Lotus Of East Palace

Lotus Of East Palace
Chapter 16 (Shuu)


__ADS_3

Aku terkepung.


Gyeoul tahu cara mengacaukanku. Dia mengumpulkan pasukannya untuk mengepungku lalu memerintahkan mereka untuk meneriakkan pikiran mereka, memikirkan banyak hal, agar aku kewalahan dalam melawan mereka. Agar aku kesulitan menemukan Kaze.


Hari hampir senja. Jika Kaze berhasil, dia pasti sudah ada di Xiang. Aku harus segera pergi dari sini dan menemukannya. Tapi aku tidak dapat menangkap isi pikirannya dengan banyaknya pikiran orang-orang di sekelilingku.


"Menyerah lah, Naga Air." Ucapnya dalam logat khas suku Han. Aku jadi teringat pada cara bicara Yeon-Hwa. Tapi Suara Gyeoul lebih berat dan lebih kasar karena dia seorang perokok.


"Kau ingin menangkap Naga Air di wilayah kekuasaannya sendiri? Di Desa Air? Tidakkah ambisimu terlalu berlebihan, Torakka?"


Gyeoul tertawa. "Kau tidak akan berani melawan. Aku sudah mengenalmu sejak kecil. Jadi lebih baik berhenti bermain kejar-kejaran dengan kami dan ikut kami ke Istana. Dengan begitu, takkan ada yang terluka."


Dia benar. Aku bisa saja menenggelamkan Gyeoul beserta pasukannya dengan mendatangkan banjir di Xiang. Dengan meluapkan sungai Yaozhi. Tapi dengan melakukan itu, aku juga akan membunuh ribuan nyawa tak bersalah di Xiang. Baik orang-orang suku Jung yang tinggal di Desa Air ini, maupun para turis dari berbagai daerah dan berbagai negara yang sedang mengunjungi Xiang. Air memang menyembuhkan, air adalah sahabat manusia, tapi air juga dapat membunuh jika aku berkehendak demikian.


Saat aku masih memikirkan cara untuk menghindari Gyeoul, tiba-tiba aku melihat matanya yang merah menjadi menyala terang seperti korneanya baru digantikan dengan matahari, namun tatapannya kosong. Hal itu hanya terjadi selama beberapa detik, kemudian matanya kembali merah normal. Gyeoul tampak menyeringai. Sesuatu yang buruk akan terjadi di masa yang akan datang.


"Yi-Zhuo berhasil menangkap saudari kembarmu. Mereka akan pergi ke Istana Matahari malam ini juga." Ramalnya. Suaranya yang berat membuat ramalan itu terdengar lebih mengerikan.


Gyeoul adalah cenayang. Ibunya sudah bekerja menjadi peramal di Istana Kaisar sejak masih muda. Keahliannya itu menurun pada Gyeoul dan adik-adiknya.


"Kaze tidak mungkin tertangkap. Dia pasti akan mendatangkan badai terlebih dahulu sebelum Yi-Zhuo bisa—“


"Dia gagal memanggil badainya. Yi-Zhuo mengancam akan membunuh Eri. Kau tahu sendiri Kaze dan Eri sudah seperti kakak-adik."


Mereka akan membawa Kaze pada Kaisar. Dan Yi-Zhuo tidak akan peduli apa pun yang Kaze lakukan, dia akan tetap membunuh Eri. Yi-Zhuo tidak normal. Dia sinting. Dia pasti akan menyiksa Kaze sepanjang perjalanan menuju Istana Matahari. Dia senang melihat orang lain terluka dan menderita. Kaze dalam bahaya.


Entah apa yang terjadi, tiba-tiba aku mendengar suara jeritan dari kejauhan. Awalnya kupikir itu hanya pengalih, salah satu isi pikiran yang kudengar. Ternyata itu suara jeritan-jeritan ketakutan seraya minta tolong dari para warga Xiang. Mereka memohon ampun di kuil-kuil dan di jalanan.


Ampuni kami wahai Naga Air.


Tolong jangan murka, Putra Lautan.


Ampuni kami! Ampuni kami! Ampuni kami!


Aku bahkan mendengar doa-doa mereka dari pikiran mereka. Doa-doa dari berbagai bahasa dan dari berbagai logat daerah. Doa-doa dari para warga Xiang serta doa-doa dari para turis. Butuh waktu beberapa saat bagiku untuk sadar pada apa yang terjadi. Alasan mereka semua menjerit ketakutan dan berdoa.


Air sungai Yaozhi mulai naik dan membanjiri Xiang. Xiang akan tenggelam dalam hitungan detik. Sepertinya mitos itu benar. Saat Naga Air yang biasanya tenang mulai diusik dan marah, sungai Yaozhi akan tumpah. Mendengar Kaze akan ditangkap dan Eri akan dibunuh, aku tidak dapat mengendalikan amarahku sendiri. Aku tidak bisa tetap tenang. Bahkan ketika sadar apa yang tengah terjadi, aku tetap tidak bisa mengendalikannya. Air membanjiri Xiang.


Gyeoul dan pasukannya mulai panik saat air banjir sudah naik sampai ke lutut mereka.


Aku merasakan tangan seseorang di bahuku, seseorang yang panas apinya tak pernah melukaiku, "Jangan lakukan itu. Hentikan. Kau akan membahayakan nyawa orang-orang tak bersalah." Katanya. Dia menggunakan bahasanya sendiri, bahasa Nordhalbinsel. Dan menggunakan suaranya sendiri. Suara yang pernah ku dengar seribu tahun yang lalu.


"Siapa kau?" Teriak Gyeoul pada orang yang tiba-tiba, dengan santainya, melangkah masuk ke dalam kepungan pasukannya di tengah kepanikan semua orang dan kelengahan pasukannya.

__ADS_1


Aku menoleh ke belakangku untuk melihatnya.


Riz.


Bukan. Dia bukan Riz. Aku tahu siapa dia.


"Baginda Raja..."


Rajaku tersenyum sambil meletakkan jarinya di bibir, isyarat untuk tidak membongkar samarannya di hadapan semua orang. Dia masih menggunakan wajah Arizona Navarro si orang Westeria. "Menurutmu mereka akan lebih takut melihat mata Amethyst milik klan Navarro atau Naga Api yang mengamuk?" tanyanya, pelan. Gyeoul dan yang lainnya pasti tak dapat mendengarnya.


"Saya rasa..." Aku memandang ke sekeliling kami—ke arah Gyeoul dan pasukannya. Saat Rajaku muncul dalam wajah Arizona Navarro, mereka semua gemetaran, terpaku menatap matanya yang serupa permata Amethyst. Mereka menatapnya dengan ngeri. Aku menangkap isi pikiran mereka semua yang menyebutnya sebagai Si Navarro Sinting. Si Pembantai. Si Penghancur. Dewa Kematian. Kurasa reputasi keluarga Navarro cukup terkenal di Orient karena terakhir kali Orient kalah dalam perang beberapa ratus tahun yang lalu adalah karena Westeria memutuskan untuk melepas Klan Navarro ke medan perang—yang mengakibatkan kematian ribuan orang dan kehancuran sebagian besar wilayah Westeria sendiri. Sejak saat itu Westeria menjaga negeri mereka tetap netral dan damai agar orang-orang Klan Navarro tidak perlu menggunakan kemampuan mereka yang mengerikan. Orang-orang dari Klan Navarro memang mengerikan, tapi mereka tetap hanya manusia. Aku tidak bisa membayangkan jika mereka melihat langsung Naga Api Agung. Mereka mungkin akan pingsan. "Mata Amethyst saja." jawabku. "Mari jangan membuat kehebohan untuk sementara waktu."


Dia tertawa. "Kau sudah cukup tenang rupanya. Syukurlah aku tidak datang terlambat."


Aku mengerti maksudnya. Air sungai Yaozhi sudah berhenti meluap. Kini banjir perlahan mulai surut. Rupanya dia tadi mengalihkan pikiranku agar emosiku tidak menguasaiku dan membuatku kesulitan mengendalikan kekuatanku sendiri. Hal seperti ini bisa saja terjadi pada kami para Naga. Dan saat emosi kami sedang tidak stabil, melihat akibat dari kekuatan kami, hanya akan membuat kami semakin panik. Tapi Rajaku tahu akan hal itu, dan berhasil mengalihkanku.


"Jangan khawatirkan Kaze. Dia akan baik-baik saja." Katanya. Aku menoleh padanya, membaca pikirannya. Kaze akan aman karena Ratu kami akan menyelamatkannya.


"Kau bukan Navarro sungguhan!" Seru Gyeoul. Entah dari mana dia tahu, tapi dia cenayang, jadi aku tidak akan heran. Dia kemudian meneriakkan perintah ke arah pasukannya. "Jangan takut! Dia palsu. Angkat pedang kalian!"


Rajaku kemudian menghunuskan dua bilah pedang yang baru kusadari dibawanya sejak tadi. Pedang yang satu dijalari oleh api. Yang satunya lagi tampak sangat aneh. "Kau bisa menggunakan pedang?"


Aku mengangguk singkat, "Kami diajari di Istana."


"Anda membuat pedang lagi rupanya, Baginda Raja. Saya pikir Anda hanya bisa mengambil satu sisik saja."


Dia tersenyum sambil memandangi pedang yang sedang kupegang ini. Pedang ini terbuat dari sisik Naga Api Agung dan dihiasi permata ruby berbentuk bunga mawar di bagian pegangannya. "Istriku tercinta memintanya, tentu saja aku dengan senang hati memberikannya sebagai hadiah pernikahan. Sebenarnya, itu karena aku sebelumnya tanpa sengaja mematahkan pedang Anna. Ceritanya panjang. Sekarang kita hadapi masalah ini dulu."


Pedang ini memudahkan segalanya. Bobotnya yang ringan tidak membuatku kesulitan menggunakannya sama sekali. Namun bukan itu intinya. Pedang yang terbuat dari sisik Naga Api Agung dapat membelah dan menembus apa pun. Aku mengayunkan pedang dengan bebas melawan seluruh pasukan yang dibawa oleh Gyeoul. Sementara Rajaku melawan Gyeoul.


Aku biasanya benci pertarungan dan pertumpahan darah. Tapi ini perlu dilakukan. Kami sedang membela diri. Daripada menggunakan kekuatan Naga yang mana bisa saja membuat para warga tak berdosa turut terkena imbasnya, bertarung dengan pedang jauh lebih adil. Jika mereka tidak melawan, maka aku juga tidak akan balas menyerang. Aku hanya menyerang orang-orang yang melawanku.


Ini bukan kali pertama aku membunuh. Sebelum masuk ke Istana Air, aku sudah pernah membunuh orang. Aku membunuh para pemberontak yang jumlahnya puluhan. Mereka adalah rakyat negeri bekas jajahan Orient yang bersatu untuk melawan Kaisar. Kaisar menggunakanku sebagai hukuman mati untuk para pemberontak itu saat usiaku belum genap sepuluh tahun. Aku masih ingat dengan jelas wajah mereka saat mereka kutenggelamkan. Aku ingat isi pikiran mereka yang menyakitkan. Kupikir itu akan menjadi mimpi burukku selamanya. Kupikir itu akan merusak jiwaku. Nyatanya tidak. Aku masih dapat tidur dengan nyenyak dan menikmati kemewahan serta keuntungan yang kudapat sebagai Naga Air selama bertahun-tahun selanjutnya tanpa sedikit pun merasa bersalah. Dan hal itu membuatku takut pada diriku sendiri. Sampai sejauh mana aku bisa mengabaikan itu semua?


Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa kali ini berbeda. Aku hanya akan membunuh mereka yang memiliki pikiran untuk membunuhku dan Rajaku. Aku hanya akan melukai mereka yang memiliki pikiran untuk melukaiku dan Rajaku. Aku hanya akan melawan mereka yang melawan kami.


Tak butuh waktu lama, kami berhasil menumbangkan mereka yang berani melawan dan membuat sebagian lainnya lari ketakutan. Alasannya bukan hanya karena mereka melawan Naga Air, melainkan karena pedang yang digunakan Rajaku dijalari api abadi. Mereka menyimpan kecurigaan bahwa yang mereka lawan mungkin memang bukan Navarro, melainkan sesuatu yang lain, yang jauh lebih mengerikan. Dan kecurigaan mereka benar, andaikan saja aku bisa memberitahu mereka.


Gyeoul sudah kehabisan tenaga. Separuh bagian wajahnya terbakar api, kulitnya yang putih sempurna tampak melepuh. Aku memperhatikan luka tusuk di dadanya yang mengeluarkan banyak darah. Tidak tepat di jantungnya. Luka itu tidak membunuhnya.


Aku mendongak ke arah Rajaku yang masih menatap Gyeoul dengan geram. Dia tidak mungkin meleset seperti itu. Ilmu berpedang yang saat ini dipelajari oleh manusia adalah ciptaan Naga Api Agung. Dia sengaja. Dia tidak berniat membunuh Gyeoul.


"Kenapa Anda tidak membunuhnya?"

__ADS_1


Rajaku menggeleng. "Dia akan menyampaikan pesan pada Kaisar. Aku dan Anna sudah sepakat untuk tidak membunuh para Torakka." Rajaku kemudian menoleh padaku yang masih bingung. "Jangan khawatir. Mereka tidak akan meneror kita lagi."


Tapi Gyeoul tertawa mendengarnya. Dia tertawa begitu keras seperti orang yang sudah kehilangan akalnya akibat kekalahannya. Awalnya kupikir begitu, tapi setelah kuperhatikan lagi, matanya kembali menyala terang. Dia melihat sesuatu di masa depan. Dia menyeringai keji menatap Rajaku.


"Seharusnya aku tahu... Kau Raja para naga." Dia tertawa semakin keras. "Tapi bagaimana ini? Sayang sekali, Naga Api Agung. Kali ini hidupmu akan sangat singkat. Kau akan mati di tangan seorang—“


"Penyihir. Aku tahu." Rajaku memotong ramalan Gyeoul. Nada bicaranya terdengar bosan. "Aku sudah pernah mendengar ramalan itu. Tak usah mengkhawatirkanku. Lebih baik kau mengkhawatirkan dirimu sendiri, cenayang."


Rajaku beranjak hendak pergi meninggalkan Gyeoul yang masih berdarah-darah di tanah dengan wajah separuh terbakar. Aku hendak mengikutinya. Tapi kata-kata Gyeoul menghentikan langkah kami.


"Oh, kau memang sudah sekarat kan?" Tawanya. "Kau akan segera mati! Kapan tepatnya? Malam ini? Besok?"


Dengan gerakan yang sangat cepat, Rajaku berbalik dan menghunuskan pedang berapi miliknya ke arah Gyeoul. Jarak lidah api itu hanya beberapa senti dari mata Gyeoul. Tapi Gyeoul tak tampak takut sama sekali. Matanya masih menyala merah.


"Tutup mulutmu!" Rajaku tampak sangat marah. Mata Amethyst milik Klan Navarro tergantikan dengan mata aslinya yang sewarna api. Apinya muncul di sekitar kami, membakar mereka yang sudah mati dalam pertempuran. Mengejar mereka yang masih hidup. Tapi Gyeoul tidak tampak takut sedikit pun.


"Baginda Raja... Apinya..." Aku memperingatkan.


Rajaku memejamkan mata dan mengatur nafas. Saat dia kembali membuka matanya, apinya sudah hilang. Mata Amethyst itu kembali.


"Apa Ratumu sudah tahu?" Gyeoul tampak semakin girang saat tahu dia berhasil memprovokasi Raja para Naga. Aku melihat cengkeraman tangan Rajaku pada pedangnya semakin kencang. Untuk sesaat sepertinya aku melihat urat nadi di tangan Rajaku itu berwarna hitam kelam. "Dia belum tahu?" Gyeoul tergelak.


"Apa yang dia bicarakan, Baginda? Apa maksudnya?" Tanyaku. Aku berusaha membaca pikirannya untuk menemukan jawaban, tapi tidak kutemukan cara untuk menembus pikirannya. Pikirannya tertutup rapat.


Gyeoul melirik ke arahku sebentar, lalu kembali beralih pada Rajaku. "Jadi tidak ada yang tahu?" Tawanya membahana, membuatku merinding.


Melihat Rajaku menahan amarahnya dengan susah payah, aku cukup yakin sebentar lagi dia akan meledakkan Gyeoul. Tapi itu tidak terjadi. Dia hanya diam cukup lama, kemudian menurunkan pedangnya. Dia berbalik, kembali menghadapku yang masih menunggu penjelasan.


"Jangan dengarkan dia. Ayo kita pergi."


Aku mengangguk, menurutinya. Tapi belum jauh langkah kami, Gyeoul kembali mengatakan ramalan lainnya, "Kau sebaiknya menjaga baik-baik Ratumu dan putri mungilmu, Naga Api Agung. Salah satunya atau keduanya akan mati jika kau gagal."


Perkataan itu berhasil membuatnya berhenti. "Siapa yang kau maksud?" Tanyanya. Kali ini, alih-alih marah, dia tampak bingung.


"Kau mengabaikan peringatan dari Sang Langit. Kau pikir Sang Langit sudah merestui kalian hanya karena bintang jatuh? Seyakin itukah dirimu? Kau tahu kau seharusnya menjauhinya. Sekarang semuanya sudah terlambat."


"Jelaskan maksud perkataanmu!"


Gyeoul tersenyum saat tahu dia akhirnya meramalkan hal yang belum diketahui oleh Rajaku.


"Belum... Oh, belum saatnya. Tapi mungkin sebentar lagi akan ada tanda-tandanya. Tidak seru kalau kuberi tahu sekarang. Kau akan segera tahu. Dia, atau mereka, akan mati jika kau gagal."


Dan itu menjadi ramalan terakhir yang keluar dari mulutnya. Gyeoul habis terbakar dalam satu kejapan mata.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2