
Vivian terdiam mendengar hal itu, menunduk menatap benda yang ada di tangannya lalu tersenyum kecil pada sang ibu mertua.
"Ini Vivian beli pedangan kaki lima, Mom. Lucu, jadi aku beli. Apalagi kalau dipakein di rambut kak Revin, imut banget." ucap Vivian, sedikit mencurahkan hal yang ada diingatannya tentang benda itu.
Arian dan Ana mengerutkan kening mereka, menoleh bersamaan ke arah Revin yang menepuk pelan keningnya sendiri. Sedang Revan dan Rania berusaha mati-matian menahan tawa mereka.
Empat bulan yang lalu.
Revin dan Vivian dalam perjalanan pulang ke rumah setelah dari rumah sakit, mobil melaju pelan di jalan raya, hingga Vivian dapat melihat jelas hal-hal yang ada di pinggir jalan.
Ia terdiam sejenak saat melihat sesuatu yang menarik perhatiannya, dengan cepat ia menoleh ke arah Revin yang begitu fokus pada jalan.
"Kak Revin! Berhenti, lihat di sana!" ucap Vivian, menarik lengan Revin membuat suaminya terkejut dan refleks mengerem mendadak mobil di tepi jalan.
Revin menoleh tak percaya pada istrinya, yang kini telah keluar dengan tergesa-gesa dari dalam mobil.
"Vivian!" ucap Revin, sedikit berteriak dan segera membuka pintu mengejar Vivian yang menyebrang jalan, "Ya Tuhan, kamu kenapa lari-larian kayak gitu?! Nanti kalau ada apa-apa gimana?"
Vivian menoleh pada sang suami yang kini berdiri di sampingnya dengan raut wajah cemas. Ia tersenyum kecil, mengaruk pipinya yang tidak gatal.
"Maaf," ucap Vivian, mengerjapkan matanya beberapa kali dengan senyum di wajahnya.
Revin menghela nafas pelan melihat hal itu, jika Vivian sudah menunjukkan sisi imutnya, maka dia akan mengalah.
"Oke," ucap Revin lalu fokus pada beberapa barang yang tergantung di hadapannya.
"Kak Revin."
Revin tersentak mendengar panggilan istrinya, ia menoleh lalu mengangkat satu alisnya melihat Vivian yang menatapnya penuh arti.
"Apa?" tanyanya.
"Ih, peka banget sih. Makin sayang deh," ucap Vivian yang membuat sudut bibir Revin terangkat hingga menciptakan senyuman, "Beliin!" lanjut Vivian, memperlihatkan beberapa ikat rambut lucu berwarna pink dengan boneka kecil yang menggelantung indah.
"Hanya itu?" tanya Revin, mendapat anggukan antusias dari Vivian.
"Kenapa tidak sekalian membeli semuanya?" tanya Revin, mendapat pukulan kecil di lengannya.
"Hehe, becanda sayang."
Vivian memayunkan bibirnya mendengar hal itu, memberikan beberapa ikat rambut pilihannya pada sang penjual. Sedang Revin meraih salah satu ikat rambut itu, lalu berpindah ke belakang tubuh istrinya. Mengikat rambut Vivian yang tergerai.
__ADS_1
Vivian hanya diam melihat hal itu, membiarkan suaminya mengikat rambutnya.
"Selesai," ucap Revin, kagum akan hal yang baru saja ia lakukan.
Vivian berbalik setelah mengambil paperbag kecil tempat ikat rambut yang ia beli, menoleh pada Revin yang kini menatapnya tanpa berkedip.
"Apa?" tanyanya, saat sang suami tak kunjung mengalihkan pandangan dari wajahnya.
"Cantik bagai bidadari," puji Revin membuat pipi Vivian merona bak tomat matang.
"Apaan sih!" ucap Vivian, malu sambil memukul pelan dada bidang suaminya, tak lupa kepala yang menunduk menyembunyikan rona merah di wajahnya.
"Serius, aku tidak berbohong. Bidadari cantik yang menjaga hatiku kini hingga tua nanti," ucap Revin semakin membuat wajah Vivian merona hingga ke telinga.
"Udah ah," ucap Vivian, berjalan lebih dulu melewati Revin ke mobil.
"Eh, tunggu sayang!" teriak Revin, memberikan beberapa yang lembar pada sang penjual lalu berlari mengejar istrinya.
Lima belas menit kemudian.
Revin dan Vivian tiba di rumah, berjalan beriringan memasuki mansion dan mendapati Rania yang tengah duduk di sofa sendirian sambil memakan buah yang telah dipotong kecil.
Rania yang mendengar sapaan itu, menoleh dan tersenyum lembut pada Vivian lalu beralih menatap Revin yang kini duduk di hadapannya.
"Gimana hasilnya?" tanya Rania, menawarkan buah di piring pada Vivian.
"Kabar baik, janinnya sehat." jawab Revin, sementara Vivian memakan dengan lahap buah-buahan di piring itu.
"Maaf, kak." ucap Vivian, saat menyadari telah menghabiskan buah di piring tanpa sisa.
"Tidak apa-apa," ucap Rania, bangkit dari duduknya dan berjalan ke dapur untuk mengambil buah, meninggalkan sepasang suami istri itu di ruang tamu.
Vivian hanya diam menatap Rania yang berlalu dari hadapannya, kemudian beralih menatap suaminya yang kembali fokus pada ponsel di tangannya.
Ia terus menatap ke arah Revin, hingga tiba-tiba sebuah ide hadir di benaknya. Vivian bangkit dari duduknya, membuat Revin seketika mengalihkan pandangan pada layar ponselnya.
"Hati-hati sayang!" teriak Revin pada Vivian yang tengah naik ke lantai dua.
"Iya!" balas Vivian tanpa menoleh pada suaminya.
Beberapa menit kemudian.
__ADS_1
Rania masih belum keluar dari dapur, sedang Vivian perlahan-lahan mendekat kembali ke ruang tamu dengan tas kecil berisikan alat make up yang sangat jarang ia gunakan.
Revin mengerutkan keningnya saat melihat Vivian menaruh tas itu di atas meja di hadapannya, ia menaikkan sebelah alisnya menatap penuh curiga pada istrinya.
'Ada apa ini?' batin Revin, mulai merasakan firasat buruk di benaknya.
"Mau apa?" tanya Revin, sedang Vivian mengisyaratkan suaminya untuk diam dan mulai mengerjakan hal yang sedari tadi ingin ia kerjakan.
Lima belas menit kemudian.
Sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah, Revan membuka pintu mobilnya berjalan masuk ke pintu rumah sambil melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya.
Revin menghentikan langkahnya sejenak kala melihat istrinya yang terdiam membisu di samping sofa, dengan sepiring buah di tangannya.
"Honey, kenapa berdiri terus seperti itu?" tanya Revan, berjalan cepat ke arah istrinya yang terlihat seperti tak mendengar ucapannya.
"Perfect!"
Revan menghentikan langkahnya di samping istrinya, menoleh saat mendengar suara sang adik ipar.
"Ih, suamiku imut banget sih." ucap Vivian, yang begitu gemas melihat suaminya saat ini.
"Pfft!" Rania menutup mulutnya sendiri dengan satu tangan memengang piring buah, ia tak dapat menahan tawa saat melihat hal di hadapannya saat ini.
Sedang Revan masih diam menatap adiknya yang tengah duduk di sofa dengan raut wajah masam, tak lupa rambut atas yang dikuncir dengan ikat rambut yang begitu lucu.
Revin menoleh perlahan pada sang kakak, membuat Revan tak dapat menahan tawanya.
"Hahaha!" pecah sudah tawa Revan, membuat Rania buru-buru menaruh piring buah di tangannya ke sofa, mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan menahan tawanya.
"Kau ternyata sangat cantik menjadi seorang wanita Revin," ucap Revan disela-sela tawanya, membuat wajah Revin semakin datar.
Coba bayangkan, rambut pendek yang diikat mengunakan ikat rambut lucu dengan boneka kecil yang menggelantung indah, tak lupa dengan make-up tipis yang dipakaikan Vivian pada wajah suaminya itu.
"Hahaha, yang kurang hanya wik saja," tawa Revan, menyentuh perutnya yang sakit karena tertawa.
"Ih, apaan sih Kak Revan. Suamiku imut tahu, kenapa diketawain?" tanya Vivian, membela suaminya.
"Iya, Vi. Saking imutnya aku ingin menjadikannya istri kedua," jawab Revan, berjalan ke kamarnya dengan tawa.
'Aku benci benda ini,' batin Revin, tetap diam dengan wajah masamnya.
__ADS_1