
Aku tidak yakin sudah berapa hari kami berada di Negeri Es ini. Aku rindu kampung halamanku. Aku rindu Orient. Aku rindu mandi sinar matahari waktu siang dan merasakan semilir angin sejuk di malam hari. Rindu langit biru cerah. Rindu makan kue Lotus buatan Mina, koki Istana Air yang selalu membuat kue kesukaanku itu. Di Nordhalbinsel tidak ada kue Lotus. Kue itu hanya ada di Orient dan hanya bisa dibuat oleh orang Orient yang sudah paham cerita dibalik kue tersebut.
Ada cerita menarik mengenai kue Lotus yang sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Orang-orang Orient percaya bahwa leluhur kami adalah keturunan naga. Hal itu berasal dari dongeng Putri Yue. Atau bagi orang-orang suku Han, Putri Yeon. Sedangkan di suku Ilbon, Kaze mengatakan mereka mengenalnya sebagai Putri Yukari. Cerita itu sudah berumur ratusan tahun sehingga semua teks kuno diragukan keabsahannya. Tapi karena aku berasal dari suku Jung, aku mengenalnya dengan nama Putri Yue. Putri Yue adalah putri ke sembilan belas Kaisar Orient. Kecantikannya terkenal hingga ke seluruh dunia. Di hari perayaan kedewasaannya, semua Raja, pangeran dan bangsawan dari seluruh dunia pergi ke Orient untuk mulai mengajukan lamaran terhadap Putri Yue.
Seorang bangsawan memberinya sebuah gunung di negaranya. Putri Yue menolak lamaran dari bangsawan itu. "Aku tidak membutuhkan gunung. Kakiku terlalu kurus dan lemah, aku tidak akan bisa mendakinya."
Lalu seorang pangeran memberinya emas, permata, hasil bumi, dan sutra. Barang-barang termewah dari kerajaannya. Putri Yue menolaknya. "Aku sudah memiliki semua itu. Dan sementara kau mengumpulkan semua itu untukku yang mana adalah seorang Putri dari negara lain, rakyatmu yang kau perintahkan untuk mengumpulkan semua kekayaan itu justru hidup menderita dan kelaparan. Lebih baik kau bagi-bagikan semua kekayaan itu untuk rakyatmu."
Seorang Raja dari negeri tetangga memberinya Istana. Putri Yue murka dan menolak lamaran itu langsung sebelum Sang Raja mengucapkan apa pun. "Kau merendahkan Kaisar dengan memberi Putri Kaisar sebuah istana! Aku sudah punya banyak!"
Hingga akhirnya, seorang pemuda biasa datang. Jika dilihat dari pakaiannya yang teramat sederhana, pemuda itu bukan seorang bangsawan, bukan pangeran dan bukan Raja. Dia hanya membawa sepiring kue yang masih hangat. Putri Yue mencicipi kue itu dan langsung menyukai kue itu pada gigitan pertama.
"Siapa kau?" Tanya Putri Yue.
Pemuda itu usianya mungkin sama dengan Sang Putri. Kulitnya seputih salju. Rambutnya hitam bagaikan malam. Anak seorang tukang kue. Pikir Sang Putri saat itu.
"Sebelum saya memperkenalkan diri, saya harus menanyakan satu hal pada Yang Mulia. Apakah Yang Mulia tahu kue itu terbuat dari apa? Jika Yang Mulia bisa menjawabnya, maka saya akan menjawab pertanyaan Anda. Saya juga akan menyerahkan semua kue ini, semua bahan kue ini sebanyak yang Anda inginkan, beserta resepnya dan saya tidak akan pernah membuat kue itu lagi. Tapi jika Anda tidak bisa menjawab, Anda harus bersedia menikah dengan saya dan kita bisa menikmati kue itu bersama-sama untuk seterusnya." Kata pemuda itu.
"Betapa lancangnya! Kau hanya boleh menjawab—“ Perkataan salah satu dayang Putri Yue langsung terhenti karena isyarat dari Sang Putri.
Putri Yue tampak berpikir. Lama dia terdiam dan termenung. Dia menggigit kue itu lagi, menerka-nerka bahan kue tersebut hanya mengandalkan indra perasa dan indra penciumannya. "Saya diberi kesempatan menjawab berapa kali?" Tanya Sang Putri kemudian.
Pemuda itu tersenyum seolah dirinya sudah menduga pertanyaan itu. "Hanya sekali."
Para pengawal Sang Putri maju bersiap untuk menangkap dan memenjarakan pemuda lancang itu, tapi Sang Putri buru-buru menahan mereka. "Hentikan. Biarkan aku menjawab pertanyaan pemuda sombong ini."
"Silahkan, Yang Mulia."
"Tepung dan gula." Jawab Sang Putri dengan mimik bangga karena mengira dirinya baru saja menjawab pertanyaan pemuda itu dengan benar.
"Salah."
"Kau berbohong! Tidak ada kue yang tidak terbuat dari tepung dan gula!"
"Nyatanya kue ini tidak mengandung sedikit pun tepung maupun gula." Jawab pemuda itu dengan tenang meski saat itu puluhan pengawal Putri sudah menghunuskan ujung tombak mereka padanya. "Kue itu terbuat dari susu dan keju."
"Tidak mungkin! Dua bahan itu tidak dijual bebas di negeri ini. Hanya koki kekaisaran yang dapat menggunakan dua bahan tersebut dan hanya untuk makanan Kaisar dan keluarga kaisar pada upacara tertentu karena bahan-bahan itu sulit didapatkan. Kalau begitu, katakan, apakah kau mencuri bahan-bahannya dari gudang dapur istana?"
"Tidak, Yang Mulia. Kedua bahannya saya dapatkan dari rumah saya. Dan saya sendiri yang membuat kue tersebut dengan kedua tangan saya dan dengan resep ciptaan saya setelah berulang kali mencoba. Saya membuatnya di rumah saya sendiri, lalu saya hantarkan langsung pada Anda. Semoga ketulusan saya dapat Anda rasakan." jelas pemuda itu.
"Tapi kue ini masih hangat. Memangnya Anda berasal dari daerah mana?"
"Negeri nan jauh di utara. Di tempat salju abadi menutupi tanah, dan air membeku menjadi es."
"Pembual!"
"Kalau saya dapat membuktikannya, akankah Yang Mulia menerima pinangan saya?"
"Tentu saja. Karena kau tidak akan bisa membuktikannya."
Dan begitulah pemuda itu akhirnya mengajak Sang Putri ke rumahnya di Negeri Es. Mereka berteleportasi dan sampailah mereka di sebuah dapur Istana. Istana Utama Nordhalbinsel. Pemuda itu langsung mempraktikkan cara membuat kue tersebut dari susu dan keju dan membiarkan Sang Putri mencicipi kue tersebut selagi masih hangat. Kue itulah yang kemudian dikenal dengan kue Lotus karena bentuknya mirip dengan bunga lotus. Serta karena kue itu adalah persembahan untuk Sang Putri yang dijuluki Bunga Lotus dari Istana Timur.
Sejak itu, di Orient, kami para pria memperingati hari kasih sayang dengan cara memberikan kue Lotus kepada perempuan yang kami sukai. Para pria Orient meniru cara pemuda dalam kisah itu yang bisa mencuri hati Putri Yue dengan kue Lotus buatannya. Sebenarnya hal itu lebih dikarenakan kaum perempuan di Orient diberi jatah makanan lebih sedikit dibanding saudara laki-laki mereka. Orang tua di Orient ingin putri mereka memenuhi standar kecantikan di negeri kami, yaitu kulit putih bersih dan tubuh langsing. Dan sudah merupakan tugas kami para pria di Orient untuk memastikan para perempuan makan dengan benar, itulah sebabnya di Orient memberi makanan kepada perempuan adalah tanda cinta.
Konon, pemuda dalam cerita Putri Yue itu adalah Raja Nordlijk. Dan Putri Yue adalah cinta pertamanya sekaligus istri pertamanya. Sebelum Putri Yue meninggal, mereka dikaruniai tiga anak perempuan yang kemudian menjadi asal-usul tiga suku di Orient, sedangkan putri pertama mereka menjadi Maharani Orient yang pertama.
Berdasarkan cerita tersebut, kue Lotus sebenarnya bisa dibilang berasal dari Nordhalbinsel. Bahan-bahannya dari Nordhalbinsel. Dan orang yang pertama kali membuatnya adalah Raja Nordlijk. Jadi kenapa kue itu tidak ada di Negeri es ini? Haruskah aku membuatnya sendiri?
__ADS_1
"Kau tidak menyukai makanan ringannya, Naga Air?" Tanya Ratu Eleanor dengan bahasa Orient yang sempurna. "Apabila kau bersedia menyebutkan makanan ringan kesukaanmu, aku akan meminta koki Istana untuk membuatkannya untukmu."
Pertanyaan itu langsung membawaku ke kenyataan. Kami sedang berada di ruang makan mansion untuk acara minum teh sore yang entah ke berapa bersama Sang Ratu. Ratu Eleanor menyempatkan diri di tengah jadwal sibuknya untuk meminum teh bersama kami.
"Shuu sedang tidak enak badan, Baginda Ratu. Mohon maafkan saudara kembar saya." Kaze berusaha menyelamatkanku. Lagi. Dia selalu pandai bicara. Kebalikan dariku.
"Aku mengerti. Aku juga memiliki saudara kembar. Aku akan tahu jika dia sedang sakit atau sedih, begitu pun sebaliknya. Bukankah menakjubkan memiliki seseorang yang dapat mengetahui dirimu lebih baik dari siapa pun." Jawab Sang Ratu sambil tersenyum ramah. Sungguh wanita yang cantik dengan tata krama tak bercela. Aku dapat memahami mengapa Pangeran Yi sampai jatuh hati padanya.
Tapi aku dihadiahi tatapan galak Pangeran Yi. Beliau ingin agar aku tampak menikmati acara minum teh ini. Beliau khawatir Ratu Eleanor jadi tidak tertarik untuk minum teh lagi bersama kami dan akhirnya usahanya untuk merebut hati Sang Ratu serta merebut Negeri Es ini gagal total.
Kita tidak boleh membuang waktu lagi. Kita harus melakukannya sekarang.
Itu adalah isi pikiran Pangeran Yi. Padahal selama ini beliau sudah bersabar. Beliau berkali-kali mencoba untuk mendekati Ratu Eleanor dengan perlahan, padahal biasanya beliau tidak menggunakan cara-cara seperti ini. Tapi hanya ajakan minum teh saja yang dikabulkan oleh Sang Ratu. Itu pun tidak setiap hari karena Ratu Eleanor sangat sibuk.
Gosip yang beredar di kalangan bangsawan membuat Pangeran resah. Banyak yang mengatakan bahwa Ratu Eleanor mengajak seorang pria asing ke rumahnya. Seorang pria dari Schiereiland. Tentu saja gosip itu membuat Pangeran Yi marah. Beliau rela bersabar menunggu Sang Ratu puas berduka atas kematian suaminya, tapi Sang Ratu malah mengajak seorang pria tinggal di rumahnya dan menemuinya setiap malam. Atau paling tidak begitu lah kata orang-orang. Aku tahu bahwa skandal bangsawan selalu menjadi topik yang menarik, dan biasanya tidak semuanya benar.
Pangeran Yi yang tidak sabaran itu ingin kami unjuk kekuatan Naga Kembar dengan mendatangkan badai. Badai yang cukup besar yang dapat menghancurkan sebagian pemukiman penduduk di dekat laut yang niscaya akan membuat Sang Ratu takut dan takluk pada Pangeran sehingga beliau tidak punya pilihan lain selain menerima pinangan Pangeran Yi. Isi pikiran Pangeran tadi itu adalah aba-abanya.
Aku tidak mau melakukannya... Kasihan sekali Ratu itu. Kata Kaze saat aku memberitahunya isi pikiran Sang Pangeran. Meski dia terdengar sangat takut, dia dapat terlihat santai sambil menyesap teh dan memasukkan camilan aneh itu ke mulutnya menggunakan garpu yang sepertinya terbuat dari kristal. Aku sama sekali tidak berselera, terlebih setelah mendengar isi pikiran Pangeran.
Kita tidak punya pilihan lain, Kaze.
Ratu itu sedang mengandung, Shuu. Bayi manusia tanpa dosa. Aku jadi teringat pada Ratu Agung saat kita pertama kali bertemu dengannya. Saat itu, beliau juga sedang mengandung.
Dia bukan Ratu Agung. Dan tidak ada Raja kita di sini. Kita harus menjalankan perintah Pangeran.
Kaze berhenti mengunyah. Dia meletakkan garpunya dengan rapih sesuai tata krama yang sudah dipelajarinya semenjak dia masuk Istana Angin. Aku dapat melihat dari samping bahwa matanya berubah menjadi merah menyala. Mendadak udara di sekitar kami menipis. Kabut menyelimuti Istana. Awan mendung menutupi langit biru kelabu. Kaze marah.
Aku tidak mau menjadi monster! Kalau kau mau, kau saja yang membuat banjir seisi negeri es ini! Kau mungkin lupa, tapi aku jelas ingat bahwa kita lah yang menjadikan daratan ini ditutupi es. Oleh airmu dan juga angin dinginku. Aku tidak mau menghancurkan tanah yang sudah kuselamatkan!
Mendengar perkataanku itu, amarahnya mereda. Awan mendung hilang dan udara kembali normal. Kaze adalah Naga Angin. Perwujudan badai. Nama lain dari kehancuran. Bahkan aku tidak berani membuatnya marah.
Aku memperhatikan sekitarku. Pangeran Yi tampak menyembunyikan senyumnya seolah dia telah berhasil menyuruh kami menakuti Sang Ratu. Sementara itu, di hadapannya, Ratu Eleanor tampak tenang. Dia benar-benar pandai menyembunyikan isi hatinya.
Tapi tidak dengan isi pikirannya.
Apa tadi itu perbuatan salah satu dari kalian?
Aku terkejut. Itu adalah isi pikiran Ratu Eleanor. Aku melirik ke arahnya, tidak berani terang-terangan menatap kedua matanya yang sewarna es. Tapi Sang Ratu tidak sedang menatapku. Dia justru tampak sedang tersenyum ramah pada Pangeran Yi yang sedang membicarakan tentang cuaca cerah dan iklim hangat di Orient.
Aku tahu salah satu dari kalian dapat membaca pikiran. Paling tidak itulah yang kuketahui setelah beberapa malam terakhir ini mencari-cari dan membaca manuskrip kuno yang berusia ratusan tahun. Kalian bisa menciptakan badai maupun ombak raksasa yang dapat menghancurkan negeriku.
Aku membeku mendengar isi pikiran Ratu Eleanor. Beliau mempelajari tentang kami. Seberapa banyak yang sudah beliau ketahui?
Kuharap apa yang kubaca itu benar. Jika salah satu dari kalian dapat membaca pikiranku, dan bersedia mendengarkan lebih banyak, tolong jatuhkan salah satu garpu kalian ke lantai. Buat agar kesannya tidak sengaja.
Aku menjatuhkan garpuku, terkejut karena garpu yang seperti terbuat dari kristal itu tidak hancur saat menghantam lantai marmer. Seorang pelayan segera maju untuk mengambil garpu itu dan menggantinya dengan yang baru dan bersih. "Maafkan saya. Sepertinya saya benar-benar tidak enak badan." Kataku.
Ratu Eleanor berusaha menyembunyikan senyumnya, "Pasti karena cuacanya. Iklim dingin kami memang yang terburuk. Aku mengerti. Kau boleh beristirahat di kamarmu. Aku akan meminta dayang-dayangku untuk mendatangkan dokter yang terpercaya."
"Dia baik-baik saja, Baginda Ratu. Shuu adalah Naga Air. Dia dapat menyembuhkan dirinya sendiri." Kata Pangeran Yi.
Shuu. Itukah namamu? Apakah gadis kecil di sampingmu bisa kau beritahu apa pun yang akan kukatakan ini? Apa benar bahwa kalian bisa bertelepati? Jika jawabannya adalah 'iya', katakan padaku bahwa Pangeran Yi benar dan kau baik-baik saja.
"Yang Mulia Pangeran benar, Baginda. Saya dapat menyembuhkan diri saya sendiri. Saya baik-baik saja." Kataku pada Sang Ratu. Tatapan kami bertemu. Untuk beberapa detik yang rasanya sangat lama, Ratu Eleanor tidak melepaskan pandangannya dariku. Seolah dia sedang membaca pikiranku. Seolah dia lah yang dapat membaca pikiran, bukan aku.
"Baiklah, kalau begitu." Kata Ratu Eleanor sambil tersenyum. Senyum kemenangan. Aku harus mengakui, dia cukup cerdas.
__ADS_1
Ratu Eleanor kembali pada percakapannya dengan Pangeran Yi. Dia tampak seolah sedang mencurahkan seluruh perhatiannya pada Pangeran agar Sang Pangeran tidak menangkap gelagat mencurigakan dariku. Di dalam pikirannya, Ratu Eleanor berkata padaku, Shuu, dengarkan aku. Kau dan saudari kembarmu pasti sedang mencari Raja dan Ratu kalian. Naga Api Agung dan Ratu Agung Zhera yang terlahir kembali. Aku mengenal mereka berdua di kehidupan ini. Mereka berdua saat ini sedang berada di Schiereiland dan aku bisa mempertemukan kalian dengan mereka. Jadi kumohon, jangan serang negeri kami. Kami tidak akan mampu melawan kalian serta ribuan tentara kalian. Sebagai gantinya, aku akan membantu kalian menemukan Raja dan Ratu kalian.
...****************...
Usai acara, aku buru-buru kembali ke kamarku dengan alasan aku perlu waktu untuk menyembuhkan diriku sendiri. Pangeran Yi mempercayaiku. Jadi aku kembali ke kamar untuk bertelepati dengan Kaze sementara dia menemani Sang Pangeran berjalan-jalan sore di pusat kota.
Kaze, Ratu Eleanor berjanji akan membantu kita bertemu dengan Raja dan Ratu kita asalkan kita berjanji untuk tidak menyerang negerinya.
Benarkah? Apa kata-katanya dapat dipercaya?
Ya. Kurasa dia jujur.
Baiklah kalau be—
Kata-kata Kaze terputus begitu saja. Dia memutuskan telepati kami. Aku baru akan bertanya alasannya saat aku sendiri merasakannya.
Sesuatu yang buruk telah terjadi pada salah satu diantara empat naga. Aku merasa jantungku seperti baru saja ditikam dengan api dan bara. Seluruh tubuhku sakit bukan main seperti dibakar dari dalam. Dan suhu udara di sekitarku terasa sangat panas hingga aku berkeringat. Betapa anehnya! Aku berkeringat di tengah udara membekukan Kota Noord di Nordhalbinsel!
"Mereka sedang keluar." Aku mendengar suara bisik-bisik beberapa orang di luar kamarku. Sambil menahan rasa sakit, aku bersembunyi di balik pintu kamarku, khawatir mereka masuk untuk memastikan bahwa tidak ada siapa pun di ruangan ini. Meski sebenarnya, aku adalah Naga Air. Aku bisa mewujud menjadi air apa pun. Bahkan menjadi segelas air yang ada di kamar ini.
Siapa pun yang sedang bicara, itu adalah logat kental suku Ilbon. Mirip seperti cara bicara Kaze sewaktu dia belum lancar menggunakan logat ibu kota. Mereka adalah prajurit kami yang berasal dari suku Ilbon.
"Kalau begitu, cepat ambil racunnya."
Racun. Saat mereka menyebutkan tentang racun, aku berusaha menajamkan pendengaranku.
"Pangeran Haru memerintahkan agar menggunakan sedikit saja. Apakah ini benar-benar akan berhasil?"
"Katanya itu racun baru ciptaan seorang penyihir. Jika pangeran menitahkan seperti itu, maka kita harus menurutinya."
"Tapi bagaimana kalau tidak berhasil? Bagaimana kalau Pangeran Yi sudah kebal terhadap racun ini?"
"Baiklah, kalau begitu masukan racunnya yang banyak. Kita harus berhasil dalam satu kali percobaan."
Saat langkah mereka sudah sangat jauh, aku baru berani menghembuskan napas lega seolah sejak tadi aku menahan napas. Rasa nyeri yang tadi kurasakan tidak bertahan lama, tapi perasaanku jadi tidak enak. Ketika salah satu dari kami terluka, maka naga lainnya akan mengetahuinya. Seperti turut merasa sakit atau perasaan kami jadi tidak tenang.
Kaze kembali bertelepati denganku. Shuu? Kau merasakannya? Barusan—
Ya. Aku tahu. Kemungkinan Raja kita sedang terluka.
Kita harus segera menemukannya! Turuti kata Ratu Eleanor. Kita ikuti rencana Sang Ratu agar beliau mempertemukan kita pada Raja dan Ratu kita.
Tentu. Kataku langsung. Aku terdiam sejenak, menimbang-nimbang perlukah aku memberitahukan hal ini pada Kaze. Tapi kami Naga Kembar. Kami tidak saling menyimpan rahasia. Ada yang lebih mendesak saat ini, Kaze.
Apa?
Ada yang ingin meracuni Pangeran Yi. Mereka orang-orang suruhan Pangeran Haru dari suku Ilbon.
Kaze tidak langsung menanggapi. Baik pangeran Yi maupun Pangeran Haru adalah anak Kaisar. Dan kami tidak memihak salah satu diantara keduanya. Kami adalah senjata Kaisar. Kami milik Kaisar. Jika kami memberitahu hal ini pada Pangeran Yi, itu artinya kami mengkhianati Pangeran Haru. Jika kami tidak memberitahu Pangeran Yi, itu artinya kami mengkhianati Pangeran Yi. Tapi mana pun yang kami pilih, ujung-ujungnya kami tetap mengkhianati Kaisar dengan mengkhianati salah satu putranya.
Biarkan saja. Kata Kaze akhirnya.
Apa?
Jangan ikut campur. Bisa berbahaya untuk kita. Biarkan saja. Kalau Pangeran Yi mati, maka tidak akan ada yang memaksa kita membuat badai dan menjadi monster pembantai orang-orang tak bersalah. Jika Pangeran Yi mati, kita bisa pergi kabur untuk mencari Raja dan Ratu kita.
...****************...
__ADS_1