LOVE SON OF THE RULER

LOVE SON OF THE RULER
KABAR TAK MENGENAKAN


__ADS_3

Lima belas menit kemudian.


Mereka semua telah duduk di sofa ruang tamu, Reon dan Carlos sudah selesai membersihkan lantai yang kotor, dan kini diam dan saling bertukar pandang satu sama lain. Bingung harus mengatakan apa.


"Sedang apa kalian di sini?" Tanya Revan pada kedua sahabatnya.


"Hanya berjalan-jalan karena bosan," jawab Carlos mengambil sepiring camilan yang ada di atas meja.


Carlos menelan salivanya, meletakkan kembali sepiring camilan itu ke atas meja saat mendapat tatapan tajam dari pemilik rumah. Reon dan Revin hanya menatap datar hal itu, sementara para istri memilih diam.


"Apa yang di katakan oleh Dokter?" Tanya Revan, menatap adiknya.


Seketika raut wajah Revin berubah menjadi senyuman, membuat tiga pasang suami istri itu menatapnya aneh.


"Aku akan segera menjadi ayah, sama seperti kalian," ucap Revin dengan senyum diwajahnya dan menaik turunkan alisnya.


Revan, Carlos dan Reon terkejut, begitupun dengan istri-istri mereka. Sedang Vivian menunduk dengan pipi merona.


"Ah, masa?" Tanya Carlos dengan raut wajah terkejutnya.


"Kau fikir aku berbohong?" Revin balik bertanya.


Revan menghela nafas pelan dengan senyum di wajahnya, menatap adiknya dengan tersenyum senang.


"Baguslah jika begitu. Segera kabari Daddy dan Mommy," ucap Revan yang di angguki oleh Revin.


"Baik, brother. Tapi aku rasa tunggu beberapa hari lagi, aku ingin mengatakannya saat kita ke rumah nanti," ucap Revin yang di angguki oleh Revan.


"Selamat, ya. Aku fikir kamu akan ketinggalan beberapa tahun," ucap Carlos menepuk pelan bahu Revin yang duduk disampingnya.


Liona dan Rania menatap Vivian, lalu tersenyum manis pada anak di bawah umur yang tengah hamil itu. Padahal mereka tidak jauh berbeda.


"Revin, apa tidak masalah jika Vivian hamil sekarang?" Tanya Felisia, lantaran mengingat usia Vivian yang masih sangat muda.


Perbedaan usia yang jelas sangat terlihat, di mana Vivian masih menginjak usia 17 tahun. Dan tiga wanita itu hanya tua dua tahun dari Vivian.


Revin menatap sang kakak, sedang Vivian menunduk memikirkan perkataan Felisia.


"Aku akan melakukan apapun, apapun agar semuanya berjalan lancar," ucap Revin dengan wajah seriusnya.


Mereka terdiam lalu tersenyum menatap Revin.

__ADS_1


"Semoga semuanya berjalan lancar," ucap Revan, membuat ke empat wanita itu terdiam karena bingung.


Hanya ada keheningan setelah perbincangan singkat itu, hingga tiba-tiba Carlos menampilkan raut wajah aneh.


"Aku jadi tidak sabar untuk menantikan kelahiran buah hati kita. Siapa yang akan kerepotan nanti, ya?" Tanya Carlos dengan raut wajah tanpa dosanya.


Revan, Revin dan Reon memandang aneh sahabat mereka itu, sedang para istri memilih untuk diam melihat raut wajah aneh suami mereka.


PLAK!


Satu pukulan mendarat di bahu Carlos, di berikan oleh iparnya. Carlos menatap tajam pada Revin, sedang tangan Revin masih ada di udara, siap untuk memukul Carlos lagi.


"Apa yang salah?" Tanyanya tanpa dosa.


PLAK!


"REVIN!" teriak Carlos, menatap horor sang adik ipar yang tua beberapa bulan darinya.


"Jangan berbicara aneh-aneh, mulutmu itu selalu saja mengabulkan hal aneh yang kamu ucapkan," ucap Revin, dengan tatapan seolah ingin menyantap Carlos saat itu juga.


Carlos hanya menampilkan cegiran halus di bibirnya, sedang Revan dan Reon memilih diam.


Para wanita itu hanya mengangguk patuh, seolah Revan adalah pemimpin.


***


Tujuh bulan kemudian.


Hari-hari berlalu dengan suram. Empat calon papa muda itu hampir kesusahan untuk memenuhi keinginan istri-istri mereka. Kadang kala terjadi pertengkaran dan juga keluhan yang mereka keluarkan, dan yang jadi sasaran adalah Revan. Tempat curhat yang baik.


Tanpa mereka sadari, Revan adalah yang paling kesusahan karena ulahnya sendiri. Ke posesifannya yang mengalahkan bucin Negara itu, membuatnya kerepotan sendiri. Tapi ia tetap mendengar dan memberi saran pada dua sahabat dan satu adiknya itu ketika curhat padanya.


Kadang kala kepalanya ingin pecah karena urusan kantor dan curahan hati papa muda.


"Mati sajalah kalian. Pintar membuat malah tak mau sabar meladeni sikap istri kalian! Mereka juga begitu karena ulah kalian, kalau tak ingin susah pakai pengaman sana!"


Kata-kata itulah yang selalu Revan gumankan, kadang kala ingin memperdengarkannya langsung pada tiga orang itu. Tapi ia tahan, lantaran tiga papa muda yang kesal bisa mengalahkan amarah sang sekertaris yang kesal saat pekerja tak tuntas.


Pukul 4 sore.


"Sayang!" Rengek Revan yang kini menidurkan kepalanya di paha sang istri yang duduk di sofa.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Rania, mengusap pelan kepala suaminya.


"Tidak apa-apa," jawab Revan singkat, lalu mengecup pelan perut istrinya yang buncit dari balik baju kebesaran yang istrinya kenakan.


"Sore, baby," sapa Revan, seolah sang buah hati mendengarnya.


Rania terkekeh geli saat merasakan sang bayi di dalam perut tengah menendang, seolah merespon ucapan sang ayah.


Revan tersenyum manis melihat hal itu, menatap istrinya yang masih tersenyum.


"Sore kak," sapa seorang wanita hamil yang baru keluar dari dapur dengan sepiring buah di tangannya.


Revan menegakkan tubuhnya, duduk menatap wanita yang tengah berbadan tiga di hadapannya itu. Ah, iya. Vivian hamil anak kembar. Mengalahkan sang kakak ipar. Terbukti jika Revin lebih kuat daripada Revan.


***


(Kamu bilang apa Thor) Revan mode seram sambil megang pisau.


Author:ngga ada bang, cuma becanda kok.


Oke lanjut.


***


Keluarga mereka pun turut senang dengan hal itu, tapi kabar baik pun diiringi dengan kabar buruk lantaran Houyang tengah sakit keras di Negara S. Lebih tepatnya rumah sang besan.


Revan berserta Revin sering ke Negara S untuk mengunjungi sang kakek yang tengah sakit keras. Revan juga merasa aneh dengan sikap adiknya yang berubah drastis sejak empat bulan yang lalu. Seolah Reana tengah menyembunyikan sesuatu darinya. Siapapun yang ia minta untuk mencari tahu, tidak ada yang bisa memberikan jawaban yang sesuai. Seolah sang adik berubah menjadi orang lain. Sisi dingin yang kadang kala ia lihat saat dirinya berkunjung ke apartemen Reana, benar-benar seperti orang berbeda.


"Sore, Vivian," ucap Revan, membalas sapaan adik iparnya.


"Ya udah, aku naik ke kamar dulu, ya." ucap Revan, bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati tangga.


Belum ada empat langkah Revan menjauhi sofa, tiba-tiba ponselnya berdering. Ia dengan cepat merogoh saku jasnya, mengernyit saat melihat siapa yang menelfonnya.


"Halo, Dad," sapa Revan pada seseorang di seberang telfon.


"Revan, bisa segera ke Negara S. Kakek Houyang ingin bertemu denganmu dan Revin," ucap Arian di seberang telfon, berusaha untuk menahan Isak tangisnya.


Mata Revan membulat sempurna, tanpa fikir panjang ia segera berlari mendekati pintu keluar hingga tiba-tiba mendengar suara Vivian.


"Kak Rania! Kak Rania kenapa?" Tanya Vivian saat melihat Rania yang terus menyentuh perutnya yang mendadak sakit.

__ADS_1


__ADS_2