Lotus Of East Palace

Lotus Of East Palace
Epilog : The Queen


__ADS_3

Kurasa sudah lebih dari tiga bulan sejak aku tiba di Nordhalbinsel. Kerajaan lain pasti sudah mulai memasuki musim panas. Tapi di negeri ini, salju turun tanpa henti. Angin dingin membekukan yang bisa membunuh siapa pun yang tak cukup kuat menghadapinya. Di negeri ini, danau menjadi es, bunga tak bisa tumbuh dan tanah tertutup salju abadi. Negeri yang dingin, penuh sihir dan tipuan, kejam dan tanpa ampun bagi mereka yang berhati lemah. Tapi saat bersamanya, bahkan udara dingin pun tak berani menyentuhku. Saat bersamanya, seperti saat ini, aku tak lagi berada di tanah bersalju di tengah taman Tulip kristal. Aku berada di tempat yang tepat, hangat dan nyaman dalam pelukannya.


"Apa kau tahu?" Tanyaku di sela ciuman kami.


"Hm?"


"Aku..."


Untuk sesaat aku tak meneruskan kata-kataku karena begitu terlarut dalam kebersamaan kami. Dalam ciuman ini. Dalam momen ini. Sungguh ajaib bagaimana kami dapat bertemu lagi di kehidupan ini. Setiap kali mata kami saling menatap, setiap kali kulit kami saling bersentuhan, setiap kali bibir kami saling mendamba, aku tak dapat memikirkan apa pun selain betapa ajaibnya semua ini.


Bukankah semesta sengaja mempertemukan kami? Melalui skenario-skenario rahasia yang telah diatur dengan sangat cermat oleh Yang Maha Kuasa, melalui cobaan-cobaan yang kuhadapi dalam hidupku, melalui kematian-kematian yang terjadi di sekitarku, yang membuatku harus mengambil pilihan-pilihan yang sulit dan meninggalkan kerajaanku, yang pada akhirnya memberiku jalan kembali padanya. Kalau begitu, tidakkah ini namanya takdir? Kalau begitu, bukankah kami memang ditakdirkan untuk bersama?


Bahkan jika tidak, aku hanya ingin bersamanya. Wahai Dewi, tolong izinkan aku bersamanya lebih lama lagi.


Xavier menghentikan ciuman kami, memintaku melanjutkan kata-kataku. Aku ingin menariknya lagi untuk melanjutkan ciuman kami, tapi aku harus mengatakannya terlebih dahulu.


"Aku benar-benar sangat mencintaimu sampai rasanya aku tak pernah bisa cukup membuktikannya padamu agar kau tahu."


"Aku tahu." Katanya, kemudian mengecup keningku. "Aku sudah tahu, sayang. Kau tak perlu membuktikan apa pun padaku. Aku sudah tahu kau mencintaiku. Kalau tidak mawar-mawar ini tidak akan tumbuh begitu saja."


Mawar?


Lihat sekeliling kita. Katanya.


Jadi aku melihat ke sekeliling kami. Seingatku kami tadi sedang berjalan-jalan di taman Tulip kristal—bukan taman Tulip kristal yang ada di Istana Utama, aku tak benar-benar tahu ada di mana ini. Jadi kenapa sekarang ada banyak pohon bunga mawar di sepanjang jalan setapak yang kami lalui?


Bunga-bunga mawar itu bermekaran, menerobos salju dan es yang sudah ada sejak berabad-abad tahun yang lalu. Tanah mati yang ada di negeri ini tiba-tiba saja menumbuhkan pohon-pohon mawar yang subur. Ini bukan sihir. Hal yang sama yang pernah terjadi pada taman Dong-gung di malam pernikahan kami.


"Astaga... aku tak sengaja." Aku berusaha menghentikan pertumbuhan mawar-mawar itu. Tapi aku panik, jadi semakin banyak mawar yang tumbuh bermekaran di sepanjang jalan.


"Tidak apa-apa."


"Tidak apa-apa bagaimana? Ini taman milik siapa? Apa pemiliknya akan marah?"


"Mustahil. Dia justru akan berterima kasih. Kau membuat tanah mati di tamannya menjadi subur dan dipenuhi bunga mawar."


"Jadi kau mau memberitahuku di mana kita sekarang?"


"Kediaman Grand Duke Winterthur." Jawab Xavier. Padahal sejak tadi dia tak mau memberitahuku. Dia hanya mengatakan kami akan berjalan-jalan sore dan menemui seorang teman dekat. Dia bahkan memesankan gaun khusus yang sangat indah untukku hanya untuk jalan-jalan sore ini.


Jadi rupanya dia ingin kami bertemu dengan Leon. Karena kini Leon adalah Grand Duke Winterthur, dia kini tinggal di sini. Bersama ibunya. Bersama ibu mereka.


"Aku akan meninggalkan kalian. Mengobrol lah sepuasnya dengannya, kalian sudah lama tidak bertemu." Katanya sambil membelai lembut rambutku yang kini sudah mulai panjang. Dia pasti tak tahu bahwa tindakannya itu membuat jantungku berdebar kencang.


"Tunggu... Kau mau ke mana?"


"Aku harus menyambut kedatangan delegasi dari Orient untuk pakta perdamaian."


Aku sudah diberitahu bahwa Orient akhirnya menyatakan akan menandatangani perjanjian perdamaian dengan kami usai mengetahui bahwa Ratu Eleanor—yang diduga membunuh Pangeran Yi, beserta seluruh keluarganya telah dijatuhi hukuman mati. Aku tahu sebenarnya Eleanor dan seluruh keluarganya hanya diasingkan ke wilayah perbatasan utara. Aku tahu betapa sulitnya ini bagi Xavier karena keluarga Winterthur sudah banyak membantunya selama ini. Tapi sebagai Raja dia harus melakukannya untuk melindungi rakyatnya.


"Aku tak perlu ikut?" tanyaku.


"Tidak apa-apa, ini hanya penyambutan kedatangan delegasi. Kaisar dan Maharaninya yang baru belum datang. Lagi pula penandatanganannya baru akan dilakukan setelah peresmian pernikahan kita minggu depan. Saat penandatanganan itulah aku membutuhkanmu untuk ada di sisiku."


"Xavier..." Aku menggenggam tangannya sebelum dia benar-benar berbalik dan pergi.


"Anna, sayang, sampai kapan kau mau menundanya? Kau sudah berada di sini selama berbulan-bulan tapi belum juga bertemu dengannya. Kedepannya kita akan sering bertemu dengannya karena sekarang dia adalah Grand Duke Winterthur. Kau harus bicara dengannya."


"Bukan begitu..." Lalu aku mengecup bibirnya. Xavier tampak terkejut, kehilangan kata-kata. "Sekarang kau boleh pergi. Tapi kembali lah ke sini sebelum jam makan malam. Aku mau kita makan malam di sini bersama Leon dan ibu mertuaku."


...****************...


Aku melihatnya dari kejauhan. Dia ada di taman ini, duduk di gazebo sambil minum teh. Leon masih tetap tampak sama seperti terakhir kali aku melihatnya. Hanya pakaiannya yang berbeda. Dia kini mengenakan pakaian bangsawan. Oh, ada lagi. Rambutnya kini agak panjang. Dia juga sepertinya belum bercukur. Kulitnya sepertinya lebih pucat seperti orang-orang utara. Mungkin karena dia sudah terlalu lama berada di Negeri Es ini.


Leon tidak melihatku. Dia sepertinya sedang menatap seseorang dari kejauhan—bukan aku. Dia melambai pada orang itu dan tersenyum cerah. Sudah lama aku tak melihat dia terlihat sebahagia itu. Siapa pun yang dia temui di taman ini, orang itu pasti sangat dekat dengannya.


Aku melihat ke arah pandang Leon. Itu seorang wanita muda. Dia mungkin seusia denganku, tapi lebih tinggi. Dari kulitnya yang seputih salju, aku cukup yakin dia orang utara. Rambutnya yang hitam tampak berkilau di bawah pantulan cahaya matahari. Saat gadis itu berhenti berjalan, Leon berlari menghampirinya dan menggandeng tangannya untuk duduk bersama di gazebo. Mereka kemudian tampak bercakap-cakap sambil minum teh. Jarakku terlalu jauh dengan mereka sehingga aku tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi Leon tampak sangat senang. Dia bahkan tak berhenti tersenyum dan tertawa.


Wanita muda itu sepertinya lebih dulu menyadari keberadaanku dibanding Leon, karena dia tampak mengedikkan kepalanya ke arahku. Leon kemudian menoleh dan tatapan kami pun bertemu. Dia tampak terkejut saat melihatku.


Leon kembali beralih pada wanita muda itu, dia mengatakan sesuatu, kemudian berdiri. Dia menunduk dengan sopan dan mengecup punggung tangan gadis itu. Dia kini benar-benar terlihat seperti bangsawan utara terlebih dengan sikap sopan seperti itu. Tapi wanita muda itu kemudian memeluknya dengan erat, menepuk-nepuk punggungnya dan membisikkan sesuatu padanya. Wanita muda itu sepertinya menyuruh Leon untuk segera menemuiku karena detik berikutnya Leon sudah berjalan ke arahku.


"Senang bertemu denganmu, Baginda Ratu." Katanya sambil membungkuk padaku.


Aku kehilangan kata-kata. Tiba-tiba saja aku tak tahu harus mengatakan apa. Padahal sejak hari dia meninggalkanku di hutan itu, sejak dia memilih untuk pergi ke Nordhalbinsel meski aku sudah melarangnya dan memohon padanya untuk tidak meninggalkanku, aku sudah menyimpan banyak sekali hal untuk dikatakan. Awalnya aku masih sangat marah padanya, aku bahkan sudah mengumpulkan kata-kata makian untuk memarahinya jika dia kembali nanti. Tapi kian lama, amarahku berubah menjadi rasa rindu. Aku akhirnya menyimpan kata-kata kerinduan itu untuk dikatakan kepadanya jika dia kembali nanti. Tapi kemudian Xavier memberitahuku bahwa Leon terjebak dalam ruang sihir. Dan aku kehilangan harapan. Kupikir dia takkan pernah kembali. Aku sudah mengikhlaskannya dan menerima kenyataan bahwa dia mungkin tak bisa kembali. Bahkan meski Xavier terus meyakinkanku bahwa Leon akan kembali dengan selamat, bahwa dia akan berusaha mencari cara untuk membawa Leon kembali. Aku bukannya tak percaya, hanya saja aku tak mau berharap. Sampai akhirnya aku jadi takut untuk melihatnya terbaring dengan mata terpejam dan tak bergerak seperti nyawanya tak ada di sana. Aku tak sanggup melihatnya seperti itu jadi aku tak pernah menjenguknya.


Sebelum menjadi cinta pertamaku, Leon adalah sosok kakak bagiku. Pelindungku. Sahabatku. Orang yang kupercayai. Dan kini dia kembali menjadi semua itu.


Aku merindukanmu.


Apa saja yang terjadi padamu selama ini?


Bagaimana kabarmu?


Apa kau baik-baik saja?


Kenapa kau pergi waktu itu?


Aku ingin mengatakan semua itu padanya, tapi pada akhirnya aku tak mengatakannya. "Aku belum menjadi Ratu, Leon."


"Masa? Menurutku sudah. Xavier sudah mengatakannya kepada semua bangsawan bahwa kami harus memperlakukanmu dengan penuh hormat karena kau adalah Ratu kami. Baginda Raja sudah menitahkan, jadi itu sudah resmi." Katanya. Dia tersenyum, "Bagaimana kabarmu?"


"Aku sangat baik." Jawabku.


Arah pandang Leon kemudian tertuju pada perutku yang kini mustahil untuk tak terlihat. Secara otomatis aku meletakkan tanganku di atas perutku. "Sudah berapa bulan?" Tanya Leon.


"Lima bulan. Hampir enam."


"Wah... Jadi aku akan segera punya keponakan?"


"Benar, Paman Leon."


Leon tertawa.


Aku senang dia masih bisa bersikap seperti biasa seolah kami tak pernah terpisah lama. Tak canggung sama sekali. Dan meski aku tahu aku harusnya menanyakan kabarnya juga, tapi saat melihat tawanya lagi, tanpa sadar aku malah menanyakan hal yang sudah lama ingin kutanyakan. "Apa kau bahagia di sini?"


Leon tampak tak siap dan terkejut dengan pertanyaan itu. Tapi kemudian dia tersenyum. "Ya." Jawabnya. "Ya. Aku bahagia di sini. Aku memiliki keluarga di sini. Dan kau juga ada di sini. Aku juga bahagia melihatmu baik-baik saja dan tampak bahagia. Kupikir karena kematian Ratu Isabella kau akan..."


Leon tidak melanjutkan kata-katanya. Dia tahu tentang kematian ibu. Xavier mungkin sudah menceritakan semuanya padanya. "Terpuruk? Sedih? Putus asa?" Leon mengangguk. "Memang benar, aku sempat merasakan semua itu. Tapi Xavier membantuku melewati masa-masa itu."


"Aku turut berduka cita. Mendiang Ratu Isabella selalu baik padaku dan menyayangiku dengan tulus sejak aku kecil. Aku benar-benar turut sedih saat mengetahui kabar kematiannya."


Aku menahan air mataku. Setiap kali mengingat ibuku, rasanya aku ingin menangis. Tapi ini bukan saat yang tepat. "Terima kasih, Leon. Kau selalu menjadi putra kesayangan Ibu. Jadi kapan-kapan, jika kau sedang tidak sibuk, berkunjung lah ke makamnya di Schiereiland."

__ADS_1


"Pasti. Aku memang sudah merencanakan perjalanan ke sana. Bersama—“


"Leon!" Kata-kata Leon terpotong saat suara seorang wanita terdengar dari kejauhan memanggil namanya. Itu wanita muda berambut hitam yang tadi duduk di gazebo bersamanya. Dia berjalan cepat ke arah kami sambil berteriak. "Kenapa lama sekali sih! Tehnya nanti jadi dingin. Kau tahu sendiri udara di sini selalu dingin. Sudah kubilang kita lebih baik minum teh di dalam ruangan saja. Teh hangat yang baru disiapkan para pelayan bisa langsung berubah menjadi teh beku."


"Hahh..." Leon menghela nafas panjang. "Dia cerewet sekali. Tolong maklum, dia memang seperti itu." Katanya padaku, kemudian menoleh ke belakang ke arah wanita muda itu. "Kenapa kau menyusulku ke sini? Kenapa juga tidak memakai mantelmu? Kau sendiri yang bilang di sini dingin kenapa malah melepas mantel. Lagi pula aku kan sudah bilang untuk tunggu di sana saja."


Dengan cepat wanita muda itu sampai di tempat kami. Dia memukul punggung Leon sampai Leon hampir jatuh ke depan. Tidak ada orang yang bisa melakukan hal itu pada Leon. Tidak ada yang pernah seberani atau sekuat itu. "Dasar jahat! Bisa-bisanya kau membiarkan seorang wanita yang sedang mengandung berdiri lama di tengah salju seperti ini! Aku tak pernah mengajarkanmu seperti itu."


"Mohon diingat, kau tak pernah mengajariku apa pun." Sahut Leon. Dia mungkin melihat ekspresiku yang menatap mereka dengan bingung. Aku memang bingung. Karena Leon biasanya tidak bicara santai seperti itu dengan wanita mana pun selain aku. Terlebih lagi wanita muda yang ada di hadapanku ini sepertinya seorang bangsawan tinggi jika dilihat dari gaunnya dan berbagai perhiasan yang dia kenakan. "Baginda Ratu, perkenalkan, wanita ini adalah—“


"Irene." Wanita itu mengulurkan tangannya padaku. Aku segera menjabat tangannya. Tangannya hangat, namun kasar, penuh luka dan kapalan. Aku salah. Dia bukan sekedar bangsawan. Tangan ini bukan tangan Lady yang tak pernah melakukan apa pun selain berpesta dan minum teh. Tangan ini adalah tangan seorang prajurit yang sering berlatih pedang dan ikut serta dalam pertempuran.


Wanita itu tersenyum padaku. Entah kenapa senyumnya tampak familier. Bukan hanya senyumnya, wajahnya tampak familier. Padahal wajah secantik itu tak bisa ditemukan di mana pun, terlebih lagi mata emerald itu...


Mata emerald. Rambut hitam. Kulit putih salju. Tangan seorang prajurit. Namanya Irene.


Astaga!


Aku buru-buru membungkuk di hadapannya. "Senang berkenalan dengan Anda. Nama saya Anastasia. Saya—“


"Menantuku." Dia melanjutkan kalimat perkenalanku sambil tersenyum lebih lebar. "Selama ini aku hanya mendengar tentangmu dari Xavier dan Leon. Kau cantik sekali! Leon, lihat lah, menantuku cantik sekali, bukan?"


"Iya, aku sudah lihat. Aku kan sudah bilang kalau kami saling mengenal sejak kecil." Kata Leon. "Dia memang cantik."


"Xavier beruntung sekali!" Seru Irene. Dia seperti remaja yang kegirangan setelah bertemu idolanya. "Aku beruntung sekali!"


Aku melirik ke arah Leon yang tampak geli memperhatikan tingkah Ibunya yang terlihat bersemangat itu. Aku tak tahu Ibu mertuaku akan tampak semuda ini. Terjebak dalam sihir Selena selama dua puluh tiga tahun ternyata membuat Irene tidak menua. Sekarang setelah mereka berdiri berdampingan aku jadi tahu kenapa aku merasa wajah Irene tampak familier. Aku bahkan sudah menyadarinya sejak melihat lukisannya di Trivone. Selain mata emeraldnya, Irene sangat mirip dengan Leon. Cara mereka tersenyum juga sama. Leon bisa dibilang adalah versi pria dari Irene dengan mata Hazel, tiga puluh senti lebih tinggi dan badan berotot.


"Apa Xavier sering datang ke sini?" Tanyaku.


"Tidak sering. Dia sibuk sekali jadi hanya datang kalau sempat." Jawab Irene. "Maaf, tapi... Boleh aku memelukmu?" Tanyanya dengan mata yang berbinar-binar.


Aku mengangguk, tak sanggup menolak permintaan dari ibu mertuaku itu.


Irene memelukku dengan erat dan menepuk-nepuk punggungku dengan lembut. Aku merasakan kasih sayang seorang ibu terpancar darinya. "Kau sudah melewati banyak hal. Kau hebat. Aku bangga sekali padamu. Terima kasih telah menjadi pendamping hidup untuk putraku. Aku mungkin tidak bisa menjadi Ibu yang baik untuknya, aku meninggalkannya sejak lahir. Tapi kuharap kau bersedia mendampinginya selalu selamanya. Dan... Aku turut berduka cita atas kematian kedua orang tuamu. Aku mengenal mereka. Mereka orang-orang yang baik, jadi mereka pasti meninggal dengan tenang. Dan meski aku tahu ini permintaan yang tidak tahu malu, Aku tahu ini sulit untukmu, tapi tolong maafkan dosa suamiku agar dia juga bisa tenang di alam sana."


Aku tahu seharusnya aku tak begini, tapi aku tak bisa menahannya, air mataku jatuh dengan sendirinya. Dan Irene memelukku lebih erat.


...****************...


Pada akhirnya kami makan malam berempat di Kediaman Grand Duke Winterthur—Aku, Xavier, Leon dan Irene. Irene sangat ramah padaku sampai-sampai rasanya aku baru saja mendapat teman baru, bukan ibu mertua. Dia bahkan memintaku untuk memanggilnya dengan namanya saja karena kami tampak seusia. Tentu saja aku menolak dengan sopan karena biar semuda apa pun dia terlihat, dia tetap Ibu mertuaku. Leon tidak ragu memanggilnya dengan sebutan Irene saja—terkadang Jenderal Irene atau Senior Irene, sedangkan Xavier memanggilnya Ibu.


Irene kemudian memintaku menceritakan bagaimana aku dan Xavier bisa saling mengenal. Aku sendiri tak tahu harus mulai dari mana menceritakannya.


Haruskah kita menceritakan semuanya dari awal? Xavier bertanya padaku.


Tidakkah itu akan membuatnya bingung? Aku balik bertanya.


Karena melihat aku dan Xavier masih bungkam, dan Irene tampak tak sabar menanti, Leon yang memulai, "Semuanya bermula seribu tahun yang lalu..."


"Seribu tahun yang lalu? Kenapa bisa selama itu? Adakah versi singkatnya?" Tanya Irene. Dia kemudian melirik ke arahku dan Xavier. Dan akhirnya kami pun melanjutkan cerita itu sesingkat mungkin hingga selesai dengan beberapa kali diselingi oleh komentar-komentar Irene.


Aku sudah lama tidak merasakan makan malam bersama keluarga dan mengobrol seperti ini sejak penyerangan terhadap Schiereiland, jadi makan malam ini mengobati kerinduanku. Dan itu membuatku jadi teringat pada adikku. Saat ini Alexis mungkin sedang makan sendirian di Istana. Atau mungkin dia melewatkan makan malam karena terlalu sibuk. Jadi malam itu setelah kami kembali ke Istana Utama, aku mengatakan pada Xavier bahwa aku ingin menemui adikku dalam waktu dekat.


"Baiklah, aku akan mengosongkan jadwal untuk besok jadi kita bisa berangkat bersama." Katanya saat kami sudah berada di kamar kami.


"Bukankah besok kau ada acara makan siang bersama delegasi Orient serta peninjauan menara sihir?"


"Itu penting."


"Kalau begitu bagaimana dengan lusa?"


"Kau tidak harus menemaniku. Aku bisa pergi sendiri."


"Jangan pergi sendiri. Terlalu berbahaya. Pergilah dengan Leon kalau kau memang ingin segera menemui adikmu. Aku akan bicara dengan Leon besok pagi-pagi sekali agar dia bisa mengatur ulang jadwalnya." Katanya. Aku pun mengangguk setuju. "Sekarang, berbaring lah di sini." Xavier menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya di ranjang kami.


"Aku belum mengantuk." Sebenarnya masih ada buku yang harus kubaca dan kupelajari sebagai persiapan untuk mengambil alih tugas-tugas Ratu.


"Kau pasti lelah." Katanya sambil membantuku berbaring.


"Aku hampir tak melakukan apa pun seharian ini selain membaca buku, makan dan bersantai. Aku seharusnya mengerjakan sesuatu. Kau seharusnya mulai memberiku tugas-tugas internal Istana yang bisa kukerjakan." Meski aku berkata begitu, sebenarnya dia benar. Aku memang lelah. Entah kenapa aku memang merasa mudah lelah meski tak melakukan apa pun. Padahal dulu aku bisa berkuda dan berlatih pedang berjam-jam tapi tak merasa selelah ini.


"Aku memang berencana memberimu beberapa tugas, tapi bukan dalam waktu dekat. Aku sedang mempersiapkan semuanya, jadi kau juga lebih baik bersiap-siap. Setelah ini kau mungkin akan sangat sibuk. Tapi untuk sekarang... Aku ingin memijat kakimu." Katanya. Lalu dia mulai memijat kakiku. Dia sepertinya tahu apa yang dia lakukan, entah mempelajarinya dari mana. Aku baru menyadari betapa aku sangat membutuhkan pijatan kaki.


"Kau sepertinya sangat ahli." Kataku sambil memperhatikannya yang tampak sangat serius seolah memijat kakiku adalah tugas utamanya sebagai Raja. Aku tak bisa menahan senyuman saat melihatnya seperti itu. Bagaimana bisa pria sempurna yang baik dan perhatian serta penyayang ini menjadi suamiku? Kebaikan apa yang pernah kulakukan sehingga dapat seberuntung ini?


"Apa kau tahu? Tidak sembarang orang bisa memijat dengan benar. Karena kalau menekan titik yang salah, bisa berakibat buruk pada janin atau malah memicu kontraksi. Tapi kau tak perlu khawatir. Aku bisa dibilang sangat ahli."


"Apa ini masuk ke dalam kurikulum pelajaran Putra Mahkota dulu?" Candaku.


Xavier tertawa. "Haruskah kita memasukkannya ke dalam pelajaran wajib pewaris takhta untuk kedepannya?"


"Pelajaran memijat kaki pasanganmu yang sedang hamil. Ide yang bagus!" Kataku. Dia kembali tertawa. Aku suka mendengar suara tawanya. Saat sedang menjadi Raja, dia jarang tersenyum apa lagi tertawa. Aku sangat penasaran, jadi aku kembali bertanya, "Dari mana kau mempelajarinya?"


"Aku punya banyak adik." Katanya. "Jadi aku sudah sering melihat selir-selir ayahku sewaktu mereka sedang hamil. Beberapa ada yang menjadi sangat lemah sehingga tak bisa keluar dari kamar sama sekali selama sembilan bulan penuh. Beberapa ada yang menjadi mudah emosional dan sensitif. Tapi yang paling umum, mereka mudah lelah dan kaki mereka membengkak setelah beraktivitas seharian."


"Jadi ayahmu memijat kaki mereka?" Tebakku.


Xavier tersenyum pahit. "Andaikan Ayahku bisa memberi contoh yang baik, aku pasti sudah menjadi suami yang lebih baik untukmu. Tapi, tidak. Ayah tidak benar-benar peduli pada selir-selirnya. Meski begitu, ayahku seorang Raja, jadi saat mendengar keluhan mereka, dia memberi selir-selir itu orang-orang ahli yang bisa disuruh untuk memijat kaki mereka. Sedangkan aku... Aku tidak suka orang lain memegang kaki istriku."


"Kau suami yang baik, Xavier. Kau sempurna. Kau luar biasa." Aku mendaratkan kecupan singkat di pipinya. "Dan aku sangat beruntung memilikimu. Kurasa kau harus tahu itu."


Lama dia terdiam sambil menatapku. Dia bahkan tak sadar telah berhenti memijat. "Apa membuatku berdebar dan kehilangan kata-kata adalah keahlianmu?"


Aku tertawa. "Mungkin. Karena itu juga keahlianmu. Oh!" Aku tiba-tiba merasakan sesuatu di perutku. Anak kami sepertinya sudah mulai aktif bergerak. Jadi beberapa kali, terutama saat malam, aku sering merasakannya saat dia bergerak atau menendang.


"Kenapa? Ada yang sakit?" Tanyanya dengan panik.


"Dia menendang."


Xavier kemudian meletakkan tangannya di perutku yang sudah mulai membesar. Dia mulai mengelus-elus perutku dan mengecupnya. Aku langsung merasa hangat dan rileks. Dan anak kami pun mulai tenang. "Putriku yang manis..." Katanya dengan lembut. "Aku senang kau aktif dan sehat. Tapi tolong jangan terlalu sering menendang kalau ibumu sedang tertidur nyenyak. Saat tiba waktunya kau lahir nanti, jangan terlalu menyusahkan ibumu agar dia tak perlu merasa kesakitan terlalu lama. Lahir lah tepat waktu karena kami semua di sini sudah menantimu. Dan jadilah anak yang baik dan sehat, karena jika kau sakit, maka kami pasti akan sangat sedih. Kau harus selalu mendengarkan kata-kata ibumu dan mematuhinya karena mengandung selama sembilan bulan dan kemudian melahirkan itu sama sekali tak mudah. Ibumu mempertaruhkan nyawanya untukmu. Jadilah anak yang kuat hatinya dan tangguh seperti ibumu. Tapi apa pun yang kau lakukan, kau harus tahu bahwa ayah dan ibumu sangat menyayangimu."


Aku tahu itu kata-kata yang manis dan aku harusnya tersenyum bahagia, tapi kenapa mataku rasanya perih. Dia mengatakannya sekarang seolah takkan bisa mengatakannya nanti setelah anak kami lahir.


Aku bahkan tak berani menanyakan alasannya. Aku takut mendengar jawabannya.


"Kenapa kau yakin sekali dia seorang putri?" Tanyaku akhirnya setelah memastikan suaraku takkan bergetar dan air mataku takkan tumpah. Xavier benar, aku menjadi sensitif dan emosional.


"Gyeoul memberitahuku." Katanya.


"Gyeoul? Salah satu pelacak naga itu? Bagaimana dia tahu?"


"Oh, itu..." Xavier terdiam sesaat. Tapi aku tahu dia takkan membohongiku. Aku percaya dia akan memberitahuku. "Tidak akan ada rahasia lagi di antara kita, jadi aku lebih baik memberitahumu. Gyeoul berasal dari keluarga peramal. Sebelum aku membunuhnya, Gyeoul sempat meramalkan masa depanku. Aku terbawa emosi karena ramalannya, jadi aku membunuhnya. Dia mengatakan bahwa aku harus menjaga Ratuku dan Putri kecilku. Kalau aku gagal melindungi kalian, salah satu diantara kalian, atau mungkin kalian berdua akan mati. Dan itu terjadi karena aku mengabaikan peringatan dari Dewi Langit. Karena aku seharusnya menjauhimu dan tidak mengulang takdir kita."

__ADS_1


"Kami tidak akan mati." Kataku langsung. Aku memegang tangannya di atas perutku. "Kita semua tidak akan mati. Kita akan saling melindungi dan bertahan hidup untuk waktu yang lama. Kita akan hidup sangat lama sampai tangan kita keriput dan rambut merahku seluruhnya telah menjadi putih. Dan kita akan membuktikan bahwa ramalan itu salah."


...****************...


Keesokan harinya, Leon mengantarku ke Schiereiland karena kini dia bisa berteleportasi. Kemampuan sihirnya hampir setara dengan Eleanor karena dia memiliki sebagian kekuatan sihir Eleanor. Meski begitu, Xavier melarang Leon untuk menggunakan teleportasi langsung dari Nordhalbinsel ke Schiereiland. Dia meminta kami berhenti dan beristirahat di beberapa tempat agar aku tidak merasa mual dan lelah. Tapi aku memaksa Leon untuk berteleportasi langsung ke Istana Schiereiland karena aku tak mau lama-lama pergi jauh dari Xavier. Dia mungkin akan merasa sakit lagi jika jauh dariku.


Dan benar saja, sesampainya di Istana Schiereiland aku langsung muntah. Kepalaku pusing berputar. Sepertinya aku takkan pernah bisa terbiasa dengan teleportasi.


Leon tampak merasa sangat bersalah dan berulang kali meminta maaf padaku. "Maafkan aku, Baginda Ra—“


"Kau mau berapa kali minta maaf? Aku sudah bilang tidak apa-apa. Lagi pula aku yang memaksamu." Lalu aku muntah lagi. Rasanya aku ingin berbaring saja di ranjang dan beristirahat sampai mual dan pusingnya hilang, tapi kami sudah sampai di Istana Schiereiland. Dan aku tak mau mengulur-ulur waktu.


"Tetap saja, seharusnya aku menolak. Ini salahku. Aku tidak tahu kalau—“


"Tidak apa-apa, Leon." Potongku. Aku menahan diri agar tidak tumbang. "Aku baik-baik saja sekarang. Ayo kita temui Raja Alexis." Aku berbohong. Sebenarnya, aku masih sangat mual dan pusing. Tapi aku harus terlihat baik-baik saja kalau tidak kunjunganku akan ditunda. Aku harus menemui Alexis sekarang juga.


Seperti yang kuduga, Alexis sedang sangat sibuk. Asistennya mengatakan bahwa Sang Raja muda belum keluar dari ruang kerjanya sejak tadi pagi padahal hari sudah hampir senja saat aku sampai di Schiereiland. Aku meminta asistennya untuk menyampaikan kedatanganku. Alexis pun langsung mengizinkanku masuk dan aku meminta Leon menungguku di luar. Ini urusanku dengan adikku.


"Bagaimana kabarmu?" Tanyaku. Alexis tidak tampak baik-baik saja. Dia terlihat seperti orang yang belum tidur selama berhari-hari.


Alexis melirik ke arah perutku yang membesar. Aku memang belum memberitahunya tentang kehamilanku. Paling tidak kini aku tak perlu memutar otak untuk mencari cara memberitahunya. "Aku sehat." Katanya. "Hanya sedikit sibuk. Tapi sebentar lagi aku akan menandatangani kerja sama perdagangan dengan Orient. Maharani yang baru membuka peluang kerja sama itu. Sehingga kedepannya kita bisa mendapat pasokan rempah-rempah yang melimpah dari timur dan kita bisa mengimpor anggur khas Schiereiland ke sana. Jadi kurasa ini sepadan. Apa kau benar-benar kembali sekarang? Istana menjadi sangat sepi sejak kau pergi. Aku tak punya siapa-siapa lagi."


Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Karena aku sama sekali tak ada niatan untuk kembali ke Schiereiland. Aku mungkin akan berkunjung beberapa kali, tapi aku takkan tinggal di sini lagi. Lagi pula aku sudah merelakan Schiereiland pada Alexis. Dan aku berharap dia bisa menjadi Raja yang baik untuk Schiereiland meski aku tahu dia akan kesepian tinggal di sini. Dia kelak akan menemukan wanita baik yang menjadi Ratunya dan dia takkan membutuhkanku lagi.


"Apa kau masih menjual Morta pada Orient?" Aku kembali bertanya, mengabaikan pertanyaannya sebelumnya.


"Itu urusan Luna—Selena, maksudku. Aku tak mengurusi racun sihir." Katanya. Tapi mendengar dia masih menyebut Selena dengan nama Luna, aku tahu dia masih merasa terluka karena dikhianati oleh orang yang dia cintai. Dia pasti merasa dibohongi. Alexis mungkin tulus padanya, tapi Luna, gadis yang dia cintai dengan tulus itu tidak pernah ada. Sejak awal itu adalah Selena yang berusaha menipunya untuk mendapat kekuasaan di Schiereiland.


"Maaf... Soal Luna, aku seharusnya memberitahumu lebih awal." Tapi dia mungkin takkan percaya karena sangat memercayai penyihir itu. Lagi pula aku seharusnya bisu karena sihir Selena. Jika aku langsung memberitahu bahwa aku tak benar-benar bisu akibat sihir itu, mungkin kami takkan pernah bisa mengulur waktu sampai Ludwig menyelesaikan proyek gelang penyegel sihir itu. Mungkin Selena takkan pernah bisa tertangkap dan dikurung seperti sekarang.


"Ya, kau harusnya bisa memperingatkanku lebih awal. Tapi kau memilih untuk diam saja."


"Dan kau berencana untuk mengambil keuntungan dengan mengatur pernikahanku dengan Pangeran Ludwig." Balasku.


"Yang pada akhirnya pun kau gagalkan. Kau malah akan menikah dengan Raja Utara itu. Dan kalian bahkan memiliki anak di luar nikah! Apa kau lupa siapa yang telah membunuh ayah dan ibu kita? Raja mereka dan orang-orang utara menghancurkan kerajaan kita dan kehidupan kita! Dia mungkin menipumu dan takkan menikahimu!"


"Kami sebenarnya sudah menikah." Kataku. "Dan kalau kau lupa, bukan Xavier yang membunuh ayah dan ibu kita. Bukan Xavier yang menyerang kerajaan kita. Tapi Xavier lah yang mengembalikan kekuasaan Schiereiland padamu dan membantu Schiereiland hingga bisa stabil seperti sekarang. Jadi jangan bicara buruk tentangnya."


Alexis terdiam beberapa saat, mencari hal untuk didebat. "Pernikahan di Orient tidak akan dianggap sah di negeri lain." Katanya akhirnya.


"Peresmian pernikahan kami di Nordhalbinsel akan segera diadakan pekan depan. Aku datang untuk mengundangmu."


"Aku tidak akan datang. Aku tak mengizinkanmu. Dan aku berhak melarangmu karena aku Raja Schiereiland."


"Alexis..."


"Kalau kedatanganmu ke sini hanya untuk meminta izinku, kau sudah boleh pergi sekarang. Kedatanganmu sia-sia saja kecuali Raja Xavier memberikan apa yang kuinginkan."


"Apa maksudmu?"


"Dia mengirimiku surat, meminta izin untuk meresmikan pernikahan kalian di Schiereiland. Jadi aku memberinya persyaratan. Dan seharusnya dia sudah mengirimkan surat balasannya sore ini."


"Apa yang kau minta sebagai persyaratan?" Aku tak siap mendengar jawaban dari pertanyaanku itu karena aku sangat mengenal adikku. Aku sepertinya tahu apa yang dia minta. Dan aku curiga Xavier akan memberikannya apa pun itu.


"Aku akan merelakan saudariku, keluargaku satu-satunya, untuk menikah dengannya. Jadi tentu aku harus meminta sesuatu yang besar."


"Alexis... Apa yang kau minta padanya?" Tuntutku.


"Kalau dia benar-benar mencintaimu, seharusnya dia menyetujui persyaratan itu. Apa pun itu."


Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.


"Masuk." Kata Alexis.


Asisten Alexis masuk sambil membawa nampan emas dengan sepucuk surat di atasnya. Stempel empat naga pada lilin segel surat tersebut membuat jantungku hampir berhenti berdetak. Itu surat resmi dari kerajaan Nordhalbinsel. "Raja Xavier mengirimkan surat balasan." Katanya sambil memberikan surat itu pada adikku.


Alexis segera membaca isi surat itu. Aku menunggu dengan tak sabar.


Alexis tersenyum saat membacanya. Dia kemudian menyerahkan isi surat itu padaku. Aku tak berani membacanya. Senyumnya bukan pertanda baik bagiku.


"Maaf aku sempat meragukannya. Ternyata dia benar-benar mencintaimu sampai rela memberikan kerajaannya untukku. Schiereiland akan menguasai Nordhalbinsel. Berbahagia lah kakak, pernikahanmu akan segera diresmikan. Ini adalah balasan dari kita untuk mereka yang pernah menjajah negeri kita. Kita bisa balas dendam pada orang-orang utara itu. Dan kau bisa menceraikannya jika kau tak mau menjadi istri dari Raja tanpa kerajaan. Pintu Istana ini selalu terbuka lebar untukmu."


...****************...


Aku segera meninggalkan Istana Schiereiland dan Alexis. Dan meski Leon melarangku untuk berteleportasi langsung ke Nordhalbinsel, aku mengancamnya bahwa aku akan mencari penyihir lain untuk bisa membawaku berteleportasi langsung ke Istana Utama. Leon tak dapat membantahku dan akhirnya kami tiba dengan cepat di Istana Utama di ruang kerja Raja. Aku menahan diri untuk tidak muntah meski merasa mual.


"Tolong tinggalkan kami, Leon. Aku perlu bicara dengan Baginda Raja." Perintahku. Tanpa berkata-kata, Leon segera pergi dari ruangan itu.


"Cepat sekali." Kata Xavier. Tapi melihat ekspresi di wajahku, dia bertanya, "Kau baik-baik saja? Terjadi sesuatu di Schiereiland? Kau terlihat pucat. Jangan bilang Leon membawamu langsung—“


"Apa yang kau lakukan?" Potongku. Aku menjadi sangat mudah emosi jadi tanpa sadar aku menaikkan nada suaraku sampai Xavier pun terkejut mendengarnya.


"Apa maksudmu, sayang? Ayo bicarakan baik-baik terlebih dahulu. Duduk lah, kau pasti lelah setelah perjalanan jauh."


"Kenapa kau semudah itu menyerahkan kerajaan ini pada Alexis?" Tanyaku langsung.


"Siapa bilang—“


"Aku sudah membaca surat yang kau kirimkan untuk Alexis." Kataku. Rasanya aku ingin marah dan menangis di saat yang sama. Padahal aku seharusnya tak bersikap seperti ini padanya. Aku tahu dia juga melakukan hal yang sulit ini untukku. Tapi aku tak mau dia sampai mengorbankan kerajaannya dan jutaan rakyatnya untuk meresmikan pernikahan kami.


"Oh, itu..." Katanya dengan santai seolah hal itu bukan masalah besar.


"Kenapa tidak membicarakannya dulu denganku?"


"Karena kau pasti takkan setuju."


"Tentu saja!"


"Jadi kau lebih memilih tidak meresmikan pernikahan kita daripada menyerahkan Nordhalbinsel?"


"Negeri ini adalah rumahmu. Sekarang menjadi rumah kita. Orang-orang yang ada di dalamnya adalah rakyat yang percaya padamu. Kau tidak boleh merelakannya begitu saja pada remaja enam belas tahun yang belum tentu bisa memimpin dengan benar. Jutaan nyawa di sini yang menjadi taruhannya. Alexis bilang akan balas dendam pada orang-orang utara, entah apa yang akan dia lakukan pada mereka semua."


"Anna, sayang, tenang lah." Katanya sambil menggenggam tanganku. Entah kenapa, perlakuan sesederhana ini membuat emosiku membaik. Aku menjadi lebih tenang. "Aku tidak menyerahkan kerajaan kita yang tercinta pada remaja enam belas tahun. Bukankah tertulis di surat yang telah kutandatangani itu bahwa aku menyerahkan Nordhalbinsel pada pemimpin sah Kerajaan Schiereiland." Xavier kemudian mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sepucuk surat. Dia menyerahkan surat itu padaku. "Dan menurut surat ini, surat wasiat Raja Edward yang ditemukan oleh Ludwig di laci kamar mendiang ayahku di hari kematiannya—yang mana sudah dikonfirmasi juga oleh Leon bahwa benar itu adalah salinan surat wasiat ayahmu, kau adalah penguasa sah Kerajaan Schiereiland. Kau adalah Ratu Schiereiland yang sesungguhnya."


Aku membaca isi surat itu. Itu memang benar tulisan tangan ayah. Isinya sama persis dengan yang pernah kubaca di perpustakaan. Sama persis dengan surat wasiat ayah yang telah dibakar oleh Selena. Selama ini aku bertanya-tanya dimana salinan surat wasiatnya, ternyata Raja Vlad yang menyimpannya. Dan Ludwig menemukannya, serta menyerahkannya pada Xavier.


"Ini..."


"Kau adalah Ratu dari Schiereiland dan Nordhalbinsel, Anna." Katanya sambil tersenyum padaku. Dia menaruh mahkotanya di atas kepalaku, kemudian mencium keningku. "Akan kupastikan semua orang mengetahui tentang isi surat wasiat ayahmu dan tentang keputusanku untuk menyerahkan Nordhalbinsel pada Schiereiland. Aku menyerahkan dua kerajaan padamu sebagai ganti cincin peresmian pernikahan kita..." Xavier kemudian berlutut di hadapanku, mata emeraldnya yang tampak berkilauan di bawah cahaya lampu kristal sedang menatapku. Dia kemudian mencium punggung tanganku, "Ratuku."


...****************...


...-The End-...

__ADS_1


__ADS_2