
Aku tidak akan kembali ke Westeria.
Tidak sekarang. Tidak saat para serigala itu masih mengikutiku ke mana pun aku pergi.
Ini sudah berapa hari? Aku mulai kehabisan ide. Ke mana lagi aku bisa pergi sekarang? Semua tempat persembunyianku telah mereka ungkap. Ke mana pun aku pergi, para serigala itu berhasil menemukanku. Aku ingin pulang ke Westeria, menemui ayah dan abuela. Dan ibu. Tapi jika aku pulang sekarang, para serigala itu bisa saja membuntutiku dan merepotkan ayahku. Aku tidak bisa mengambil risiko itu meski aku sebenarnya yakin ayah bisa membunuh semua serigala itu tanpa melihat. Aku hanya tidak mau ayah jadi khawatir dan melarangku untuk kembali ke Nordhalbinsel, melarangku untuk menjadi apa yang kuinginkan. Padahal akhirnya aku berhasil meraih cita-citaku itu. Aku telah berhasil menjadi salah satu ksatria wanita di bawah pimpinan Jendral Arianne Montreux dan aku tidak akan melepaskan semua ini hanya karena para serigala sialan itu.
Lolongan serigala menghantuiku ke mana pun aku pergi. Si pemimpin serigala, yang paling besar dan berwarna putih seperti seluruh bulunya ditutupi oleh salju, berlari dengan sangat cepat. Aku mulai kehabisan napas. Jantungku memompa lebih cepat. Kupaksakan kakiku untuk terus berlari, tapi percuma. Serigala itu menang. Dia jauh lebih cepat dariku.
Kini dia ada di hadapanku. Taringnya yang panjang mencuat keluar. Taring itu bisa merobek tenggorokanku jika aku berkedip sekali saja. Jantungku kian berpacu, napasku memburu. Aku melihat ke sekelilingku, tidak ada jalan. Entah ada berapa, puluhan mungkin ratusan serigala berdiri dengan keempat kaki mereka masing-masing, membentuk lingkaran di sekitarku. Tidak ada jalan keluar bagiku.
Si pemimpin serigala itu melangkah perlahan ke arahku. Tahu bahwa dirinya sudah menang. Tahu bahwa aku tidak bisa lari darinya. Dia menggeram. Badai salju bergemuruh di sekitar kami.
Inilah saatnya. Aku akan mati. Paling tidak aku akan mati sebagai seorang ksatria. Aku tidak akan lari lagi.
Aku menggenggam pedangku dengan erat, menghunuskannya ke arah Si Serigala Salju.
Serigala itu menyeringai, memperlihatkan taring-taringnya. Begitu mengerikan sehingga aku berusaha untuk mengalihkan pandanganku. Ke arah matanya yang sebiru es. Di mata itu, aku bisa melihat wajahku sendiri. Putih pucat, takut, putus asa. Mata itu memperlihatkan sosok diriku yang tak pernah ingin kulihat. Sosok gadis yang hidup dalam persembunyian seumur hidup. Gadis yang tidak pernah sesuai di mana pun. Gadis yang jauh dari tempat dia seharusnya berada. Mata biru es itu mengingatkanku pada siapa diriku sebenarnya. Memperlihatkan jati diriku.
Jika aku akan mati sekarang, mata serigala itu adalah hal indah terakhir yang kulihat. Dan aku tidak akan menyesalinya.
...****************...
Aku membuka mataku ketika aku mendengar suara Feodora Rozhdestvenskiy, seniorku, teman sekamarku, sekaligus rekan sesama pengawal Ratu Eleanor. Tidak pernah aku merasa selega ini mendengar suaranya yang menyebalkan. Dia menarikku dari maut yang hampir kujumpai dalam mimpi.
Tadi itu hanya mimpi. Mungkin karena beberapa hari terakhir aku selalu dikejar-kejar oleh serigala sungguhan, aku sampai memimpikannya. Benar-benar mimpi buruk.
"Kau mau terus bermalas-malasan, Welsh? Ratu saja sudah bangun, masa kau masih tidur!" Feodora membentak.
Aku memaksakan diri untuk bangun dari tempat tidur nyamanku di Istana. Sebagai pengawal Ratu, kami semua mendapat kamar dan tempat tidur yang luar biasa nyaman dan tidak pernah kuimpikan seumur hidupku. Aku tidak bisa membayangkan senyaman apa kasur yang ditempati oleh Ratu Eleanor di Istana Putra Mahkota. Seharusnya dia menempati Istana Utama atau paling tidak Istana Ratu, tapi dia bersikeras untuk tetap berada di Istana Putra Mahkota. Mungkin karena dia masih belum bisa menerima kematian Putra Mahkota Xavier. Sungguh romantis dan tragis.
Tapi... Demi Naga dan putra-putranya! Kenapa pula Sang Ratu sudah bangun? Kasurnya pasti sangat tidak nyaman. Hari masih gelap. Matahari saja belum terbangun. Aku berani taruhan Ratu Eleanor tidak pernah tidur.
__ADS_1
Aku tidak bermaksud protes. Sungguh merupakan kehormatan yang luar biasa menjadi pengawal Ratu. Ini adalah pekerjaan impianku. Ini adalah cita-citaku. Inilah yang selalu ingin kulakukan, kuyakinkan diriku sendiri. Jadi aku segera bangkit dan bersiap untuk mulai bekerja.
"Kudengar Ratu memberi izin armada Pangeran Yi untuk memasuki perairan kita. Pangeran dan pasukannya mungkin akan tiba hari ini, atau besok." Natasha menjelaskan saat kami sedang sarapan pagi sebelum mulai bekerja. Sarapan di Istana Utama Nordhalbinsel selalu luar biasa. Daging melimpah. Ada banyak roti keju dan susu. Serta makanan penutup yang tidak ada habisnya. Dan tidak akan ada yang protes sebanyak apa pun aku menambah porsi. Yang kurang hanya satu. Di sini tidak pernah ada kue lotus.
"Jadi itu alasannya Sang Ratu bangun pagi-pagi sekali? Untuk bersiap menyambut Pangeran dari Orient?"
Itu aneh. Padahal yang kudengar Ratu masih berduka atas kematian Putra Mahkota Xavier. Tapi Ratu sudah mulai membuka kesempatan untuk para pelamar? Bisa-bisanya dia mengizinkan seorang Pangeran dari kekaisaran Orient untuk datang ke Istana ini. Selanjutnya apa? Bangsawan Westeria? Singa dari Selatan?
"Singa dari Selatan ada di sini." Perkataan Natasha itu sontak membuatku tersedak. Natasha buru-buru memberiku air minum. "Kunyah yang benar, lalu telan. Astaga, Honey! Kau masih saja ceroboh."
"Terima kasih. Aku tidak butuh pengingat darimu, Natasha." Tapi kuturuti perkataan rekanku itu. Kunyah, kunyah, telan. Natasha dan Aku berada di batch yang sama saat perekrutan pasukan Montreux yang dipimpin oleh Jenderal Arianne. Dan entah keberuntungan apa yang kupunya, kami berdua sama-sama direkrut menjadi pengawal Ratu atas permintaan Jenderal Elias. Paling tidak aku tidak akan benar-benar asing di Istana. "Tadi sepertinya aku salah dengar saat kau menyebut-nyebut tentang Singa dari Selatan."
"Salah dengar apa? Jenderal Leon datang semalam. Beliau menempati salah satu kamar di Istana Utama. Beliau datang bersama Jenderal Elias Winterthur."
"Jenderal Leon belum mati?"
Kali ini Natasha tertawa. "Kau benar-benar mengira seseorang seperti Jenderal Leon bisa mati semudah itu?"
Aku dan Natasha bisa cocok karena satu hal. Kami berdua sama-sama penggemar Jenderal Leon. Beliau adalah panutan kami. Sayangnya, semenjak ditinggalkan oleh Jenderal wanita mereka bertahun-tahun yang lalu, Schiereiland tidak menerima ksatria wanita. Jadi kami mengabdi pada Nordhalbinsel di bawah kepemimpinan Jenderal Arianne.
Natasha tampak melirik ke sekitarnya. Memastikan semua pengawal ratu sedang sibuk dengan sarapan masing-masing agar pembicaraan kami tidak didengar. Lalu dia mengisyaratkanku untuk mendekat padanya. Aku membuka telingaku lebar-lebar. Natasha selalu mengetahui gosip terkini. "Kudengar Jenderal Leon akan mengabdi pada Ratu Eleanor."
"Itu gila! Sama sekali tidak mungkin. Mustahil!"
Natasha buru-buru menginjak kakiku. Aku menjerit kesakitan. "Pelankan suaramu!"
Aku menoleh ke sekitar kami dan melihat rekan-rekan serta senior-senior kami hanya menggeleng-geleng saat melihat kami. Kami memang dikenal sebagai Duo Berisik diantara para pengawal ratu. Untungnya Feodora sudah berangkat lebih awal untuk mengawal Sang Ratu di Istana Putra Mahkota. Jika tidak, dia pasti sudah mengomeli kami.
Ada alasan kenapa aku mengatakan bahwa Jenderal Leon tidak mungkin mengabdi para Ratu Eleanor. Aku mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang lain. Aku mengenal Putri Anastasia. Putri yang kata orang-orang sudah mati akibat serangan Nordhalbinsel ke Schiereiland. Sang Putri masih hidup. Dan jika Jenderal Leon memang masih hidup, beliau tidak seharusnya mengabdi pada Ratu kami. Beliau pasti lebih memilih setia pada negaranya dan pada Putri Anastasia. Atau mungkin Putri Anastasia sudah mati dan beliau datang ke sini berencana balas dendam atas kehancuran negerinya dan kematian Sang Putri. Beliau mungkin bermaksud berpura-pura mengabdi pada Ratu Eleanor untuk kemudian membunuhnya? Ah, aku benar-benar tidak tahu.
Anna. Itulah nama yang digunakan Putri dari Schiereiland itu untuk menyusup masuk ke Nordhalbinsel. Sejak awal melihatnya, aku sudah tahu bahwa dia adalah Putri Anastasia karena aku pernah menjadi mata-mata di Schiereiland sebelum masuk ke Pasukan Montreux. Aku pernah melihat Sang Putri di Istananya beberapa tahun yang lalu meski kini dia telah memotong rambut merahnya yang indah itu. Tapi aku berpura-pura tidak tahu. Dia pasti merencanakan sesuatu dengan datang ke Nordhalbinsel dan mengikuti pemilihan pengawal pribadi Putra Mahkota. Dia dan aku sama-sama mengikuti pemilihan pengawal pribadi Putra Mahkota Xavier. Dia lolos, aku tidak. Tapi dia adalah orang yang sangat baik. Dia pernah merawatku saat aku terluka di Montreux. Dia bahkan menangis untukku. Aku memberinya alamat rumahku meski sebenarnya aku yakin dia tidak akan pernah ke sana atau mengirimkan surat untukku, tapi dia cukup sopan untuk tetap menerimanya. Kurasa kami berteman baik selama kami berada di Montreux. Dia kemudian pergi bersama Putra Mahkota Xavier untuk mencari dua tahanan perang yang hilang. Lalu mereka berdua tewas. Atau paling tidak begitu lah kata orang-orang. Sebenarnya aku masih curiga bahwa mereka berdua belum tewas karena mayat mereka tidak ditemukan.
__ADS_1
Aku percaya Putri Anastasia masih hidup.
"Welsh, Jenderal memanggilmu. Beliau menunggu di ruang rapat." Suara Feodora di ambang pintu benar-benar bagaikan guntur di pagi hari. Bukan hanya karena suaranya yang menggelegar, kehadirannya yang tiba-tiba padahal aku belum menghabiskan porsi keduaku, tapi karena apa yang dia katakan.
Dulu, sebelum menjadi pengawal ratu dan aku masih bertugas di Montreux, aku akan sangat senang ketika seseorang mengatakan bahwa Jenderal memanggilku. Itu artinya legenda hidup, wanita tertangguh yang pernah kukenal, Jenderal Arianne Montreux lah yang memanggilku. Bahkan jika Sang Jenderal hanya memanggil untuk mengajakku minum teh bersamanya, atau memintaku memasukkan benang ke dalam jarum untuk membantunya menjahit lukanya, aku akan dengan cepat mendatanginya. Tapi di sini, saat seseorang mengatakan 'Jenderal memanggilmu', itu artinya Elias Winterthur lah yang memanggilku.
Dan biasanya itu bukan pertanda baik.
Semua orang menungguku untuk beranjak. Masing-masing menatapku dengan buas. Mereka sangat menghormati Klan Winterthur karena Ratu kami seorang Winterthur dan mereka iri karena aku sering dicari oleh Jenderal kebanggaan mereka. Kalau disuruh memilih, antara menghabiskan porsi kedua sarapanku dan memulai porsi ketigaku atau mendatangi Jenderal Elias Winterthur sepagi ini, tentu aku lebih memilih opsi pertama.
"Cepat pergi sebelum Rozhdestvenskiy mulai mengomel." Bisik Natasha. Aku pun segera beranjak pergi.
...****************...
Aku beruntung. Jenderal Elias ternyata sangat sibuk. Jadi saat aku sampai di ruang rapat untuk menemuinya, dia sudah pergi. Salah satu prajurit keluarga Winterthur yang kutemui mengatakan bahwa Sang Jenderal sedang mendampingi Ratu Eleanor dalam pertemuannya dengan seorang tamu dari Selatan.
Tamu itu pasti Jenderal Leon. Tidak salah lagi. Betapa aku sangat ingin bertemu dengannya. Tapi kemudian apa yang akan kukatakan? Aku bahkan tidak yakin bisa bernapas dengan benar jika akhirnya bisa bertemu dengannya.
"Anda luar biasa." Dia tentu sudah tahu hal itu. Pasti sudah banyak yang mengatakannya. "Saya mengagumi Anda.", "Anda adalah panutan saya.", "Boleh saya minta tanda tangan?" Astaga! payah sekali! Mungkin sebaiknya aku tidak usah bertemu dengannya. Mungkin melihat dari kejauhan saja sudah cukup.
Jadi itulah yang kulakukan. Tanpa bermaksud menguntit, atau tanpa terlihat seperti sedang menunggunya lewat, aku berkeliaran di sekitar ruang rapat. Jika ada yang menanyakan, aku tinggal beralasan bahwa Jenderal Elias tadi memanggilku dan aku hanya berusaha untuk menuruti panggilannya. Aku hanya ingin melihat Jenderal Leon dari kejauhan dan membuktikan dengan kedua mataku sendiri bahwa dia benar-benar masih hidup dan ada di Istana ini.
Sambil menunggu, aku memandangi hamparan luas salju abadi di negeri ini lewat jendela. Di Westeria pasti sudah mulai musim semi. Aku membayangkan bunga-bunga Wisteria berwarna ungu yang merambati tembok-tembok rumah kami kini sedang bermekaran. Membayangkan Blue Iris berjajar di sepanjang jalan setapak bukit biru menuju rumahku. Aku tiba-tiba teringat pada ayahku. Di suratnya yang kuterima beberapa hari yang lalu, dia memanggilku dengan nama lahirku. Lee Yeon-Hwa. Itu saja sudah merupakan gelagat tidak baik. Kemudian dia menuliskan bahwa dia sedang sakit dan ingin agar aku segera pulang ke Westeria. Aku tahu dia berbohong. Kalau dia benar-benar sakit, dia justru akan merahasiakannya dariku dan tidak memberitahuku sampai dia sembuh, barulah dia akan cerita bahwa seminggu yang lalu atau sebulan yang lalu dia sakit parah tapi kini sudah sembuh. Itulah kebiasaan ayahku. Tidak ingin aku mengkhawatirkannya.
Aku tahu ayahku berbohong agar aku segera pulang untuk upacara peringatan kematian ibuku. Padahal orang Westeria tidak ada yang melakukan upacara tersebut, itu hanya adat berusia ratusan tahun milik orang-orang Orient. Padahal ayah sendiri yang bilang bahwa kami kini Westerian tulen. Bahwa aku tidak boleh membiarkan anak-anak sepantaranku mengataiku 'kuning' atau 'Westerian palsu'. Padahal kami memang 'kuning', begitulah sebutan Westerian terhadap orang-orang Orient. Bahkan kalau pun aku menggunakan nama Westeria dan berbahasa Westernia dengan fasih, bentuk mataku, warna mataku dan warna kulitku tidak bisa berbohong. Aku memang orang Orient.
Aku bukannya membencinya. Tapi seluruh hidupku adalah sebuah kebohongan. Rangkaian persembunyian demi persembunyian. Aku sendiri tidak tahu sebenarnya kami bersembunyi dari apa atau siapa. Tidak juga. Mungkin sebenarnya aku sudah tahu, tapi aku masih belum bisa menerima kenyataan itu.
"Nona Welsh, Jenderal Elias sudah keluar dari ruangan." Suara salah satu prajurit Winterthur.
Paling tidak aku tahu sekarang aku harus bersembunyi dari siapa.
__ADS_1
Aku melihatnya dari kejauhan. Bukan Jenderal Leon, melainkan si Serigala Gila dari Utara. Aku baru melihat rambut pirangnya dari kejauhan, dan aku langsung lari sebelum mata biru es miliknya menangkap pandanganku.
...****************...