
Revan duduk didalam ruangannya, dengan sesekali menatap kearah ponselnya. Entah mengapa ia seakan ingin menghubungi istrinya.
Terdengar suara ketukan pintu, bersamaan dengan itu ponselnya berdering.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk," ucap Revan, lalu mengangkat telfon dari iparnya. "Halo Vivian, ada apa?" tanya Revan saat mengangkat telfon dari Vivian.
"Kak Revan, kak Rania diculik!" Teriak Vivian diseberang telfon dengan nafas memburu dan rasa takut.
Revan bangkit dari duduknya, dan berlari keluar dari ruangannya, melewati sekertarisnya yang hendak menaruh dokumen penting diatas meja.
"Ada apa dengan tuan?" tanyanya, dan meletakkan dokumen itu lalu segera keluar dari ruangan Revan.
Ting!
Lift tiba dilantai dasar, Revan segera berlari keluar dari lift dengan terburu-buru.
"Vivian, kau melihat warna mobilnya kan? Kearah mana mereka pergi?" tanya Revan, kini dengan rasa khawatir yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Mobilnya berwarna hitam dengaj plat nomor dari luar kota, aku tidak ingat jelas nomornya." Jelas Vivian dan Revan pun memutuskan panggilan sepihak lalu segera masuk ke dalam mobilnya melajukannya menjauh dari perusahaannya.
"Segera lacak ponsel Rania! Ketika sudah mendapatkan lokasinya kirim padaku dan kirim separuh anggota ke tempat itu! Aku tidak ingin tahu, tidak ada yang boleh pergi hidup-hidup! Orang-orang itu harus mati!" ucap Revan lalu memutuskan panggilan sepihak, mengarahkan mobilnya ke lokasi Vivian.
Sepuluh menit kemudian.
Revan menghentikan mobilnya tepat didepan Vivian yang tengah berdiri ditepi jalan. Revan keluar dari mobil, lalu menghampiri Vivian dan Liona.
"Kak Revan," ucap Vivian yang menatap Revan dengan takut, ia merasa bersalah begitupun dengan Liona.
"Kalian baik-baik saja?" tanya Revan pada dua wanita itu.
Mereka mengangguk pelan, bersamaan dengan itu ponsel Revan berdering.
"Kau sudah menemukannya?" tanya Revan to the point.
"Iya tuan, lokasinya ada di hutan xxx, separuh anggota sudah bergerak ke sana," ucap sang bawahan di seberang telfon.
Revan seketika memutuskan panggilan sepihak, lalu kembali masuk ke dalam mobilnya, sebelum melajukan mobilnya menjauh dari tempat itu, ia berbicara pada Liona dan Vivian.
__ADS_1
"Pulanglah, jangan terlalu lama ditempat ini. Jangan sampai hal yang sama menimpa kalian," ucap Revan, lalu segera menancap gas menjauh dari tempat itu.
Revan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi ke tempat itu, sementara Vivian dan Liona segera menghentikan taksi untuk pulang ke rumah.
Di dalam perjalan, ponsel Vivian berdering panggilan masuk dari suaminya.
"Halo sayang, kami sudah makan siang?" tanya Revin diseberang telfon, dan terkejut saat mendengar suara sesugukan diseberang telfon. "Vi, kamu baik-baik saja kan?" tanya Revin.
"Kak Rania, kak Rania diculik," ucap Vivian dengan tubuh yang gemetar membuat Liona mengusap punggung gadis itu pelan.
Revin terkejut mendengar hal itu.
"Bagaimana mungkin? Apa kak Revan sudah tahu? Kau baik-baik saja kan?" tanya Revin berturut-turut, membuat beberapa orang rekan bisnisnya yang duduk dihadapannya mengernyit heran.
"I-I-iya, aku baik-baik saja. Tapi kak Rania ... ini salahku, ini salahku karena membiarkannya menyeberang jalan sendirian," ucap Vivian menyalahkan dirinya.
"Tenang sayang, ini bukan salahmu. Jangan menyalahkan dirimu sendiri, percayalah jika Rania akan baik-baik saja," ucap Revin mencoba menenangkan istrinya.
"Aku akan segera kembali ke sana," ucap Revin, lalu memutuskan panggilan, dan bangkit dari duduknya meninggalkan rekan bisnisnya didalam restoran dengan wajah bingung.
* * *
Rania membuka matanya perlahan, dan samar-samar mendengar perbincangan beberapa pria yang berdiri dihapadannya.
"Aku merasa jika kita akan terkena masalah."
"Cih, mereka hanya orang-orang kaya yang sombong, tidak perlu terlalu khawatir. Dia pasti akan memakan umpan ini, dan kita bisa meminta separuh saham milik keluarga Li. Bukannya begitu rencana tuan,"
"Tapi aku merasa jika tuan memiliki niat lain."
Empat pria itu saling menatap satu sama lain, mencoba untuk tetap tenang.
Rania memejamkan matanya dengan berusaha untuk melepas ikatan tangannya pada kursi, dan juga menahan rasa sakit diperutnya.
'Ya Tuhan, tolong aku. Rasanya sakit sekali,' batin Rania yang kini mengeluarkan air mata dipipinya, rasa sakit diperutnya benar-benar membuatnya ingin berteriak. Namun tidak bisa, karena mulutnya yang sudah ditutup dengan kain.
'Revan!' teriak Rania dalam hati, dan perlahan-lahan kesadarannya menghilang.
* * *
__ADS_1
Revan menghentikan mobilnya, lalu segera keluar dari mobil dan berlari mendekat kearah gudang tua tidak jauh darinya.
Semua anggota Dragon night terkejut melihat bos mereka yang berlari mendekat kearah gudang tanpa memberi perintah pada mereka.
"RANIA!" Teriak Revan diiringi dengan suara pintu yang terbuka dengan keras karena tendangannya.
Empat orang itu terkejut melihat Revan yang sudah berada diambang pintu masuk.
Revan terdiam melihat istrinya yang tidak sadarkan diri dikursi dengan terikat, ia menoleh kearah empat orang itu dengan tangan terkepal kuat.
"SIALAN!" Teriak marah Revan, lalu berlari dan melayangkan satu pukulan pada satu orang itu hingga terpental cukup jauh.
"Brengsek!" umpat tiga orang temannya, lalu mulai melayangkan pukulan bersamaan kearah Revan.
Revan menghindari setiap serangan tiga orang itu, lalu melayangkan pukulan bertubi-tubi tanpa henti kearah salah satu pria itu.
DOR!
Terdengar suara tembakan mengema didalam gudang itu, pria yang menembakkan peluru itu gemetar saat mendapat tatapan tajam dari Revan yang berhasil menghindar dengan peluru mengenai orang yang dipukulnya.
DOR!
Satu tembakan kembali mengema, kali ini dilepaskan oleh salah satu anggota Dragon night.
Satu orang yang tersisa gemetar melihat hal itu, lalu berniat untuk kabur.
"TANGKAP PRIA ITU, KULITI HIDUP-HIDUP SEKARANG JUGA DISINI!" Teriak Revan mengema digudang itu, dan segera dilaksanakan oleh para bawahannya.
Pria itu semakin mempercepat larinya untuk keluar dari gudang itu mengunakan pintu lain, tapi anggota Dragon night sudah mengepung tempat itu hingga tidak ada yang bisa keluar tanpa ijin Revan.
Revan menoleh kearah Rania dan segera berlari mendekat kearah istrinya itu. Buru-buru Revan melepas ikatan dikedua tangan Rania, hingga tatapannya terhenti pada darah yang mengalir dikaki Rania.
Revan segera mengendong tubuh Rania ala bridel style keluar dari gudang itu menuju mobilnya. Salah satu anggota Dragon night segera membuka pintu untuk Revan, dan dengan cepat Revan mendudukkan Rania perlahan dikursi samping kemudi.
"Kuliti dia, dan cari tahu siapa yang memerintahkannya!" titah Revan pada bawahannya itu, lalu segera mengitari mobil untuk membawa Rania ke rumah sakit.
"Baik tuan," jawab sang bawahan dengan patuh.
Revan melajukan mobilnya kearah rumah sakit dengan kecepatan tinggi, ia harus segera membawa Rania ke rumah sakit.
__ADS_1
Revan meraih tangan Rania yang masih tidak sadarkan diri.
"Bertahanlaa sayang, bertahan sebentar lagi," ucap Revan, dan mengecup singkat punggung tangan Rania dan menggenggamnya erat.