LOVE SON OF THE RULER

LOVE SON OF THE RULER
ADIK SIALAN


__ADS_3

Hanya terdengar suara dentingan sendok yang bergesekan dengan piring. Revan diam dan menyantap makanannya dengan lahap, begitupun dengan Rania yang sesekali menahan tawanya.


Sedang Vivian sudah tak berniat makan, merasa kenyang melihat suaminya yang makan dengan sesekali meminum kopi buatan Revan.


Meski tadi sempat melemparkan spatula pada adiknya itu, Revan tetap membuatkan kopi untuk Revin dengan raut wajah seolah ingin mencampurkan racun pada kopi itu.


"Vivi, segera bawa suamimu itu ke rumah sakit," ucap Revan, yang mendapat anggukan kepala dari adik iparnya itu.


Rania berusaha menahan tawanya, sedang Revin hanya acuh saja.


Selesai sarapan, Revin dan Vivian beranjak dari meja makan, keluar dari dapur untuk segera mandi dan pergi ke rumah sakit.


Revan terdiam melihat tingkah sepasang suami istri itu, lalu menatap meja makan. Di mana masih ada piring bekas makan Revin dan Vivian disana.


Rania mengigit bibir bawahnya, dengan menyentuh perutnya yang sakit akibat menahan tawa, dan lagi ekspresi wajah Revan saat ini benar-benar lucu sekali untuk dilihat.


"REVIN! VIVIAN!" Teriak Revan, saat menyadari jika adik dan adik iparnya melimpahkan cucian piring juga padanya. Setelah tadi memasak sarapan pagi, kini ia juga harus mencuci piring. Sungguh kedua orang itu harus ditendang keluar dari rumahnya. Namun ia kembali berfikir dua kali, lantaran akan merasa sepi jika Revin dan Vivian pergi.


Revan mengusap wajahnya kasar, lalu menoleh kesamping, di mana Rania tertawa tanpa suara saat ini.


"Lucu ya, sayang?" Tanya Revan, dengan nada menyindir.


Rania mengangukkan kepala dengan mulut yang terbuka karena tertawa. Wajah Revan berubah datar, lalu bangkit dan menyusun piring untuk ia bawa ke wastafel, kemudian mencucinya.


"Biar aku ban ...," Rania seketika kembali duduk, saat sang suami menatapnya tajam.


Rania mengatupkan bibirnya, duduk manis ditempat semula. Menatap Revan yang tengah membereskan dapur dari kekacauan. Dirinya sudah seperti pelayan wanita pagi ini.


***


Pukul 10 pagi.


Di sinilah Revin dan Vivian, duduk dihadapan dokter wanita yang beberapa saat yang lalu memeriksa keadaan Vivian yang mendadak aneh pagi ini.

__ADS_1


Revin dan Vivian mengernyit, lalu bertukar pandang satu sama lain melihat sang dokter yang tersenyum sedari tadi.


"Sebenarnya apa yang terjadi, dok. Kenapa istri saya mendadak aneh, bahkan mengatakan jika masakan suaminya sendiri tidak enak," ucap Revin, sedikit curhat pada dokter wanita itu.


"Aku mana tahu kalau yang pertama bukan masakan kamu, lagipula rasanya benar-benar berbeda," ucap Vivian, membela diri.


Sang dokter menahan tawanya melihat pertengkaran kecil sepasang suami istri itu.


"Begini, Tuan, Nyonya. Keadaan Anda sangat baik, hanya saja akan lebih baik lagi jika Anda sering makan makanan bergizi seimbang, agar calon bayi kalian sehat hingga lahir ke dunia," jelas sang dokter, membuat sepasang suami istri itu terdiam.


"Tadi Anda bilang apa, dok?" Tanya Revin dengan raut wajah terkejutnya.


Sang dokter kembali terkekeh melihat raut wajah Revin, "Istri Anda saat ini tengah mengandung, Tuan. Saya ucapkan selamat, usia kandungan masih sangat muda. Jadi saya belum bisa memastikan sesuatu, ada kemungkinan istri Anda hamil anak kembar. Dan ada kemungkinan juga tidak," ucap dokter itu, senyum pada bibir Revin dan Vivian terbit seketika.


"Benarkah dokter? Anda tidak berbohong jika istri saya hamil kan?" Tanya Revin, yang masih belum percaya yang ia dengar karena rasa bahagianya.


Sang dokter menganggukkan kepalanya dengan senyum diwajahnya.


Revin memeluk erat Vivian, dan memberikan kecupan singkat dipuncuk kepala istrinya itu.


Mereka berdua pun keluar dari ruangan dokter itu, untuk segera pulang dan membagi kebahagiaan itu pada keluarga mereka.


***


Revan mendudukkan diri disofa samping Rania, menghembuskan nafas lelah saat pekerjaan rumah telah selesai ia kerjakan. Dan juga sudah menyediakan camilan dimeja dihadapannya, untuk jaga-jaga jika istrinya itu ingin makan camilan.


Rania hanya diam sedari tadi, ia benar-benar menjadi ratu saat ini. Suaminya benar-benar melakukan pekerjaan tanpa meminta bantuannya, bahkan mencuci dan menjemur pakaian pun dilakukan oleh Revan, mengepel lantai beserta menyapu pun dilakukan oleh Revan. Hampir semua pekerjaan dilakukan oleh Revan hari ini. Hari-hari sebelumnya dibantu oleh Revin dan Vivian.


Revan terdiam saat tiba-tiba Rania mengecup singkat pipinya. Rasa lelahnya seketika lenyap, lalu mengulurkan tangannya dan meraih kepala istrinya, meletakkan perlahan dibahunya.


"Pasti melelahkan," ucap Rania, sedikit mendogak menatap Revan.


"Tidak sama sekali. Terlebih mendapat hadiah kecil disini," ucap Revan, menyentuh pipi tempat kecupan singkat Rania.

__ADS_1


Rania tersenyum mendengar hal itu, lalu merangkul tangan Revan dan merapatkan tubuhnya pada suaminya itu.


"Berarti tidak masalah dong ya, kalau melakukan perkejaan rumah setiap hari tanpa bantuan," ucap Rania, membuat Revan tersenyum.


"Aku bahkan bisa membersihkan rumah ini dua kali dalam satu hari, jika setiap selesai melakukannya mendapat hadiah kecil disini," ucap Revan, lalu mengecup puncuk kepala Rania.


Mereka menoleh kearah pintu saat mendengar langkah kaki memasuki rumah.


"Revin, buka sepatumu!" Teriak Revan. Namun terlambat lantaran Revin sudah menginjak lantai yang belum kering.


Revin menunduk, menatap lantai lalu mengangkat kakinya dan membulatkan matanya saat melihat bekas sepatunya disana. Vivian mundur satu langkah, lalu berdiri tepat dibelakang suaminya itu.


'Mam**s,' batin Revin lalu mendogak dan memejamkan matanya saat bantal sofa tepat mengenai wajahnya.


"Adik sialan! PERGI KE DAPUR DAN AMBIL ALAT PEL!" Teriak Revan menunjuk kearah dapur.


Revin memghembuskan nafasnya, lalu melangkah ke dapur tapi lupa untuk melepaskan sepatunya terlebih dahulu.


"LEPASKAN SEPATUMU SIALAN!" Teriak Revan dan buru-buru Revin membuka sepatunya dan berlari masuk ke dapur.


Vivian membuka sepatunya perlahan, lalu melangkah pelan kearah sofa dan duduk didepan kakak iparnya itu, menunduk takut melihat wajah Revan yang memerah karena emosi.


Beberapa menit kemudian.


Vivian duduk patuh disofa, sedang Revin mengepel ulang lantai yang kotor karena ulahnya, dan terlihat Revan menatap tajam adiknya itu. Melihat dengan teliti pekerjaan adiknya itu.


Revin memghembuskan nafas dengan menyeka keningnya menggunakan punggung tangannya, lalu berniat memasukkan kembali alat pel itu ke dapur. Namun belum beranjak dia dari tempatnya empat pasang kaki sudah berada dihadapannya.


Revin menatap tidak percaya hal itu, lalu menatap dua orang pria yang menatapnya dengan wajah bingung. Lalu menyapanya.


"Halo, Vin," sapa Reon dan Carlos, sedang Felisia dan Liona segera beringsut kebelakang masing-masing suami mereka.


"REON! CARLOS!" Teriak Revin mengema didalam ruangan tamu.

__ADS_1


Reon dan Carlos memejamkan matanya mendengar suara teriakan sahabatnya itu, lalu terkejut saat mendadak Revin memberikan alat pel pada dua pria itu.


__ADS_2