
Sepertinya sudah seminggu berlalu, Dong-gung menjadi sepi semenjak Yeon-Hwa pergi ke Istana Matahari dan Elias tak kunjung pulang. Padahal biasanya pagi kami selalu diawali oleh pertikaian mereka yang selalu menarik untuk ditonton. Aku jadi merasa kehilangan mereka. Paling tidak sarapan kami pagi ini sangat lezat. Louis memasak untuk kami.
"Anda mau tambah, Nona Kaze?" tanyanya saat melihatku sudah menghabiskan sarapanku.
"Boleh aku tambah ayam gorengnya?"
"Tentu saja." Kata Louis sambil tersenyum ramah. "Makan lah yang banyak. Mereka sepertinya baru akan turun saat siang nanti. Dasar pengantin baru." Katanya sambil melirik ke arah lantai tiga. "Aku akan memasak lagi untuk mereka nanti. Kalian habiskan saja yang ada di meja ini."
Aku sangat menyukai Louis. Semenjak dia datang, aku tidak pernah merasa lapar. Dia bahkan mempelajari cara membuat kue Lotus dan sering membuatkannya untuk kami. Sikapnya juga sangat sopan pada kami. Dia sempurna.
"Tidak kah kau masih terlalu kecil untuk memikirkan seorang pria?" Tanya Shuu saat kami sedang berjalan-jalan di sekitar Dong-gung. Ini salah satu rutinitas kami. Mencari informasi. Shuu bisa membaca pikiran orang-orang yang ada di sekitar kami, jadi kami sering bepergian ke tempat ramai.
"Aku pernah berusia ribuan tahun." jawabku.
"Sekarang usiamu baru tiga belas tahun."
"Oh, ayolah! Aku kan cuma memuji Louis. Bukan berarti aku ingin menikahinya atau semacamnya."
"Apa Eri masih mengikuti?" Shuu mengalihkan topik pembicaraan.
Semenjak pertemuanku dengan Eri di hari festival, Eri sering diam-diam mengikutiku dan Shuu saat kami mengumpulkan informasi. Eri dan Torakka lainnya tetap tidak bisa melacak kami, tapi Eri tahu aku dan Shuu tinggal di Dong-gung. Dia memata-matai kami. Aku tahu dia bukan melakukannya atas perintah Kaisar melainkan murni karena penasaran.
"Shuu, kau yang lebih tahu soal itu. Kau bisa menangkap isi pikiran Eri jika dia masih mengikuti." Kataku.
"Benar. Aku hanya ingin mengalihkan topik pembicaraan agar kita tidak meributkan perihal Louis dan ketertarikanmu padanya."
"Kau cemburu!"
"Ha! Yang benar saja. Aku tidak—“ Tiba-tiba langkahnya berhenti. Pupil matanya melebar seolah dia baru saja melihat monster di depan mata. Tapi tidak ada apa-apa di hadapan kami. Shuu tampaknya menangkap isi pikiran yang tidak bagus. Aku menanti dengan tegang.
Haruskah aku lari? Tanyaku*. Ada apa?*
Sial! Yi-Zhuo mengikuti Eri.
Apa? Sejak kapan?
Aku tidak tahu. Terlalu banyak isi pikiran yang kutangkap di sekitar kita jadi aku baru sadar ada Yi-Zhuo di sini. Kita harus berpencar, lalu bertemu di Xiang. Jangan pulang ke Dong-gung sampai situasinya aman. Dan jangan berlari jika mereka tidak mengejar. Yi-Zhuo bisa memanahmu kalau kau lari.
Baiklah, aku mengerti.
Jadi aku dan Shuu berpisah. Aku akan mengambil jalan memutar dengan pergi ke luar kota Jungdo menuju kota Yangdo kemudian menyeberangi sungai hingga ke Xiang. Aku akan berpura-pura tidak tahu sedang diikuti. Lalu kami akan kembali ke Dong-gung jika situasi sudah aman.
...****************...
Senja tiba saat aku sampai di Xiang. Seharian ini aku hanya berjalan-jalan dan bermain-main menikmati kebebasan palsuku di sepanjang kota Yangdo sambil berharap siapa pun yang mengikutiku akan kelelahan dan menyerah. Aku tahu seharian ini Eri mengikutiku. Tapi aku tidak tahu pasti apakah Yi-Zhuo dan Gyeoul juga mengikutiku. Seperti kata Eri, Torakka lainnya mungkin tidak seperti dirinya.
Xiang adalah desa air. Sebuah desa yang didirikan di atas sungai Yaozhi, sungai terbesar dan terpanjang di Orient. Wilayah ini ditempati oleh orang-orang suku Jung. Jadi wajar saja jika Shuu mengajak kami bertemu di sini. Ini adalah wilayah kekuasaan Klan Huang. Shuu aman di sini, dan artinya aku juga akan dilindungi di sini. Mudah-mudahan saja.
Shuu mungkin sudah sampai di Xiang sejak tadi karena perjalananku yang melewati Yangdo lebih panjang.
Shuu? Kau sudah sampai?
Ini aneh. Sejak tadi aku berusaha memanggilnya lewat telepati, tapi dia belum menjawabku. Xiang lumayan luas, jadi mungkin kami terpisah jarak yang terlalu jauh sehingga kami kesulitan bertelepati. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke tempat di mana aku mungkin bisa menemukan Shuu. Istana Klan Huang.
Aku pernah pergi ke sana beberapa tahun yang lalu. Shuu memperkenalkanku kepada keluarga besarnya. Klan Huang adalah penyembah Naga, seperti keluarga Eri. Waktu aku datang ke Istana Klan Huang, semua langsung bersujud saat melihatku. Jadi kurasa Klan Huang tidak akan melukaiku atau menangkapku jika aku pergi ke sana.
Untuk menuju ke Istana Klan Huang, aku harus menaiki salah satu perahu. Di Xiang, semua orang menggunakan perahu sebagai transportasi karena jalanan yang ada sangat sempit dan lebih banyak sungai. Bahkan pasar yang ada di Xiang merupakan pasar terapung di mana para penjual berjualan di perahu alih-alih di kios. Sebenarnya, tempat ini cukup unik dan indah—terlebih saat malam hari karena ada banyak lampion yang cahayanya memantul di air sungai. Sayangnya, kebersihannya kurang dijaga jadi aku dapat mencium bau sampah dari sungai. Kalau pun aku adalah Naga Air, aku tidak akan mau berenang di sungai Yaozhi.
Hari mulai malam saat aku akhirnya dapat melihat Istana Klan Huang dari jarak beberapa meter. Istana itu berdiri di atas tanah padat, bukan didirikan di atas sungai seperti rumah-rumah lainnya. Semakin mendekati Istana Klan Huang, air sungai semakin jernih dan beraroma bunga. Tidak ada lagi sampah-sampah, tidak ada perahu-perahu jelek. Pohon-pohon bunga sakura yang bermekaran tumbuh di sepanjang pinggir sungai. Beberapa kelopaknya yang berguguran mengapung di air sungai membuat sungai ini tampak seolah berwarna merah muda. Bagian sungai Yaozhi yang ini adalah yang sering diperlihatkan kepada para turis. Itulah sebabnya turis-turis menyukai sungai Yaozhi terutama karena pemandangannya di malam hari yang sangat indah.
Tepat sebelum aku dapat melihat gerbang masuk Istana Klan Huang, aku melihat sesuatu yang lain. Sebuah perahu dengan simbol naga. Itu adalah perahu kekaisaran. Dan Yi-Zhuo berdiri di sana, memegang busur panahnya, membidik ke arahku sambil menyeringai lebar.
"Pemanah! Bidik!" Perintahnya.
Kini aku dapat melihatnya. Begitu Yi-Zhuo meneriakkan perintahnya, para pemanah pasukan Yi-Zhuo yang sejak tadi bersembunyi di balik pohon-pohon sakura di pinggir sungai kini menampakkan diri dan berkumpul membentuk barikade, membidikkan anak panah mereka padaku.
"Halo, Kaze." Sapa Yi-Zhuo dengan riang. Logat suku Jung yang biasanya lembut dan kalem tidak cocok untuk nada suaranya yang nyaring. "Kau mau ke mana, Naga Angin cilik?"
Aku menoleh ke belakangku, tempat si pendayung awalnya masih duduk dan mendayung. Kini dia sudah tidak ada. Bunyi sesuatu jatuh ke air sungai membuatku tersadar Yi-Zhuo sudah menembakkan anak panahnya pada pendayung itu. Si pendayung sudah tewas dan tenggelam. Yi-Zhuo membunuhnya dengan cepat.
Berbeda dengan Torakka lainnya, Yi-Zhuo adalah putri panglima perang. Kakak laki-lakinya juga seorang panglima perang. Dia dan kakak laki-lakinya dilatih sejak kecil untuk bertarung dan membunuh. Dia tahu cara memimpin pasukannya dan dia adalah pemanah terbaik di kekaisaran. Dia bukan sekedar Pelacak Naga, dia adalah prajurit dan pembunuh.
__ADS_1
Aku tidak punya pilihan lain. Jadi aku mendatangkan angin besar yang membuat para pemanah kesulitan membidikku dan membuat perahu ini meluncur jauh ke belakang—menjauhi Yi-Zhuo dan pasukan pemanah. Aku memanfaatkan anginku untuk menggerakkan perahu ini alih-alih menggunakan dayung. Dengan cepat, aku sampai di dermaga dekat pusat Xiang yang ramai turis asing.
Aku segera turun dari perahu dan langsung berlari memasuki keramaian. Yi-Zhuo tidak akan menyerah. Dia pasti akan mengejarku. Aku harus menemukan tempat persembunyian.
Shuu! Kau ada di mana? Aku bertemu dengan Yi-Zhuo.
Tidak ada jawaban.
Aku harus menghadapi Yi-Zhuo seorang diri. Tapi aku tidak boleh menggunakan kekuatanku di sini. Ada terlalu banyak orang. Salah-salah aku bisa membunuh mereka semua. Aku tidak mau menjadi monster. Aku bukan pembunuh. Aku adalah entitas suci yang melindungi mereka semua. Banyak di antara orang-orang suku Jung yang memberikan persembahan di kuil yang didirikan khusus untuk para Naga. Aku tidak boleh mengkhianati kepercayaan mereka.
Aku terus berlari melewati kerumunan orang-orang suku Jung yang merupakan penduduk asli Xiang, dan turis-turis asing yang datang dari tempat jauh untuk menikmati pemandangan malam di Desa Air ini. Jika saja aku tidak sedang dikejar maut, aku akan sangat senang menghabiskan waktu di Xiang. Pemandangan Xiang di malam hari merupakan salah satu hal yang patut dilihat sebelum mati.
Aku akhirnya menemukan jalan buntu. Aku tidak bisa pergi ke mana pun. Dan tidak ada tempat untuk bersembunyi.
"Mau kabur ke mana Naga cilik?" Suara itu membuat bulu kudukku berdiri.
Aku berbalik dan mendapati Yi-Zhuo dan pasukannya sudah mengepungku. Seharusnya aku tahu dia tidak sekedar mengejarku. Ada alasan kenapa dia menjadi pemimpin Torakka meski dia yang termuda di antara Torakka lainnya. Dia adalah ahli strategi yang brilian. Pengepungan di sungai tadi adalah bagian dari rencananya. Dia mengecohku agar aku mengambil jalan darat lalu menjebakku di jalan buntu ini. Padahal jika aku tetap berada di atas perahu, tetap di jalur sungai, aku bisa lebih bebas ke mana pun.
Aku terlalu panik untuk bisa berpikir jernih tadi.
Aku berusaha mengenyahkan rasa takutku. Sebelum ini, hubunganku dengan Yi-Zhuo tidak terlalu akur, tapi para Torakka diperkerjakan untuk menjaga kami dan bersikap baik pada kami. Kami adalah teman yang saling menyimpan kebencian dalam hati.
Aku mengamati ada yang berbeda darinya. Dia tetap gadis suku Jung yang cantik dengan rambut hitam yang panjang yang dia biarkan tergerai bebas di balik bahunya. Busur dan anak panah di tangannya. Hanfu putih yang dia kenakan dipotong pendek hingga atas lutut—Yi-Zhuo membenci rok panjang karena itu menyulitkannya berlari. Semua itu masih sama, kecuali mata merahnya yang kini ditutup sebelah oleh penutup mata yang membuatnya terlihat seperti Ratu Bajak Laut.
"Penutup matamu itu mengurangi kecantikanmu, Yi-Zhuo." komentarku, berusaha mengenyahkan ketegangan.
Yi-Zhuo menyeringai seperti wanita sinting. "Aku senang kau membahasnya. Aku baru mendapatkannya siang tadi saat bertarung dengan seorang pengkhianat. Dia mencungkil sebelah mataku dengan katana nya."
Yi-Zhuo memberi isyarat pada pasukannya. Mereka kemudian membawa seseorang yang tampaknya sudah pingsan. Gerakan naik turun dadanya membuktikan dia masih bernafas, belum mati. Wajahnya babak belur, pakaiannya penuh noda darah. Yi-Zhuo menjambak rambut wanita itu dan memperlihatkan wajahnya padaku.
"Eri!" Aku memekik terkejut. Aku tidak bisa meredam anginku. Anginku menuruti amarahku, bukan akal sehatku. Awan mendung berkumpul di sekitarku. Petir menyambar-nyambar di angkasa. Aku memanggil badai. Akulah badai itu.
"Kalau aku jadi kau, aku tidak akan melakukan apa yang kau pikir akan kau lakukan, manis." Kata Yi-Zhuo. Nada suaranya kelewat tenang untuk ukuran orang yang sedang berhadapan dengan amukan Naga Angin. Yi-Zhuo kemudian mengambil sebuah botol kaca bening dari saku pakaiannya dan menunjukkannya padaku. "Perkenalkan, ini Morta. Racun cantik ini didapat dari Schiereiland. Kau mau tahu bagaimana cara kerjanya?"
Yi-Zhuo kemudian melumurkan cairan itu pada salah satu anak panahnya. Dan dengan gerakan yang sangat cepat, yang tidak diwaspadai siapa pun, dia menusukkan anak panah itu pada salah satu anggota pasukannya. Bukan di jantungnya, melainkan di tangannya. Tapi orang itu langsung tumbang dan berhenti bernafas. Dia tewas. Yi-Zhuo tertawa.
"Ajaib bukan? Aku bahkan tidak perlu mengenai jantungnya untuk membunuhnya." Katanya sambil masih menarik rambut Eri. Dia mendekatkan anak panah beracun itu ke pipi Eri yang berlumur darah. "Usir badaimu itu, manis. Kita selesaikan ini dengan damai. Atau Eri kita yang cantik ini tidak akan pernah lagi membuka matanya yang indah."
"Kau gila! Eri itu rekanmu! Kalian berteman!"
Yi-Zhuo mengayunkan tangannya dengan cepat, menghunuskan anak panah beracun itu pada Eri, kali ini dia mengarah ke jantungnya.
"Hentikan!" Aku berteriak. Aku menghentikan anginku. Mengusir awan mendung. Meredam badaiku. Aku duduk bersimpuh di hadapannya. "Jangan bunuh dia, kumohon... Aku akan ikut denganmu, jadi jangan bunuh dia." Aku mendongak menatapnya, "Akan kulakukan apa pun untukmu asal kau tidak membunuhnya."
"Anak pintar." Dia tersenyum.
...****************...
Kami menaiki kereta kuda menuju Istana Matahari di Shina. Yi-Zhuo hendak menyerahkanku kepada Kaisar. Dan aku harus menurut jika tidak mau Eri mati.
Shuu, jika kau dengar aku, tolong selamatkan aku. Kami sudah meninggalkan Xiang dan kini dalam perjalanan menuju Shina. Datang lah, Shuu.
"Jadi di mana saudara kembarmu?" Tanya Yi-Zhuo saat kami sudah setengah jalan meninggalkan Xiang. Malam sudah sangat larut dan aku sudah mulai kelelahan. Tapi Yi-Zhuo terus menginterogasiku, menanyakan keberadaan Shuu, menanyakan tempatku sembunyi selama ini dan bagaimana aku bisa menyembunyikan jejakku dari para Torakka.
"Aku tidak tahu." Begitulah aku menjawab semua pertanyaannya. Apa pun yang terjadi, aku tidak akan pernah memberitahu Yi-Zhuo tentang Dong-gung dan orang-orang di dalamnya.
Yi-Zhuo mencengkeram wajahku dengan tangannya. Kuku-kuku jarinya yang panjang menggores pipiku hingga berdarah. Aku merintih perih, tapi dia tidak menghentikannya. Torakka seharusnya tidak diperbolehkan menyakiti para Naga. Tapi Yi-Zhuo tidak peduli pada peraturan itu. "Kalau kau terus mengatakan tidak tahu, aku bisa membunuh Eri sekarang juga, manis."
"Kau tidak boleh menyakitiku. Aku milik Kaisar! Aku adalah harta paling berharga kekaisaran ini!"
Yi-Zhuo tertawa mengerikan. "Kau burung kecil peliharaan Kaisar yang berisik dan menyebalkan. Tidak perlu menyombongkan diri seperti itu, manis. Kau dan Shuu hanya—“
Perkataan Yi-Zhuo terhenti karena tiba-tiba kereta berguncang hebat. Sepertinya kami melewati tanah berbatu. Mungkin kami mulai melewati hutan liar. Namun kereta ini berhenti saat aku yakin aku hampir muntah karena guncangan tersebut.
"Ada apa?" Yi-Zhuo berteriak sambil mengintip dari jendela.
"Torakka, kita tidak bisa melanjutkan perjalanan." Salah satu anggota pasukannya menginfokan.
"Memangnya kenapa?"
"Ada pohon mawar liar yang menghalangi jalan, Torakka."
__ADS_1
Yi-Zhuo tampak berang. Wajahnya merah marah. Dia seperti akan meledak, tapi dia menahannya. "Mawar liar?" Suara pelannya yang dingin seperti pisau, dapat membuat siapa pun bergidik ngeri.
"Be-benar, Torakka. Mawar liar itu—“ Sebelum dia menjelaskan lebih banyak lagi, nyawanya sudah melayang. Yi-Zhuo menusuk lehernya dengan anak panah yang sudah dilumuri racun Morta. Yi-Zhuo kemudian turun dari kereta kuda sambil menyeretku keluar. Tangannya mencengkeramku dengan sangat erat hingga kuku-kukunya menusuk.
Saat kami sudah di luar, aku mencari-cari kereta kuda yang membawa Eri. Letaknya tidak jauh dari tempatku berdiri saat ini. Aku seharusnya dapat membawanya pergi dan kabur dari Yi-Zhuo. Tapi cengkeramannya padaku terlalu kuat.
"Bisa-bisanya kalian semua berhenti hanya karena mawar liar!" Dia berteriak. Suaranya memekakkan telinga. Tapi saat itu, aku dapat melihat kenapa mereka menghentikan kereta.
Bukan mawar liar biasa. Itu adalah hutan yang terdiri dari sulur-sulur mawar berduri yang mengelilingi kami. Duri-duri mawar itu seukuran pisau belati. Dan hutan itu membentuk barikade di sekeliling kereta kuda kami. Tidak ada jalan lain selain mundur kembali ke Xiang.
Aku dapat mencium aroma bunga mawar yang sangat harum. Mawar-mawar liar itu berukuran raksasa dan berwarna semerah darah. Aku tidak yakin tanaman seperti ini sebelumnya memang sudah ada di Orient.
Dari kejauhan, aku melihat seseorang mengenakan jubah dan tudung yang menutupi kepalanya sehingga aku tidak dapat melihatnya dengan jelas. Dia berjalan dengan tenang dan tidak terburu-buru dari tengah hutan mawar liar itu menuju ke arah kami. Di sampingku, Yi-Zhuo tampak menyipit berusaha melihat siapa orang itu.
"Bidik!" Perintah Yi-Zhuo. Serempak semua orang mengangkat panah mereka dan membidik orang itu.
Tapi tepat saat itu, sebelum Yi-Zhuo meneriakkan perintah berikutnya untuk menembakkan anak panah, bumi berguncang. Guncangannya cukup besar sehingga Yi-Zhuo terpaksa melepaskan cengkeramannya pada tanganku. Aku terbebas.
Aku berusaha memanfaatkan kesempatan ini untuk berlari, tapi bahkan untuk berdiri pun aku kesulitan. Tanah yang kupijak terus berguncang. Semua orang jatuh berlutut di atas tanah. Tapi orang itu, yang mengenakan jubah, tampak tidak terganggu sama sekali. Tanah yang dia pijak tidak ikut berguncang. Dia terus melangkah ke arah kami tanpa merasa terganggu. Bahkan dari kejauhan, aku dapat melihat bahwa seiring langkah kakinya, hutan mawar liar berduri itu mengikuti di belakangnya. Seolah tiap jejak kakinya menumbuhkan mawar-mawar itu.
"Siapa kau?" Yi-Zhuo berteriak padanya.
Sekarang setelah dia berjarak cukup dekat dengan kami, aku dapat melihat bahwa dia sedang tersenyum. Dia mendongak menatap kami semua. Dia seorang perempuan. Matanya berwarna merah.
Tanah masih belum berhenti berguncang saat sulur-sulur duri mawar mulai muncul di sekitar kami dan membelit tangan dan kaki semua orang—semuanya, kecuali aku. Mereka semua berteriak kesakitan saat duri-duri mawar sebesar pisau itu menusuk mereka. Beberapa ada yang mencoba kabur, namun sulur duri mawar itu dengan cepat menangkap kakinya dan menjeratnya seperti binatang hidup. Tak peduli seberapa kuat mereka mencoba melawan dan mencoba melepaskan diri, sulur-sulur duri mawar itu menjerat mereka lebih erat.
"Earithear?" Yi-Zhuo bertanya. Dia tampak diam dengan tenang—tidak menggerakkan satu jari pun untuk melawan. Yi-Zhuo dan Torakka lainnya diberi pelajaran tentang para Naga. Dia tahu Naga mana yang dapat memunculkan hutan mawar berduri seperti ini. Dia tahu bahwa semakin banyak dia bergerak, sulur-sulur duri mawar itu akan semakin menjerat.
Untuk menjawab pertanyaan itu, wanita itu mengangkat sebelah tangannya. Api muncul dari telapak tangannya. Dia memain-mainkan api itu seolah itu hanya mainan. "Bukan." Katanya sambil tersenyum. Lalu dia menarik tudung kepalanya, memperlihatkan seluruh wajahnya pada kami.
Itu Diana. Tapi juga bukan Diana. Kedua matanya semerah api di telapak tangannya.
Syukur lah aku belum terlambat. Kau baik-baik saja? Katanya.
B-baginda Ratu... Air mataku tanpa terasa mengalir. Itu bukan Diana. Tentu saja bukan Diana sejak awal.
Ratuku itu tersenyum. Bahkan meski dia mengambil wujud orang lain, dia tetap Ratuku. Kemari, Kaze. Ayo kita pulang. Katanya.
Aku segera berlari ke arahnya. Kini gempa bumi yang dia ciptakan sudah berhenti, namun sulur-sulur duri itu masih menjerat pasukan Yi-Zhuo.
Ratuku segera menyambutku dan memelukku.
Maaf membuatmu menunggu. Katanya.
Tidak apa-apa, Baginda Ratu.
Kau memanggilku begitu lagi.
Lalu sekarang aku harus memanggilmu apa? Yang Mulia Putri Anastasia? Anna? atau Diana?
Dia tersenyum. Maaf tidak memberitahumu sejak awal. Nanti saja kita bahas soal itu. Asal kau tahu, aku terlambat datang bukan karena tidak mendengarmu, melainkan karena sempat ada masalah sedikit tadi.
Masalah rumah tangga?
Bukan! Dia tertawa. Dia sedang bersama Shuu. Mereka menghadapi masalah yang sejenis di Xiang.
Aku tahu siapa yang dia maksud. Raja kami, tentu saja. Aku memang sempat curiga pada pasangan aneh pemilik Dong-gung itu—pada tingkah laku mereka. Tapi aku tidak sampai menanyakannya pada Shuu karena kupikir dia pasti akan memberitahuku kalau aku harus tahu. Ternyata dugaanku benar. Raja dan Ratu kami menyamar menjadi Riz dan Diana selama ini.
Ratuku kemudian mengamati luka-luka di pipiku dan tanganku. Luka-luka yang disebabkan oleh kuku tajam Yi-Zhuo. Matanya tampak berapi-api saat melihatnya. Dan mungkin dia tidak sadar, tapi api mulai menjalar di sekeliling Yi-Zhuo dan pasukannya, membentuk lingkaran barikade api yang akan sulit mereka lewati tanpa terbakar.
Sebelum aku menanyakan bagaimana dia bisa mendatangkan api, dia sudah mengangkat tangan kanannya dan memperlihatkanku jari manisnya. "Dia bilang ini cincin pernikahan sementara." Katanya sambil menunjukkan padaku cincin dengan permata ruby. Tapi aku sadar betul apa yang ada di dalam sana. Jantung Naga Api Agung yang masih berdetak. Itulah sebabnya Ratuku dapat memunculkan api dari udara kosong.
"Terlalu mewah." Komentarku.
"Setuju. Risiko menikahi seorang Raja. Padahal aku tidak pernah meminta cincin pernikahan." Ratuku kemudian beralih pada Yi-Zhuo dan pasukannya yang mulai lumpuh akibat duri-duri itu. Duri-duri itu adalah milik Earithear—kemampuan milik Sang Naga Bumi. Ratuku memakai kalung permata emerald tempat jantung milik Earithear berada—jantung yang sudah berhenti berdetak, namun masih menyimpan kekuatan Sang Naga Bumi. Itulah sebabnya selama ini Torakka tidak bisa melacak kami. Kami tersembunyi karena kekuatan Naga Bumi.
Apa dia akan dibebaskan? Tanyaku.
Ratuku menggeleng. Dia sekarang lumpuh, itu penjara yang cukup untuknya. Nanti perlahan dia akan kembali normal meski akan memakan banyak waktu. Tapi aku tidak akan membunuhnya. Kuharap kau mengerti bahwa kita tidak boleh mendendam. Dendam akan menghancurkan dirimu sendiri.
Aku mengangguk mengerti. Bahkan di kehidupan yang lalu sebagai Ratu Agung Zhera dia tidak pernah membunuh musuhnya karena dendam. Ratuku kemudian beralih kembali pada Yi-Zhuo. "Sampaikan salamku pada Kaisar. Katakan bahwa Raja dan Ratu para Naga sudah kembali. Jadi jangan pernah mengusik para Naga lagi!"
__ADS_1
Kami pun kembali ke Dong-gung dan membawa serta Eri yang masih pingsan.
...****************...