
Ponsel Zean berdering...
Adriana menelpon Zean hanya untuk memarahinya.
Zean, kamu keterlaluan, kenapa kamu menyembunyikan berita baik ini dariku, sebentar lagi aku akan punya cucu ?, " ucap Adriana lalu memutuskan panggilannya ".
***
Bibi Adriana dan Sally duduk ditaman belakang sambil menikmati bunga-bunga yang sedang bermekaran. Mereka mulai berbincang.
Sally, kamu sedang hamil, sebaiknya kamu mengambil pengurus rumah untuk membantu mu ?,
" ucap Adriana sambil memegang perut Sally ".
Sally ingin menjelaskan yang sebenarnya terjadi, tapi dia tak tega melihat bibi Adriana bersedih.
Sally mencoba mengalihkan topik pembicaraan, karena sedari tadi bibi Adrianan hanya membicarakan tentang kehamilannya.
Bibi, bagaimana dengan kondisi paman Alberto ?,
" tanya Sally ".
Bibi Adriana terlihat kebingungan dengan pertanyaan Sally yang tiba-tiba menanyakan kondisi kesehatan suaminya, dia melupakan satu hal kalau saat itu dia dan suaminya Alberto membohongi Zean dan Sally agar mereka berdua bisa menikah.
iya Sally, kondisi ayah Zean semakin membaik, dan itu semua karena kamu Sally, " ucap Adriana mencari alasan ".
Bibi Adriana menyuruh Sally jangan terlalu memikirkan kondisi kesehatan ayahnya Zean, karena sekarang dia sedang hamil, yang harus dia pikirkan adalah menjaga kesehatan dia dan calon bayi di dalam kandungannya karena calon bayi ini adalah penerus keluarga Nero.
__ADS_1
Sally, trima kasih karena kamu selalu ada untuk Zean, dan tolong jaga dia, karena dia pernah terluka sekali karena wanita itu, " pinta Adriana ".
Sally penasaran dengan ucapan bibi Adriana, dia mencoba menanyakan siapa wanita itu, dan kenapa Zean terluka karena dia. Tapi, perbincangan mereka terhenti sebelum bibi Adriana menceritakannya karena melihat Zean yang datang menghampiri mereka, bibi Adriana hanya berpesan jangan bicarakan hal ini dengan Zean, itu hanya masa lalu.
***
Zean duduk di samping ibunya.
Apa yang sedang kalian bicarakan ?, Apa kalian membicarakan keburukan ku ?, " tanya Zean ".
Bibi Adriana memukul punggung Zean.
Ibu, kenapa kamu memukulku, punggungku sakit bu ?, " ucap Zean manja ".
Bibi Adriana mengungkapkan kegembiraannya karena sebentar lagi dia akan mempunyai seorang cucu.
***
Selama tiga hari, Adriana tinggal bersama Zean dan Sally, dan hari ini dia harus kembali ke Amerika.
Zean dan Sally mengantar Adriana ke bandara.
Sebelum pergi, Adriana berpesan kepada Zean untuk selalu menjaga Sally dan menyuruh Zean untuk menahan hasratnya terhadap Sally karena bisa mencelakai cucunya yang ada di dalam kandungan Sally.
Wajah Zean dan Sally memerah karena malu.
***
__ADS_1
Zean dan Sally kembali ke rumah.
Sally merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Zean yang tidur di sampingnya mulai menggoda Sally. Dia memegang perut Sally sambil mengelusnya perlahan.
Sally menepis tangan Zean.
Kak Zean, aku ingin istirahat, jangan ganggu aku,
" ucap Sally ".
Aku tak mengganggumu, aku hanya sedang berbicara dengan calon anakku, " ucap Zean lalu tersenyum ".
Sally memandang Zean.
Kak zean, selanjutnya apa yang harus kita lakukan ?, Seharusnya saat itu kita tak perlu berbohong, yang seharusnya kita lakukan adalah memberitahu kebenarannya, dan sekarang semuanya menjadi semakin rumit.
Zean mendekatkan dirinya pada Sally lalu memeluk mendekap Sally dalam pelukannya.
Sebaiknya kamu beristirahat dan jangan memikirkan hal ini lagi, " ucap Zean ".
Kak Zean, aku suka kamu yang seperti ini, selalu menyayangiku. Bagaimanapun, sebentar lagi kita akan berpisah, aku hanya ingin di hari-hari yang tersisa ini, aku bisa selalu dekat dengan mu, aku akan berusaha menjadi istri yang baik, agar ketika kita berpisah nanti, kamu tak terlalu menyesal menikah denganku, " ucap Sally ".
Air mata Sally perlahan menetes membasahi pipinya.
Zean mendekap tubuh Sally lebih erat seakan tak pernah rela jika harus berpisah dengan Sally.
__ADS_1