LOVE SON OF THE RULER

LOVE SON OF THE RULER
Mirip Siapa?


__ADS_3

Anak laki-laki itu mengalihkan pandangannya ke arah lain


dengan ekspresi datar yang terlihat jelas, hingga kejadian selanjutnya membuat


sepasang suami istri itu membelalakkan mata.


BUGH!


Sebuah sepatu mendarat sempurna di kepala anak laki-laki


itu, membuat ia mematung dengan mengigit bibir bawahnya agar tak mengeluarkan


tangisnya.


“Viano!” teriak Revin yang begitu terkejut melihat kepala


putranya menjadi korban sepatu putrinya.


“Ya, Tuhan.” Revin mengusap kepala putranya, lalu menoleh


pada putrinya yang kini bersembunyi di balik tubuh istrinya.


“Huwaaa, nenek sihir!” teriak Viano sambil menunjuk ke arah


saudari kembarnya yang sehari pun tak pernah akur dengannya.


“Huwaaa, Mama. Dia manggil Viana nenek sihir,” gadis itu menangis


sambil menunjuk ke arah saudaranya.


Vivian menarik napas pelan. Berjongkok dan memeluk putri


kecilnya, sementara Revin mengurus putranya.


Apa salah jika orang tua menginginkan anak-anak mereka untuk


akur? Sepertinya tidak. Tapi kenapa sepasang bocah kembar ini bahkan tak bisa


akur meski hanya sehari, sejak dini mereka telah tidur di kamar yang terpisah.


Karena jika sekamar, maka tidak akan ada ketenangan sebelum


keduanya tertidur akibat kelelahan setelah bertengkar dan saling meneriaki satu

__ADS_1


sama lain.


“Udah, ya. Jangan nangis lagi, Viana cantik kok.” Vivian berusaha


menenangkan putrinya, mengusap air mata gadis kecil itu.


Revin hanya diam mengusap kepala putranya, entah mengapa


tidak ada kata akur antara dua anaknya itu.


“Oh, kalian sudah datang.”


Sebuah suara mengalihkan pandangan empat orang itu, hingga


menatap Rania yang kini berjalan mendekati mereka.


“Ah, kakak ipar.” sahut Revin bangkit dari duduknya dan


tersenyum hangat pada Rania.


“Eh, kenapa menangis?” tanya Rania saat melilhat air mata di


pipi gadis kecil itu.


Revin beralih menatap putranya yang kini berjalan mendekati


Rania. Menarik pelan ujung baju Wanita itu.


“Aunty, Kak Jayden mana?” tanya Viano yang kini telah


berhenti menangis, meski masih merasakan denyutan di kepalanya akibat ulah


saudarinya yanag bar-bar. Entah akan jadi seperti apa Viana saat dewasa nanti.


“Dia ada di kamarnya,” jawab Rania menahan senyum, gemas


melihat tingkah anak laki-laki itu.


“Terima kasih, Aunty.” Viano berjalan melewati Rania,


mendekati tangga untuk naik di lantai dua.


Tiba-tiba, anak laki-laki itu menghentikan langkahnya, lalu

__ADS_1


menoleh pada saudarinya. Dengan sengaja Viano menjulurkan lidahnya ke arah


Viana, lalu berlari dengan tergesa-gesa naik ke lantai dua.


Tiga orang dewasa itu hanya mampu terdiam melihat tingkah


Viano. Sepertinya anak laki-laki itu yang selalu mencari masalah saat keadaan


sebenarnya tenang-tenang saja.


Revin mengusap kasar wajahnya mendengar putrinya kembali


menangis keras karena ulah putranya.


‘Aku bahkan tidak senakal ini saat kecil. Ikut siapa sih dia?’


batin Revin, lalu menatap istrinya, ‘Sepertinya mirip Vivian.’


Revin menghela napas pelan, mengeleng pelan agar Vivian tak mengetahuinya.


"Oh, iya. Kalau Brother ada di mana, kak ipar?" tanya Revin.


"Kak Revan ada di dapur, sedikit memasak makanan untuk kita semua." jelas Rania.


Revin ber-oh riah tanpa suara, lalu segera menghampiri kakaknya. Membiarkan dua wanita itu berbicara di ruang tamu.


"Brother?" panggil Revin pada Revan yang kini terlihat begitu fokus pada masakannya.


"Apa?" tanya Revan ketus.


"Bagaimana kondisi Jayden?"


Seketika Revan menghentikan gerakan tangannya, menoleh pada Revin dan menghela napas pelan.


"Apa kau akan membiarkan Jayden ikut dengan Reana, jika Reana berniat membawa Jayden dan bersekolah di sana?" tanya Revin tiba-tiba.


***


Note:


Aku jadi bingung, jadi terbitin Jayden bulan depan apa enggak, ya🤔


Apa terusin ekstra part yang ini?

__ADS_1


__ADS_2