LOVE SON OF THE RULER

LOVE SON OF THE RULER
KEJUTAN


__ADS_3

Revan dan Revin menatap Rania lalu bertukar pandang satu sama lain. Revan menghembuskan nafasnya, lalu mengusap kepala istrinya dengan sayang. Revin yang melihat hal itu, segera menundukkan kepalanya dan menyantap makannya tanpa sedikitpun berniat menatap sepasang suami istri dihadapannya.


"Jangan gitu dong, sayang. Nanti kamu sakit," ucap Revan lembut.


Rania menoleh kearah suaminya itu, dan menatap Revan dengan tatapan sayu lalu menatap makanan yang ada dipiring Revan.


Revan mengernyit melihat Rania yang menatap makanan dipiringnya dengan sesekali menelan salivanya dengan susah payah.


"Kenapa?" tanya Revan membuat Rania mendogak dan menatapnya.


"Mau itu," ucap Rania dengan menunjuk kepiring Revan.


Revan mengernyit, lalu menatap piring dihadapan Rania. Makanan dipiringnya tidak jauh berbeda dengan makanan dipiring Rania, lalu kenapa istrinya itu tidak mau memakan makanan dipiringnya sendiri.


Revan mengaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu berniat untuk menukar piringnya dengan piring Rania, tapi ditahan oleh istrinya itu.


"Kenapa?" tanya lagi, dengan sebelah alis yang terangkat.


"Maunya disuap sama kamu, makan sepiring berdua," ucap Rania membuat Revin tersedak makanan yang ia kunyah dan seketika mendogak menatap sepasang suami istri dihadapannya.


"Ya udah, buka mulutnya," ucap Revan lalu menyendokkan makanan ke mulut istrinya.


Rania membuka mulutnya dan melahap makanan yang disuapkan oleh suaminya itu, dan tiba-tiba terdengar suara kursi membuat mereka berdua menoleh dan menatap Revin yang kini berdiri dari duduknya.


"Aku makan di ruang tamu saja, brother," ucap Revin lalu berjalan dengan membawa piring yang berisi sarapan paginya ke ruang tamu.


Revan dan Rania terdiam melihat hal itu, lalu saling menatap satu sama lain.


Revan mengelengkan kepalanya, lalu menyuapi dirinya sendiri kemudian menyuapi Rania lagi.


'Semoga saja setiap hari seperti ini,' ucap Revan dalam hati dengan menguyah sarapan paginya.


* * *


Revin berjalan dengan malas ke ruang tamu, lalu dengan cepat mendudukkan dirinya disofa dan menyantap sarapan paginya.


"Sial, sepertinya aku harus segera ke negara B. Vivian sekarang sedang apa ya? Sudah berangkat ke kampus kah?" tanya Revin pada dirinya sendiri, dan tiba-tiba ponselnya yang berada disaku celananya berdering.


Revin menaruh piringnya dengan malas diatas meja dihadapannya, lalu segera merogoh saku celana untuk melihat siapa yang menelfonnya pagi ini.

__ADS_1


Wajah Revin berbinar senang saat mengetahui siapa yang menelfonnya, dengan cepat ia mengangkat telfon yang tidak lain dari istrinya itu.


"Halo, honey. Ada apa? Kamu udah sarapan? Udah sampai di kampus?" tanya Revin berturut-turut saat mengangkat telfon Vivian.


"Ngga apa-apa. Kamu di mana?" tanya Vivian diseberang telfon.


"Di rumah brother, lagi sarapan sebelum ke kantor," jawab Revin lalu kembali menyuapi makanan ke mulutnya.


"owh, Sarapan apa?" tanya Vivian, dengan terus melangkahkan kakinya mendekat ke pintu rumah bercorak coklat.


"Biasa, kamu udah sarapan belum?" tanya Revin dan mendadak mengernyit saat mendengar suara ketukan pintu, yang juga terdengar diseberang telfon.


"Tunggu bentar, sayang. Sepertinya ada tamu," ucap Revin, tanpa menaruh curiga sedikitpun.


"Hm," Vivian hanya berdehem, sedang Revin berjalan mendekat kearah pintu rumah yang diketuk.


"Kok diam sih? Ngga rindu apa sama suami kamu ini," ucap Revin yang sudah semakin dekat dengan pintu utama.


"Rindu kok, masa ngga rindu sama suami sendiri," ucap Vivian yang kini tersenyum saat melihat knock pint dihadapannya yang perlahan-lahan diputar bersamaan dengan pintu yang terbuka.


"Kirain kamu ....," Revin menghentikan ucapannya saat melihat seorang wanita didepan pintu tengah tersenyum padanya denagn koper disampingnya.


Revin tidak menjawab dan seketika memeluk tubuh mungil wanita yang berada dihadapannya saat ini, yang tidak lain adalah Vivian.


"Aku kangen banget sayang," ucap Revin semakin mengeratkan pelukannya pada Vivian.


Vivian tersenyum mendengar hal itu, dan membalas pelukan suaminya dengan erat.


"Udah ih, aku capek," ucap Vivian menyadarkan Revin dan segera melepas pelukannya.


Tiba-tiba Revin mengendong Vivian ala bridel style masuk kedalam rumah, membuat istrinya itu refleks mengalunkan tangannya dileher suaminya.


"Ish, koper aku ketinggalan," pekik Vivian saat kopernya masih berada didepan pintu masuk.


"Nanti aku ambil, sekarang kita ke kamar. Kamu capek kan?" ucap Revin dan melangkahkan kakinya menaiki tangga untuk ke kamarnya.


Vivian mengembulkan pipinya, lalu menenggelamkan wajahnya diceruk leher Revin, suaminya memang selalu seperti ini.


"Kamu kok ngga nelfon aku sih, tiba-tiba aja udah ada di depan pintu," ucap Revin dengan kaki yang terus melangkah mendekat kearah pintu kamarnya.

__ADS_1


"Aku ngga mau nelfon kamu, karena mau kasih kejutan. Gimana kejutannya, kaget ngga?" ucap Vivian mengoda suaminya dengan menaik turunkan alisnya.


"Kaget banget, bikin aku mau nerkam kamu didepan pintu tadi," jawab Revin santai, dan sedetik kemudian mendapat tarikan lembut dirambutnya, yang dilakukan oleh Vivian.


"Dasar mesum," ucap Vivian lalu mengecup singkat pipi Revin.


"Mesumnya juga cuma sama kamu, sayang," ucap Revin lalu membuka pintu kamarnya dengan susah payah.


"Masa? Aku ngga percaya," ucap Vivian, dan kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Revin.


"Ada apa?" tanya Revin dan perlahan-lahan menurunkan Vivian ketempat tidur.


"Kamu belum minum air putih?" tanya Vivian dan membuat Revin tersadar, jika tadi ia tengah sarapan.


Revin hanya tersenyum kikuk dengan memperlihatkan deretan giginya yang putih pada Vivian, Vivian yang melihat hal itu mengelengkan kepalanya.


"Cepetan minum gih, abis itu kita mulai," ucap Vivian membuat Revin mengernyit heran.


"Mulai apa, sayang?" tanya Revin penasaran, sedang Vivian melipat kedua tangannya didada dan menatap suaminya itu dengan tatapan aneh.


"Mau atau tidak?" tanya Vivian membuat Revin berfikir keras sejenak, dan seketika tersadar.


Buru-buru Revin keluar dari kamar untuk menyimpan piringnya tadi, meninggalkan Vivian yang mengelengkan kepalanya.


Revin berlari dengan cepat menuruni anak tangga dan mendekat kearah ruang tamu untuk mengambil piringnya.


Revan dan Rania terkejut melihat Revin yang masuk kedapur dengan terburu-buru, meletakkan piringnya ke westafel lalu mendekat ke meja makan untuk minum.


"Kau kenapa?' tanya Revan dengan menatap aneh adiknya itu.


"Buru-buru, brother. Mau sarapan pagi," ucap Revin ambigu lalu segera berlari keluar dari dapur untuk ke kamarnya.


Revan dan Rania terdiam melihat hal itu, lalu kemudian mengedikkan bahunya acuh. Mereka berdua belum mengetahui jika Vivian ada di rumah itu.


"Hari ini tidak perlu pergi sekolah ya, takut kamu lemas kayak kemarin," ucap Revan dengan memberi air putih digelas pada istrinya itu.


Rania hanya menganggukkan kepalanya mengerti, sedang Revan bangkit dari duduknya untuk membersihkan meja makan.


Rania hanya menatap suaminya dengan sesekali meminum air putih di gelas ditangannya, sedang Revan terdiam sejenak ketika ingin menaruh piring diwestafel.

__ADS_1


'Eh, Revin kan baru saja menaruh piringnya diwestafel tadi, lalu maksudnya sarapan pagi apa?' ucap Revan dalam hati, bertanya-tanya maksud Revin, karena ia sama sekali tidak mengetahui kedatangan Vivian.


__ADS_2