LOVE SON OF THE RULER

LOVE SON OF THE RULER
RAHASIAKAN!


__ADS_3

Reana melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membela jalan malam ini, bergegas ke alamat yang dikirim oleh seseorang mengunakan ponsel milik Axelo. Sosok pria yang mendukungnya selama beberapa bulan terakhir.


Dengan cepat Reana mengerem mobilnya saat tiba di depan sebuah gudang yang terlihat sepi, ia membuka pintu mobil dan menatap sekeliling dengan seksama.


"Tidak ada siapapun yang berjaga di luar," guman Reana segera melangkahkan kakinya mengendap-endap mendekati pintu gudang.


Gadis itu menghentikan langkahnya tepat di depan pintu, mengangkat tangannya lalu mendorong daun pintu dengan kasar.


Reana diam menatap tajam beberapa orang pria bertopeng di dalam gudang tersebut, lalu beralih menatap sosok pria yang duduk di lantai dengan luka di wajahnya.


"Sialan! Jika kalian memiliki masalah denganku, jangan melibatkan orang-orang di sekitarku!" ucap Reana dingin, mengepalkan kedua tangannya kuat, menatap penuh amarah pada beberapa pria di hadapannya itu.


Seorang pria yang berdiri di tengah, segera memberi perintah pada dua bawahannya untuk bergerak menyerang Reana. Sedang gadis itu hanya diam di tempatnya, menatap datar dua orang yang perlahan semakin mendekat ke arahnya.


Reana menghindari sebuah bogem mentah yang hampir mengenai pipinya, menarik tangan pria itu lalu membanting tubuh pria tersebut ke lantai gudang yang dingin.


BRUK!


"Argh!" Pria itu memekik sakit, sedang Reana segera melayangkan tendangannya pada rekan pria itu, hingga terpental dan mengenai kotak kayu yang ada di dalam Gudang.


Suara kotak kayu berjatuhan memenuhi gudang itu, membuat satu orang pria yang tersisa menatap tak percaya mengetahui hal yang ia lihat dengan mata kepalanya.


'Dugaan Tuan benar,' batin pria tersebut dan menghindar saat sebuah belati hampir mengenai wajahnya, 'Hampir saja,' lanjutnya membatin, mundur beberapa langkah dari Reana yang kini menatapnya tajam dengan sebuah belati di tangannya.


'Darimana dia mendapatkan belati itu?' batin pria tersebut, lagi-lagi tak percaya dengan gerakan cepat Reana saat merebut belati dari salah satu bawahannya.


"Siapa yang membayarmu? Jika kau mengatakannya, maka aku akan membiarkan kalian pergi tanpa luka." ucap Reana dingin, membuat pria itu tersenyum kecil di balik topengnya.


"Apa kekuatanmu sekuat itu untuk mengalahkan seorang senior sepertimu?" tanya pria tersebut, tersenyum kecil di balik topengnya.


Reana menggertakkan giginya mendengar hal itu, mengenggam erat belati di tangannya lalu melirik ke arah Axelo yang belum sadarkan diri dari pingsannya.


"Aku tidak akan memaafkan kalian!" geram Reana, lalu berlari mendekati pria itu.


Pria berjas hitam tersebut menangkis tendangan yang diberikan Reana, terkejut saat benda dingin nan tajam itu mengenai lengannya, menebus jas hitam dan kemeja putih yang ia kenakan.

__ADS_1


Reana hanya berwajah datar saat berhasil melukai lengan pria itu, tanpa menunggu kembali menyerang pria itu tanpa henti.


'Cepat! Darimana Nona belajar beladiri seperti ini. Ti-tidak mungkin Tuan Arian yang mengajarinya, kan?' batin pria tersebut, berusaha untuk menahan pukulan dan tendangan tanpa henti yang diberikan oleh Reana.


BUGH!


Pria itu mundur beberapa langkah saat bogem mentah mengenai wajahnya, membuat topeng yang ia kenakan terjatuh ke lantai gudang yang dingin.


Reana tidak menyia-nyiakan kesempatan, kembali berniat menyerang pria tersebut. Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya saat pria itu berbalik dan menatapnya.


Tubuh Reana menegang melihat wajah pria itu, matanya melotot sempurna dan menjatuhkan belati di tangannya.


"Kau!" Tangan Reana gemetar menunjuk pria itu, yang hanya diam tanpa peduli dengan darah di lengannya, perlahan-lahan membasahi lengan jas yang ia kenakan.


Sedang Reana masih mematung di tempatnya, ia bukan orang bodoh yang tidak mengenali pria di hadapannya itu. Pria yang beberapa kali ia lihat bertemu dengan kakak pertamanya secara diam-diam.


"Malam Nona," sapa pria itu dengan raut wajah datar, begitupun dengan dua orang yang kini berdiri di tidak jauh dari Reana, membungkukkan setengah badan ke arah gadis itu.


"Kenapa?" tanya Reana, membuat pria yang menunduk di hadapannya itu, sedikit mendogak menatap wajahnya.


Pria itu hanya bungkam, tidak berniat sama sekali untuk menjawab pertanyaan dari hadis berusia 18 tahun di hadapannya itu. Reana yang tidak mendapatkan jawaban, mengepalkan kedua tangannya karena kesal.


"Rahasiakan semua ini! Jangan beritahukan pada siapapun!" ucap Reana, lebih tepatnya perintah.


"Maaf, Nona. Saya tidak bisa melakukan hal yang Anda katakan," ucapnya santai. Tidak peduli dengan tatapan membunuh yang Reana layangkan ke arahnya.


"Lakukan! Jika tidak, aku akan membunuh kalian!" Ancam Reana.


"Saya hanya menuruti perintah Tuan Arian dan Tuan Revan. Jika Anda ingin melakukannya, maka saya akan dengan senang hati menerimanya."


Reana bungkam, bukan karena ucapan pria itu yang mengatakan akan menerima dengan senang hati. Tapi karena ucapan pria tersebut, yang mengatakan hanya menuruti perintah ayahnya dan kakak pertamanya.


"Siapa yang memerintahkanmu?" Tanya Reana, kini tubuhnya gemetar karena takut.


Alis Reana mengernyit kala pria itu tiba-tiba merogoh saku celana kainnya, mengeluarkan sebuah benda pipih di sana lalu memperlihatkan layar benda itu padanya. Sebuah panggilan masuk yang masih terhubung dengan sebuah nama yang tertera dengan jelas di layar ponsel, TUAN REVAN.

__ADS_1


"Ka-kakak!" lirih Reana dengan suara terbata.


Setelah ia mengucapkan itu, panggilan tersebut terputus secara tiba-tiba, bersamaan dengan terdengarnya suara lenguhan seseorang yang terbangun dari pingsannya.


"Axelo!" ucap Reana, segera menghampiri pria itu. Mengabaikan sejenak rasa takutnya pada kemarahan sang kakak yang pastinya akan menakutkan.


"No-na," lirih Axelo, menatap sayu wajah Reana yang kini berada di hadapannya.


"Tenang saja, Nona. Kami tidak memukulnya dengan keras, jadi tidak akan ada cedera fatal." ucap pria itu santai, menghampiri Reana.


"GILA! BISA-BISANYA KALIAN MENGATAKAN INI TIDAK FATAL! JIKA TERJADI SESUATU PADA AXELO, AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN!" teriak Reana mengema di tempat itu, segera membantu Axelo bangkit dari duduknya, memapah tubuh lemah itu keluar dari gudang.


Tiga pria itu hanya diam mendengar suara teriakan sang Nona, saling menatap satu sama lain tanpa mengeluarkan suara.


"Em, ketua ..."


"Ada apa?"


"Tangan Anda luka."


"Tidak apa-apa. Nanti juga akan sembuh sendiri."


***


Sementara itu, di sisi lain di waktu yang bersamaan.


Revan duduk diam di dalam ruang kerjanya, menatap dingin ke depan dengan ponsel yang sudah tak berbentuk di lantai akibat kasarnya ia melemparkan benda itu.


Revan tidak percaya dengan hal yang ia dengar beberapa menit yang lalu di ponselnya, adik kesayangannya masuk ke dunia gelap itu tanpa sepengetahuannya.


Kapan? Bagaimana bisa terjadi? Siapa yang membuat Reana seperti ini?


Berbagai pertanyaan mulai hinggap di benaknya, terkejut saat mendengar suara tangis dari dalam kamarnya.


"Jayden!" ucap Revan, segera keluar dari ruang kerjanya dengan terburu-buru.

__ADS_1


__ADS_2