
Namaku adalah Lee Yeon-Hwa, putri semata wayang dari Lee Yun—adik laki-laki beda ibu dari Menteri Lee Sun yang menghilang saat masih kecil dan menikah dengan gadis jelata suku Jung. Ibuku yang tak diketahui namanya tewas saat melahirkanku. Ayahku, Lee Yun, seperti yang diketahui oleh semua rakyat Orient, tewas dalam perang daerah perbatasan. Aku tinggal di kuil bersama para guru suci selama ini dan tidak tahu menahu soal keluargaku yang ternyata adalah Klan Lee terakhir yang masih hidup. Aku, secara tak langsung, memiliki hubungan kekerabatan dengan Maharani Orient, Lee Sae-Byeok. Aku ditemukan oleh Sae-Byeok saat Sang Maharani yang murah hati itu melakukan kunjungan religiusnya ke kuil tempat tinggalku di wilayah pedalaman. Dia melihat kemiripanku dengan pamannya yang telah tewas itu kemudian menyelidiki keluargaku. Tapi saat Sae-Byeok akhirnya mengetahui bahwa aku adalah putri Lee Yun, aku sudah tidak tinggal di kuil lagi karena memutuskan untuk tinggal di Jungdo. Di Jungdo, aku ditipu oleh orang jahat sehingga kehilangan uang tabunganku dan berakhir menjadi penari di daerah distrik merah. Kemudian aku terpilih menjadi penari di Istana Matahari dan kembali bertemu dengan Sae-Byeok. Begitulah akhirnya Sae-Byeok memberitahuku bahwa aku adalah putri bangsawan dari Klan Lee yang menghilang.
Begitulah identitasku sekarang. Harus kuakui, Sae-Byeok memiliki bakat menjadi seorang penulis novel.
Aku pernah menjadi Honey Welsh, gadis Westeria biasa yang menjual bunga ke kota, lalu pergi ke Noord dan menjadi preman pasar dan penipu ulung, kemudian menjadi mata-mata Schiereiland di bawah perintah Permaisuri Selena. Aku pernah menjadi ksatria wanita Montreux. Aku pernah menjadi pengawal Ratu Nordhalbinsel. Aku pernah menjadi mata-mata keluarga kaisar Orient utusan Ratu para Naga. Aku pernah menjadi penari Istana Matahari. Dan kini aku menjadi putri bangsawan Klan Lee yang mengikuti pemilihan Selir Kaisar.
Sungguh aku ingin segera kabur. Aku tak peduli jika karierku sebagai mata-mata berakhir. Aku tak peduli kalau aku tertangkap dan disiksa lalu dibunuh. Aku tak ingin menikah dengan Kaisar apalagi menjadi Selirnya. Bagiku menikah dengan Kaisar jauh lebih mengerikan daripada hukuman mati karena ketahuan sebagai mata-mata.
Tapi ada yang jauh lebih mengerikan dari itu.
Melihat ayah dan Abuela disiksa sampai mati di hadapanku.
Sae-Byeok, entah bagaimana, berhasil menyelidiki latar belakangku. Dia mengetahui bahwa aku memiliki seorang ayah dan nenek di Westeria. Aku tak yakin dia tahu atau tidak bahwa aku adalah putri dari Lee Seo-Hwa dan Panglima Wu. Aku tak yakin Sae-Byeok tahu bahwa yang dia tangkap dan dia penjarakan di bawah tanah saat ini adalah Panglima Perang terhebat di masanya. Tapi dia mengancam akan membuatku menyaksikan kematian perlahan dan menyiksa yang akan segera dialami oleh ayah dan Abuela jika aku tak menuruti perkataannya.
Mereka melumpuhkan kedua kaki ayahku dan mencambuk Abuela. Mereka membius ayah dan Abuela, membawanya ke Orient dalam keadaan tangan dan kaki diikat lalu menyiksa keduanya di penjara bawah tanah di hadapanku. Mereka akan membunuh ayah dan Abuela, jadi mau tak mau, aku menandatangani kontrak perjanjian dengan Sae-Byeok. Aku akan berusaha keras agar terpilih menjadi Selir Kaisar, bersumpah aku takkan pernah tidur dengan Haru dan tidak memberinya keturunan. Dengan begitu, Sae-Byeok akan tetap menjadi Maharani, dan aku tinggal menunggu agar diceraikan, lalu membebaskan ayah dan Abuela dan kembali ke Westeria.
"Hafalkan semua isi buku-buku ini malam ini. Besok akan ada tes lisan untuk para calon Selir." Perintah Sae-Byeok saat mendatangi kamarku di kediaman Klan Lee, rumah masa kecilnya. Dia membawa banyak sekali buku tua yang sudah lapuk. Aku membaca judul-judul buku itu.
"Tunggu." Kataku saat Sae-Byeok akan berjalan pergi meninggalkan kamarku untuk kembali ke Istana Giok. Sae-Byeok menghentikan langkahnya dan berbalik menatapku. "Aku sudah menghafal semua ini."
Sae-Byeok tertawa kasar. "Ya. Benar. Tentu saja." Katanya, dengan nada mencemooh.
Dia tak mengerti. Semua buku ini sudah pernah kuhafalkan isinya berulang kali sewaktu ibuku masih hidup. Sejak kecil, ibuku menyuapiku dengan semua ilmu pengetahuan yang harus dikuasai oleh seorang Putri Kaisar. Ibu tidak butuh buku untuk mengajariku semua itu, dia menghafal isi semua buku.
Tapi tentu saja percuma menjelaskan semua itu pada Sae-Byeok. Jadi aku hanya diam dan membiarkan dia pergi sementara aku membuka buku-buku tua itu. Mataku membaca setiap hurufnya, tapi pikiranku melayang ke mana-mana.
Apa yang akan terjadi jika aku gagal menjadi Selir Kaisar? Apakah Sae-Byeok akan membunuh ayah dan Abuela? Atau Sae-Byeok akan memastikan aku benar-benar menjadi Selir dengan menggunakan kuasanya sebagai Maharani? Lalu apa yang akan terjadi setelah aku berhasil menjadi Selir? Bagaimana caranya menghindari Haru? Bagaimana jika aku dituntut untuk melahirkan keturunan Kaisar?
Semakin dipikirkan aku semakin stres. Jadi aku memikirkan hal lain.
Bagaimana kabar teman-temanku di Dong-gung? Apakah Elias masih menungguku di tempat itu? Sebelumnya aku sudah memberitahu Elias bahwa aku akan segera pulang ke Dong-gung setelah rombongan Kaisar kembali ke Istana Kaisar di Jungdo. Kami sepakat akan bertemu di kedai ramen yang terkenal di pusat kota Jungdo, makan siang sebagai perayaan aku berhasil melewati hari-hariku di Istana Matahari tanpa ketahuan, lalu kembali ke Dong-gung untuk misi berikutnya. Di luar dugaan, rencana kami berantakan karena entah bagaimana Sae-Byeok tahu bahwa aku adalah mata-mata.
Elias tidak akan menungguku. Dia orang sibuk, dia pasti langsung pergi setelah tahu aku tidak datang. Dia mungkin tak repot-repot mencariku. Dia mungkin berpikir aku kabur dan kembali ke Westeria. Dia mungkin akan melapor pada Raja bahwa mata-mata kepercayaan mereka melarikan diri dari tugas. Aku mungkin tidak akan dipercaya lagi.
Rasanya aku ingin menangis. Aku ingin pulang. Tapi aku sendiri tidak tahu bisa pulang ke mana. Ayah dan Abuela ditangkap dan terluka karena aku. Rencana Anna dan Raja Xavier untuk menyelamatkan Nordhalbinsel dari ancaman serangan Orient mungkin juga jadi berantakan karena aku bukan mata-mata yang handal. Semua itu salahku. Aku tidak bisa menjadi anak dan cucu yang baik. Aku tidak bisa menjadi prajurit dan mata-mata yang baik. Aku gagal menjadi apa pun yang diharapkan orang-orang. Aku persis sosokku yang ada di mata Elias dalam setiap mimpiku. Bukan siapa-siapa. Lemah. Tak berdaya.
Malam itu, aku tertidur sambil menangis.
...****************...
Aku berhasil melewati tes lisan dan masuk ke tahap selanjutnya. Kali ini tinggal dua puluh gadis dari berbagai daerah yang tersisa. Dan kami diizinkan tinggal di Istana Giok sampai salah satu kami terpilih menjadi Selir Kaisar.
"Kau dengar, hari ini kita akan makan siang bersama Naga Angin dan para Torakka." Kata seorang gadis muda yang kuperkirakan usianya tidak lebih tua dariku. Mungkin masih delapan belas tahun. Dari logatnya, aku tahu dia orang suku Ilbon.
"Naga Angin? Bukankah kabarnya Naga Kembar menghilang karena tidak lagi mendukung keluarga Kaisar? Itu kan sebabnya pemberontakan terjadi di mana-mana."
"Itu terjadi saat Kaisar Qin masih memerintah. Sekarang, setelah Haru menjadi Kaisar, sepertinya para Naga telah kembali."
"Jadi sepertinya Haru memang Kaisar pilihan para Naga."
"Negeri kita terberkati."
"Aku jadi gugup akan makan siang bersama sosok suci dalam legenda. Seperti apa rupanya Naga Angin?"
"Kudengar dia bisa terbang."
__ADS_1
"Kudengar dia bisa mendatangkan badai jika marah."
"Kalau begitu lebih baik jangan membuatnya marah."
"Kudengar dia hanya anak kecil berusia tiga belas tahun. Tapi katanya dia sangat cantik dan pemarah."
"Konon katanya kalau kita menatap matanya, kita bisa menghilang menjadi udara kosong."
Aku hanya diam sambil mendengarkan gosip-gosip yang dilontarkan oleh para gadis kandidat Selir itu sambil menunggu jam makan siang di lorong kamarku. Dulu, aku pasti sudah langsung ikut bergabung bersama satu kelompok untuk turut mengobrol dan bergosip. Aku ingat saat pertama kali berkenalan dengan Anna saat kami sama-sama mengikuti pemilihan pengawal pribadi Xavier waktu dia masih seorang Putra Mahkota. Waktu itu aku memutuskan untuk mengajaknya bicara karena dia tampak pendiam dan tipe yang tidak akan mengobrol jika tidak diajak mengobrol lebih dulu. Aku lebih suka berkenalan dengan orang baru yang masih asing agar ada teman bicara dari pada menyendiri dan sibuk dengan isi pikiranku sendiri. Tapi sekarang aku tidak bisa begitu saja mengobrol dengan mereka. Aku berbeda dengan mereka. Mereka ingin menjadi Selir, aku tidak. Tapi aku harus berhasil menjadi Selir kalau tidak, entah bagaimana nasib ayah dan Abuela.
Tapi mendengar kami akan segera bertemu dengan Naga Angin membuat perasaanku sedikit lebih ringan. Aku tahu ini egois, aku tahu seharusnya merasa sedih karena itu artinya Kaze tertangkap oleh para Torakka. Namun itu juga berarti aku tak sepenuhnya sendirian di sini. Jika aku ingin berencana kabur, aku mungkin bisa membuat rencana melarikan diri dengan Kaze dan gadis kecil itu mungkin bisa membantuku serta ayah dan Abuela pergi dari sini. Kami mungkin bisa langsung ke Westeria jika dia mengizinkan kami menunggangi Naga Angin.
Saat yang ditunggu akhirnya tiba. Makan siang bersama Naga Angin dan dua orang Torakka. Kabar beredar di seluruh ruangan bahwa salah satu Torakka telah tewas dibunuh para pemberontak. Aku tahu bukan itu yang sebenarnya terjadi. Aku mendengarnya dari Elias yang mengetahuinya dari Shuu bahwa Torakka Gyeoul dibunuh oleh Raja Xavier.
Kaze tampak berbeda. Dia mengenakan kimono panjang nan mewah berwarna merah muda. Riasan wajah membuatnya terlihat lebih dewasa tapi tidak membuatnya lebih tua dari usia tiga belas. Tidak. Mungkin bukan riasan wajah yang membuatnya terlihat lebih dewasa, melainkan sikap diamnya selama jamuan makan siang. Dia benar-benar diam saja sambil mengamati para kandidat Selir satu persatu. Dia tidak mengatakan sepatah kata pun, hanya para Torakka yang menyampaikan kata-kata sambutan. Kaze bahkan terlihat bosan dengan acara ini. Sampai akhirnya mata kami bertemu. Pupil matanya melebar saat melihatku. Terlalu kentara. Dia seharusnya tidak bereaksi seperti itu. Dia harusnya berpura-pura tidak mengenalku.
Terlambat.
Salah satu Torakka yang duduk di sebelah kanannya, yang sejak tadi mengamati wajahnya menangkap gelagat itu. Gadis suku Jung bermata satu itu langsung mencari siapa yang dilihat oleh Kaze. Dia langsung melihatku, kemudian tersenyum padaku. Senyumnya membuatku merinding.
"Kenapa Xing Yi-Zhuo tersenyum ke arah sini?" Bisik gadis di sebelahku.
"Aku tak tahu. Tundukkan kepala saja. Berhati-hati lah padanya. Kudengar dia agak gila karena didikan keras keluarganya. Dia kan anak Panglima Perang Xing." kata gadis lainnya.
Aku turut menundukkah pandanganku, menghindari tatapan aneh dari Yi-Zhuo. Tapi Yi-Zhuo tidak mengalihkan pandangannya dariku sedikit pun selama sisa acara makan siang. Sampai akhirnya aku tak bisa mencerna satu pun hidangan mewah di hadapanku.
Usai acara makan siang, aku segera pergi ke ruangan pribadiku dan memuntahkan seluruh isi perutku. Padahal semua makanan tadi seharusnya terasa enak, seharusnya aku bisa menghabiskan tiga porsi, tapi tekanan yang kurasakan selama berada di Istana ini, serta tatapan dari Yi-Zhuo membuatku tidak dapat mencerna dengan baik.
"Silahkan diminum." Seseorang menyerahkan minuman hangat padaku. Sepertinya itu teh hangat, jadi aku langsung menerimanya.
"Terima kasih."
Aku menoleh ke belakang, ke arah orang yang tadi memberiku teh hangat ini.
"Bisa kita bicara sebentar?" Tanya Yi-Zhuo sambil tersenyum mengerikan padaku.
...****************...
Yi-Zhuo membawaku jauh ke bagian Istana yang belum pernah kudatangi sebelumnya. Di bagian ini, kalau aku tidak salah mempelajari denah Istana, adalah tempat Ibu Suri tinggal. Jantungku berdegup kencang seiring langkahku yang semakin mendekati ruangan Ibu Suri. Yi-Zhuo tidak mengikat tanganku maupun menodongku dengan senjata, aku bahkan tak dapat memastikan apakah dia menyembunyikan senjata dibalik rok panjangnya itu, tapi entah bagaimana berdiri di dekatnya saja bisa membuatku merinding ketakutan.
"Maaf, tapi sebentar lagi saya harus berkumpul bersama kandidat lainnya untuk tahap berikutnya." Kataku saat dia tak juga berkata apa pun selama perjalanan kami menuju ruangan Ibu Suri.
"Jangan khawatir," Katanya. "Kau akan tetap lolos tahap berikutnya."
Akhirnya kami sampai di ruangan yang dituju. Kamar Ibu Suri merupakan satu bangunan megah yang hampir bisa disebut Istana terpisah dari Istana Giok. Para pengawal berbaris di depan pintunya, membukakan pintu itu untukku dan Yi-Zhuo. Aku mengikuti Yi-Zhuo masuk ke dalam ruangan itu.
Jika perhitunganku benar, Ibu Suri Reina seharusnya berusia delapan belas tahun saat melahirkan Haru. Itu artinya, Ibu Suri saat ini berusia enam puluh tahun. Tapi yang berdiri di hadapanku saat ini adalah seorang wanita dewasa yang usianya tidak mungkin lebih dari tiga puluh tahun. Orang-orang Westeria mungkin bisa salah mengira usianya masih di pertengahan dua puluh tahun. Aku baru ingat kalau keluarga Kaisar memang awet muda. Saat melihatnya, aku jadi bertanya-tanya kenapa Qin memiliki banyak Selir. Reina sangat cantik. Tidak. Bukan sekedar cantik, dia memiliki wajah rupawan yang akan sulit dilupakan dan takkan ada yang bosan menatapnya.
Aku buru-buru berlutut di hadapan Reina. Wanita itu tersenyum lembut padaku. Saat melihatnya tersenyum, aku dapat dengan jelas melihat kemiripannya dengan Haru.
"Inikah orangnya?" Tanya Reina. Aku tak yakin dia sedang bertanya pada siapa. Dia menggunakan logat suku Ilbon seperti Kaze yang justru terdengar mendayu-dayu seperti sedang melantunkan lagu balad.
"Benar, Yang Mulia." Aku mengenali suara itu. Suara Kaze.
Gadis kecil itu melangkah ke depanku kemudian bersujud di hadapanku. Aku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku saat dia melakukannya. "Berkah Langit dan keabadian menyertaimu, Baginda Ratu." ucapnya dalam bahasa Orient yang anehnya terdengar sangat asing di telingaku. Setelah beberapa saat kemudian barulah aku sadar dia mengucapkannya dalam dialek kuno yang sudah lama tidak digunakan di masa sekarang.
__ADS_1
Kaze kemudian berdiri dan masih menunduk, menghindar bertatapan denganku. Dia hanya berani menatap Ibu Suri dengan penuh percaya diri, kemudian melanjutkan kata-katanya, "Beliau lah Ratu kami. Ratu para naga. Reinkarnasi dari Ratu Agung Zhera."
Apa katanya?
Ibu Suri tampak memperhatikanku, bersungut-sungut, kemudian berkata, "Kupikir seharusnya rambutnya berwarna merah seperti yang dituliskan di kitab-kitab kuno dan buku-buku sejarah."
"Dia merubah wujudnya agar terlihat seperti orang Orient, Yang Mulia." jawab Kaze tanpa ragu.
"Lalu di mana pasangannya? Kenapa dia mengikuti pemilihan Selir?"
"Naga Api Agung berada jauh dari sini. Saya tidak tahu di mana beliau berada." Kata Kaze. Dia mengucapkan semua itu dengan lancar seolah itu semua bukan kebohongan. Jelas-jelas dia tahu Raja Xavier ada di Dong-gung.
Aku tak mengerti apa yang sedang dia rencanakan. Dan aku tak tahu harus berperan bagaimana dalam sandiwara dadakan yang dia ciptakan ini. Jadi aku hanya diam sambil mencoba membaca situasi dan menerka-nerka apa yang sebaiknya kulakukan.
Yi-Zhuo yang sejak tadi hanya berdiri diam menjaga jarak dari Kaze dan Ibu Suri, kali ini angkat bicara, "Lebih baik kau tidak berbohong, Naga Angin. Aku jelas bertemu dengan Ratumu malam itu. Wajahnya berbeda."
"Sudah kubilang, dia merubah wujudnya. Kau tidak tahu sihir transformasi ya? Lagi pula untuk apa aku berbohong kalau kalian memang berniat menjadikan Ratuku sebagai Maharani Orient. Aku mendukung rencana Ibu Suri jika Ratuku benar-benar akan menguasai Orient."
Apa? Maharani Orient? Mereka berniat menjadikan Anna sebagai Maharani Orient? Tunggu. Bukan Anna. Mereka berniat menjadikanku sebagai Maharani Orient!
Aku memberanikan diri menatap Kaze, berharap dia mau menjelaskan sesuatu padaku entah bagaimana caranya. Tapi Kaze menolak menatapku.
"Apakah tidak akan ada masalah jika Ratumu menikah dengan Haru?" Tanya Ibu Suri kemudian.
"Tentu saja ada masalah. Tentu saja Rajaku akan sangat marah dan kalian semua harus bersiap menghadapinya. Tapi mereka memang tidak boleh bersama. Sang Langit tidak menginginkan mereka bersama, sejak dulu pun begitu. Setelah kupikir lagi, mungkin lebih baik Ratuku menikah dengan Haru dan menjadi Maharani daripada menentang kehendak Sang Langit dan akhirnya mengulang takdir tragis mereka."
Ibu Suri Reina tampak termenung, seolah memperkirakan apakah risikonya sepadan. Dia kembali menatapku, tapi tidak mengajakku bicara. Dia hanya bicara dengan Kaze seolah aku tak mengerti bahasa mereka. "Apa Naga Api Agung akan datang dan membakar habis seluruh Orient?"
"Kurasa dia takkan melakukan hal itu kalau Ratuku diperlakukan dengan baik dan tidak disakiti. Dia akan cemburu, tapi jika Ratuku bahagia, bersama siapa pun, dia pasti akan merelakannya. Seperti itulah Rajaku. Jadi alih-alih memaksa Ratuku menikahi Haru, lebih baik bernegosiasi dengannya."
Ibu Suri tampak menimbang-nimbang perkataan Kaze. Aku akan terkejut jika Ibu Suri benar-benar mempercayai kebohongan itu. Dia tidak mungkin benar-benar berpikir bahwa aku adalah Ratu para naga kan?
Tapi dugaanku salah. Dia mengangguk. "Tinggalkan kami berdua. Aku ingin bicara empat mata saja dengan calon menantuku."
...****************...
"Jadi..." Reina menghela nafas sebelum melanjutkan perkataannya, "Kau dipaksa oleh Sae-Byeok untuk menjadi Selir Haru dan kau harus menuruti perintahnya jika tidak mau ayah dan nenekmu disakiti?"
"Be-benar, Yang Mulia." Jawabku dengan tergagap.
Aku kurang lebih sudah mengerti garis besar rencana Kaze bahkan tanpa dia memberitahuku. Kaze sepertinya juga tertangkap. Dan saat ini Ibu Suri berniat membungkam para pemberontak dengan menggunakan Ratu para Naga. Seharusnya Anna, tapi karena Anna entah ada di mana dan aku tak tahu kabarnya saat ini, dan karena Kaze pasti ingin melindunginya, maka saat Kaze melihatku, dia mengaku bahwa aku adalah Ratu para Naga. Dari percakapan Kaze dengan Ibu Suri, aku mengerti bahwa mereka tidak akan berani melukaiku dan mereka hanya ingin bernegosiasi denganku.
Kudengar hubungan antara Ibu Suri Reina dengan Maharani Sae-Byeok tidak bagus, jadi sekalian saja kumanfaatkan hal ini.
Aku menceritakan semua yang Sae-Byeok lakukan padaku. Tentang ayah dan nenekku yang ditahan olehnya untuk mengancamku agar aku menjadi Selir Haru. Tentang dia yang melarangku tidur dengan Haru agar aku tidak mengandung Putra Mahkota, agar aku tidak menggeser posisinya sebagai Maharani. Jika dengan mengompori Ibu Suri aku bisa mendapat sokongan kuasa yang lebih besar dari Sae-Byeok, untuk menyelamatkan ayah dan Abuela, untuk menyelamatkan nyawaku sendiri, maka apa pun akan kulakukan. Bahkan jika itu berarti aku harus berpura-pura menjadi reinkarnasi Ratu Agung Zhera dan menjadi Maharani Orient.
"Siapa namamu tadi?" Tanya Ibu Suri. Padahal baru beberapa menit lalu aku memperkenalkan diriku.
"Yeon-Hwa, Yang Mulia."
"Yeon Hwa... Dengarkan aku baik-baik." Katanya. Suaranya kini berubah dingin dan angkuh. "Aku tak peduli perkataan Naga Angin. Aku tak peduli apakah kau benar-benar Ratu para naga atau bukan. Asalkan kau bisa tampil di depan rakyat sebagai Ratu para Naga, menikah dengan Haru dan menjadi Maharani, maka aku akan memastikan ayah dan nenekmu dapat dibebaskan."
"Dibebaskan dalam keadaan utuh dan bernyawa, tidak disakiti sama sekali."
Reina menghela napas berat, seolah persyaratan itu merupakan hal sulit baginya. "Baiklah, dibebaskan dalam keadaan utuh dan bernyawa serta tidak disakiti sama sekali. Dan aku menjanjikan dirimu juga akan aman dan tidak disakiti." Mimik wajahnya kini menjadi lebih tegang, namun antusias. Sepertinya rentetan skenario rencana sudah berkelibat dalam pikirannya saat ini. Apa pun itu, akan kulakukan agar ayah dan Abuela dapat diselamatkan. Reina melanjutkan, "Tapi kesepakatan diantara kita adalah rahasia. Haru juga tidak boleh tahu bahwa aku berencana menjadikanmu Maharani. Mengerti?"
__ADS_1
Aku seharusnya berlutut padanya, tapi aku tak melakukannya. Saat ini, aku adalah Ratu para Naga, Reinkarnasi Ratu Agung Zhera, calon Maharani Orient. Aku tidak berlutut pada siapa pun. "Baik, Yang Mulia."
...****************...