkabulkan. Aku ingin kami semua mendapatkan restu dari Sang Langit.
"Jangan menangis. Nanti riasan wajahmu rusak. Aku terlalu lelah untuk memperbaiki riasan wajahmu." Katanya sambil masih memelukku. Dia membuatku tertawa sambil meneteskan air mata. Dasar Naga Angin cilik!
"Indah sekali ya... Seumur hidup baru kali ini aku melihat pemandangan seperti ini." Kataku.
Aku melirik ke arah Elias yang masih belum bisa mengalihkan pandangannya dari bintang-bintang yang berjatuhan itu. Dia tampak sangat terpukau pada pemandangan itu. Shuu di sampingnya tampak sama terpukaunya meski dia pasti sudah sering menyaksikan festival seribu bintang. Kurasa takkan ada yang bosan melihat fenomena langit yang menakjubkan ini. Malam saat bintang-bintang terasa sangat dekat dan dapat diraih. Seolah semua kemustahilan di dunia ini dihapuskan dan semua harapan akan terwujud.
Lalu aku menoleh ke arah pasangan pemilik Dong-gung. Riz sedang berlutut di hadapan Diana. Diana tampak sangat terkejut.
"Aku tahu ini sangat tiba-tiba. Aku juga tidak menyiapkan cincin, tapi..." Riz menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan, "Apakah kau bersedia menikah denganku dan mendapat restu dari Dewi Langit?" Ucapnya sambil menatap Diana. Sebelumnya aku hanya pernah satu kali melihat tatapan seperti itu seumur hidupku. Aku pernah melihatnya saat ayahku menatap ibuku sewaktu beliau masih dapat melihat, sewaktu ibu masih hidup dan sehat.
"Kupikir selama ini kalian sudah menikah!" Kataku, masih setengah terperangah.
"Sssttt... Biarkan saja mereka." Kata Shuu, lagi-lagi dia terdengar lebih tua dari usianya. Dia menatap pasangan itu sambil tersenyum khidmat.
"Kami belum pernah direstui oleh Dewi Langit." Kata Riz, tapi tatapannya masih belum beralih dari Diana. "Kau boleh menolak—“
"Aku bersedia." Diana meneteskan air matanya.
"Apa?" Riz tampak tak percaya. Tidak. Dia tampak sangat terkejut seolah Istrinya mungkin akan menolak lamarannya. Seolah dia sangat yakin dia akan menerima penolakan. Aku benar-benar tidak mengerti tingkah laku pasangan aneh itu.
Diana tersenyum, masih sambil meneteskan air mata bahagia, "Aku bersedia." ulangnya.
"Kau serius? Kau tidak bisa menarik kembali jawaban—“
"Aku serius. Aku bersedia menikah denganmu. Sekarang juga kalau perlu."
Riz berdiri dan memeluk Diana. "Terima kasih." Katanya. "Terima kasih banyak." Kali ini dia terdengar seperti menahan air mata.
"Oh, selamat!" Kataku sambil memutar bola mata. Benar-benar drama yang mengharukan!
Kaze dan Shuu bertepuk tangan gembira, tampak sangat senang. Elias tampak lebih bingung dariku. Tapi Riz dan Diana tampak tidak menghiraukan semua itu, seolah hanya ada mereka berdua di dunia ini. Mereka terlalu bahagia untuk peduli apa kata orang.
"Kalian mau ke mana?" Tanyaku saat melihat mereka mulai berlari menuju tangga.
__ADS_1
"Kami mau menikah. Kalian lanjutkan saja kegiatan kalian masing-masing. Kami harus mencari penghulu." Teriak Riz sambil membawa pergi Diana.
"Shuu, ayo kita pergi." Kaze menarik tangan Shuu.
"Kalian mau ke mana?" Kali ini Elias yang bertanya.
"Kami lelah. Lagi pula anak di bawah umur tidak boleh tidur larut malam." Kata Kaze.
"Ini masih jam tujuh!" Aku memprotes.
"Astaga! Sudah selarut itu ternyata! Ayo, Shuu. Naga Kembar butuh banyak istirahat demi stabilitas dan kemakmuran kekaisaran." Aku tahu Kaze mengatakannya sambil menahan tawa. Aku bisa mendengarnya. Apa sih yang dia pikirkan!
"Selamat malam. Semoga berhasil." ucap Shuu sebelum benar-benar menghilang di balik pintu.
Mau tak mau, aku menghampiri Elias yang masih berdiri menatap bintang-bintang yang masih berjatuhan. Udara masih sangat dingin jadi aku masih membungkus diri dengan selimut.
"Kapan kita akan berangkat?" Tanyaku.
Elias tidak langsung menjawab. Atau mungkin dia terlalu terlarut dalam lamunannya sambil menatapi bintang-bintang itu sehingga tidak memedulikan keberadaanku. Aku mungkin juga tak terlihat saat ini. Karena menit-menit berikutnya dia masih diam, terpaku menatap langit.
"Apa kau mendapatkan itu saat kejadian di Montreux?" Tanyanya tiba-tiba saat aku yakin dia tidak sadar aku masih ada di atas sini bersamanya.
"Apa?" Tanyaku.
Elias menoleh, kali ini tidak lagi menatap bintang-bintang itu. "Luka di pinggangmu, maksudku." Matanya bergerak ke arah pinggangku yang kini tertutup selimutnya.
"Anda melihatnya?" Pertanyaan bodoh. Tentu saja dia melihatnya, kalau tidak dari mana dia tahu tentang luka di pinggangku. Seharusnya aku tidak perlu bertanya.
"Mustahil untuk tidak melihatnya kalau kau mengenakan pakaian seperti itu."
"Jadi itu sebabnya Anda mengatakan saya tidak nyaman dilihat."
"Apa?" Dia mengernyit bingung seolah tidak pernah mengucapkan kata-kata itu padaku pagi ini. "Astaga! Bukan itu—“
"Apa karena saya punya bekas luka makanya saya tidak pantas mengenakan pakaian ini? Karena tubuh saya tidak sempurna? Tidak seperti gadis-gadis utara yang Anda tiduri?"
Kali ini dia tertawa keras sekali. Kurasa baru kali ini aku melihatnya tertawa sampai seperti itu. Aku benar-benar tak mengerti apanya yang lucu. Aku sedang sangat tersinggung!
"Oh, maaf..." Katanya. Dia meredakan tawanya, "Itukah yang kau pikirkan? Dan kau percaya rumor aneh tentangku?"
"Tentu saja!"
Sekarang dia benar-benar berhenti tertawa. Ekspresinya berubah serius. "Kau salah satu pengawal Ratu. Kau seharusnya lebih tahu bahwa aku terlalu sibuk untuk berkencan dengan siapa pun maupun menyelinap masuk ke kamar mereka. Dan..." Dia berdehem sejenak sebelum melanjutkan, "Maaf jika kau tersinggung pada perkataanku tadi pagi, tapi aku tidak pernah berpikir bahwa bekas luka itu mengurangi keindahan tubuhmu. Tidak seharusnya kau jadi merasa kurang percaya diri hanya karena perkataan dari orang yang tidak benar-benar mengenalmu. Aku memang tidak pernah punya pengalaman melihat tubuh seorang wanita tapi menurutku tubuhmu sempurna."
"Astaga! Anda seharusnya tidak mengatakan hal seperti itu terang-terangan!" Aku tidak benar-benar tahu bagaimana harus merespons. Apakah itu bahkan suatu pujian? Apakah hal seperti itu pantas dibicarakan? Kenapa udara jadi memanas?
"Kau dulu yang membahasnya kan." Elias menghela nafas panjang. "Baiklah... Aku minta maaf."
"Untuk apa?"
"Untuk semuanya. Segalanya dari awal sampai saat ini. Sepertinya dari awal kita tidak pernah bicara tanpa saling meninggikan nada suara masing-masing dan berujung pada masalah baru lainnya. Awal pertemuan kita memang tidak baik dan sepertinya sebagian karena kesalahanku juga. Aku yang lebih dewasa, jadi seharusnya aku yang mengalah dan minta maaf terlebih dahulu. Maafkan aku."
Apa ini? Kenapa dia jadi bersikap sebaik ini? Tapi ya sudah lah. Sudah bagus dia mau minta maaf. "Saya juga minta maaf... atas semuanya." Kataku. Lalu aku teringat pada hal lainnya, "Saya juga turut berduka atas kematian salah satu anggota pasukan serigala yang dibunuh oleh ayah saya. Saya minta maaf atas nama ayah saya."
Kali ini raut wajahnya terlihat sedih. Sepertinya serigala yang tewas itu dekat dengannya. Aku jadi merasa bersalah karena membahasnya lagi.
"Tidak apa-apa. Itu sudah berlalu. Itu kesalahanku juga karena tidak bisa menjaganya." Elias mengalihkan pandangannya kembali pada bintang-bintang. Aku sempat melihat matanya berkaca-kaca sebelum mengalihkan pandangannya. "Namanya Demyan. Dia yang termuda diantara kami. Usianya baru sebelas tahun. Dia yatim piatu dan tidak punya siapa-siapa selain kami. Pasukan Serigala adalah keluarganya. Dia sangat gembira waktu aku menerima sumpahnya, padahal dia baru saja menerima sebuah kutukan yang menjadikan dirinya Serigala."
Aku tidak mengerti tentang sejarah keluarga Winterthur dan kenapa mereka bisa menjadi Serigala. Aku bahkan tidak tahu bahwa Elias bisa berubah menjadi Serigala sampai pagi itu saat dia mendatangi rumahku di Westeria. Tapi dinilai dari kata-katanya, kurasa itu lebih seperti sebuah kutukan turun temurun. Kurasa itu bukan hal yang bagus dan patut dibicarakan—meski menurutku, perubahannya menjadi Serigala dapat menjadi sangat berguna di medan perang atau pertempuran lainnya. Jadi aku tidak membahas lebih lanjut.
Lama kami saling terdiam dan menatap bintang-bintang yang tak henti berjatuhan. Apakah sudah seribu bintang? Aku tidak tahu. Tapi kami begitu terlarut dalam pikiran masing-masing dan aku sudah tidak merasa kedinginan lagi.
"Waktu itu kau bilang aku adalah mimpi burukmu. Apa itu artinya kau pernah melihatku sebagai Serigala dalam mimpimu?" Tanyanya tiba-tiba.
"Ya. Anda benar-benar meneror saya hingga sampai sekarang pun saya masih sering bermimpi bertemu Anda dalam wujud serigala." Aku teringat pada mimpiku sore ini. Serigala itu bukan lagi berupa mimpi buruk. Tapi dia memang sering muncul. Mungkin karena aku kelelahan belakangan ini.
"Apa kau ingat apa saja yang kau lihat di mimpi itu? Apa kau melihat sesuatu saat melihatku di mimpi itu?" Kali ini Elias tampak benar-benar penasaran seolah mimpiku adalah hal yang penting.
"Kenapa—“
"Jawab saja."
"Saya tidak melihat apa pun." Jawabku. Kemudian aku menambahkan dengan ragu, "Saya hanya melihat mata Anda." Mata biru es yang sangat indah. Tapi aku tidak mau mengatakannya.
Aku tidak bisa membaca arti ekspresi Elias saat dia kembali menatapku. Apa itu ekspresi takut? Benci? Marah? Gabungan semuanya? "Dan... Dan apa yang kau lihat di mataku?" Tanyanya kemudian.
__ADS_1
"Diri saya sendiri."
...****************...