
Tubuh Dion terduduk dilantai saat Revan melayangkan pukulan keras dipipi pria itu, Dion menatap datar pada Revan, yang juga menatap datar kearahnya.
Dion bangkit dari duduknya, lalu menyeka sudut bibirnya yang sedikit berdarah dan kembali menatap kearah Revan.
"Pantas saja Revin tidak merestuimu," ucap Revan santai dan kembali duduk dikursinya, seolah tidak pernah memukul Dion.
Dion hanya terdiam melihat hal itu, diantara Carlos, Revin, dan kakaknya, hanya Revan saja yang tidak bisa ia baca jalan fikirannya. Kadang santai, kadang juga berbahaya membuat Dion merasa was-was berdekatan dengan Revan.
"Kenapa? Aku tidak melakukan hal lebih dari itu, dan dia juga yang memaksaku," ucap Dion dengan sesekali menelan salivanya dengan susah payah.
Revan menatap datar pria dihadapannya, lalu menyadarkan punggungnya disandaran kursi dan menatap lurus pada Dion.
"Tapi kau melakukannya kan? Tidak lebih ataupun lebih sama saja bagi Revin, begitupun denganku! Kau sudah bosan hidup kah?!" tanya Revan santai, meski sebenarnya ingin kembali memukul Dion.
Dion terdiam mendengar hal itu, lalu mengepalkan tangannya dan menatap tajam pada Revan.
"Jadi kau juga ingin menghalagi hubunganku dan Reana! Maka dari itu kau mengundangku ke sini?!" ucap Dion yang kini mulai emosi.
Revan hanya menaikkan sebelah alisnya, tanpa berniat untuk berbicara.
"Sampai kapanpun aku tidak akan mundur! Mau kau dan Revin setuju ataupun tidak, aku tidak akan menjauhi dan meninggalkan Reana! Sampai kapanpun tidak akan!" ucap Dion dengan menaikkan nada suaranya, lalu berbalik untuk keluar dari restoran itu, tapi suara Revan membuat ia menghentikan langkahnya.
"Sejak kapan aku bilang kalau aku tidak merestuimu," ucap Revan santai membuat Dion menoleh perlahan padanya.
Revan bangkit dari duduknya, lalu berjalan perlahan mendekat kearah Dion dan menepuk pelan bahu Dion.
"Datang ke alamat xxx, besok sore. Aku tunggu," ucap Revan dan tiba-tiba memukul perut Dion dengan keras.
Revan berlalu keluar dari cafe itu, meninggalkan Dion yang meringis karena pukulan keras diperutnya.
"Apa jadinya jika mereka menjadi Iparku? Sudah pasti si gila itu akan lebih menyiksaku nanti, tapi demi Reana, aku tidak akan menyerah," ucap Dion, dengan mengingat terakhir kali Revin memukulnya tanpa ampun ditempat umum.
* * *
__ADS_1
Pukul 5:30 sore.
"Wah, terima kasih, mom. Mommy tau saja, kalau aku mau makan ini," ucap Rania antusias saat Ana meletakkan gresek ukuran sedan diatas meja ruang tamu.
Ana tersenyum senang melihat hal itu, laku duduk diantara dua menantunya.
"Tentu saja tau. Vivi, selamat datang kembali ke negara A," ucap Ana, dengan mengusap kepala Vivian.
Vivian tersenyum malu dengan pipi yang memerah, mendapat perlakuan lembut ibu mertuanya itu.
"Hadiah untuk aku mana, mom?" tanya Vivian dengan menatap Ana, dan suara yang sengaja dibuat manja.
"Ada kok, ini," ucap Ana dengan memberikan gresek berukuran sedang pada Vivian, yang berisi es cream dengan berbagai macam rasa.
"Terima kasih, mom," ucap Vivian dengan mencium pipi mertuanya itu.
Arian hanya terdiam melihat hal itu, entah mengapa tadi Ana memintanya untuk berhenti sejenak di minimarket yang dekat dengan rumah mereka, lalu membeli begitu banyak es cream dan banyak sayur yang membuat ia tidak berselera makan.
Arian menoleh pada Rania yang begitu antusias menatap gresek ditangannya, berisikan sayur pahit yang membuat Arian enggan untuk makan malam.
"Sabar, ini ujian," bisik Arian dengan mengusap pelan punggung putra keduanya itu.
Revin menghela nafas panjang mendengar ucapan ayahnya. Percuma dia meminta beberapa bawahannya untuk memborong sayur pahit itu dan membawanya jauh-jauh, jika akhinya malah berakhir seperti ini.
'Oh, kakak ipar. Kau akan membuatku makan diluar rumah malam ini,' ucap Revin dalam hati, dengan menundukkan kepalanya dan mengusap wajahnya kasar.
"Ya udah, mom. Rania ke dapur dulu ya, mau simpan ini dilemari pendingin," ucap Rania, berniat untuk bangkit. Tapi Ana sudah lebih dulu menahan lengan menantunya itu.
"Nanti aja, dan juga biar Revin yang bawa. Kamu kan lagi hamil, jangan terlalu terburu-buru kalau berjalan, nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan," ucap Ana menasehati menantunya itu.
"Oh, iya. Kami akan makan malam di sini, Reana nanti akan kesini setelah pulang dari kampus. Jadi jangan kemana-mana," ucap Ana menatap tajam kearah putra keduanya.
Revin yang mendengar hal itu terkejut, lalu menoleh perlahan kearah ibunya yang menatap tajam padanya.
__ADS_1
'Ya ampun,' ucap Revin dalam hati, dengan Arian yang terus-menerus mengusap pelan punggung putra keduanya itu.
"Oh iya, mom. Tapi nanti kalau makan malam, mommy jangan masak ya," ucap Rania tiba-tiba, membuat semua mata tertuju padanya, bahkan Vivian yang tengah makan es cream pun menatap iparnya itu.
"Terus, siapa yang mau masak?" tanya Ana yang hanya mendapat senyum cerah dari menantunya itu.
"Aku mau kak Revan yang masak, bareng Daddy dan Revin," ucap Rania dengan menatap Revin dan Arian secara bergantian.
Arian dan Revin terdiam mendengar hal itu, lalu tatapan mata mereka tertuju pada gresek berukuran sedang itu.
Arian dan Revin bertukar pandang, lalu menelan saliva mereka dengan susah payah.
"Ide bagus tuh, kak. Aku juga pengen liat Revin sama Daddy dan kak Revan masak didapur bertiga," ucap Vivian antusias.
'Sayang,' rengek Revin dalam hati.
Arian menghembuskan nafasnya, kenapalah kedua menantunya itu mau meminta dirinya ikut dalam mengolah sayur pahit itu. Arian menatap kearah Ana yang menutup mulutnya dengan jati tangan, guna menahan tawanya melihat ekspresi suaminya itu.
"Aku pulang!" ucap Revan yang baru saja memasuki rumah, dan tersenyum senang saat melihat sang ayah dan ibu berada diruang tamu. Tapi senyumnya tidak bertahan lama, terutama saat melihat sesuatu yang ada didalam gresek dipangkuan istrinya.
Revan menatap tajam kearah adiknya itu, sedang Revin menghembuskan nafasnya dan memberi isyarat pada kakaknya jika sayur pahit itu dibeli oleh ibu mereka.
"Mom," rengek Revan tiba-tiba dengan berjalan malas mendekat kearah sofa yang diduduki oleh ayah dan adik laki-lakinya.
Ana hanya mengeryit, karena jujur ia tidak tahu apa yang dimaksud oleh putra pertamanya itu, yang tiba-tiba merengek seperti anak kecil.
"Ada apa, Revan?" tanya Ana, yang benar-benar tidak tahu apa yang membuat Revan merengek.
Revan menghembuskan nafasnya kasar, lalu mendudukkan diri disamping Revin.
"Brother," panggil Revin lirih, lalu mendekatkan bibirnya pada telinga sang kakak, untuk membisikkan hal yang akan menimpa mereka.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
__ADS_1
Revan segera meraih gelas diatas meja dihapadannya, meminumnya hingga tandas dan seketika menyadari sesuatu.
Revan menyemburkan hal yang baru saja ia minum, dan buru-buru berlari kearah dapur.