LOVE SON OF THE RULER

LOVE SON OF THE RULER
MEMASAK BERSAMA


__ADS_3

Beberapa menit kemudian.


Revan keluar dari dapur dengan baju yang sedikit basah, dan kemudian menatap Revin yang duduk bersama sang ayah.


"Kak Revan baik-baik saja?" tanya Rania dengan mengedipkan matanya beberapa kali, seolah tidak tahu apa yang membuat suaminya itu sampai seperti ini. Meski memang ia tidak tahu.


"Ah, iya," jawab Revan singkat, lalu mendudukkan diri kembali ke tempatnya dan mengernyit saat mendengar Revin yang cekikikan disampingnya.


"Apa yang kau tertawaan?" tanya Revan ketus pada adiknya itu.


Revin mengelengkan kepalanya dengan menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara tawanya.


"Em, kak Revan. Susu buat kak Rania mana?" tanya Vivian dengan menatap Revan, lalu menatap gelas yang telah kosong.


"Hahaha!" pecahlah tawa Revin, ia kini menyentuh perutnya dengan melirik kearah sang kakak yang menatapnya datar.


"Apa yang lucu?" ucap Revan ketus, lalu bangkit dari duduknya dan berjalan ke dapur, membuat susu baru untuk Rania.


"Hahaha!" tawa Revin semakin pecah, kala mendengar sang ayah yang ternyata tengah menahan tawanya sedari tadi.


"Apa lucu menertawakan anakmu!" ucap Ana menegur suaminya itu, yang seketika mengigit bibirnya.


"Tidak, maaf. Aku hanya teringat akan Rafael dulu," ucap Arian mencoba untuk menghentikan tawanya.


"Memangnya paman Rafael kenapa, dad?" tanya Revin yang penasaran dengan apa yang terjadi pada Rafael dulu.


"Dia sama seperti Revan ....," ucapan Arian terhenti, kala mendengar suara Revan yang berjalan menghampirinya.


"Dad," ucap Revan, yang artinya Arian tidak boleh mengucapkan hal yang membuat ia mengingat kejadian tadi.


"Apa? Daddy hanya mengatakan kenyataan, dulu Rafael juga pernah meminum susu ibu hamil satu kali," ucap Arian membuat Ana menundukan kepalanya, untuk menahan tawanya. Sedang dua pasang suami istri itu terdiam.


"Hah? Serius paman Rafael pernah minum susu ibu hamil?" tanya Revin tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


Arian menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan putra keduanya itu.


"Sayang ...," rengek Revan dengan menatap sayu istrinya, yang berniat untuk meminum susunya, dengan meniup pelan susu panas itu.


"Aku tidak perlu ikut ya," ucap Revan dan seketika membuat Revin membulatkan matanya.


"Tidak boleh! Kau juga harus ikut Brother, mana ada cuma aku dan Daddy saja yang masak. Tidak boleh! sangat tidak adil namanya," ucap Revin tidak terima, karena mengerti kemana arah pembicaraan kakaknya itu.


"Diam!" ucap Revan dengan menjauhkan wajah Revin dengan tangannya.

__ADS_1


"Sudah, tidak ada bantahan. Kalian bertiga segera bersiap untuk masak, aku ingin sekali mencicipi masakan suami dan putra-putraku," ucap Ana dengan senyum semanis mungkin dibibirnya.


Arian, Revan dan Revin menghembuskan nafas kasar, lalu bangkit dari duduknya untuk pergi ke dapur dengan membawa gresek sedang isi sayuran pahit yang tidak ingin mereka makan itu. Tapi tetap harus mengolahnya, terlebih karena ibunda ratu sudah berbicara.


* * *


Beberapa saat kemudian.


Arian, Revan dan Revin sudah memakai celemek mereka, dengan tiga orang wanita yang sudah duduk dikursi didepan meja makan, bersiap melihat siaran langsung para koki pria memasak sayuran yang disebut Pare.


"Kakak!" Terdengar suara teriakan dari luar, dan seketika semua pasang mata menoleh kembang pintu dapur, di mana sudah ada Reana yang berdiri dengan tatapan terkejutnya, terkejut melihat ayah dan dua kakaknya memakai celemek, sedang ibu dan kakak iparnya duduk dengan santai dikursi.


"Em, ada apa ini?" tanya Reana dengan wajah ketidak tahuannya.


Mata Reana berbinar senang, saat melihat sayur dan ada didepan ayah dan dua kakaknya, sayur kesukaannya.


"Daddy, kak Revan dan kak Revin mau masak itu?" tanya Reana dengan binar senang diwajahnya. "Masak yang banyak ya kak, dad," ucap Reana, lalu ikut duduk dikursi didepan meja makan.


Revan dan Revin terdiam, lalu menatap sang ayah yang menghembuskan nafasnya.


'Pasrah sajalah,' ucap mereka bertiga dalam hati dan mulai mengambil pisau untuk mengolah sayuran itu.


Empat wanita itu masih setia melihat Arian, Revan dan Revin berkutat didapur, sungguh pemandangan yang sangat langkah.


Arian menoleh dan menatap pada wadah yang berada didepan putranya, ia kemudian berjalan mendekat kearah Revin, meninggalkan masakannya yang berada diatas kompor.


"Aku rasa juga sudah banyak," jawab Arian, lalu kembali berjalan ke tempatnya tadi.


Revin menghembuskan nafasnya mendengar hal itu. Tiba-tiba Reana bangkit dari duduknya, dan berjalan menghampiri kakaknya itu, melihat apakah benar jika hal itu sudah banyak atau belum.


"Ih, ini masih kurang kak," ucap Reana saat tiba dihadapan kakak keduanya itu.


"Jika masih kurang, kamu saja yang memotongnya lagi," ucap Revin menyodorkan pisau pada adiknya.


"Loh, kan tugas kakak. Masa ngerjainnya setengah-setengah sih, ngga baik tau. Kan?" ucap Reana lalu menoleh pada tiga wanita yang setia duduk ditempat mereka.


Ana, Rania dan Vivian menganggukkan kepala mereka, membuat Revin menangis dalam hati.


'Ya tuhan, kejam sekali penderitaan yang kau berikan,' ucap Revin dalam hati dan kembali mengiris sayuran itu.


Reana kembali duduk ditempatnya, lalu perlahan Revin menoleh pada Revan yang masih asyik mengiris daging tidak jauh darinya.


"Brother, kita tukaran yuk!" usul Revin, dan dengan cepat Revan menjawab.

__ADS_1


"Tidak!" jawabnya singkat padat dan jelas.


"Dasar kejam!" ucap Revin lalu kembali memotong itu.


* * *


Satu jam kemudian.


Sudah satu jam tiga pria itu berkutak didepan kompor dan sayur pahit, kini semua masakan tersaji diatas meja makan.


Arian dan Revan menyiapkan piring dan beberapa gelas untuk air putih, sedang Revin masih setia berdiri didepan westafel, mencuci tangannya hingga benar-benar bersih menurutnya.


'Aku berharap, Vivian tidak akan meminta sayuran seperti ini nanti. Sungguh aku tidak bisa,' ucap Revin dalam hati dengan terus mengosok tangannya dengan sabun, yang entah sudah yang keberapa kali ia membasuh dan memberi sabun pada tangannya.


Semua sudah siap, kini semua orang duduk dikursi masing-masing. Rania berdekatan dengan Revan, dan Revin berdekatan dengan Vivian. Arian yang duduk berdampingan dengan Reana dan Ana.


Semua wanita itu mulai menyendokkan nasi ke piringnya, sedang tiga pria itu masih setia diam dengan menatap aneh pada apa yang akan mereka santap. Pasalnya semua makanan itu dicampur dengan sayur pare atas perintah ibunda ratu dan Rania.


Terdengar helaian nafas dari Arian, Revan dan Revin, lalu perlahan mulai menyendokkan lauk pauk ke piring masing-masing.


Tiba-tiba terdengar suara seseorang dari arah pintu, dan seketika semuanya berbalik untuk melihat siapakah yang datang.


"Halo, Van, Vin!" Seru seseorang, yang tidak lain adalah Carlos, dengan Felisia yang berdiri disampingnya.


"Wah, makanan enak," ucap Carlos lagi, dan seketika duduk dikursi kosong disamping Revin.


Felisia mengelengkan kepalanya dan ikut duduk disamping suaminya itu.


"Boleh makan bersama kan, bibi?" tanya Carlos antusias dengan tersenyum pada Ana.


Ana menganggukkan kepalanya, dan tidak menunggu lama Carlos pun mulai menyendokkan nasi dan lauk ke piringnya, membuat Arian, Revan dan Revin terkejut dan lebih terkejutnya lagi saat melihat Carlos memakan pare tanpa protes.


"Em, Car. Bukankah kau tidak suka ... makan itu?" tanya Revin dengan menatap aneh sahabatnya itu.


"Kenapa tidak suka, ini enak kok. Coba saja," ucap Carlos dengan mulut yang menguyah.


Revan dan Revin terdiam melihat hal itu, lalu beralih menatap piring masing-masing.


'Masa sih?' ucap Revan dan Revin dalam hati, lalu perlahan mulai mengangkat sendok untuk menyendok sayur itu.


Arian terdiam melihat hal itu, lalu menatap kearah Felisia yang mengelengkan kepala melihat suaminya.


'Ada yang aneh?' ucap Arian dalam hati, dengan mencoba menemukan keanehan pada putra sahabatnya, lalu beralih pada Revan dan Revin yang kini mulai ingin menguyah sayur yang berada disendok masing-masing, siap untuk masuk kemulut.

__ADS_1


__ADS_2