Lotus Of East Palace

Lotus Of East Palace
Chapter 27 (Elias)


__ADS_3

Aku tak pernah menyangka akan bertemu kembali dengan mantan kekasihku setelah tiga belas tahun berlalu.


Xavier mengatakan bahwa tanpa diketahui siapa pun, Sang Maharani itu sering pergi ke Dong-gung setiap malam Sabtu dan minggu hingga larut malam untuk mabuk. Awalnya Xavier sendiri tidak menyadari bahwa wanita itu adalah Maharani Orient karena dia datang seorang diri, tanpa para pengawalnya, dan berpakaian seperti rakyat jelata.


"Kau tahu siapa lagi wanita berkuasa yang sering berkeliaran di wilayah pinggir kota dengan berpakaian seperti rakyat jelata?"


Aku bahkan tak perlu berpikir lama, "Elle?"


"Benar. Tapi biar bagaimana pun akan sulit menghilangkan kebiasaan bawaan sejak lahir. Elle bahkan tak bisa meninggalkan aksen ningratnya, cara berjalannya maupun caranya memegang gelas. Saat melihat wanita itu, aku yakin dia seorang bangsawan. Jadi aku mencari tahu tentangnya."


"Caranya?"


"Aku menanyakannya pada Kaze dan Shuu. Mereka langsung mengenalinya sebagai Lee Sae-Byeok, Maharani Orient."


"Jadi itu tujuanmu membuka kedai anggur di pinggir kota seperti ini?"


"Para bangsawan suka mencari kesenangan sendiri dengan datang ke tempat seperti ini tanpa diketahui oleh siapa pun, jauh dari kepenatan di Istana."


"Para bangsawan seperti kau dan Elle."


"Kau juga. Kau sering pergi ke wilayah pinggir kota untuk menghindari perjodohan bukan?"


Aku tak bisa mendebatnya.


Dua minggu kemudian, setelah semua persiapan selesai, Xavier menyerahkan Dong-gung padaku karena dia dan Sang Ratu harus segera kembali ke Nordhalbinsel. Kini hanya ada aku di Dong-gung. Tugas terakhirku sebelum kembali ke Nordhalbinsel adalah menemukan Panglima Wu dan Tania Welsh—ayah dan nenek Yeon-Hwa—dengan cara mendekati Maharani Orient yang sedang mabuk, menawannya, menghapus ingatannya, lalu mengembalikannya ke istana setelah aku selesai membawa pergi Yeon-Hwa dari Istana Giok serta menggagalkan pernikahannya dengan Kaisar.


Aku sengaja mengenakan seragam resmiku yang biasanya hanya kukenakan saat ada acara resmi di Istana Nordhalbinsel. Saat ini aku sedang menjadi Jenderal Elias Winterthur, pewaris Grand Duke Winterthur, mantan kekasihnya tiga belas tahun yang lalu.


Dia duduk di pojok ruangan, menyendiri, berusaha untuk tak terlihat oleh siapa pun. Botol-botol anggur yang sudah kosong berjejer dengan rapih di atas mejanya. Danika sejak dulu memiliki kebiasaan mengatur segala sesuatu dengan rapih dan teratur. Dia sejenis orang yang tidak suka melihat sesuatu yang berantakan.


Jadi kenapa hidupnya sekarang seperti ini? Jika dia sering pergi ke tempat ini, bukankan itu artinya hidupnya tidak cukup baik?


Aku berjalan perlahan ke arahnya. Saat ini sudah tidak ada siapa pun di sekitar. Semua pelanggan sudah pulang. Sebenarnya, aku mengusir mereka semua dengan mengatakan bahwa kami tutup lebih awal hari ini.


"Halo, Danika." Ucapku sambil duduk di kursi di sampingnya.


Danika tampak terkejut. Dia mendongak, menyipitkan matanya untuk melihatku. Lalu melebarkan matanya saat akhirnya mengenaliku. "Demi Para Naga! Kau kah itu?" Tanyanya. Betapa mengejutkan, dia bicara dengan bahasaku. Padahal aku sengaja belajar bahasa Orient untuk bisa bicara dengannya. "Kau benar-benar Elias Winterthur?"


Cara bicaranya masih sama. Bahkan wajahnya masih tetap terlihat sangat muda seperti remaja. Dia masih terlihat seperti Danika yang kukenal tiga belas tahun yang lalu. Dan mau tak mau itu membuka luka lama bagiku.


Aku pernah sangat menyukai wanita ini. Dia pernah memenuhi pikiran dan hatiku. Tapi sekarang tidak lagi.


"Benar." Jawabku, sambil memamerkan senyuman. Elle pernah melarangku untuk tersenyum di hadapan para Lady saat acara pesta karena katanya aku dianggap sedang menggoda mereka jika tersenyum.


Danika balas tersenyum padaku. Dan rasanya seperti kami kembali ke masa tiga belas tahun yang lalu. "Sudah lama sekali kita tidak bertemu."


"Ya, sudah tiga belas tahun. Kalau tidak salah dulu kau pergi begitu saja tanpa mengucapkan apa pun. Tahu-tahu sekarang kau sudah menikah dan menjadi Maharani."


"Maaf..." Katanya. Tampak benar-benar menyesal.


"Sudah lah, itu sudah berlalu." Kataku sambil menuangkan anggur untuknya. Aku tidak boleh mabuk jadi aku tidak ikut minum. "Bagaimana kabarmu selama ini? Apa kau lebih bahagia sekarang?"


Danika terdiam sejenak sebelum menjawab. Dia tampak melamun, "Tidak. Aku sama sekali tidak bahagia." Kata-katanya agak kurang jelas karena dia sudah sangat mabuk. Dia takkan membeberkan rahasianya begitu saja padaku jika dia belum mabuk. Matanya memerah, dan dalam sekejap, air matanya tumpah. "Suamiku tidak menginginkanku. Dia mengabaikanku selama delapan tahun pernikahan kami. Orang tua kami menginginkan aku memberi mereka keturunan, mereka terus mendesakku. Tapi Haru bahkan tak menganggap aku ada."


Dia benar-benar menangis sekarang. Dan itu membuatku jadi tak tega padanya. Aku jadi teringat pada Elle yang tidak bahagia selama tinggal di Istana. Tapi paling tidak Elle pernah memiliki Dylan di hidupnya, dia pernah merasa dicintai dan diinginkan oleh seseorang. Dan Xavier tidak pernah benar-benar mengabaikan Elle. Malah menurutku mereka mungkin saja bisa memiliki akhir yang berbeda jika saja sejak awal Elle tidak pernah mengenal Dylan dan belajar untuk menerima dan mencintai Xavier.


Danika begitu terlarut dalam tangisannya. Aku pun memeluknya, lebih karena aku tak bisa melihat wanita menangis. Aku menepuk-nepuk punggungnya perlahan, meredakan tangisnya.


"Mereka akan membunuhku, Elias. Mereka akan membunuhku karena kini Haru sudah memiliki selir. Jika Haru menyukai selirnya, jika selirnya dapat memberinya ahli waris maka aku tidak ada gunanya lagi bagi mereka."


Akan kupastikan hal itu takkan terjadi karena aku pun tidak rela jika Yeon-Hwa menikah dengan Haru. Aku tak peduli jika aku menjadi egois. Aku tak peduli menggunakan cara licik apa pun untuk membawanya kembali. Karena aku yakin Yeon-Hwa juga tidak mau menikah dengan Haru. Karena dia pasangan jiwaku dan dia seharusnya bersamaku.


"Kenapa kau membiarkannya memiliki Selir? Kau kan Istrinya. Kau Maharani. Seharusnya kau bisa menolak semua calon selir itu sehingga tidak ada yang terpilih. Jangan sampai Haru lebih memilih selirnya daripada kau."


"Aku tidak membiarkannya. Aku sudah mengancam selir itu agar dia tidak dekat-dekat dan tidur bersama Haru."


Aku melepas pelukanku saat mendengar kata-katanya itu. "Mengancamnya? Bagaimana?"


Danika tersenyum seolah yang akan dia katakan adalah hal paling menyenangkan, "Aku menyiksa ayah dan neneknya dan memenjarakan mereka di penjara bawa tanah Istana Giok. Ayahnya yang buta itu kini kedua kakinya patah sehingga untuk berdiri saja dia tidak bisa. Aku juga memerintahkan orang-orangku untuk mencambuk neneknya di hadapannya. Aku mengancam akan membunuh dua orang itu jika selir itu tidak menuruti perintahku. Tentu saja dia akhirnya menurutiku. Dia takkan berani macam-macam selama aku masih memiliki ayah dan neneknya sebagai tawanan."


"Apa kau nanti akan melepaskan mereka jika dia melakukan semua yang kau perintahkan?"


"Jangan bercanda! Untuk apa aku melepaskan mereka? Aku berencana membunuh mereka semua. Neneknya dulu, kemudian ayahnya, dan setelah dia menyaksikan kematian keluarganya, baru dia akan mati. Jika kubebaskan, dia bisa saja melaporkan perbuatanku itu pada Ibu Suri."


Darahku mendidih mendengarnya mengatakan semua itu. Benarkah dia gadis yang kucintai tiga belas tahun yang lalu? "Kau akan membunuh mereka, bahkan setelah dia melakukan semua yang kau perintahkan?" Tanyaku, memastikan.


"Dia membuat posisiku sebagai Maharani terancam lengser, Elias! Dia, selir itu, bisa membuatku terbunuh hanya karena keberadaannya."


Aku menahan diri untuk tidak langsung membunuhnya saat ini juga. Bisa-bisanya dia mengatakan hal sekejam itu dengan santai. Bisa-bisanya dia merencanakan akan membunuh Yeon-Hwa dan keluarganya di hadapanku!


Jadi aku membuang semua hal yang sudah kupelajari sejak kecil tentang tata krama dan sopan santun, tentang berlaku baik, menghormati wanita dan tidak menyakiti wanita. Serta ajaran utama dalam keluarga kami untuk tidak pernah menggoda dan mempermainkan hati wanita.

__ADS_1


Karena wanita yang ada di hadapanku saat ini bukan lagi Danika yang kukenal. Aku tak lagi mengenalnya. Dia Maharani Orient yang tega menculik seorang pria dan wanita tua untuk disiksa dan dijadikan ancaman terhadap wanitaku kemudian membunuh mereka semua. Dia musuhku. Selain itu, dia juga musuh negaraku. Jadi aku punya alasan yang cukup untuk melakukan apa yang akan kulakukan ini.


"Kalau begitu... ikut saja denganku." Kataku sambil menghapus air matanya dengan jariku. Aku sengaja berlama-lama meletakkan jemariku di wajahnya dan membelai lembut pipinya yang kini bersemu merah. Dia tampak terkejut, tapi dia tak menghindar. "Kita bisa pergi dari sini. Aku akan membawamu jauh dari Orient. Kita bisa memulai hidup baru, hanya kau dan aku. Kita bisa kembali seperti dulu, Danika."


Danika tidak langsung menolak ajakanku itu, yang artinya dia mempertimbangkannya baik-baik. Itu artinya, dia menginginkannya. Dia tampak ragu-ragu sebelum akhirnya berkata, "Tapi keluargaku ada di sini."


Aku yang paling tahu hubungan Danika dengan keluarganya tak begitu harmonis sejak dulu. Itu hanya alasan kosong. Jadi aku memanfaatkan rasa sakit hatinya pada keluarganya yang telah memaksanya untuk pergi dari Nordhalbinsel dan menikah dengan Haru. "Apa kau tidak bisa meninggalkan mereka? Bahkan setelah mereka membiarkanmu hidup sengsara di Istana?"


"Tapi—“


Aku tahu aku seharusnya tidak melakukan ini, aku merasa seperti mengkhianati diriku sendiri, tapi ini untuk meyakinkan Danika agar dia dengan sukarela ikut denganku. Ini juga kulakukan untuk menyelamatkan Yeon-Hwa dan keluarganya. Jadi aku menghentikan alasan-alasan yang akan dia katakan dengan satu kecupan di bibirnya. Danika tampak sangat terkejut sampai dia tak bisa berkata apa-apa.


Aku berlutut di hadapannya sambil menggenggam kedua tangannya. Aku sangat membencinya sampai rasanya aku bisa langsung mematahkan tangannya dalam genggamanku. "Aku memiliki sebuah mansion di wilayah perbatasan utara, memang tidak sebesar istanamu di sini, tapi aku berani jamin kau akan jauh lebih bahagia di sana daripada terus tinggal di sini. Aku akan membuatmu bahagia."


Aku sering melihatnya di mata ayahku saat melihat ibuku. Belakangan ini aku melihatnya di mata Xavier saat melihat Ratunya yang sangat dia cintai itu. Aku berusaha meniru tatapan itu. Tapi sulit jika yang kutatap adalah Danika. Jadi aku membayangkan wajah Yeon-Hwa saat menatapnya. Aku membiarkan Danika tenggelam dalam tatapan itu. Membiarkannya terperangkap dalam cinta palsu.


Aku mengecup tangannya. "Ikutlah bersamaku ke utara. Kembali lah ke Negeri Es." Dan membeku lah di sana sampai aku memutuskan akan membunuhmu dengan cara apa. Tapi aku tak mengatakannya.


"Apa kau masih menyukaiku seperti dulu?"


Tidak! Astaga! Jangan bermimpi!


"Ya." Jawabku selembut mungkin. "Aku masih sangat mencintaimu sampai sekarang. Jadi ikut lah denganku. Lepaskan segala yang membebanimu itu." Aku berdiri dan mengulurkan tanganku padanya, "Tinggalkan semuanya dan mulai lagi dari awal bersamaku."


Danika mengangguk setuju.


Aku sendiri terkejut saat mendengar betapa alaminya kata-kata itu keluar dari mulutku. Aku bersumpah sebelum ini aku belum pernah merayu wanita apalagi menggunakan cara seperti ini. Jadi aku sama sekali tak tahu bahwa aku bisa melakukannya.


Danika menerima uluran tanganku dan dengan cepat aku membawanya berteleportasi ke mansion milik Xavier tempat Elle tinggal.


Sebelumnya aku sudah menemui Elle untuk memberikan ramuan kesehatan yang diberikan oleh Saintess Lucia. Kami sempat mengobrol sebentar sebelum aku kembali ke Orient. Dia tampak sangat sehat—betapa mengejutkan karena terakhir aku melihatnya dia tampak sangat kurus dan ringkih. Elle juga sudah menyatakan bersedia untuk membantuku mengurung Danika dengan sihirnya.


Aku tak tahu persis sihir apa yang Elle maksud, tapi dia menjanjikan bahwa Danika tidak akan bisa kabur.


Aku membawa Danika ke kamarku dan memintanya menunggu di sana sementara aku keluar untuk mencari saudari kembarku. Dengan cepat Elle menciptakan ruang sihir untuk memerangkap Sang Maharani.


"Sihir apa ini?" Tanyaku. Aku tak benar-benar mengerti sihir. Aku hanya bisa berteleportasi.


Elle tersenyum, "Sama seperti yang pernah kulakukan pada Jenderal Leon. Bedanya, Jenderal Leon memiliki kekuatan sihirku dan pedang Raja Zuidlijk sehingga dia bisa bebas sendiri tanpa bantuanku—meski memakan waktu lumayan lama. Tapi wanita itu tak memiliki keduanya. Jadi sihir ini akan mengurungnya untuk waktu yang tak dapat ditentukan. Kalau kau mau, dia bisa tetap berada di sana selamanya."


Aku memerhatikan ada yang berbeda dari saudari kembarku itu. Mungkin nada suaranya yang terdengar begitu angkuh dan dingin. Tidak. Elle sejak dulu seperti itu. Kami sering dikira angkuh dan tidak ramah oleh para bangsawan lainnya hanya karena cara bicara kami. Jadi aku mencoba mengamatinya dari dekat. Lalu aku menyadari bahwa dari samping, dari tempatku berdiri sekarang, iris matanya yang seharusnya memiliki warna yang sama denganku, kini tampak berwarna ungu. Seperti mata milik ibu kami. Seperti para penyihir dari Klan Grimoire.


Mata itu adalah mata milik penyihir yang pernah menggunakan sihir hitam.


Elle menoleh padaku. Untuk sesaat, dia tampak bingung dan linglung seperti orang yang baru bangun tidur. Tapi kini kuperhatikan iris matanya kembali berwarna biru es.


"Itu bukan sihir hitam kan? Kau tahu kan, kau dilarang—“


"Sihir hitam dilarang jika digunakan untuk melakukan kejahatan. Beda ceritanya jika itu digunakan demi kebaikan kerajaan ini." Potongnya langsung. Aku hendak mendebatnya lagi bahwa apa pun alasannya keluarga kami tak boleh menggunakan sihir hitam. Bahwa keluarga kami, Klan Winterthur sejak dulu secara turun temurun adalah pemburu penyihir hitam. Bahwa sihir hitam menuntut pengorbanan berupa nyawa manusia. Penggunanya akan dilingkupi rasa haus darah dan takkan terpuaskan hanya dengan membunuh satu-dua nyawa saja. Tapi kemudian Elle mengatakan hal yang membuatku tak bisa mendebatnya lagi, "Aku sedang membantumu menyelamatkan pasangan jiwamu, Elias. Kau hanya perlu mengingat itu."


...****************...


Aku tak berlama-lama di mansion itu. Usai Elle mengurung Danika, aku segera kembali ke Istana Giok untuk membebaskan Panglima Wu dan Tania Welsh.


Tidak sulit bagiku untuk menemukan penjara bawah tanah yang dia maksud. Danika mengatakan bahwa dia menyuruh orangnya untuk menyiksa Tania dan Panglima Wu. Danika tentu tidak mau mengotori tangannya dengan darah, jadi pasti ada yang dia suruh untuk memastikan keduanya tetap di penjara dan menyiksa mereka sesekali jika dibutuhkan. Xavier berpesan agar tidak boleh ada yang melihatku di Istana Giok, jadi aku merubah wujudku menjadi serigala, merunduk bersembunyi di balik semak-semak, lalu mengawasi pergerakan para pengawal dan pekerja di Istana Giok.


Aku menemukannya. Seorang pengawal dan seorang pelayan yang membawa baki makanan dengan gerak-gerik mencurigakan ke taman. Aku tidak langsung mengikuti mereka. Aku hanya mengamati dari jauh, lalu setelah memastikan mereka sudah keluar kembali, aku masuk melalui jalan yang sama dengan mereka tadi.


Penjara bawah tanah itu benar-benar gelap dan sempit. Aku sampai merasa sesak begitu sampai di dalam. Ini tidak seperti penjara bawah tanah Nordhalbinsel yang dibuat oleh para penyihir sehingga bangunannya tidak ada bedanya dengan penjara biasa. Tidak juga seperti ruang bawah tanah Dong-gung yang juga dibuat oleh para penyihir suruhan Xavier—ruang bawah tanah Dong-gung lebih mirip seperti interior Istana daripada ruang bawah tanah. Kaisar Orient sepertinya tidak menyuruh penyihir saat menciptakan penjara bawah tanah ini sehingga bentuk dindingnya masih kasar dan berbatu serta suasananya benar-benar mencekam.


Aku kembali merubah wujudku menjadi manusia agar tidak mengejutkan mereka. "Nyonya Tania Welsh dan Panglima Wu?" Aku bertanya dengan bahasa Westeria sebisaku.


Mereka tampak kurus dan pucat. Panglima Wu kini terduduk lemah di tanah di dalam sel. Kedua kakinya masih mengeluarkan darah, tak ada yang membalut lukanya setelah mematahkan kakinya. Sedangkan Tania Welsh tampak tak sadarkan diri. Bagaimana bisa Danika melakukan semua ini pada mereka.


"Siapa kau?" Tanya Panglima Wu dengan suara yang sangat pelan. Dia tentu saja tak melihatku. Aku lupa kalau dia buta.


"Saya teman putri Anda. Saya datang ke sini untuk menyelamatkan kalian."


"Putriku! Apakah putriku masih hidup? Tolong katakan bahwa Yeon-Hwa ku masih hidup. Kau lebih baik membunuhku saja jika putriku telah tiada. Dia satu-satunya alasanku tetap hidup."


"Yeon-Hwa masih hidup. Tenanglah. Anda tak perlu khawatir, saya akan menjaganya dan mempertemukan kalian segera." Kataku. Aku kemudian berteleportasi untuk masuk ke dalam kurungan mereka. "Tolong pegang tangan saya, Panglima Wu."


Dia tidak bertanya bagaimana aku bisa tahu bahwa dia adalah Panglima Wu. Dia juga tak mencoba menghindar atau mencurigaiku. Itu artinya dia sudah terlalu putus asa. Dia tak punya banyak pilihan. Jika dia tetap di penjara bawah tanah, dia hanya akan kembali disiksa sampai mati tanpa benar-benar tahu kapan bisa bertemu kembali dengan putrinya. Jadi dia menuruti permintaanku.


Aku berteleportasi membawa mereka ke Istana Wisteria untuk mendapat pengobatan dan perlindungan dari Ratu Eugene.


...****************...


Seperti kata Xavier, aku tidak boleh terlihat karena orang-orang mungkin akan mengenaliku. Mereka mungkin akan mengenali putra Grand Duke Winterthur dari Negeri Musim Dingin Abadi yang sedang berkonflik dengan Orient, terlebih dengan ciri khas keluarga kami yang turun temurun—mata biru es yang tak dimiliki siapa pun di dunia ini. Tapi mereka pasti tidak akan mengenali serigala dengan bulu seputih salju. Mereka mungkin akan takut, ribut, panik dan mengejarku atau berusaha membunuhku, tapi satu hal yang pasti mereka takkan mengenaliku sebagai Elias Winterthur.


Jadi aku berkeliaran mencari Yeon-Hwa dengan wujud serigalaku, memanfaatkan indra penciumanku yang tajam. Tapi saat aku berubah menjadi serigala, ada yang terasa baru dan berbeda. Entah bagaimana aku bisa mengetahui di mana dia berada. Aku menghafal aromanya lebih dari apa pun di dunia ini. Seolah seluruh tubuhku ditarik oleh gravitasi asing yang mengarah hanya kepadanya. Sebuah tarikan yang tak bisa aku lawan sekuat apapun aku berusaha. Aku sangat yakin dia berada di Istana Giok saat ini.

__ADS_1


Tepatnya di kamar Kaisar. Kenapa Yeon-Hwa ada di kamar Haru malam-malam begini?


Aku segera berteleportasi masuk ke kamar Kaisar. Yeon-Hwa ada di sana. Seluruh sel dalam tubuh serigala ini rasanya panas membara begitu aku melihatnya. Aromanya terasa manis memabukkan, membuatku lupa diri. Aku ingin berlutut padanya. Aku ingin menyembahnya dan menjadikannya dewiku. Aku ingin dia membunuhku dan menghidupkanku kembali. Rasanya aku bisa menghancurkan seluruh dunia untuknya. Sihir apa ini? Kegilaan macam apa ini?


Aku tahu Kaisar Haru ada di sana, aku melihatnya dari sudut mataku, tapi aku hanya bisa memandang Yeon-Hwa seolah hanya ada dia di sana. Seolah seluruh dunia ini dan isinya tak berarti apa pun. Aku dapat merasakannya. Ikatan pasangan jiwa kami semakin menguat. Aku tak tahu rasanya akan separah ini, begitu menakutkan dan mendebarkan, tapi aku menyukainya. Padahal aku tak boleh seperti ini. Ini bukan saat yang tepat. Aku harus segera sadar dan membawanya pergi dari tempat ini.


Yeon-Hwa cepat naik! Kataku.


Yeon-Hwa akan bisa mendengarnya karena dia pasangan jiwaku.


Aku yakin sekali Yeon-Hwa mendengarnya, tapi dia masih terlihat begitu terkejut jadi dia tak bergerak sedikit pun.


Yeon-Hwa! Cepat lah kita tidak punya banyak waktu!


Aku segera menunduk, merendahkan tubuhku hingga ke lantai agar memudahkannya untuk naik ke punggungku. Yeon-Hwa mulai tersadar dari keterkejutannya dan naik. Lalu aku membawanya berteleportasi sebelum Haru juga sadar dari keterkejutannya.


...****************...


Aku membawanya jauh ke wilayah pesisir, di sebuah pulau tak jauh dari daratan utama Orient. Di pulau itu tak ada siapa pun jadi kami akan aman untuk sementara waktu sebelum kami melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Nordhalbinsel. Yeon-Hwa butuh istirahat dulu malam ini karena dia terlihat lelah.


"Aku akan menikah dengannya." Katanya saat aku masih menyiapkan api unggun.


Tanganku berhenti bergerak mendengar kata-kata itu. "Siapa?"


"Haru. Aku akan menikah dengan Haru besok. Aku akan menjadi selirnya kemudian dia akan menjadikanku Maharani Orient."


"Bercandamu sama sekali tidak lucu. Kau melantur. Istirahat lah, kurasa kau tidak tidur dengan benar belakangan ini."


"Aku tidak bercanda. Aku serius. Aku akan menikah dengannya kemudian menjadi Maharani."


Aku tahu Yeon-Hwa serius pada kata-katanya. Itu terlihat jelas pada tekad kuat yang terpancar di matanya. Tapi aku tidak bisa—aku tidak ingin—menganggap dia benar-benar serius.


Hatiku seperti kaca yang baru saja dibanting dan aku berjalan di atas pecahannya. Itu hanya kata-kata, itu belum terjadi, aku masih bisa mencegahnya, jadi kenapa rasanya seperih ini? Tapi aku tak boleh memperlihatkannya. Dia belum tahu siapa dirinya, belum tahu apa dirinya bagiku. Dan kurasa ini bukan waktu yang tepat untuk membahasnya. Aku tak ingin memberitahunya. Aku ingin dia merasakannya juga dan akhirnya menyadarinya bahwa kami diciptakan untuk bersama.


"Kau sebegitu inginnya menjadi Maharani? Kupikir kau tidak mau."


"Jika aku menjadi Maharani, aku bisa menjamin Orient tidak akan menyerang kerajaanmu. Kau tidak akan terlibat dalam perang apa pun. Kau bisa hidup dengan tenang." Katanya.


Jika yang dia maksud dengan hidup tenang itu adalah hidup tanpa dirinya di sisiku dan harus melihatnya menikah dengan lelaki lain, maka aku lebih baik tak hidup tenang selamanya. Aku lebih baik hidup dalam peperangan tanpa akhir jika itu yang harus kulakukan untuk mempertahankannya.


Aku kini berjalan menghampirinya, melupakan api unggun yang baru akan kubuat. "Kau bahkan menyebut Nordhalbinsel sebagai kerajaanku seolah kau tidak tinggal dan bekerja di sana. Itu juga rumahmu, Yeon-Hwa. Itu juga kerajaanmu. Kau adalah bagian dari kami."


Yeon-Hwa menggeleng tak setuju. "Tidak, Jenderal—“


"Bukan Jenderal."


"Elias..." Dia menyebut namaku. Itu hanya satu kata sederhana. Hanya satu nama yang sering disebut oleh semua orang yang kukenal. Tapi saat dia yang menyebutnya, itu bukan lagi sebuah nama. Itu adalah sebuah mantra yang dapat membuatku menjadi miliknya seutuhnya. Yeon-Hwa melanjutkan, "Aku tak pernah menjadi bagian dari kalian orang-orang utara. Aku mungkin mengaku sebagai Westerian karena lahir dan besar di sana. Tapi darahku murni Orient. Aku adalah keturunan terakhir Kaisar Lee yang masih hidup. Aku orang Orient."


Dengan sangat perlahan dan hati-hati, aku menaruh kedua tanganku di atas bahunya. Yeon-Hwa mendongak menatapku. Mata kami bertemu dan rasanya seperti waktu berhenti. Aku bisa melihat seluruh duniaku berputar di matanya. "Katakan padaku, siapa yang mengancammu untuk mengatakan itu? Apakah Kaisar Haru? Maharani Sae-Byeok? Katakan saja. Aku bisa membunuh mereka yang berani mengancammu."


"Kata-kata ini milikku. Aku tidak diancam oleh siapa pun." Dan aku tahu dia berkata yang sesungguhnya.


"Kau tidak—“


"Aku bisa melindungi semua orang dengan begini. Aku akan cukup berkuasa untuk bisa melindungi keluargaku sendiri."


"Aku bisa melindungi keluargamu. Aku sudah membebaskan ayah dan nenekmu. Mereka kini ada di bawah perlindungan Ratu Eugene. Kalau kau bersedia aku akan mengerahkan pasukan serigalaku untuk memastikan tak ada yang bisa menyentuh mereka. Aku bisa melindungi mereka. Aku bisa melindungimu."


Yeon-Hwa mengangkat tangannya menyentuh tanganku yang ada di pundaknya. "Elias, hubungan kita hanya sebatas hubungan profesional. Jenderal dan prajurit biasa. Kita melayani Raja yang sama. Tapi hanya itu. Benar kan? Kau tidak harus melakukan semua itu."


"Aku tak harus. Tapi aku ingin. Aku ingin melindungimu dan keluargamu. Aku ingin kau mengandalkanku."


"Kenapa?"


Karena kau pasangan jiwaku yang sudah lama kunantikan. Karena aku diciptakan untukmu dan kau diciptakan untukku. Karena aku mencintaimu. Karena kau segalanya untukku.


Aku seharusnya mengatakan semua itu padanya, tapi tak kulakukan. Aku ingin Yeon-Hwa menyadarinya terlebih dahulu sebelum kuberitahu. Aku tak ingin ikatan diantara kami menjadi takdir yang dipaksakan untuknya. Aku menjadi sangat serakah sekarang. Aku ingin dia memahami perasaannya, aku ingin dia menyadarinya lalu mencintaiku sepenuhnya. Karena aku tahu Yeon-Hwa bukan orang yang akan memercayai takdir begitu saja.


"Karena begitulah seharusnya seorang atasan. Melindungi anggotanya dengan baik." Jawabku akhirnya.


Yeon-Hwa mengangguk setuju. Tapi dia tampak menunduk, menghindari tatapanku.


"Aku menyukaimu." Katanya. Dia kembali menatapku, kali ini matanya memerah seolah menahan air mata. "Sungguh, selama berhari-hari di Istana Giok aku memikirkanmu. Aku merindukanmu dan aku menunggumu selama itu. Aku berharap kau datang dan membawaku pergi. Tapi kemudian aku berharap kau tidak pernah datang agar kau tak perlu merasa kesulitan dan dibebani olehku. Kurasa aku akan jauh lebih tenang kalau kau tidak mengkhawatirkanku. Aku tak mengerti kenapa aku merasakan semua itu, aku tak dapat mengendalikan perasaanku sendiri. Kau boleh mengatakan bahwa aku tidak pantas mengatakannya, karena di Nordhalbinsel, aku hanya rakyat biasa sedangkan kau pewaris Grand Duke. Aku tak peduli pada kelas sosial kita yang sangat berbeda. Aku hanya berusaha jujur karena mungkin ini untuk terakhir kalinya. Aku akan menikah dengan Haru tak peduli apa yang kau katakan karena dengan begitu, aku bisa melindungi semua orang yang kusayangi."


"Yeon-Hwa, aku—“


"Tolong jangan katakan apa pun terkait pernyataanku barusan. Aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengatakannya saja. Jika kau memiliki perasaan yang sama denganku, kau pasti akan memahami jalan yang kupilih. Aku sudah memilih untuk melindungi kerajaanmu, semua orang yang kau kenal di sana dan dirimu sendiri. Dan jika kau tak merasakan hal yang sama, maka abaikan saja kata-kataku. Anggap aku tak pernah mengatakan apa pun agar pernyataanku tak membebanimu."


Aku bisa memahaminya. Tapi aku juga tak mau melepaskannya. Aku ingin tetap bersamanya apa pun keputusannya.


"Baiklah..." Kataku. "Aku memahamimu, Yeon-Hwa. Jadi pegang tanganku, aku akan menemanimu kembali ke Istana Giok."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2