
Anak laki-laki itu mengalihkan pandangannya ke arah lain
dengan ekspresi datar yang terlihat jelas, hingga kejadian selanjutnya membuat
sepasang suami istri itu membelalakkan mata.
BUGH!
Sebuah sepatu mendarat sempurna di kepala anak laki-laki
itu, membuat ia mematung dengan mengigit bibir bawahnya agar tak mengeluarkan
tangisnya.
“Viano!” teriak Revin yang begitu terkejut melihat kepala
putranya menjadi korban sepatu putrinya.
“Ya, Tuhan.” Revin mengusap kepala putranya, lalu menoleh
pada putrinya yang kini bersembunyi di balik tubuh istrinya.
“Huwaaa, nenek sihir!” teriak Viano sambil menunjuk ke arah
saudari kembarnya yang sehari pun tak pernah akur dengannya.
“Huwaaa, Mama. Dia manggil Viana nenek sihir,” gadis itu menangis
sambil menunjuk ke arah saudaranya.
Vivian menarik napas pelan. Berjongkok dan memeluk putri
kecilnya, sementara Revin mengurus putranya.
Apa salah jika orang tua menginginkan anak-anak mereka untuk
akur? Sepertinya tidak. Tapi kenapa sepasang bocah kembar ini bahkan tak bisa
akur meski hanya sehari, sejak dini mereka telah tidur di kamar yang terpisah.
Karena jika sekamar, maka tidak akan ada ketenangan sebelum
keduanya tertidur akibat kelelahan setelah bertengkar dan saling meneriaki satu
__ADS_1
sama lain.
“Udah, ya. Jangan nangis lagi, Viana cantik kok.” Vivian berusaha
menenangkan putrinya, mengusap air mata gadis kecil itu.
Revin hanya diam mengusap kepala putranya, entah mengapa
tidak ada kata akur antara dua anaknya itu.
“Oh, kalian sudah datang.”
Sebuah suara mengalihkan pandangan empat orang itu, hingga
menatap Rania yang kini berjalan mendekati mereka.
“Ah, kakak ipar.” sahut Revin bangkit dari duduknya dan
tersenyum hangat pada Rania.
“Eh, kenapa menangis?” tanya Rania saat melilhat air mata di
pipi gadis kecil itu.
Revin beralih menatap putranya yang kini berjalan mendekati
Rania. Menarik pelan ujung baju Wanita itu.
“Aunty, Kak Jayden mana?” tanya Viano yang kini telah
berhenti menangis, meski masih merasakan denyutan di kepalanya akibat ulah
saudarinya yanag bar-bar. Entah akan jadi seperti apa Viana saat dewasa nanti.
“Dia ada di kamarnya,” jawab Rania menahan senyum, gemas
melihat tingkah anak laki-laki itu.
“Terima kasih, Aunty.” Viano berjalan melewati Rania,
mendekati tangga untuk naik di lantai dua.
Tiba-tiba, anak laki-laki itu menghentikan langkahnya, lalu
__ADS_1
menoleh pada saudarinya. Dengan sengaja Viano menjulurkan lidahnya ke arah
Viana, lalu berlari dengan tergesa-gesa naik ke lantai dua.
Tiga orang dewasa itu hanya mampu terdiam melihat tingkah
Viano. Sepertinya anak laki-laki itu yang selalu mencari masalah saat keadaan
sebenarnya tenang-tenang saja.
Revin mengusap kasar wajahnya mendengar putrinya kembali
menangis keras karena ulah putranya.
‘Aku bahkan tidak senakal ini saat kecil. Ikut siapa sih dia?’
batin Revin, lalu menatap istrinya, ‘Sepertinya mirip Vivian.’
Revin menghela napas pelan, mengeleng pelan agar Vivian tak mengetahuinya.
"Oh, iya. Kalau Brother ada di mana, kak ipar?" tanya Revin.
"Kak Revan ada di dapur, sedikit memasak makanan untuk kita semua." jelas Rania.
Revin ber-oh riah tanpa suara, lalu segera menghampiri kakaknya. Membiarkan dua wanita itu berbicara di ruang tamu.
"Brother?" panggil Revin pada Revan yang kini terlihat begitu fokus pada masakannya.
"Apa?" tanya Revan ketus.
"Bagaimana kondisi Jayden?"
Seketika Revan menghentikan gerakan tangannya, menoleh pada Revin dan menghela napas pelan.
"Apa kau akan membiarkan Jayden ikut dengan Reana, jika Reana berniat membawa Jayden dan bersekolah di sana?" tanya Revin tiba-tiba.
***
Note:
Aku jadi bingung, jadi terbitin Jayden bulan depan apa enggak, ya🤔
Apa terusin ekstra part yang ini?
__ADS_1