
Empat orang di lantai bawah seketika menoleh ke atas saat
mendengar suara tangisan Viano beserta tangisan anak laki-laki itu. Secepat kilat
Revin berlari keluar dari dapur naik ke lantai dua, mendekat pada pintu kamar
keponakannya.
“Viano!” teriak Revin saat tiba di ambang pintu. Menatap dalam
diam ke arah dua anak yang hanya terdiam di tempat menatap Viano.
“Papa!” rengek anak laki-laki itu dengan air mata yang kian
membasahi pipinya.
“Ya Tuhan, ada apa? Kenapa bisa menangis?” Revin berjongkok
di hadapan Viano, sesekali melirik anak perempuannya yang hany diam tanpa raut
wajah bersalah sedikit pun.
“Dia…” adunya sambil menunjuk ke arah Viana.
Sudah Revin duga jika dalangnya adalah putri kecilnya.
“Sayang… kenapa membuat adikmu menangis?” tanya Revin selembut
mungkin pada Viana.
“Aku tidak tahu jika dia ada di belakang pintu, Pa.” jujur
Viana.
Revin mengusap kasar wajahnya, kini ia mulai menyimpulkan
sesuatu di benaknya.
“Jayden…” panggilnya lirih pada keponakannya itu, berharap
agar keponakan kulkasnya mau mengatakan sesuatu untuk meluruskan hal itu.
“Ada apa?” serentak pandangan Revin dan tiga anak kecil itu
mengarah ke ambang pintu, di mana kini tiga orang dewasa berjalan memasuki
kamar.
Kening Jayden terlihat mengerut, ia benci keramaian.
“Tadi Viano bersembunyi di balik pintu.”
“Lalu Viana membuka pintu dengan keras.” lanjut Jayden,
berharap orang-orang itu segera keluar dari kamarnya.
Empat orang dewasa itu menghela napas pelan. Cukup mengerti
apa yang terjadi.
“Jadi laki-laki jangan terlalu nakal pada saudarimu,” Revin
sedikit menasehati putranya yang entah mendengar atau tidak.
“Iya.” sahutnya singkat.
Viano bangkit dari duduknya, menghampiri saudarinya yang
berdiri di samping Jayden.
“Maaf,” ucap Viano sesekali sesugukan, “Tadi aku sengaja
ingin mengagetkanmu.”
Viana terdiam, lalu memeluk tubuh saudaranya. Mereka akur,
ya akur. Tapi tidak akan bertahan lama.
“Tidak apa-apa,” ucap Viana dengan senyum di bibirnya.
“Terima kasih… Viana.”
Anak perempuan itu hanya tersenyum sambil mengangguk. Ia memang
anak perempuan yang baik, tapi sayangnya pendendam.
Viano berbalik untuk kembali mendekat Ayahnya.
“Sudah, Viano sudah meminta maaf.” ucapnya, lalu menarik
celana kain sang Ayah. Seolah mengisyaratkan agar Revin mengendongnya.
Revin sedikit berjongkok, lalu mengangkat tubuh mungil
putranya.
“Papa…”
“Iya,” sahut Revin dan menatap wajah Viano.
“Rambut Viana seperti ekor kuda warna hitam yang aku lihat
__ADS_1
hari itu.”
Nah, kan. Mulai mencari masalah lagi.
‘Apakah sifat mencari masalahmu ini akan terus berlanjut
hingga dewasa?’ batin Revin.
Vivian mengeleng pelan, memilih mendekat ke arah putrinya
dan berjongkok untuk menenangkan Viana yang terlihat kesal.
“Viano hanya bercanda, Sayang. Viana terlihat sangat cantik
dengan rambut iikat seperti ini,” puji Vivian sedikit melirik ke arah Jayden
yang hanya diam sambil mencekram kuat buku di tangannya, terlihat tidak nyaman
dengan keramaian di kamarnya.
“Ayo, kita keluar dan bermain. Jayden…”
Jayden segera menggeleng sebelum Vivian selesai berbicara.
“Tidak, Aunty.” jawabnya singkat.
“Baiklah, kalau begitu. Ayo, Sayang.”
Viana terlihat menoleh ke arah Jayden sebelum di gendong
oleh sang Ibu.
Jayden hanya diam saat orang-orang mulai keluar dari
kamarnya. Menyisakan sang Ayah dan Ibu yang terdiam sambil menatapnya.
“Aku akan keluar untuk menyiapkan semuanya.” Rania berlalu
dari kamar putranya, ia tahu jika Jayden tidak nyaman Ketika ada banyak orang yang
masuk ke dalam kamarnya.
Kini hanya tinggal Revan di ambang pintu. Ia berjalan
mendekat ke arah Jayden, ikut mendudukkan diri di samping putranya.
“Ayo, kita keluar dan bermain.”
Revan terus berusaha untuk mengambil hati Jayden agar
putrany itu kembali seperti semula. Ceria dan murah senyum.
“Aku ingin di sini saja.”
gambar di buku putranya.
“Jay…”
“Kenapa pencarian pembunuh Nenek dihentikan?”
Tubuh Revan tiba-tiba menegang kala mendengar pertanyaan
Jayden, tatapan rapuh yang sebenarnya tidak dimiliki oleh anak usia enam tahun,
kini terlihat jelas di mata putranya.
“Jay…”
“Bukankah orang jahat yang tidak tahu aturan harus diberi
hukuman? Bukankah tindak kejahatan harus mendapat hukuman?”
Genangan air mata terlihat di pelupuk mata anak laki-laki
itu, membuat Revan mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan hati yang terasa
begitu sakit.
“Maafkan Daddy, Sayang.” Revan menarik Jayden ke pelukannya,
mengusap punggung putranya yang kembali menangis setelah sekian lama.
“Daddy, kakek dan paman Revinmu sudah berjanji untuk
melupakan kejadian itu, Sayang. Kami tidak boleh mencari lagi, membiarkan
semuanya seperti tidak pernah terjadi.”
Jayden mengepalkan kedua tangannya begitu kuat, ia kembali
menangis sekerasnya di pelukan sang Ayah. Ia rindu, sangat rindu pada sosok Ana
yang selalu menyayanginya dan memeluknya.
“Aku ingin tinggal di rumah, kakek.”
Revan seketika menjauhkan tubuh mungil putranya, menatap
dalam diam pada mata biru Jayden.
“Jay…”
__ADS_1
“Aku akan tinggal bersama kakek.”
“Tapi… Jay…”
Revan menghela napas dalam, ia mengangguk menyetujui
keputusan putra kecilnya.
“Sebaiknya kita bicarakan hal ini pada Mommymu juga.”
Jayden hanya menganggukkan kepalanya. Tangisnya telah reda,
ia kembali menjadi dingin dan irit berbicara.
***
Setelah perbincangan singkat kemarin, kini satu keluarga
kecil itu berada di dalam mobil dalm perjalanan menuju mansion Arian.
Rania yang duduk di kursi depan samping kemudi, menoleh sekilas
ke arah putranya yang duduk di bangku belakang dengan terus menatap keluar jendela.
Wanita itu kembali menoleh ke arah suaminya yang hanya diam
mengemudi sejak tadi.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, kini mobil
telah berhenti di depan mansion.
Jayden segera keluar dari mobil tanpa menunggu kedua orang
tuanya. Berjalan masuk ke dalam mansion dan mendekat pada sosok pria yang duduk
di ruang tamu.
“Kakek.”
Seketika Arian dan Kimso yang berada di ruang tamu membicarakan
hal penting, serentak menatap Jayden yang mendekat ke arah mereka.
“Jayden,” ucap Arian dengan senyum di wajahnya. Melihat Jayden
bagai melihat istrinya.
Arian mengangkat tubuh cucunya hingga kini Jayden duduk
dipangkuanya dalam diam. kimso hanya diam di samping sofa tempat duduk Arian,
tersenyum hangat saat anak laki-laki itu menatapnya.
“Daddy,” panggil Revan menarik perhatian. Terus berjalan
mendekat ke arah sofa dan duduk di sofa berhadapan dengan Arian.
“Aku sangat senang karena kalian datang berkunjung ke sini,”
jujur Arian. Ia sangat rindu pada cucunya itu. Karena sibuk, ia tidak pernah
sempat untuk datang ke kediaman Revan maupun Revin.
“Ada apa?”
Revan terlihat ragu untuk berbicara. Ia menatap putranya
sekali lagi, tapi Jayden hanya memperlihatkan raut wajah datar.
“Jayden ingin tinggal bersama, Daddy.” ucap Revan menghela napas. Ia buka tak rela, Revan
hanya merasa telah gagal menjadi Ayah yang baik.
Arian tersenyum, lalu mengangguk. Baginya tak masalah, ia
bahkan siap menampug semua cucunya.
“Kalian tenang saja, Daddy akan menjaganya dengan baik. Kalian
juga bisa berkunjung kapan saja, bukan? Cukup berikan Jayden adik yang cantik saat
dia berada di sini.”
Sepasang suami istri itu mengangguk mengerti, lalu menatap
kembali putra mereka yang hanya diam di pangkuan Arian tanpa tahu hal apa yang
tengah dipikirkan oleh Jayden.
Sementara Jayden kini tengah termenung. Tinggal bersama dengan
Arian bukan tanpa sebab, tapi ia ingin belajar seni beladiri. Ucapan sang Ayah
yang ia dengar kemarin, membuat Jayden bertekat dalam hati.
‘Aku akan menemukan orang itu. Meski harus memakan waktu
bertahun-tahun,’ batin Jayden dengan tangan terkepal kuat.
END
__ADS_1
Note: Kita lanjut kisah Jayden aja. ini aku tamatin