
Revan diam sambil menatap lurus pada sosok anak kecil yang tengah duduk di bawah pohon rindang di halaman rumahnya.
Anak kecil yang dulunya selalu mengisi rumah dengan tawa, kini hanya diam dengan wajah tanpa ekspresi.
Revan menghela napas kasar. Sekali lagi ia menyalahkan diri sendiri untuk hal yang terjadi pada putranya. Tanpa sadar ia meneteskan air mata, membuat tangannya dengan cepat mengusap kasar pipinya.
"Kak."
Revan tersentak, seketika menoleh menatap Rania yang kini menghampirinya dengan wajah yang menenangkan.
Sejak kematian Ibunya, tidak ada lagi senyum dan canda tawa yang terdengar di keluarga besarnya. Pertemuan keluarga yang terjadi beberapa hari yang lalu pun hanya ada keheningan tanpa pembicaraan.
"Kak Revan baik-baik saja?" tanya Rania pada suaminya yang terlihat murung.
Pria itu hanya menganggukkan kepalanya. Memaksakan senyuman di bibir agar istrinya tidak khawatir.
"Aku baik-baik saja, Sayang. Kuenya sudah jadi?" tanya Revan mendapat anggukan kepala oleh Rania.
"Iya, karena itu aku keluar untuk memanggil Jayden. Mungkin suasana hatinya akan sedikit lebih baik dan tersenyum saat melihat kue kesukaannya." ucap Rania dengan senyum, meski ragu jika Jayden akan tersenyum.
Senyum di wajah putranya itu seketika menghilang sejak satu bulan yang lalu. Kini hanya terlihat wajah datar tanpa ekspresi, tatapan tajam yang sangat mirip dengan tatapan Revan saat marah.
__ADS_1
"Ya sudah, aku akan memanggilnya." Revan melangkahkan kakinya menjauh dari Rania. Menghampiri putra semata wayangnya yang kini terlihat menggambar sesuatu pada buku di pangkuannya.
"Jayden!"
Anak laki-laki berusia enam tahun itu menolehkan kepalanya. Menatap datar sang Ayah yang kini menghampirinya dengan tersenyum.
Jayden hanya diam saat Revan berhenti di sampingnya lalu berjongkok. Ia sangat tahu jika senyum di wajah Ayahnya hanyalah sebuah kiasan untuk menutupi kesedihan.
Walau telah berlalu sebulan, tapi perasaan kehilangan itu masih membekas di hati dan itulah yang keluarga besar mereka rasakan saat ini.
"Ayo masuk ke dalam rumah, Sayang. Mommy membuat kue kesukaanmu." Revan mengulurkan tangan di hadapan Jayden, berharap agar putranya itu menerima uluran tangannya.
Senyum Revan terbit seketika saat Jayden menggenggam tangannya. Raut wajah anak laki-laki itu masih sama, hanya menampilkan raut wajah datar tanpa ekspresi.
"Hari ini Jayden menggambar apa?" tanya Revan, mencoba berbincang dengan Jayden sambil terus berjalan ke arah Rania yang menunggu mereka di depan pintu.
"Wajah Nenek," jawab Jayden singkat.
Seketika tubuh Revan menegang, beberapa kali ia menelan kasar salivanya lalu menatap pada Jayden yang hanya diam dan ikut menghentikan langkahnya.
Revan mencoba tersenyum, sedang Rania mengerutkan keningnya menatap perubahan ekspresi pada wajah suaminya dari kejauhan.
__ADS_1
"Wah, Jay anak yang pandai. Jika besar nanti Jay ingin jadi apa, Sayang?" tanya Revan lagi, mencoba menenangkan dirinya.
"Tidak ada." jawab Jayden singkat, melepaskan tangannya saat tiba di hadapan sang Ibu.
"Masuklah ke meja makan lebih dulu, Sayang." ucap Rania mengusap pelan rambut putranya.
Jayden segera pergi meninggalkan kedua orang tuanya di ambang pintu. Masuk ke dalam ruang makan sesuai dengan perintah Ibunya.
"Ada apa?" tanya Rania pada suaminya, mendekat dan mengusap kening Revan yang sedikit berkeringat.
"Tidak apa-apa," jawab Revan, mengusap pipi Rania.
Rania hanya mengangguk meski ragu jika keadaan suaminya benar-benar baik.
"Em, Sayang."
Rania menaikkan sebelah alisnya menatap Revan yang tiba-tiba memanggil namanya.
"Apa kamu tidak keberatan jika kita membuat adik untuk Jayden?"
***
__ADS_1
Note:Hay aku balik, kayaknya ini mau aku tambahin ekstra part deh sambil nunggu bulan depan buat novel si Jayden 😁
Happy Reading All, semoga suka❤️❤️❤️