
Rania tersenyum melihat raut wajah memelas suaminya. Ia mengulirkan tangan dan menyentuh wajah Revan.
"Ya udah, kita buat nanti malam." ucap Rania membuat Revan tersenyum manis.
"Janji, ya?" Revan mengerjapkan matanya seperti anak kecil yang memohon dibelikan permen oleh sang Ibu.
Rania menganggukkan kepalanya membuat Revan tersenyum begitu senang. Akhirnya setelah tujus purnama ia bisa menikmati malam bersama istrinya.
***
Aurhor : Lebay banget lu, bang.
Revan : suka-suka aku lah, thor. Dasar author jomblo.
Author: Syalan lu bang.
***
"Ya udah, kita masuk ke dalam. Jayden pasti sudah menunggu kiita sejak tadi." ucap Rania lalu menarik tangan suaminya untuk masuk ke dalam.
Rania dan Revan terdiam saat tiba di dekat meja makan, melihat Jayden yang hanya diam dengan tatapan tanpa ekspresi pada kue itu. Padahal dulu anak itu akan sangat senang jika melihat kue kesukaannya di atas meja.
" Kenapa tidak di makan, Sayang?" tanya Rania melepaskan pengangan tangannya pada tangan suaminya dan mendekat pada putranya.
Jayden diam, menoleh pada sang ibu, "Tidak apa-apa. Jayden hanya inginn masuk dalam kamar saja."
Anak laki-laki itu turun dari tempat duduknya, "Jayden kembali ke kamar."
Jayden pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang terdiam di tempat karena ucapannya. Sekali lagi Jayden memperlihatkan sikap dingin tak ingin diganggu.
Revan segera mendekati Rania. Mengusap punggung istrinya yang masih terdiam di samping kursi tempat duduk Jayden tadi.
"Apa yang kita lakukan sudah benar?" tanya Rania yang kini menatap Revan dengan tatapan sukit diartikan.
Revan mencoba memasang senyujm di bibirnya. Ia harus terlihat kuat agar Rania tidak semakin terpuruk.
"Tidak apa-apa. Mungkin sifat Jyaden akan kembali jika memiliki seorang adik," Revan berusaha menggoda istrinya, membuat Rania tertawa pelan.
"Kita buat sekarang, ya?" tanya Revan tiba-tiba menggendong tubuh Rania ala bridel style berjalan memasuki kamar mereka.
__ADS_1
Reflesk Rania mengalungkan tangannya di leher suaminya. Menggeleng dan membenamkan wajahnya di dada bidang Revan.
Sementara itu, Jayden memasuki kamarnya yang kini terlihat begitu gelap dan minim penerangan. Jika dahulu dia tidak menyukai kegelapan, maka berbeda dengan sekarang. Di mana kegelapan sudah seperti bagian dari hidupnya.
"Nenek ... Jayden rindu," lirih Jayden mendekat ke arah tempat tidur, lalu naik dan menyembunyikan diri di balik selimut.
***
Revan keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya. Berjalan menghampiri tempat tidur, di mana kini Rania masih terlihat tertidur akibat kelelahan.
"Sayang, bangun," ucap Revan lembut sambil menyibakkan selimut yang menutupi tubuh istrinya.
Seketika Revan menelan kasar salivanya, ia lupa jika Rania tidak mengenakan apapun di balik selimut. Setegah mati Revan menahan diri untuk tidak menerkam istrinya lagi, mengigt jika Rania masih lelah karena ulahnya tadi.
"Sayang, bangun." Revan sedikit mengoyangkan pundak Rania, tak lupa untuk mengalihkan pandagannya ke arah lain.
"Hm," Rania berdeham sambil menggeliatkan tubuh polosnya.
"Bangun, Sayang. Jangan bergerak seperti itu, aku bisa menerkammu lagi sekarang juga." ucap Revan dengan suara berat menahan dirinya sebisa mungkin.
Rania tersenyum kecil. Perlahan bangkit dari posisinya dan duduk di samping Revan.
"Honey," rengek Revan, segera mengikuti istrinya masuk. Ia akan bermain pelan, salahkan istrinya yang sudah menggodanya, padahal Revan sudah mati-matian menahan diri.
Beberapa menit kemudian, Revan keluar dari kamar lebih dulu dengan pakain kasual yang melekat di tubuhnya.
Pria itu melangkahkan kakinya menuruni anak tangga menuju dapur. Tiba-tiba, Revan menghentikan langkahnya di ambang pintu masuk dapur,
"Jayden!" panggil Revan, membuat anak kecil yang kini menutup pintu kulkas menoleh padanya.
Segera Revan mendekati putranya itu, berjongkok tepat di hadapan Jayden.
"Kamu ingin minum?" tanya Revan yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Jayden.
Revan mengambil botol air dingin di tangan putranya, lalu mengambil gelas dan menjuangkan air putih tersebut.
Jayden menerima geelas yang diberikan oleh sang Ayah, meminum air itu hingga setengah dan memberikan gelas di tangannya kembali pada sang Ayah."
"Sangat haus, ya?" Lagi-lagi Jayden hanya menganggukkan kepala dan berniat meninggalkan sang Ayah sendiri di dapur.
__ADS_1
"Jay!"
Jayden menghentikan langkahnya, menoleh pada Revan dengan tatapan yang sulit diartikan.
Revan mendekat dan kembali berjongkok di hadapan putranya. Revan menepuk kedua pundak mungil putranya.
"Apa Jayden ingin adik?" tanya Revan ragu.
"Tidak."
Seketika Revan menegang, ia menatap tak percaya pada iris mata biru putranya.
"Tapi jika itu membuat Mommy dan Daddy senang, tidak apa-apa."
Revan menghela napas lega, terdengar begitu jelas di telinga putranya.
"Em, nanti ada dua sepupumu yang datang bermain di rumah." ucap Revan.
"Iya, Jayden mengerti." Jayden meninggalkan sang Ayah yang diam di tempatnya.
'Aku berharap hal ini tidak berlangsung hingga dewasa. Aku tidak ingin Jayden mengambil keputusan yang salah nantinya,' batin Revan bermonolog hingga terkejut saat tiba-tiba sepasang kaki berdiri di hadapannya.
"Kenapa?" tanya Rania saat Revan mendogak menatapnya.
Pria itu hanya mengeleng, lalu mencium perut rata Rania dari balik baju.
"Daddy berharap ada salah satu jagoan Daddy di sini," Revan mengusap perut Rania, "Agar kakak Jayden tidak sendiri di rumah."
Rania mengusap rambut Revan yang kini tengah mencium perutnya cukup lama, hingga akhirnya memutuskan untuk bangkit dan memulai sesi memasaknya sambil menunggu kedatangan empat orang tamu mereka.
Tepat pukul empat siang, sebuah mobil berhenti di depan rumah. Sepasang anak kecil keluar dari mobil dengan tergesa-gesa. Anak perempuan itu berlari dengan riangnya tanpa peduli dengan panggilan sang ibu.
"Uncle! Aunty!" teriak anak perempuan itu, siapa lagi jika bukan putri pertama Revin dan Vivian.
Kedua orang tuanya hanya menggeleng sambil mendekat pada Viona yang berteriak di ruang tamu.
"Jangan teriak-teriak, Sayang." Vivian mengingatkan membuat gadis kecil itu menoleh dengan cegiran di bibirnya.
Hingga tiba-tiba terdengar ucapan ketus dari bibir anak laki-laki yang mampu membuat mood gadis kecil itu berubah seketika.
__ADS_1
"Dasar keras kepala!" ketus anak laki-laki itu dengan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tanpa peduli jika gadis kecil yang merupakan kakaknya itu terlihat begitu marah.