
Pagi ini, tidak seperti biasa, Raja kami bangun lebih awal dari semua orang di Dong-gung. Dia meminta kami menemuinya di ruang bawah tanah segera setelah kami selesai sarapan.
"Menurutmu apa yang ingin dibicarakan beliau?" Tanya Kaze saat kami dalam perjalanan menuju ruang bawah tanah. Kami melewati taman Dong-gung yang semakin hari semakin indah dipandang. Bahkan saat kelopak-kelopak bunga sakura sudah mulai berguguran, bunga-bunga di taman ini tak terusik sama sekali. Mereka tetap bermekaran.
"Belakangan ini beliau menutup rapat isi pikirannya. Sepertinya apa pun itu, beliau tidak ingin kita tahu."
"Apa mungkin... Beliau mau bicara tentang itu?"
"Tentang apa?"
"Kau tahu... Tentang orang yang membunuh Pangeran Yi. Apa kita akan tetap tutup mulut soal itu?"
"Jika beliau bertanya, kita harus menjawabnya dengan jujur. Kita tidak bisa berbohong pada Raja kita."
Sesampainya kami di ruang bawah tanah yang kali ini tidak dikunci, Raja kami mempersilahkan kami duduk. Dia menuangkan jus buah untuk kami, sedangkan untuknya sendiri dia menuangkan anggur. Sepagi ini dia sudah minum anggur. Padahal seribu tahun yang lalu dia menghindari minuman beralkohol.
Ruang bawah tanah kami adalah replika ruang santai Istana kami dulu, versi lebih modern tentu saja. Seribu tahun yang lalu tidak ada lampu gantung kristal seperti yang ada di sini. Ruangan ini seluas rumah dengan beberapa pintu ke ruangan lainnya yang aku tak tahu ruang apa saja isinya. Di salah satu ruangan itulah Raja dan Ratu kami menyimpan persediaan anggur yang mereka bawa dari Schiereiland.
Aku melirik ke arah Raja kami yang sedang memperhatikan kami bergantian. Aku berusaha membaca isi pikirannya, tapi tidak bisa. Dia memblokirku.
"Di mana Baginda Ratu?" Tanya Kaze, memecah keheningan di antara kami.
"Anna sedang tidak enak badan jadi dia beristirahat di kamar lantai tiga. Louis sudah memberinya obat. Biarkan dia tidur seharian ini."
"Kemarin juga beliau tidak keluar kamar seharian." Renung Kaze.
"Apakah parah?" Tanyaku langsung.
"Tidak. Tidak parah." Katanya. Tapi dari nada suaranya, dia sepertinya ragu akan hal itu. Aku baru memperhatikannya sekarang, Raja kami sepertinya tidak tidur semalaman. Dia tampak kacau dan berantakan. Kantung matanya hitam dan matanya sembap seperti habis menangis. Dia bukannya bangun lebih awal, dia terjaga semalaman menjaga Ratu kami yang sepertinya sedang tidak sehat. Dia menenggak anggurnya, "Kuharap tidak parah." katanya lagi, lebih kepada dirinya sendiri.
Aku mencoba menerka-nerka apa yang akan dia katakan pada kami. Jika Ratu sakit, mungkin Raja kami ingin meminta kami agar bekerja di kedai dan tidak keluar hari ini. Mungkin juga dia ingin membawa Ratu kembali ke negara asalnya. Atau mungkin dia ingin aku menyembuhkannya dengan kekuatan Naga Air. Tidak. Bukan itu. Raja kami hanya perlu menciumnya dan beliau akan langsung sembuh. Jadi kenapa Ratu kami masih belum sembuh? Kenapa dia meminta Louis memberinya obat? Inikah yang dirasakan orang-orang yang tidak dapat membaca pikiran seumur hidup mereka? Rasa penasaran akan isi pikiran orang lain benar-benar membuat frustasi.
"Perlukah saya panggilkan tabib yang saya kenal, Baginda?" Tanya Kaze.
Kenapa? Kalau Baginda Raja saja tidak bisa menyembuhkannya apalagi Tabib biasa? Tanyaku lewat telepati kami.
Mungkin karena beliau tidak mengerti permasalahannya. Tabib bisa mendeteksi sumber masalahya, bukan cuma mencari tahu cara menyembuhkannya.
Memangnya ada yang tidak beliau ketahui? Jika sesuatu yang salah terjadi pada Baginda Ratu, beliau pasti langsung tahu.
Kalian para pria tidak mengerti. Hal seperti ini pernah terjadi seribu tahun yang lalu masa kau tidak ingat?
"Terima kasih Kaze, tapi Anna menolak diperiksa. Untuk saat ini lebih baik kita tunggu hasil pengobatan dari Louis terlebih dahulu. Dia ahli herba kerajaan, dia mungkin bisa mengobatinya." Katanya.
Aku tidak yakin Louis bisa mengobatinya. Komentar Kaze.
Tumben sekali kau meragukan Louis padahal biasanya kau selalu memuji apa pun yang dia lakukan.
"Ada yang ingin kutanyakan pada kalian." Raja kami memulai dengan nada suara yang lebih serius kali ini. Aku dan Kaze secara otomatis duduk dengan tegak. "Kalian ada di Nordhalbinsel saat peristiwa itu terjadi. Saat Ayahku dan Pangeran Yi tewas terbunuh di hari yang sama."
Kami mengangguk bersamaan. Siap tidak siap, kami sudah menduga suatu saat nanti kami akan ditanyai soal ini. Dan kami sudah berjanji takkan menceritakan hal ini pada siapa pun. Tapi beliau adalah Raja kami dan kami tidak berbohong padanya.
"Aku sudah menyelidikinya. Aku tahu yang membunuh ayahku adalah ibu tiriku, Selena. Saudara tiriku yang mengatakannya langsung padaku. Sedangkan Pangeran Yi..." Dia diam sejenak, tampak ragu apakah harus menanyakannya atau tidak. Kurasa dia pun sudah tahu atau paling tidak sudah mencurigai seseorang. "Tim investigasiku menemukan botol berisi racun Morta di kamar yang ditempati salah satu pengawal Pangeran Yi. Racunnya masih penuh. Belum digunakan sama sekali. Dan aku tahu cara kerja racun itu. Aku tahu ciri-ciri orang yang sudah terkena racun itu. Ciri-ciri itu tidak ada pada jasad Pangeran Yi. Dia bukan mati karena racun Morta, meski mungkin sempat ada yang berencana membunuhnya dengan racun itu. Rencana itu gagal."
Aku menunggu. Aku hanya akan menjawab jika dia bertanya, dan aku akan menjawabnya dengan jujur.
"Apakah benar kalian melihat kejadiannya?"
"Benar." Kaze yang menjawab, sementara aku hanya mengangguk sambil mengepalkan tangan.
"Tidak perlu takut. Aku akan melindungi kalian. Orang itu tidak akan melukai kalian." Katanya saat mengamati kami tampak takut saat mengingat kembali kejadian itu. "Apakah benar dia dibunuh dengan sihir?" Tanyanya lagi.
Kami hanya mengangguk kali ini. Kaze menggenggam erat tanganku.
"Apakah..." Dia sendiri tampak tidak siap menanyakannya. "Apakah benar Eleanor yang membunuh Pangeran Yi menggunakan sihirnya?"
Aku mendongak menatapnya. Dari ekspresinya aku tahu dia sendiri tidak ingin kami menjawab dengan jujur. Dia tidak siap mendengar kebenarannya. Tapi dia harus tahu. "Benar, Baginda. Ratu Eleanor, maksud saya, mantan Ratu yang membunuh Pangeran Yi."
Dari reaksinya yang lebih seperti khawatir alih-alih terkejut, kuduga dia memang sudah tahu bahwa Eleanor lah yang membunuh Pangeran Yi. Dia hanya bertanya untuk memastikan. Dia kemudian memijat-mijat pelipisnya, menghela nafas panjang, "Apakah Pangeran Yi melakukan sesuatu yang buruk padanya sehingga Eleanor mau tak mau menggunakan sihirnya untuk membela diri?"
"Tidak." Jawabku. "Waktu itu masih sangat pagi, Pangeran Yi masih tertidur, tapi kami sudah bangun karena kami biasa bangun pagi untuk berjalan-jalan menghirup udara pagi. Pengawal yang biasa ada di depan kamarnya entah ada di mana, tapi pintunya terbuka sedikit, jadi kami dapat melihatnya. Eleanor tiba-tiba datang dengan sihir teleportasi dan membunuh Pangeran yang masih tertidur menggunakan sihirnya. Kami menyaksikannya saat Pangeran Yi tampak kesulitan bernafas sampai akhirnya benar-benar tak bernafas sama sekali. Lalu Eleanor menggunakan sihir teleportasi lagi dan menghilang dengan cepat."
Dia menggeleng tak percaya. Keningnya berkerut tampak berpikir keras mencari alasan yang masuk akal. "Tidak... Tidak mungkin Elle... Dia tidak akan melakukan hal itu. Elle bukan orang yang seperti itu. Elle tidak akan membunuh siapa pun. Aku mengenalnya sejak kecil. Dia orang yang baik. Itu mungkin orang lain. Itu pasti orang lain yang menyamar menjadi dirinya."
"Saya membaca isi pikirannya. Itu memang benar beliau. Bukan orang lain." Kataku.
Lama dia terdiam tampak sedang memikirkan banyak hal. Lagi-lagi aku tak dapat menembus isi pikirannya. Jadi kami bertiga hanya terdiam di ruangan itu sampai akhirnya dia kembali bertanya pada kami.
"Selain kalian berdua, apakah ada orang lain yang tahu?"
"Tidak ada. Hanya kami." Jawabku.
__ADS_1
"Apa Elias tahu?"
"Elias sama sekali tak tahu tentang hal itu. Elias masih menduga saudari kembarnya difitnah dan yang membunuh Yi adalah orang suruhan Haru."
"Baiklah..." Dia kembali menghela nafas. "Rahasiakan hal ini. Jangan beritahu siapa pun terutama Elias."
"Baik, Baginda." Jawabku dan Kaze bersamaan.
...****************...
Hari ini kami kedatangan banyak pelanggan. Aku dan Eri, yang kini sudah pulih, membantu Raja kami yang kembali menyamar sebagai Riz. Kaze dan Louis diutus untuk pergi mencari tabib yang bisa dipercaya untuk memeriksa Ratu kami karena sudah berhari-hari berlalu dan dia masih terbaring lemah di atas kasur.
Raja kami sepertinya merasakan sesuatu terjadi pada Baginda Ratu. Dia tampak sangat terburu-buru pergi ke lantai tiga. Aku tak mengerti apa yang terjadi, padahal Raja kami sudah berusaha menyembuhkannya tapi tidak berhasil. Hal seperti ini biasanya tak terjadi.
Jadi hanya aku dan Eri yang bekerja ekstra keras di kedai. Aku bertanya-tanya kenapa tiba-tiba pelanggan kami bertambah banyak dua kali lipat hari ini. Jadi aku mencoba membaca pikiran para pelanggan dan mengumpulkan informasi sambil bekerja menjadi pelayan di Dong-gung.
Rupanya hari ini Keluarga Kaisar kembali ke Jungdo dan mereka mengadakan pesta besar-besaran di pusat Jungdo sekaligus untuk menyambut kedatangan para putri bangsawan yang akan ikut serta dalam pemilihan selir Kaisar Haru. Kalau begitu Elias pasti sedang berada di Jungdo untuk segera menjemput Yeon-Hwa begitu dia datang hari ini.
"Shuu, kami membutuhkan bantuanmu!" Kaze tiba-tiba datang bersama Louis. Mereka memegangi tangan keriput seorang wanita tua yang sepertinya buta.
"Ada apa?" Tanyaku setelah menghampiri mereka.
Kaze tampak memberikan isyarat pada Louis untuk menggantikanku bekerja di kedai. Louis segera mengambil nampan dari tanganku dan dengan cekatan mulai bekerja. "Ini tabibnya."
"Dia buta." Kataku langsung.
"Dan bisu."
"Apa?"
"Baginda Raja memerintahkan mencari tabib yang bisa dipercaya. Dia bisa dipercaya karena buta dan bisu sehingga takkan membocorkan rahasia apa pun. Tapi tenang lah, dia tidak tuli."
"Jadi?"
"Kau bisa menjadi perantaranya."
"Aku tidak mengerti bahasa isyarat."
"Kau bisa membaca pikirannya dan memberitahu apa katanya. Aku akan memintanya mengatakan diagnosanya di pikirannya."
Akhirnya kami menuntun tabib itu ke lantai tiga. Kami melangkah amat pelan karena tabib itu sudah sangat tua dan buta. Dalam perjalanan menuju lantai tiga aku dapat mendengar mereka dengan suara asli mereka. Sepertinya mereka sudah melepas cincin transformasi itu.
"Aku baik-baik saja, Xavier. Hanya pusing dan mual. Kembali lah ke lantai bawah. Aku hanya perlu tidur sebentar."
"Kau berlebihan. Aku tidak memuntahkan semuanya."
"Kau bahkan memuntahkan air."
Aku mengetuk pintu kamar mereka di lantai tiga.
"Masuk."
Aku dan Kaze segera menuntun tabib itu menuju Ratu kami yang tampak sangat pucat dan sedang berbaring lemah di atas kasur. Rambut merahnya yang kini sudah sepanjang dada tampak kusut dan berantakan di sekitar wajahnya. Kurasa dia jadi semakin kurus dalam waktu empat hari. Tatapannya sayu, tulang-tulangnya tampak menonjol. Ada cekungan di bawah matanya dan pipinya semakin tirus. Dia jelas sedang sakit parah.
Ada yang bisa menjelaskan siapa wanita ini dan kenapa dia ada di sini? Tanya Ratu kami.
Anna, kau harus diperiksa.
Aku tidak sakit. Kalau aku sakit, kau bisa menyembuhkanku.
Aku sudah berusaha dan nyatanya aku tak bisa menyembuhkanmu.
Jelas saja. Itu karena aku memang tidak sedang sakit.
Jangan khawatir, Baginda Ratu. Tabib ini buta dan bisu. Kata Kaze.
Kalian bertindak berlebihan padahal aku tidak sakit!
Tapi tepat saat itu, dia muntah lagi entah sudah keberapa kalinya hari ini. Saat dia duduk untuk memuntahkan semua isi perutnya, aku dapat melihat tangannya yang memegangi wadah tempat muntahannya tampak hanya terdiri atas tulang dan kulit pucat. Bagaimana bisa dia terlihat seperti ini hanya dalam waktu empat hari?
Coba katakan sekali lagi. Tantang Raja kami.
Baginda Ratu memutar bola mata. Aku hanya mual. Bukan sakit.
Anna... Kumohon...
Baiklah. Terserah kalian saja. Lakukan sesuka hati kalian.
Akhirnya Baginda Ratu mengizinkan tabib itu untuk memeriksanya. Cara kerja tabib di Orient sulit kumengerti. Mereka hanya perlu memeriksa denyut nadi dan mereka dapat langsung tahu penyakit yang diderita pasien. Tabib itu tampak tak berkedip sama sekali saat memeriksa denyut nadinya. Dia mengangguk beberapa kali. Lalu mengernyit bingung, kemudian mengangguk lagi.
"Apa itu? Kenapa dia mengangguk-angguk seperti itu?" Tanya Raja kami.
__ADS_1
Raja kami mengawasi si tabib, tampak was-was dan gugup dan takut sambil menunggu hasil pemeriksaannya. Dia menggenggam tangan Ratu dengan erat. "Apa katanya?" Tanyanya padaku dengan tak sabar.
"Xavier, diam lah. Dia masih berkonsentrasi."
"Shuu? Apa yang dia temukan? Apa penyakitnya? Apakah dia keracunan makanan?" Dia bertanya lagi.
Aku membaca isi pikiran si tabib sebelum Raja kami melontarkan pertanyaan lagi. Isi pikiran tabib itu sama sekali tak sulit ditembus, terbuka lebar seolah memang memohon untuk dibaca olehku.
Oh.
Sudah kubilang, kan. Kita pernah mengalami ini seribu tahun yang lalu. Masa kau lupa? Kata Kaze dalam telepati kami. Aku menoleh padanya, melihat senyum sombongnya karena dia benar. Dia benar, kami pernah mengalami hal yang sama seribu tahun yang lalu.
"Shuu?" Raja kami semakin mendesak. "Apa katanya? Seberapa parah? Cepat katakan sesuatu!"
Aku menoleh pada Raja kami yang masih menanti dengan tak sabar hasil pemeriksaannya. "Baginda Ratu tidak sakit." Kataku.
"Sudah kubilang kan. Aku baik-baik sa--"
"Baginda Ratu hamil."
...****************...
Seribu tahun yang lalu, saat Baginda Ratu mengandung Nordlijk, dia tidak bisa beranjak dari tempat tidur sama sekali selama tiga bulan awal kehamilannya. Padahal saat dia mengandung Zuidlijk, dia bahkan bisa ikut bertempur dalam peperangan, berkuda selama berjam-jam, dan berlarian bermil-mil jauhnya. Saat itu kami para Naga lah yang mengambil alih pemerintahan untuk sementara karena kondisinya sangat lemah. Saat itu dia mirip mayat hidup yang terdiri atas tulang dan kulit serta nafas yang pendek-pendek.
Aku ingat Earithear yang biasanya pendiam dan pemalu tiba-tiba protes dan marah besar terhadap Raja kami. "Sudah kubilang, menikahi manusia itu bukan tindakan yang bijak! Paling tidak jangan sampai kau memiliki anak dengannya. Bagaimana kalau makhluk itu membunuh ibunya sendiri dengan menghisap habis energi kehidupannya dari dalam kandungan? Sekarang apa yang bisa kau lakukan? Menyuruhnya menggugurkan kandungan? Dia takkan melakukannya! Dia sudah terlanjur menyayangi makhluk itu bahkan meski makhluk keji itu belum dilahirkan. Kau tahu sendiri fisik manusia itu sangat lemah! Dia takkan mampu! Kenapa kau tidak berpikir dulu sebelum berbuat!"
Earithear tidak pemarah seperti Aerinear yang membawa badai kemana pun dia pergi. Earithear berhati lembut dan penyayang. Dia tidak pernah menaikan nada suaranya saat bicara dengan Raja kami. Dia tidak pernah semarah itu sebelumnya, jadi saat mendengarnya berteriak seperti itu pada Raja kami, Aku dan saudari kembarku sangat terkejut sampai tak mampu mengucapkan apa-apa lagi untuk menghentikan amarahnya. Kami hanya bisa berharap Earithear tidak sampai menghancurkan Istana dan menimbun kami semua hidup-hidup.
"Aku bisa menyembuhkannya." Ketenangan dalam suara Raja kami terdengar dingin. Ikatan para Naga saat itu sangat kuat sampai aku tahu betapa Raja kami juga merasakan ketakutan yang sama. Dia takut kehilangan Zhera. Dan dia takut itu terjadi karena kesalahannya.
"Dia bukan sakit! Tidak ada yang perlu disembuhkan. Kau hanya perlu menyingkirkan makhluk yang ada di rahimnya itu kalau kau tidak mau Zhera mati."
"Zhera tidak akan mati dan anak itu, anak kami, akan lahir dengan selamat. Dan kau tidak akan menentangku lagi, Earithear. Ini peringatan terakhir atau kau akan kembali segera ke langit dan takkan kuizinkan kau turun ke bumi selamanya."
Earithear menangis saat itu. Dia kemudian memohon ampun pada Raja kami dan mengatakan bahwa dia terlalu terbawa emosi karena takut Ratu kami tidak bisa bertahan dan akhirnya mati. Earithear sangat menyayangi Zhera sehingga dia tidak tahan melihat Zhera kesulitan selama tiga bulan awal itu. Pada akhirnya, Ratu kami dapat bertahan dan Nordlijk lahir dengan selamat dan sehat. Earithear sangat menyayangi Nordlijk begitu dia lahir seolah tak pernah meminta Raja kami untuk menyingkirkannya.
Jika Earithear masih ada di sini bersama kami sekarang, akankah dia kembali marah seperti itu?
Aku membaca pikiran semua orang yang ada di kamar ini. Kaze tampak tenang, tapi pikirannya semrawut. Dia menyukai anak-anak, dia tidak sabar menantikan kelahiran anak dari Raja dan Ratu kami, dia sangat senang tapi di saat yang sama, dia tahu apa risikonya bagi Ratu kami jika dia mempertahankan kehamilannya. Terlebih lagi kami sedang berada dalam misi berbahaya. Pikiran Baginda Raja begitu tertutup dan tak tertembus. Tapi aku tahu dia merasakan ketakutan yang sama.
Raja kami memerintahkan untuk menutup kedai dengan alasan bahwa semua orang akan pergi ke pusat kota untuk menyambut kedatangan Kaisar baru. Tentu saja bukan itu alasannya menutup kedai. Sementara itu Louis dan Eri diminta untuk mengantarkan Tabib kembali ke rumahnya dengan selamat. Aku dan Kaze tetap di kamar mereka di lantai tiga.
"Aku tahu apa yang akan kau katakan." Kata Ratu kami. Suaranya serak, wajahnya pucat dan dia tampak kelelahan bahkan hanya untuk bicara. Tapi dia menggunakan sisa energinya untuk bicara. Raja kami berlutut di samping tempat tidurnya sambil memegangi tangannya. Dengan tangan lainnya, Ratu kami memegangi perutnya. Ada kehidupan baru di sana. Entah bagaimana kini aku bisa merasakannya bahkan dari jarak ini. "Aku sudah tahu. Aku bisa merasakan kehadirannya sejak beberapa minggu yang lalu. Sama seperti aku bisa merasakan kehadiran kalian semua jika berada di dekatku. Aku merasakannya. Itulah sebabnya aku menolak untuk diperiksa. Karena aku tahu apa yang akan kau katakan."
"Apa yang akan aku katakan?" Tanya Raja kami. Suaranya sepelan bisikan.
"Aku menginginkan bayi ini. Bahkan kalau pun dengan mempertahankannya aku bisa mati. Dan tidak satu pun dari kalian yang dapat mem--"
"Apa maksudmu, Anna? Kenapa kau bicara seperti itu?"
"Seribu tahun yang lalu juga begini. Tapi lihat? Nordlijk lahir dengan selamat dan aku bisa bertahan, aku tidak mati. Hanya tiga bulan awal saja yang parah, selebihnya aku baik-baik saja. Jadi kali ini juga aku akan mempertahankan anak ini." Ratu kami menoleh ke samping, melihat Raja kami yang sejak tadi menatapnya. "Jangan menatapku seperti itu, Xavier. Aku--"
Kata-katanya terhenti karena tepat saat itu Raja kami memeluknya. "Memangnya aku akan mengatakan apa, Anna? Aku tentu saja sangat bahagia akan segera menjadi seorang ayah. Aku sangat bahagia sampai sulit memercayainya, sampai tak tahu bagaimana cara mengungkapkannya, sampai rasanya aku tak pantas mendapat kebahagiaan ini. Aku hanya tak tahu... apakah memang ini yang kau inginkan? Aku sudah pernah bilang, kan? Tubuhmu adalah milikmu, jadi kau tidak perlu memedulikan keinginanku. Aku memang menginginkan anak itu, aku ingin memiliki anak darimu, anak kita, tapi jika itu berarti menyulitkanmu dan membuatmu menderita, maka aku takkan memaksamu untuk mempertahankannya. Kita sudah membicarakan hal ini sebelumnya. Aku akan melakukan apa pun untuk memastikan kau dan anak kita tetap sehat dan selamat. Aku akan menjaga kalian. Tapi yang terpenting sekarang adalah keinginanmu."
Saat Ratu kami sedih dan sakit, kami akan tahu dan merasakannya. Saat Ratu kami berbahagia, kami juga bisa turut merasakan perasaan bahagia itu. Saat ini mata Ratu kami tampak berkaca-kaca, tapi kami dapat langsung tahu dia sedang berbahagia.
"Ini yang kuinginkan." Katanya dengan suara yang masih terdengar lemah. "Aku ingin memiliki keluarga yang lengkap bersamamu, menyaksikan anak-anak kita tumbuh besar dan melihat mereka membesarkan cucu-cucu kita."
"Jadi bertahan lah. Tetaplah hidup. Jangan tinggalkan kami." Aku tak sengaja membaca isi pikiran Ratu kami. Aku menoleh ke arahnya. Dia tampak sedang menahan air matanya. Kali ini ada rasa sedih dalam kata-kata itu. Apa yang baru saja tak sengaja kudengar? Apa maksudnya itu?
Tapi tentu saja aku tak bertanya. Situasinya sedang tidak pas.
Shuu, kakekmu dulu adalah Naga Air sebelum dirimu. Kaze bertanya dalam telepati kami.
Benar.
Bagaimana cara nenekmu bertahan saat mengandung anak dari Naga Air?
Oh! Benar juga. Kenapa tak terpikirkan olehku sebelumnya. Seribu tahun yang lalu tidak ada yang dapat kami lakukan untuk Ratu kami karena obat-obatan belum sebanyak sekarang. Saat itu ilmu medis dan herba belum dikuasai oleh manusia, berbeda dengan sekarang.
Ada ramuan tradisional yang sudah turun-temurun di keluarga kami, yang dimium oleh para istri dari Naga Air saat mereka hamil. Jawabku akhirnya saat mengingatnya kembali.
Ayo kita ambil ramuan itu untuk Ratu kita!
Tiba-tiba saja angin berhembus dan pintu terbuka lebar. Ada yang datang. Refleks aku langsung menyiapkan air di sekelilingku bersiap melawan jika yang datang adalah musuh kami. Aku melihat di sekitarku semua melakukan hal yang sama. Kaze berdiri di sampingku, di depan Ratu dan Raja kami posisi siap menyerang dengan anginnya. Dan di belakangnya, Raja kami sudah berdiri sambil menghunuskan pedang berapinya.
Tapi kami langsung menurunkan tangan kami dan senjata kami saat tahu siapa yang datang.
"Elias! Kau mengejutkan kami! Tidak bisakah mengetuk pintu dan masuk seperti orang normal lainnya?" Tegur Raja kami.
"Yeon-Hwa menghilang." Katanya langsung dengan panik. Dia tampak sangat kalut seolah yang hilang adalah separuh jiwanya. Oh, tentu saja. Karena mereka pasangan jiwa. "Yeon-Hwa tidak ada. Semua orang sudah kembali ke Istana Jungdo tapi dia tidak ada di mana pun. Dia menghilang."
__ADS_1
...****************...