LOVE SON OF THE RULER

LOVE SON OF THE RULER
SUSU UNTUK AYAH ATAU ANAK?


__ADS_3

Revan bergegas memasuki kamarnya, menutup pintu lalu mendekati tempat tidur bayi, di mana kini putra kecilnya tengah menangis keras. Perlahan Revan mengendong tubuh Jayden, mencoba menenangkan putra kecilnya itu.


"Udah sayang, diam oke. Nanti Mommy bangun kalau Jayden menangis keras seperti ini," ucap Revan, berbicara seolah putranya itu mengerti dengan hal yang ia ucapkan.


Bukannya berhenti, bayi kecil itu justru semakin menangis keras membuat Rania yang tertidur terbangun seketika.


"Jayden," ucap lirih Rania yang kini mendudukkan diri di atas tempat tidur, menatap sendu pada suaminya yang tengah mengendong putra kecil mereka.


Revan berjalan mendekati tempat tidur sambil mengendong Jayden yang masih menangis keras digendongannya, mendudukkan diri perlahan di tepi tempat tidur lalu memberikan putra kecilnya itu pada istrinya.


Rania mengendong Jayden, membuka satu persatu kancing bagian atas baju tidur yang tengah ia kenakan saat ini.


Revan hanya diam melihat putranya yang mulai meminum asi dengan lahap, mata Revan terus saja menatap ke arah dada istrinya, menelan saliva kasar sebelum mengulurkan tangannya membuka semua kancing piyama yang dikenakan oleh Rania.


Mata Rania membulat sempurna melihat hal yang tengah dilakukan oleh suaminya itu, membuka semua kancing piyama yang ia kenakan hingga terpampang jelas dadanya yang tidak tertutup sehelai kain.


Hal yang terjadi selanjutnya membuat mata Rania semakin terbelalak, bagaimana tidak jika suaminya ikut menyusu padanya.


"K-k-kak Revan!" Teriak tertahan Rania pada suaminya itu, lalu menatap pada putranya yang tidak terusik sama sekali.


"Aku juga mau, masa cuma Jayden saja." ucap Revan lalu kembali melanjutkan kegiatannya, membuat Rania mengelengkan kepalanya.


"Udah kak, berhenti! Nanti kalau Jayden masih lama gimana? Udah ih!" Ucap Rania, mencoba menghentikan tingkat gila suaminya malam ini.


"Aku akan membiarkannya susu," jawab santai Revan, menidurkan perlahan tubuh Rania hingga terlentang di atas tempat tidur, semakin memudahkan dirinya untuk menyusu.


Rania mengeleng pelan, pasrah akan hal yang dilakukan oleh suaminya. Kini ia memilih fokus menepuk pelan tubuh putranya yang tengah menyusu padanya, mengabaikan rasa geli yang diakibatkan oleh suaminya.


Beberapa menit kemudian.


Revan menjauhkan wajahnya dari dada istrinya, menatap Jayden yang tengah tertidur di atas tubuh istrinya dengan mulut yang masih bergerak meminum Asi.


"Ternyata enak juga berbagi denganmu sayang," ucap Revan sambil mengangkat tubuh mungil putranya perlahan, menidurkan tubuh mungil itu di samping Rania.


Revan menarik selimut menutupi tubuh setengah polos istrinya, lalu ikut menidurkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan Jayden yang berada di tengah.


Revan berusaha memejamkan matanya, tapi sekuat apapun ia mencoba, dirinya sama sekali tak terlelap. Revan kembali menatap putranya, mendudukkan diri lalu mengendong tubuh mungil putranya.


Revan beringsut mendekati Rania , menidurkan tubuh putranya di pinggir sambil menaruh sebuah bantal agar tubuh mungil itu tak terjatuh dari tempat tidur.


Setelah kerepotan singkat itu Revan kembali menidurkan tubuhnya di atas tempat tidur, memeluk tubuh istrinya memunggungi putranya sambil memainkan put**g Rania yang tak tertutup sehelai kain di balik selimut.

__ADS_1


Pukul 6 pagi.


Rania terbangun dari tidurnya, tapi matanya masih terpejam sambil mencoba mengerakkan badannya yang kini terasa tengah ditindih oleh sesuatu yang sangat berat.


Perlahan wanita itu membuka matanya, menoleh ke samping dan tersebut melihat wajah lelap suaminya yang kini memeluknya posesif.


Rania mencoba memiringkan tubuhnya hingga berhadapan dengan Revan, menyentuh wajah tampan suaminya itu.


'Aku tidak percaya, jika aku bisa menyandang status sebagai istrimu. Istri dari seorang pria yang begitu baik dan penuh kasih sayang, aku adalah wanita beruntung,' batin Rania, lalu mencium kening suaminya.


"Terima kasih sayang," ucap Revan dengan mata yang masih terpejam dan senyum di bibirnya.


"Sama-sama. Ayo bangun," ajak Rania, mencoba melepaskan pelukan suaminya.


"Sebentar lagi, aku masih ingin memelukmu sebelum Jayden mengantikanku." ucap Revan, masih enggan membuka matanya yang terpejam.


Rania mengeleng pelan, mencoba mendudukkan diri tanpa melepas tangan kekar yang memeluknya.


Wanita itu terdiam sejenak kala menatap ke belakang suaminya, sosok mungil yang kini mengerjapkan mata tanpa mengeluarkan suara.


"Ya Tuhan!" pekik Rania, seketika melepas dengan kasar tangan Revan yang memeluknya.


"Ya Tuhan, kak!" ucap Rania, menatap tajam pada Revan saat putra kecilnya kini sudah berada digendongannya.


Revan hanya tersenyum, masih dengan posisi tiduran di atas tempat tidur, tanpa takut dengan tatapan mengemaskan istrinya saat ini. Padahal itu adalah tatapan kemarahan Rania padanya.


"Sayang," panggil Revan pada Rania yang kini tengah menidurkan perlahan Jayden di sampingnya, enggan menatap suaminya itu.


Revan yang melihat hal itu menghela nafas kasar, mengaruk tengkuknya yang tidak gatal lalu memeluk pinggang istrinya dari samping.


"Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi." ucap Revan lembut, berharap Rania memaafkan ulahnya.


Wanita itu tak menjawab, ia tetap menatap putranya yang hanya diam sambil mengerjapkan mata padanya.


"Aku mau minum susu, ya?" Ucap Revan, mendogak menatap istrinya.


"Ya sudah, bangun abis itu ...." belum selesai Rania berucap, ia sudah tersentak kala seseorang menghisap kuat dadanya. Ia menunduk, membelalakkan mata melihat bayi besar yang kini menyusu dengan kuat di dadanya.


"KAK REVAN!"


***

__ADS_1


Di rumah sakit.


Revin sudah terbangun dari tidurnya sejak tadi, mengendong kedua anaknya yang menangis di saat bersamaan, hingga membuat tidur istrinya terganggu.


"Diam sayang, nanti Daddy tidak memberikan permen padamu, loh. Jadi diam, ya. Jangan menangis lagi," ucap Revin, mendapat tatapan aneh dari istrinya.


Vivian hanya mampu mengeleng di atas brankar sambil mengendong putri kecilnya, menghela nafas pelan saat mendengar ucapan tak masuk akal dari suaminya itu. Mana ada anak berusia beberapa hari makan permen dan mengerti ucapan orang dewasa. Ya Tuhan, sepertinya suaminya perlu belajar.


Revan dan Vivian menoleh saat mendengar suara dering ponsel di atas meja, perlahan laki-laki itu melangkahkan kakinya mendekati sofa dan menunduk untuk mengambil ponselnya yang berdering menandakan panggilan masuk.


"Halo, Mom. Mommy ada di mana? Bisa segera ke rumah sakit, dua Viana dan Viano bangun di saat bersamaan." ucap Revin pada sang ibu di seberang telfon. Terdengar suara kekehan Ana di sana, membuat Revin mengembulkan pipinya.


"Iya sayang, Mommy dan Daddy dalam perjalanan ke sana. Oh iya, Liona sudah melahirkan kemarin."


"Oh, benarkah?" ucap Revin, menatap ke arah istrinya yang kini menatapnya penuh tanya.


"Iya, anaknya laki-laki."


Revin tersenyum mendengar hal itu, ikut senang mendengar kelahiran buah hati sahabatnya dengan selamat.


"Liona baik-baik saja, kan, Mom?" tanya Revin, memberikan putranya pada sang suster yang telah masuk ke ruangan itu.


"Iya, keadaannya sangat baik. Sudah dulu, ya. Sebentar lagi mommy sampai, kita lanjut nanti."


"Oke, mom." ucap Revin.


Di ruangan lain.


Reana duduk di kursi sambil menatap pria yang masih terlelap di atas brankar di hadapannya.


"Orang-orang itu ... kenapa harus sangat kasar seperti ini." lirih Reana, tersentak saat tiba-tiba ponselnya berdering menandakan pesan masuk.


"Kamu di mana? Kakak ingin bicara empat mata denganmu."


Reana menelan nafas kasar melihat pesan kakak pertamanya, lalu membalas pesan itu dengan degup jantung yang tidak beraturan.


***


Halo, maaf ya tiga hari ngga update 😅🤧.


Happy reading, oh iya. Ada cerita baru nih, siapa tau mau baca. Judulnya Tawanan Cinta Tuan Muda Dingin, hehe. Bisa cek langsung diprofil aku. Silahkan di baca ya🤭 kalau berkenan

__ADS_1


__ADS_2