
Semua orang terdiam mendengar cerita Vivan yang memakaikan benda itu pada suaminya. Namun sedetik kemudian mereka menahan tawa, mengalihkan pandangan ke arah lain agar tak membuat Revin berwajah masam. Tapi terlambat, karena Revin telah memasang wajah masam sejak Vivian bercerita.
"Astaga, Vivian. Bagaimana mungkin kamu bisa melakukan itu sayang?" tanya Ana, mengeleng pelan sambil menoleh pada putranya.
"Tapi kak Revin lucu, Mom. Sumpah, ngga bohong." ucapnya sambil mengangkat tangannya kedua jarinya hingga membentuk huruf V ke hadapan sang ibu mertua.
Ana hanya menganggukkan kepalanya, masih berusaha untuk menahan tawanya.
"Oh iya, kalian sudah dengar kalau hari ini Felisia melahirkan?" tanya Arian tiba-tiba, membuat semua pasang mata menatap padanya.
"Ah, dia belum menelfonku sejak tadi. Jadi aku tidak tahu," ucap Revan, karena tak mendapat telfon dari Carlos sejak pagi tadi.
Arian mengangguk mengerti, lalu menjatuhkan kepalanya di pundak sang istri, membuat Ana yang tengah mengendong Jayden, sedikit tersentak karena ulah suaminya itu.
"Aku jadi rindu dengan Reana," guman Arian yang masih di dengar oleh putra dan menantunya, terutama istrinya.
Revan dan Revin bertukar pandang satu sama lain, seolah bertanya lewat fikiran tentang keadaan adik mereka itu. Karena sejak beberapa bulan yang lalu Reana sangat sulit dihubungi, entah apa yang tengah dikerjakan oleh adik mereka itu.
Di sisi lain, di waktu yang bersamaan.
Seorang wanita berusaha mengatur nafasnya sesuai dengan hal yang dikatakan oleh Dokter, tak lupa dengan sang suami yang berdiri di samping brankar, setia mengenggam erat tangannya sejak beberapa menit yang lalu.
"Ayo sayang, kamu pasti bisa!" ucap Carlos, menatap wajah istrinya yang penuh dengan keringat dan nafas yang tersengal-sengal.
"Ini ... semua ... karena kamu! Coba saja kamu ... pinter nangkap ayamnya ... aku pasti mudah buah lahiran!" ucap Felisia, lalu berusaha mendorong tubuh bayinya yang entah mengapa begitu sulit untuk keluar.
Carlos yang mendengar ocehan istrinya, mengernyitkan alisnya. Apa hubungannya dia yang tak bisa menangkap ayam dengan lahiran? batin Carlos mulai berteriak tak jelas karena ucapan istrinya itu.
Tiga bulan yang lalu.
Felisia duduk manis di sofa, menonton tv bersama dengan Carlos hingga tiba-tiba melihat sebuah iklan di tv besar itu. Wanita hamil itu menelan salivanya kasar, tiba-tiba ia ingin memakan ayam setelah melihat iklan itu. Felisia menoleh pada suaminya yang begitu fokus pada layar laptop sejak tadi.
__ADS_1
"Carlos!" panggil Felisia, tapi tak didengar oleh Carlos.
Wanita hamil itu mendegus kesal, menggoyangkan bahu suaminya.
"Apa?" tanya Carlos, yang merasa terganggu dengan istrinya yang terus menggoyangkan bahunya.
"Pengen ayam," ucap Felisia membuat Carlos mengernyitkan alisnya.
"Ayam apa?" tanya Carlos.
"Ih, ayam goreng lah!" kesal Felisia, mengembulkan pipinya.
Carlos yang mendengar hal itu ber-oh riah tanpa suara, segera meletakkan laptopnya di atas meja untuk segera bangkit dari duduknya memasuki dapur dan menyiapkan makanan keinginan istrinya. Tapi sebelum ia berhasil melangkahkan kakinya, sebuah tangan sudah lebih dulu menarik baju koas biru tua yang ia kenakan.
"Apa?" tanya Carlos, menoleh pada Felisia.
"Aku mau kamu yang tangkap ayamnya sendiri di peternakan!" ucap Felisia, lebih tepatnya perintah.
Tiga puluh menit kemudian.
Di sinilah Carlos, berdiri dengan raut wajah datarnya menatap begitu banyak ayam di hadapannya. Ia menoleh ke belakang, menatap sang istri yang kini mengacungkan jempol ke arahnya. Carlos menghela nafas kasar, mengangkat kakinya melangkahi sebuah pagar yang tidak terlalu tinggi.
Carlos berdiri tegap, menatap ayam yang begitu banyak tengah mematuk tanah, lebih tepatnya makanan yang sengaja diberikan oleh sang pemilik peternakan agar membuat Carlos mudah menangkap salah satu ayam itu.
Carlos mulai melangkah sambil sedikit membungkukkan badannya, mengejar berapa ayam yang berlari menjauh darinya. Sekuat dan sekeras apapun ia berlari, sang ayam tetap bisa menghindarinya.
Felisia terdiam melihat tingkah kejar-kejaran sang suami dengan para ayam itu, yang selalu berhasil meloloskan diri. Ia menoleh pada pria paruh baya di sampingnya, yang merupakan pemilik peternakan.
"Em, pak. Cara menangkap ayam seperti itu, ya?" tanyanya sambil menunjuk ke arah suaminya yang belum juga menangkap satu ekor ayam.
Pria paruh baya itu hanya tersenyum canggung dan terkejut saat tiba-tiba mendengar suara Carlos, seketika mereka berdua menoleh dan terkejut melihat Carlos yang terjatuh ke tanah dengan posisi tengkurap.
__ADS_1
"Ya Tuhan!" pekik Felisia, tak percaya dengan hal yang ia lihat.
"Argh! Ayam sialan! Berhenti mematukku!" teriak Carlos berusaha bangkit saat para ayam itu mulai menggila dan mematuk tubuhnya. "Argh! sialan!"
Hal itu menjadi pengalaman terburuk Carlos, dan sampai akhir ia tak dapat menangkap satu ekor ayam, membuat Felisia mogok bicara padanya selama 3 jam.
***
Felisia masih berusaha mendorong tubuh bayinya agar segera keluar, tiba-tiba ia melepaskan genggaman tangannya pada tangan suaminya, beralih menjambak rambut lebat Carlos.
"ARGH! AKU TIDAK AKAN MEMINTA SUAMIKU MENANGKAP AYAM LAGI, JADI KELUARLAH SAYANG!" teriak Felisia, menarik keras rambut suaminya, tak peduli pada suaminya yang berteriak.
Bersamaan dengan hal itu, terdengar suara bayi yang menangis dengan keras membuat Carlos terdiam seketika, menoleh ke arah dokter yang kini mengendong tubuh bayi yang penuh dengan darah.
Carlos tersenyum senang, menatap istrinya yang perlahan-lahan melepaskan jambakan di rambutnya dengan nafas yang tak beraturan dan keringat membanjiri keningnya.
"Kalau saja dari tadi kamu menjambak rambutku, pasti dari tadi dia sudah keluar." ucap santai Carlos dengan senyum di wajahnya.
PLAK!
Felisia menampar wajah suaminya itu, sedang orang yang ditampar hanya terkekeh, tak peduli dengan rasa panas di pipinya.
***
Pukul 4 sore, Negara A.
Vivian berjalan pelan memasuki sebuah minimarket yang tidak jauh dari rumahnya, membeli sesuatu sekaligus membeli susu untuk keponakannya. Sebelum meninggalkan rumah, ia sudah lebih dulu meminta izin pada sang kakak ipar yang berada di rumah sambil menjaga Jayden, sedang Revan pergi membantu Revin menyelesaikan beberapa masalah di perusahaan.
Vivian berjalan dengan susah payah di dalam minimarket itu, sebenarnya ia bisa saja memakai mobil diantar oleh sang supir yang telah disediakan oleh kakak iparnya, tapi mengingat jika dirinya sudah sangat lama tidak jalan-jalan di sore hari membuat ia memutuskan untuk berjalan kaki.
Setelah mengambil semua barang-barang yang ia inginkan, Vivian pun berjalan mendekati kasir, membayar belanjaan lalu keluar dengan satu gresek sedang di tangannya.
__ADS_1
Vivian berjalan semakin menjauh dari minimarket dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya, hingga tiba-tiba sebuah tangan membekap hidungnya dengan saputangan yang membuat ia perlahan-lahan kehilangan kesadarannya.