
Revan menatap dalam saudaranya itu. Menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
"Aku tidak akan mengizinkan hal itu. Jayden masih terlalu kecil," jawab Revan.
Revin terdiam sambil mengangguk beberapa kali.
"Tapi jika Reana memaksa? Kau akan mengizinkannya?" tanya Revin lagi.
"Reana masih sibuk mengurus diri di sana. Jika dia membawa Jayden, bukan hanya satu masalah yang harus dia urus. Hal itu hanya akan membuat dia pusing. Mungkin saat dia berkeluarga nanti, aku akan mempertimbangkan jika dia ingin membawa Jayden." jelas Revan panjang lebar.
"Iya, juga."
Sementara di lantai dua. Kaki kecil Viano melangkah dengan pelan mendekati sebuah kamar yang merupakan milik Jayden. Sepupu yang bahkan irit bicara padanya.
Anak berusia lima tahun itu menghentikan langkahnya di depan pintu. Terdiam sejenak dengan raut wajah ragu. Viano takut membuka pintu dan menatap wajah dingin sepupunya.
Namun, karena dia adalah anak laki-laki yang memiliki nyali tinggi, membuat ia dengan berani meraih handle pintu dan membukanya perlahan.
Viano mengerjap beberapa kali menatap ruangan yang begitu gelap, hanya secercah cahaya matahari yang masuk melalui celah gorden yang sedikit terbuka.
"Kakak Es batu?" panggil Viano. Panggilan sayang darinya untuk Jayden yang hanya ia sebutkan saat mereka berdua. Tidak berani jika berterus terang di depan orang tua.
Tak ada jawaban membuat Viano memberanikan diri untuk masuk. Kembali kelopak matanya mengerjap beberapa kali, memiringkan kepala tanda bingung dengan hal yang ia lihat.
"Lagi apa?" tanyanya.
Kaki Viano melangkah perlahan mendekat pada Jayden yang tengah duduk di samping tempat tidur, terlihat memangku sebuah buku kosong dengan pensil di tangan.
__ADS_1
"Lagi apa, sih?" tanya Viano lagi, dengan berani sembari menunduk menatap buku itu.
"Menggambar," jawab singkat Jayden.
"Gambar apa?"
"Assassin."
"Assassin?" beo Viano yang tidak mengerti sambil mengerjap beberapa kali.
Jayden mendogak perlahan, menaikkan sebelah alisnya dengan wajah datar.
"Pembunuh tikus," jawabnya asal.
Viano menganggukkan kepalanya. Seolah mengerti, padahal sebenarnya masih bingung.
"Kenapa dengan kepalamu?" tanya Jayden tanpa merubah ekspresi wajahnya, datar bagai jalan tol.
"Dilempar sepatu sama Nenek sihir tadi," adunya tanpa merasa bersalah memanggil saudari kembarnya dengan sebutan itu.
"Kasihan," ucap Jayden prihatin.
"Kakak Es batu, kita main, yuk." ajaknya.
"Aku lelah."
"Kalau begitu main kuda-kudaan."
__ADS_1
"Kau berat," jawab singkat Jayden. Namun, mampu membuat Viano bungkam.
Setelah percakapan singkat, dua anak laki-laki itu sama-sama diam.
Viano hanya diam sambil memainkan jari-jarinya kecilnya, sementara Jayden menggambar sesuatu di bukunya.
"Itu senapan, kan?" tanya Viano tiba-tiba sambil menunjuk ke arah gambar Jayden.
"Iya." singkat padat dan jelas.
Tiba-tiba keduanya sama-sama diam saat mendengar suara derap langkah kaki setengah berlari mendekati kamar.
Jayden dan Viano saling bertukar pandang satu sama lain, hingga tiba-tiba anak laki-laki lima tahun itu bangkit dari duduknya. Berjalan mendekati ke belakang pintu untuk bersembunyi dan berniat mengagetkan sosok yang akan masuk ke dalam kamar itu.
Jayden hanya diam melihat tingkah Viano. Ia tahu, jika sepupu laki-lakinya itu yang suka mencari masalah lebih dulu.
Langkah kaki berhenti tepat di depan pintu yang tidak terkunci. Bukannya membuka secara perlahan, sosok itu malah mendorong kuat pintu.
"Kak Jayden!" teriak Viana sambil mendorong kuat pintu kamar.
Brak!
Gadis kecil itu diam, mengerjap kala mendengar suara aneh di belakang pintu. Ia mengintip perlahan dan mendapati saudaranya dengan hidung, kening yang memerah akibat pintu yang mengenai wajahnya.
"Papa!" teriak Viano sambil menangis keras merasakan sakit.
***
__ADS_1
Note:Si Jayden versi dewasanya udah up. silahkan di baca, kalau enggak ada yang baca aku tarik balik naskahnya ☺️