
Hampir seminggu Sally terbaring koma di rumah sakit. Sedangkan Zean terus merasa bersalah, setiap harinya dia selalu di temani beberapa botol wine menemaninya.
Reva mengambil kesempatan ini untuk mendekati Zean lagi.
"Zean cukup, jangan minum lagi," ucap Reva.
Zean tak memperdulikan ucapan Reva,
dia terus minum sampai mabuk.
Dengan sisa kesadaran yang masih di milikinya, Reva mengantar Zean ke kamarnya.
Dengan perlahan Reva membaringkan tubuh Zean di atas ranjang.
Reva tak beranjak dari situ, dia melihat cincin pernikahan di jari manis Zean, dia berusaha melepaskan dari jari Zean, tapi tangannya di tepis Zean.
Reva kesal dan beranjak pergi meninggalkan Zean. Saat berjalan, mata Reva tak sengaja melihat surat perceraian yang berada di atas meja rias.
Surat perceraian itu sudah di tanda tangani Sally, sedangkan Zean belum menanda tangani surat itu.
"Kalian berdua harus bercerai," ucap Reva kesal.
Tiba-tiba muncul ide gila Reva untuk memalsukan tanda tangan Zean.
Reva mengambil surat perceraian itu, lalu membubuhkan tanda tangan palsu di dalamnya.
***
Keesokan paginya Zean terbangun dari tidurnya. Kepalanya masih terasa berat.
Dia segera membersihkan diri dan pergi ke rumah sakit menjenguk Sally.
__ADS_1
Sesampainya di sana Steve tak mengijinkan Zean masuk.
"Jangan halangi jalanku, aku hanya ingin melihat Sally, kamu tenang saja aku hanya sebentar saja melihatnya," ucap Zean.
Akhirnya Steve keluar dari ruangan tempat Sally di rawat, dan membiarkan Zean masuk menemui Sally.
Zean duduk di samping Sally.
"Maaf sayang, karena aku, kamu menjadi seperti ini," ucap Zean dengan raut wajah yang sedih.
Zean berbisik pelan di telinga Sally. Mengatakan dia sangat mencintai Sally, dan takut kehilangan dia.
Zean menundukkan kepalanya, mencium tangan Sally lembut.
Tiba-tiba Sally mulai menggerakkan jarinya perlahan. Zean menyadarinya, dia terus berbisik di telinga Sally kalau dia sangat mencintai Sally. Tanpa sadar air mata Sally keluar dari matanya.
Zean bergegas memanggil dokter memberitahukan kondisi Sally.
Malam itu Zean memutuskan untuk menemani Sally di rumah sakit.
Steve terpaksa menerima kehadiran Zean disana, dia membuang ego nya, yang terpenting bagi Steve, asalkan Sally segera pulih kembali.
Keesokan paginya.
Sally mulai sadar, dia membuka matanya perlahan dan menemukan dua orang pria
yang sedang tertidur.
Sally memanggil Zean.
"Kak Zean... kak Zean... kak Zean bangun...," ucap Sally.
__ADS_1
Zean tersadar karena mendengar suara Sally. Dia membuka matanya perlahan dan melihat Sally yang sudah sadar.
Dengan spontan Zean menghampiri Sally dan mencium lembut kening Sally.
"Kak Zean jangan menciumku seperti ini, kekasih ku juga ada disini, aku tak mau dia salah sangka," ucap Sally.
Zean bingung, ada apa dengan Sally.
Sally meminta Zean membangunkan Steve. Zean menuruti perintah Sally.
Steve senang melihat Sally yang sudah siuman kembali. Sally bertanya pada Steve kenapa dia bisa sampai di sini bukankah malam itu yang tertabrak mobil bukankah Steve.
Steve dan Zean di buat bingung oleh Sally.
"Sally kamu kenapa?, apa kamu mengingat siapa aku dan Steve?," tanya Zean.
Sally mengangguk.
"Kamu kakak ku Zean, dan kamu kekasihku Steve," Sally menunjuk dengan jari telunjuknya ke arah Zean dan Steve bergantian.
Saat kecelakaan, kepala Sally terbenturan sehingga menyebabkan Sally kehilangan memori jangka pendek. Dia bisa mengingat kejadian masa lalunya tapi tak bisa mengingat kejadian di masa sekarang.
Zean sedih, dia belum bisa menerimanya, sekali lagi dia bertanya pada Sally, "Sally, apa kamu tidak mengingat kalau kita sudah menikah."
Sally hanya tertawa mendengar ucapan Zean, dia berpikir kakaknya sedang bercanda. "Kak Zean, mana mungkin kita menikah, itu kan hanya candaan paman dan bibi sedari kecil.
Steve kesal melihat sikap Zean yang terus memaksa Sally mengingat kembali dan membuat kepala Sally terasa sakit.
"Zean tolong hentikan dengan pertanyaan bodoh mu itu, apa kamu tidak melihat Sally sekarang kesakitan." ucap Steve marah.
Akhirnya Zean terdiam...
__ADS_1