
Aku sudah aneh sejak dulu. Bahkan sebelum Eri datang dan membawaku ke Istana Angin, orang-orang di sekitarku sudah lebih dulu mengetahui bahwa aku aneh. Bukan karena aku dapat mendatangkan angin topan, atau badai, atau kehancuran. Dulu sebelum ada yang tahu bahwa aku Naga Angin, aku sama sekali tidak tahu bahwa aku bisa mendatangkan angin dan badai. Tapi sejak dulu aku bisa menunjukkan kejadian di masa lampau.
Aku yakin sekali orang tuaku pun sudah mengetahui keanehan itu. Tapi minimnya ilmu pengetahuan di kalangan rakyat jelata seperti kami, serta tidak adanya kepercayaan pada leluhur serta keberadaan Dewa dan Dewi membuat orang tuaku mengabaikan keanehanku. Jadi saat aku memberi kilasan masa laluku sebagai Naga Angin pada orang tuaku, ayahku hanya akan menganggap dirinya terlalu mabuk atau ibuku terlalu lelah dan apa yang kutunjukkan pada mereka bukan apa-apa melainkan hanya sebuah ilusi.
Jadi saat Shuu memintaku untuk menunjukkan semuanya pada Lee Yeon-Hwa, gadis Orient yang menyelamatkan kami dari kemungkinan kami dijebloskan ke penjara Westeria, Aku melangkah maju dan mengulurkan tanganku untuk menyentuh keningnya. Aku membuatnya melihat kejadian di masa lalu yang dapat menjelaskan padanya siapa kami dan siapa yang sedang kami cari.
...****************...
Istana kami selalu ramai dan penuh suka cita. Hari itu, seperti hari lainnya, aku mengenakan gaun terbaikku yang terbuat dari embun pagi dan angin musim gugur. Tiap helai rambutku yang berwarna perak berkilau di bawah cahaya fajar. Aku menggenggam tangan saudara kembarku, Aquinier yang berjalan seirama dengan tiap langkah kakiku, yang seiring langkahnya membukakan mata air dan sungai jernih dari telapak kakinya. Di sampingnya, saudari kami yang cantik jelita, Earithear dengan gaun dipenuhi ribuan bunga dan kupu-kupu beterbangan di sekitarnya. Di hadapan kami, adalah Raja dan Ratu kami yang sedang berdansa diiringi musik yang tercipta oleh alam.
Raja kami tidak dapat mengalihkan perhatiannya dari Ratu kami. Wanita itu adalah seorang manusia. Putri dari Dewi Langit yang terlahir sebagai manusia. Tapi tak satu pun dari dirinya yang terlihat biasa seperti manusia lainnya.
Rambut wanita itu semerah fajar, matanya yang elok selalu terlihat seperti kobaran api—seperti mata milik kami. Saat dia tersenyum, langit menjadi cerah dan burung-burung berkicau. Rona merah di wajahnya membuat mawar-mawar bermekaran. Dalam tiap tarikan nafasnya, mendatangkan semilir lembut angin sejuk yang membawakan kebahagiaan di hati semua orang.
Tanpa kami sadari, semakin banyak yang ikut berdansa di sekeliling kami. Aquinier sedang berdansa bersama saudari kami, Earithear. Dan dua orang pangeran cilik mendatangiku untuk mengajakku berdansa. Yang lebih tua memiliki wajah persis seperti Ratu kami, dengan rambut merah namun mata sewarna cahaya matahari. Adiknya, si bungsu, mirip dengan ayahnya dengan kulit seputih salju, rambut sehitam kegelapan malam dan mata serupa bara api neraka.
"Kau harus berdansa denganku terlebih dulu, Aerinear!" Si bungsu protes saat aku menerima ajakan kakaknya.
"Tapi aku lahir duluan. Sudah sepantasnya aku berdansa dengan Aerinear terlebih dahulu sebelum siapa pun." sahut kakaknya sambil menggenggam erat tanganku seolah takut aku akan terbang jauh darinya.
Dengan kesal, Nordlijk kecil membiarkanku berdansa lebih dulu bersama kakaknya. "Baiklah... Tapi jika aku sudah dewasa nanti, kau harus menikah denganku, Aerinear. Berjanji lah."
Aku tertawa menanggapi. "Usiamu baru enam tahun, Pangeran. Kalau aku harus menunggumu dewasa, aku akan keburu tua."
"Kau tidak akan menua, Aerinear. Kau akan selalu muda dan hidup abadi seperti ayah kami." Zuidlijk menanggapi. "Tapi aku akan dewasa lebih dulu daripada Nordlijk. Jadi menikah lah denganku."
"Aku tidak akan menikahi seorang pangeran apalagi yang masih kecil seperti kalian. Aku hanya akan menikah dengan seorang Raja."
"Seorang Raja? Seperti ayah kami?" Tanya Nordlijk matanya berbinar-binar menanti jawaban.
"Benar. Seperti ayah kalian. Jika kalian bisa tumbuh dewasa dan menjadi Raja yang hebat seperti ayah kalian, aku mungkin akan mempertimbangkan lamaran itu." Aku tersenyum saat melihat dua kakak-adik itu merengut tampak tak percaya diri sambil menatap orang tua mereka yang sedang berdansa dari kejauhan. "Sekarang, ayo kita berdansa bersama-sama."
...****************...
Aku melepas sentuhan tanganku dari kening Lee Yeon-Hwa. Dia masih tampak takjub, pupil matanya melebar, mulutnya ternganga. Reaksi yang normal. Sesuai dengan yang kuharapkan.
"Apa-apaan tadi itu?" Tanyanya, masih belum sepenuhnya pulih dari pengaruh bakat unikku. "Kenapa aku melihat Putri Anastasia dan Raja Xavier sedang berdansa di aula Istana Utama?"
Mendengar itu, si pria buta Orient dan nenek tua Westeria tampak kebingungan. Si nenek tua itu kemudian menjelaskan sesuatu pada si pria buta dengan bahasa Westernia. Sesuatu yang tadi tidak dilihat oleh si pria buta.
Putri Anastasia. Beliau kah Ratu kami di kehidupan ini?
__ADS_1
Aku tahu soal Raja Xavier. Kami sudah melihat lukisan wajahnya di mansion yang kami tempati di Noord. Tapi kami belum tahu apa pun tentang Ratu kami. Siapa dia di kehidupan ini, di mana dia berada, dan hal-hal lainnya.
"Wanita yang kau lihat tadi... yang berambut merah. Kau mengenalnya?" Tanyaku pada Yeon-Hwa.
Dia mengangguk. "Aku tidak terlalu mengenalnya, tapi... bisa dibilang kami berteman. Dia adalah Putri Anastasia dari Schiereiland."
"Bisakah kau membawa kami menemuinya?" Tanya Shuu kemudian setelah sejak tadi hanya diam memperhatikan.
Yeon-Hwa tidak langsung menjawab. Dia melirik ke arah neneknya dan ayahnya. Mereka berdua menggeleng. Tapi Yeon-Hwa kembali menatap ke arah kami, dia sudah tahu siapa kami, aku sudah memberitahukan semuanya.
"Aku tidak bisa." Jawabnya di mulut. Kemudian, karena dia sudah tahu siapa kami dan apa yang bisa kami lakukan, dia menjawab dalam pikirannya yang kuduga telah didengar oleh Shuu.
Shuu menyampaikannya padaku lewat telepati kami, Dia akan membawa kita menemui Putri Anastasia tanpa sepengetahuan siapa pun. Dia akan membawa kita setelah memastikan persiapannya sempurna. Beri dia waktu beberapa hari untuk menyiapkan segalanya.
...****************...
Malam itu, kami diizinkan untuk menginap di rumah Tania Welsh, si nenek tua yang ramah yang sama sekali tidak mengerti apa pun yang kami katakan. Tidak jadi masalah. Senyum ramahnya sudah cukup membuat kami merasa nyaman di sekitarnya. Senyuman adalah bahasa internasional yang dapat dimengerti oleh siapa pun.
Kami kemudian tinggal di rumah Tania Welsh selama berhari-hari berikutnya sambil menunggu Yeon-Hwa menyiapkan kepergian kami ke Schiereiland. Selama tinggal di sana, kami membantu ayah Yeon-Hwa di kebun. Kekuatan kami ternyata cukup berguna untuk merawat kebun bunga milik Tania Welsh. Air dari Shuu membuat semua tanaman menjadi tumbuh subur, sementara anginku membantu penyebaran bibit. Jika saja kami bersama dengan saudari kami, Earithear, jika saja dia masih hidup, pasti dia bisa sangat membantu proses pemekaran bunga-bunga di kebun ini. Bunga-bunga itu nantinya akan dijual ke kota oleh Yeon-Hwa. Sambil menjual bunga-bunga itu, Yeon-Hwa akan menyiapkan dokumen-dokumen perizinan untuk pergi meninggalkan Westeria untuk kami bertiga beserta kendaraan yang akan kami tumpangi nantinya. Sementara itu, kami bertugas untuk menjadi dua cucu angkat baru Tania Welsh yang akan mengalihkan perhatian mereka dari tindak-tanduk mencurigakan Yeon-Hwa yang belakangan sering pergi ke kota.
Daniel Welsh, si pria buta yang merupakan ayah dari Yeon-Hwa yang—setelah berdebat cukup lama dengan Shuu—kami sepakati dia berasal dari suku Jung, membuatkan kami kudapan setiap malam. Kue Lotus! Betapa aku sangat merindukan kue khas Orient ini! Aku dapat melihat Shuu sependapat denganku tanpa perlu dia katakan. Dia melahap habis sepiring penuh kue Lotus.
Aerinear, Aquinier, kalian dapat mendengarku?
Aku buru-buru membuka mataku dan menoleh ke arah Shuu yang juga ternyata belum tidur. Mata Shuu membelalak. Dia mendengarnya juga. Dan itu bukan suara salah satu di antara kami. Suara itu sangat familier sekaligus asing bagi kami. Asing di kehidupan ini, namun familier di kehidupan kami yang lalu.
Kalian dapat mendengar kami? Suara lainnya ikut bertanya. Lagi-lagi, itu bukan suara kami. Tapi aku tahu suara siapa itu. Bahkan suara Raja kami pun ternyata tidak berubah. Suaranya mampu menggetarkan jiwa para naga seolah memanggil kami.
Nafasku tersendat karena hampir menangis. Aku merindukan suara mereka. Sudah lama sekali rasanya aku tidak mendengar suara mereka. Seribu tahun lamanya kami terpisah dan tak pernah dipertemukan bahkan meski kami berulang kali terlahir kembali. Aku berusaha menenangkan nafasku sebelum menjawab mereka.
Kami mendengar kalian, Baginda Raja dan Baginda Ratu. Jawabku.
Kami telah lama mencari kalian. Kata Shuu.
Kita berhasil, Xavier! Mereka mendengar suara kita! Ratu kami terdengar sangat senang. Rasa senangnya menular pada kami bahkan meski ribuan mil jauhnya kami terpisah. Aku dapat merasakan bibirku membentuk senyuman lebar menuruti dentuman debar jantung kami dan air mata kerinduan yang entah bagaimana mengalir di pipiku.
Kalian ada di mana sekarang? Apa kalian baik-baik saja? Raja kami bertanya.
Shuu yang menjawabnya, Kami baik-baik saja. Kami berada di Westeria saat ini. Kami bertemu dengan seorang gadis Orient yang berbaik hati menampung kami di rumahnya.
Kami ingin menemui kalian. Tambahku. Kami berencana akan pergi ke Schiereiland besok bersama gadis Orient itu. Dia bilang dia mengenal Anda, Baginda Ratu Agung.
__ADS_1
Anna saja. Kata Ratu kami.
Putri Anastasia Roselia Isabella de Gratina, kalau kalian berkenan. Tambah Raja kami.
Kenapa kau menyebutkan nama lengkapku! Anna saja. Xavier juga memanggilku begitu. Siapa nama kalian?
Aku Shuu. Huang Shui Jun, tapi Anda boleh memanggilku Shuu saja.
Aku Kaze. Jawabku dengan singkat.
Dan kami pun menghabiskan waktu semalaman untuk saling berkenalan dan mengobrol melepas rindu setelah seribu tahun tak dipertemukan.
...****************...
Sebelum fajar terbit di ufuk timur, sebelum siapa pun terbangun, Lee Yeon-Hwa, sesuai janjinya datang ke kamar kami. Inilah harinya. Hari dimana kami akan pergi ke Schiereiland setelah Yeon-Hwa berhasil menyiapkan semua persiapan untuk pergi meninggalkan Westeria. Karena aku dan Shuu tidak tidur semalaman, kami sudah siap saat dia datang. Kami akan menyelinap pergi ke Schiereiland untuk menemui Anna, Ratu kami di kehidupan ini.
Kami menaiki kereta kuda yang sudah menunggu kami di kaki bukit. Setelah sampai di gerbang perbatasan nanti, kami akan turun dari kereta kuda dan berjalan kaki menyusuri hutan liar wilayah perbatasan, lalu kembali menaiki kereta kuda setelah memasuki wilayah Schiereiland untuk perjalanan menuju Schere, ibu kota Schiereiland. Tapi aku dan Shuu memiliki cara lain yang lebih mudah dan cepat.
"Terbang? Bercanda kan?" Yeon-hwa tertawa saat kami berada di dalam kereta kuda yang tak henti berguncang karena jalanan yang tidak mulus. Aku bersyukur belum menyantap apa pun sebelum berangkat, jika tidak aku mungkin sudah muntah.
"Kami serius." Kata Shuu.
"Tidak. Kalian bercanda. Aku tidak akan bisa." Yeon-Hwa dengan keras kepala menyilangkan kedua lengannya di depan dada.
"Kau hanya perlu naik ke punggungku." Kataku. "Aku berjanji tidak akan membiarkanmu jatuh. Menunggangi Naga Angin adalah suatu kehormatan yang hanya dapat diperoleh sekali dalam seumur hidup. Bahkan jika kau bereinkarnasi untuk seribu kalinya, kau mungkin tidak akan pernah mendapatkan kembali kesempatan itu."
Aku tidak melebih-lebihkan. Bahkan kaisar-kaisar Orient terdahulu tidak pernah mendapat kehormatan itu. Dulu kami adalah Dewa-Dewi mereka, kemudian kami menjadi pelindung mereka, dan kini kami adalah senjata mereka, tapi kami bukan tunggangan mereka dan tidak akan pernah menjadi tunggangan siapa pun kecuali orang-orang yang kami kehendaki. Para Kaisar tak pernah bermimpi menaiki kami para Naga karena tahu bahwa kami bukan makhluk tunggangan.
"Aku mungkin saja jatuh dari atas langit dan mati sebelum salah satu di antara kalian sadar!" Protesnya. "Kita tidak akan terbang. Kita akan berjalan kaki bermil-mil jauhnya, mendirikan tenda saat kita lelah, lalu melanjutkan perjalanan dengan menaiki kereta kuda menuju Schere. Tidak ada perubahan rencana."
Aku melirik ke arah Shuu. Bagaimana?
Shuu menyeringai jail dan berkata,
Kita bawa saja dia. Pilihannya adalah kau membawanya terbang mengarungi langit atau dia bersamaku berenang di lautan dan sungai selama berjam-jam, yang kuyakini, tidak akan disukainya. Paling tidak, kita bawa dia saat dia terlelap nanti.
Jadi begitu kami turun dari kereta kuda setelah perjalanan seharian, setelah kami berada di luar gerbang La Gran Puerta, gerbang yang menjaga Westeria selama bertahun-tahun, kami menuruti rencana Yeon-Hwa untuk berjalan kaki melewati hutan. Saat hari sudah malam, aku berpura-pura kelelahan dan merengek meminta didirikan tenda seperti anak kecil yang sudah terlalu lama tinggal di Istana dan dimanjakan. Yeon-Hwa, dengan kesal, mendirikan tenda untuk kami bertiga.
Dan setelah kami memastikan Yeon-Hwa sudah cukup pulas karena kelelahan, aku dan Shuu merubah wujud kami menjadi Naga Angin dan Naga Air. Shuu lebih dahulu menyatu dengan air sungai. Aku menyusulnya dengan terbang di langit sambil membawa Yeon-Hwa yang terlelap pulas dengan bantuan obat tidur yang kami masukan ke minumannya. Aku membawanya terbang menuju Schere di tengah kegelapan malam.
...****************...
__ADS_1