
Aku dan Eri memutuskan untuk pergi ke Shina untuk mencari Yeon-Hwa di Istana Matahari sementara Elias, Louis dan Shuu akan tetap mencari di Jungdo. Kami berangkat malam itu juga dan aku membawa Eri terbang bersamaku.
Tapi Istana matahari tampak kosong. Hanya ada para penjaga dan pelayan yang bersiap untuk kembali ke kamar masing-masing untuk tidur karena malam sudah sangat larut. Sepertinya benar bahwa semua orang sudah kembali ke Jungdo.
Aku dan Eri memutuskan untuk mencarinya dengan berpencar karena Istana Matahari sangat luas. Aku mencari ke bagian kamar-kamar tamu di lantai bawah sedangkan Eri mencari di lantai atas. Andaikan saja Yeon-Hwa adalah salah satu Naga, maka akan sangat mudah bagi kami mencarinya. Eri terlatih untuk melacak naga, bukan melacak mata-mata yang hilang.
Istana Matahari memiliki luas yang hampir sama dengan Dong-gung. Bukan Dong-gung kedai kami, melainkan Dong-gung yang asli, Istana Timur, tempat ibunya Yeon-Hwa dulu tinggal. Tapi tentu saja Istana Timur jauh lebih indah dari Istana Matahari. Satu-satunya yang indah dari Istana ini hanyalah pemandangan perbukitan dan lembah-lembah yang mempesona saat matahari terbit. Selebihnya, Istana Matahari hanya bangunan megah yang kuno dan penuh dengan ruangan-ruangan yang tak kuketahui isinya.
Istana ini membingungkanku seperti sebuah labirin. Aku selalu merasa salah berbelok, selalu merasa sudah melewati jalan ini sebelumnya, akan sulit sekali mencari seseorang di sini. Aku heran bagaimana Yeon-Hwa bisa memata-matai anggota keluarga Kaisar di sini tanpa tersesat sekali pun. Dia pasti mata-mata yang sangat ahli.
Aku sedang melewati ruang pemujaan di sayap kanan Istana, ruang yang digunakan anggota keluarga Kaisar untuk menyalakan dupa dan menaruh persembahan untuk arwah leluhur dan para Naga, saat aku melihat lukisan yang tak asing bagiku. Lukisan wajahku. Lukisan Aerinear.
Bukan wajahku yang sekarang. Wanita yang ada di lukisan itu sudah dewasa, jika dia manusia biasa, usianya mungkin lebih dari dua puluh tahun. Dia tidak mengenakan alas kaki dan tampak seperti sedang melayang di atas langit. Gaunnya yang terdiri atas kain sutra lembut berwarna putih dan warna-warni pastel tampak beterbangan diterpa angin. Tidak ada gaun seindah itu di zaman sekarang. Rambutnya yang panjang hingga mata kaki berwarna perak, tampak selembut hembusan angin. Dia mengenakan mahkota yang diletakan di antara sepasang tanduk putih miliknya. Tanduknya tampak seperti tanduk rusa jantan, namun jauh lebih indah dan anggun dihiasi perhiasan dari berlian yang berkilauan. Sepasang telinganya, yang menyembul di antara rambutnya yang tertiup angin, tampak runcing di bagian ujungnya. Ada lingkaran halo di sekitar kepalanya. Bibirnya yang berwarna merah melengkung membentuk senyuman damai nan menentramkan. Matanya berwarna merah seperti kobaran api. Seperti darah. Tatapannya tampak menggetarkan jiwa siapa pun yang melihatnya. Aku dulu terlihat seperti itu. Cantik dan mematikan. Mempesona sekaligus mengerikan. Dipuja sekaligus ditakuti. Berbeda dengan sekarang. Aku yang sekarang dikejar dan dikurung serta dijadikan senjata.
"Sedang memuja diri sendiri, Naga Angin?"
Seluruh bulu kudukku meremang saat mendengar suara yang khas itu.
"Yi-Zhuo..."
Dia menyeringai lebar. Crossbow dibidikkan ke arahku. "Halo, Kaze. Senang bertemu denganmu lagi, manis."
Bagaimana bisa Yi-Zhuo tahu aku ada di sini? Kenapa dia ada di sini?
Aku tidak langsung lari. Jika aku lari, Yi-Zhuo akan menembakku. Aku yakin sekali panahnya sudah dilumuri racun Morta. Aku berjalan mundur perlahan menjauh darinya, menuju pintu belakang ruang pemujaan. Tapi baru beberapa langkah aku berjalan, punggungku menabrak sesuatu yang tajam. Ujung tombak.
Aku menoleh dan mendapati belasan pasukan Yi-Zhuo membentuk barikade di belakangku, menghalangiku dari akses menuju jalan keluar. Aku menoleh ke samping, dan mendapati sekelompok prajurit lainnya sedang menghunuskan pedang dan tombak mereka ke arahku. Aku mendongak ke atas untuk mencari jalan keluar, tapi di lantai atas dapat kulihat para pemanah sedang membidikku. Aku dikepung dari empat arah dengan Yi-Zhuo di hadapanku.
"Apa kesaktian Ratumu mulai berkurang? Dia sakit atau semacamnya? Kenapa aku bisa melihat jejakmu sekarang?" Tanyanya. Bukan. Dia bukan sedang bertanya. Dia mengejek. Ada kemungkinan dia sudah tahu tentang Dong-gung kami. Ada kemungkinan dia tahu bahwa Ratu kami sedang dalam kondisi terlemahnya.
Aku mengedarkan pandangan ke sekelilingku. Aku hanya bisa berharap Eri dapat kabur dari tempat ini dengan selamat lalu kembali ke Dong-gung untuk memperingatkan mereka yang ada di sana. Jika Eri selamat, dia bisa memberitahu Raja dan beliau bisa membawa pergi Ratu ke tempat yang aman jauh dari para pelacak naga. Semoga Yi-Zhuo tidak tahu bahwa Eri ada di sini. Dia bisa melukai Eri lagi jika dia melihatnya. Mungkin juga Eri akan dibunuh olehnya karena berkhianat.
"Mencari siapa, manis? Apa kau mengajak seseorang ke sini?" Suara Yi-Zhuo bergema ke seisi ruang pemujaan.
"Tidak ada. Aku pergi sendiri ke sini." Aku mengangkat tanganku, bersiap mengeluarkan angin yang dapat mementalkan mereka semua menjauh dariku.
Yi-Zhuo tertawa kencang sampai-sampai aku berharap rahangnya bisa patah. Setelah tawanya mereda, dia menyeringai lebar dan tahulah aku bahwa dia tahu aku sedang berbohong. Dia tahu aku tak pergi sendiri ke sini. "Tembak!" Perintahnya.
Untuk sesaat, pasukannya yang memegang panah tampak ragu. Mereka saling menatap seolah tidak menyangka akan mendapat perintah itu.
"Tembak, bodoh!" Yi-Zhuo mengulang perintahnya.
"Ta-tapi, Torakka. Dia adalah Naga Angin." Kata salah satu pemanah. Sementara itu, pasukan yang bersenjatakan tombak dan pedang tampak tak berani mendekatiku saat melihat angin berputar di kedua telapak tanganku. Rupanya aku masih disegani di sini.
Yi-Zhuo langsung menembak pemanah tadi dengan crossbow-nya dan orang itu langsung mati di tempat. Aku memperhatikan mayat pemanah itu, kulitnya pucat dan pembuluh darahnya yang menonjol hampir keluar dari kulit berwarna hitam seperti tinta. Racun Morta. "Kalau aku yang menembaknya, dia akan langsung mati seperti itu. Apa kalian mau Kaisar kehilangan aset berharganya?" Kata Yi-Zhuo dengan suara ramah yang dibuat-buat seperti sedang mengajari anak kecil. Lagi-lagi para pemanah tampak ragu.
Aku memanfaatkan saat ini untuk mengangkat tanganku dan bersiap menyerang mereka dengan anginku. Seharusnya satu hembusan angin saja cukup untuk melempar mereka semua, aku tak perlu mendatangkan badai dan menghancurkan seisi Istana. Tapi tiba-tiba tanganku terasa sangat sakit. Darah mengalir dari bahuku. Seseorang menembakku dari belakang. Salah satu pemanah menembakku.
Yi-Zhuo tampak jauh lebih terkejut dariku. Aku menoleh untuk melihat siapa yang menembakkan anak panah itu.
"Eri!" Yi-Zhuo memekik girang sambil melompat-lompat. "Kau datang tepat waktu. Orang-orang ini tidak berguna."
Apa ini? Kenapa Eri menembakku? Kenapa Yi-Zhuo menyambutnya seperti itu? Apa maksudnya semua ini?
Dengan santainya Eri melangkah melewatiku untuk berdiri di samping Yi-Zhuo. "Sudah kubilang kan, aku punya rencana. Kau selalu saja terburu-buru."
Yi-Zhuo memeluknya seolah mereka adalah saudari yang telah lama dipisahkan. "Aku kangen sekali loh. Kau tahu tidak, Gyeoul tewas. Aku kesepian sekali di Istana."
"Gyeoul tidak beruntung karena berhadapan dengan Raja mereka. Kau tahu sendiri temperamen Raja mereka sangat buruk. Gyeoul membuatnya kesal sehingga dia membakarnya." Kata Eri, tanpa sedikit pun terdengar berbelasungkawa atas kematian rekannya itu. Eri kemudian menoleh ke arahku seolah dia baru ingat ada aku di sini. Dia tersenyum padaku. Bukan senyuman ramah yang kukenal yang selalu menghiasi wajahnya. Aku seolah tak pernah benar-benar mengenalnya selama ini. "Tapi yang kecil ini begitu naif dan polos sehingga kita bisa dengan mudah menangkapnya. Kaisar akan sangat senang menerima hadiah penobatannya ini."
__ADS_1
"Eri... Kenapa... Apa yang—“ Aku tidak tahu harus berkata apa. Kata-kataku mendadak hilang begitu saja saat melihat raut wajah Eri yang tak kukenali. Eri selalu tersenyum ramah padaku, menatapku seperti menatap adiknya sendiri, kini dia terlihat dingin dan jauh dan asing.
"Bagaimana caramu mengelabui saudaranya yang pembaca pikiran itu? Pasti sulit sekali ya?" Tanya Yi-Zhuo.
Dia terbahak, "Sama sekali tak sulit. Hanya perlu membuatnya teralih. Dia terlalu sibuk berusaha membaca isi pikiran orang lain untuk mencuri informasi terkait kekaisaran. Dia begitu percaya pada saudari kembarnya, dengan begitu dia sama sekali tak mencurigaiku dan tidak berusaha membaca isi pikiranku."
"Pengkhianat!" Teriakku padanya. Mataku terasa perih ingin menangis. Tapi aku tidak rela menangis di hadapannya yang sudah membohongiku. Aku memanggil badaiku.
Aku tidak boleh membiarkan Eri memberitahu Yi-Zhuo tentang Dong-gung dan tentang Ratu kami yang sedang hamil. Mereka mungkin akan menyakitinya. Mereka mungkin akan membunuhnya. Aku harus membunuh mereka sebelum mereka bisa melakukan apa pun.
Tapi tidak ada badai. Tak ada apa pun. Aku bahkan tidak dapat merasakan anginku.
Lalu seluruh tubuhku terasa kaku dan sulit digerakkan. Lidahku kelu. Aku tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Pandanganku mulai buram.
Tapi aku masih bisa melihat Eri dan Yi-Zhuo yang kini menjulang tinggi di hadapanku karena aku mulai jatuh duduk di lantai dingin. Kakiku tidak kuat menopang diriku sendiri. Aku tidak bisa berdiri. Aku tak dapat mengangkat tanganku untuk menyerang mereka dengan anginku. Aku tidak bisa merubah wujudku menjadi Naga Angin.
"Tidur yang nyenyak, Naga Angin cilik." Bisik Eri di telingaku. Lalu semuanya menjadi gelap gulita.
...****************...
"Kau sudah pulih? Kenapa berkeliaran seperti ini? Kau harusnya beristirahat saja di Istana." Kata Eri. Dia mempercepat langkahnya untuk mensejajarkan ku. Aku memelankan langkahku.
"Hanya luka kecil saat berlatih tanding dengan Shuu. Aku tidak mahir berpedang. Sejak dulu begitu. Tapi Shuu langsung menyembuhkanku dengan airnya." Kataku. "Oh, lihat! Di sana ada sesuatu yang seru!"
Aku menggandeng tangan Eri dan berlari menuju kerumunan di tengah pasar. Saat-saat seperti ini, saat musim semi dan bunga-bunga bermekaran, pasar selalu ramai dengan berbagai atraksi dan permainan menarik. Jadi aku memutuskan untuk kabur sejenak dari rutinitas di Istana. Shuu tidak pernah menyukai keramaian, jadi aku berjalan-jalan sendiri. Tidak sepenuhnya sendiri, aku selalu tahu Eri akan mengikutiku ke mana pun aku pergi. Dia akan menjagaku dari orang-orang yang berniat mencelakakanku.
"Permainan panah?" Eri melirikku. Aku mengangguk antusias. Dia tertunduk malu. "Aku... tidak bisa memanah."
"Masa? Kau kan Torakka! Kalian diajari menggunakan semua senjata."
Aku mengamati orang-orang yang mengantre untuk mencoba keahlian memanah mereka. Targetnya bermacam-macam. Mulai dari kupon makan gratis, boneka yang sangat cantik, sampai perhiasan rambut yang tampak mahal. Sebenarnya, sebagai Naga Angin aku bisa mendapatkan semuanya tanpa perlu bersusah payah. Aku hanya perlu memintanya pada Kaisar dan beliau pasti akan mengabulkan permintaanku. Tapi aku ingin mencoba memenangkan sesuatu dengan kemampuanku sendiri. Jadi aku ikut dalam barisan antrean itu. Eri mau tak mau ikut mengantre.
"Kalau begitu, biar kuajari. Kau tahu, orang-orang dari negara lain beranggapan bahwa semua orang di kekaisaran ahli dalam hal memanah karena perang-perang kita di masa lalu dimenangkan oleh ribuan pasukan pemanah. Aku diberitahu tentang itu oleh master strategi perang pada pelajaran pekan lalu."
Akhirnya, saat tiba giliran kami, aku memberikan busur panah itu pada Eri.
"Aku tidak bisa." Katanya sambil menyodorkan busur panah itu kembali padaku.
"Coba saja dulu."
Dengan enggan, Eri mencoba membidik kupon makan gratis, hadiah yang paling murah dalam deretan hadiah itu, sekaligus yang paling mudah karena jaraknya lebih dekat.
"Posturmu salah." Kataku sambil membenarkan posturnya dan pegangannya pada busur panahnya. "Sekarang, coba tembak."
Eri menembakkan anak panahnya. Anak panah itu melesat dengan cepat dari tangannya. Tembakannya tepat mengenai targetnya—kupon makan gratis untuk dua orang. Dia melompat girang dan memelukku. "Kita berhasil! Kita berhasil!" Katanya sambil tertawa. Aku ikut senang melihatnya seperti itu. Itu pertama kalinya aku melihat Eri tampak begitu bahagia.
"Kau yang berhasil. Mulai sekarang, coba lah lebih sering berlatih memanah. Kau sepertinya punya bakat."
Eri mengangguk. "Setelah ini, aku akan terus melatih kemampuan memanahku. Dan suatu saat nanti akan kutunjukkan kemampuan memanahku padamu. Lihat saja nanti." Janjinya. Dia kemudian tersenyum lebar, "Untuk sekarang, ayo kita gunakan kupon ini untuk makan ramen di pinggir jalan sana."
...****************...
Aku bermimpi. Tidak. Itu bukan sekedar mimpi. Itu ingatanku. Kapan tepatnya itu terjadi? Tahun kemarin? Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Eri benar-benar sudah banyak berlatih memanah selama setahun ini.
Saat aku membuka mataku, aku langsung mengenali tempat ini. Istana Giok. Padahal kupikir Eri dan Yi-Zhuo akan membawaku ke Istana Kaisar di Jungdo.
"Kau sudah bangun rupanya." Itu suara Eri. Aku tidak tahu dia ada di mana. Leherku sulit digerakkan. Seluruh tubuhku tidak bisa digerakkan. Aku hanya bisa menatap lurus ke atas, ke langit-langit kamar ini yang dihiasi batu-batu Giok. "Bisa duduk? Kau harus minum air agar obat biusnya cepat larut dan dapat bergerak lagi."
Tadinya kupikir mereka akan mengikat tangan dan kakiku agar tak bisa kabur. Ternyata tidak. Tapi aku tetap kesulitan bergerak. Seluruh tubuhku terasa kaku, lenganku kebas, sendi-sendiku sakit. Aku memaksakan diri untuk duduk bersandar dan meminum segelas air yang ditawarkan Eri.
__ADS_1
Aku segera menyemburkan air itu ke wajahnya.
"Pengkhianat." desisku.
Eri tak tampak marah. Kalau pun dia marah, dia tak memperlihatkannya. Dia takkan bisa menyakitiku di Istana. Dia hanya diam sambil mengelap wajahnya dengan sapu tangan. "Aku tahu kau marah, tapi kau harus mendengarkanku terlebih dahulu."
"Kau menembakku!" Tangisku. Tidak. Jangan seperti ini. Aku tidak mau menangis di hadapannya.
"Benar. Aku menembakmu, dengan obat bius. Dan tidak di jantungmu."
Aku tertawa sinis. "Oh, apakah aku harus mengucapkan terima kasih atas hal itu? Terima kasih karena telah menembak bahuku dengan obat bius, Eri. Kau memang sahabat terbaikku!"
Eri mengabaikan sindiran itu, "Kalau Yi-Zhuo yang menembakmu, kau pasti sudah mati. Aku berusaha menyelamatkanmu."
Aku menamparnya, cukup keras sampai wajahnya berdarah. "Kau menangkapku untuk dijadikan hadiah atas penobatan Haru!" Teriakku. "Kau sama saja dengan mereka semua. Tidak. Kau lebih buruk. Kau menjebakku! Membuatku memercayaimu dan membiarkanmu mengetahui tempat persembunyian kami! Kau membuatku membahayakan saudaraku, Rajaku dan Ratuku!"
"Mereka menangkap keluargaku! Mereka mengancam akan membunuh keluargaku!" Eri balas berteriak padaku. Air matanya berlinang. "Aku bukan hanya mengkhianatimu, aku mengkhianati kepercayaanku sendiri. Aku tidak punya pilihan, Kaze. Kau harus mengerti."
Saat melihat aku hanya diam, Eri melanjutkan, "Aku tidak memberitahu mereka tentang Dong-gung. Aku juga tidak memberitahu mereka tentang Raja dan Ratu dan fakta bahwa Ratu sedang mengandung. Aku tidak memberitahu mereka tentang temanmu, Yeon-Hwa, yang sedang menjadi mata-mata. Aku bersumpah mereka semua akan aman."
"Bagaimana dengan Shuu?" Tanyaku. Jika mereka dapat melacakku, artinya mereka juga bisa melacak Shuu. Kami tak lagi terlindungi oleh Ratu karena Ratu kami sedang sangat lemah saat ini.
"Yi-Zhuo dan pasukannya akan segera mencarinya. Tapi tidak sekarang. Untuk saat ini, Yi-Zhuo takkan ke mana-mana karena Istana sedang ramai, ada pemilihan Selir Kaisar di Istana Giok. Mereka akan bertanya-tanya dan curiga jika melihat Torakka tampak sibuk berkeliaran."
"Jangan biarkan dia menangkap Shuu." Pintaku. Aku tak peduli ini hanya tipuan lainnya dari Eri atau bukan, tapi untuk saat ini, aku harus bisa memastikan Shuu tidak tertangkap juga. Shuu dapat melindungi mereka semua di Dong-gung. Shuu juga bisa mencarikan ramuan untuk Ratu. Jika Shuu aman, paling tidak aku bisa bernafas lega. "Kumohon... pastikan Shuu tidak tertangkap. Kumohon..."
Eri menggeleng tak berdaya. "Aku tak bisa berjanji. Maafkan aku, Kaze." Suaranya sangat pelan seperti berbisik. Dan saat melihatnya, aku tahu—atau aku memang sangat naif—bahwa dia memang tak punya pilihan. Menangkap Naga, atau keluarganya dibantai. Kepercayaannya, atau keluarganya. Keduanya bukan hal yang dapat dia korbankan.
Eri kemudian membawaku menuju ruangan Torakka untuk menemui Yi-Zhuo. Tubuhku masih kaku dan sulit untuk berjalan, jadi dia memapahku berjalan melewati lorong demi lorong hingga kami sampai di ruang istirahat khusus para Torakka yang dijaga ketat. Tapi saat mereka melihat Eri yang membawaku dalam keadaan masih tak berdaya, mereka langsung membungkuk hormat dan membukakan pintu untuk kami.
Pintu terbuka lebar, memperlihatkan Yi-Zhuo yang sudah mengenakan pakaian adatnya, hanfu dengan rok panjang berwarna pastel. Dia mengenakan riasan wajah yang membuat wajahnya yang mungil tampak lebih feminin dan kalem. Bibirnya kini sewarna matanya yang merah. Rambutnya yang panjang ditata dengan rapih dan dihiasi jepit rambut berbentuk bunga. Dia tak lagi terlihat seperti seorang Torakka, tak lagi terlihat seperti prajurit mematikan. Dia terlihat layaknya putri bangsawan yang anggun dan lemah lembut dengan pakaian itu. Tapi sayangnya, penutup matanya—seperti yang sudah pernah kukatakan langsung padanya—mengurangi keanggunannya. Aku bisa saja salah mengiranya sebagai salah satu kandidat Selir Kaisar jika dia tak menggunakan penutup mata dan tidak membawa-bawa crossbow-nya itu.
"Dia sudah bangun? Bagus lah. Ayo ikut denganku, manis." Katanya setelah mengalihkan pandangan dari cermin di hadapannya ke arahku.
"Ke mana?" Tanyaku.
Yi-Zhuo tidak langsung menjawabku. Dia beralih pada Eri yang masih memegangiku agar bisa berdiri dengan benar. "Eri, kau masih punya kimono berwarna merah muda yang cantik itu, kan? Pinjamkan untuknya. Naga Angin kita harus terlihat cantik di hadapan para calon Selir."
"Kenapa?" Tanyaku. Saat aku bertanya, Eri membantuku duduk di salah satu kursi di ruangan itu. Dia menepuk punggung tanganku dua kali tanpa terlihat oleh Yi-Zhuo—itu adalah isyarat yang kami pelajari yang berarti 'kau akan baik-baik saja dan aku akan segera kembali'. Eri kemudian pergi meninggalkanku berdua dengan Yi-Zhuo untuk mengambil kimono yang dimaksud untuk kukenakan.
Yi-Zhuo berhenti mengagumi pantulan dirinya sendiri di cermin, kemudian duduk di kursi di seberangku. Dia mengambil permen untuk dikunyah dan menawarkannya padaku. Saat melihat aku tak mengambil permen itu, dia menjawab pertanyaanku, "Kau akan membantu Maharani Sae-Byeok untuk memilihkan Selir untuk Kaisar. Perintah rahasia dari Ibu Suri." Dia mengunyah permennya, kemudian melanjutkan. "Semua wanita cantik, bersedia atau tidak, dikumpulkan hari ini di balai Istana. Jika kau melihat Ratumu di sana, kau harus segera memberitahu kami."
"Memangnya apa yang mau kalian lakukan pada Ratu kami?" Aku mengepalkan tanganku, menahan gejolak emosi. Jika saja aku sudah sepenuhnya bebas dari pengaruh obat bius, pasti sudah kudatangkan badai untuk menghancurkan Istana Giok.
Yi-Zhuo tersenyum seolah sudah menantikan pertanyaan itu dariku. "Menjadikannya Selir Kaisar, tentu saja."
Aku tertawa sarkas. Dia pasti bercanda. "Kau mau membuat Raja para Naga murka karena menjadikan istrinya sebagai Selir Kaisar?"
"Kau tidak mengerti, manis. Selir itu hanya awalnya saja. Ibu Suri berencana menjadikan Ratu para Naga sebagai Maharani Orient dan memimpin bersama Haru untuk mengambil hati rakyat. Bukankah bagus jika negeri ini dipimpin oleh Ratumu? Rakyat pasti akan sangat senang dan para pemberontak itu akan bungkam."
"Maharani Orient? Lalu bagaimana dengan Sae-Byeok?"
Yi-Zhuo kemudian mengeluarkan botol kaca berisi cairan hitam dari roknya. "Sae-Byeok akan segera berkenalan dengan Morta yang cantik ini. Dia tak berguna karena tidak bisa memberi negeri ini calon Putra Mahkota. Apa pun yang tak berguna harus segera dimusnahkan." Dia kemudian memasukkan kembali botol kaca itu seolah tahu aku akan segera merebut racun itu dari tangannya. "Kau lebih baik membantu kami dan bekerja sama. Ini demi kekaisaran. Lagi pula Ratumu akan diperlakukan dengan baik dan tidak akan dilukai sama sekali. Kau tahu sendiri Haru selalu memanjakan istrinya, Sae-Byeok buktinya. Dia akan berlaku baik pada Ratumu."
"Bagaimana kalau aku tidak mau membantu kalian?"
"Kalau begitu aku akan mencarinya sendiri bahkan jika harus melukainya."
...****************...
__ADS_1