LOVE SON OF THE RULER

LOVE SON OF THE RULER
TERKEJUT


__ADS_3

Lima belas menit kemudian.


Revan berjalan keluar dari dapur, setelah mencuci piring bekas makan mereka tadi. Revan berjalan perlahan mendekat kearah sofa, di mana Rania tengah duduk santai dengan menatap layar tv dihadapannya.


Rania mendogak saat melihat Revan yang berdiri tepat dihadapannya, Revan menundukkan kepalanya, lalu mengecup singkat kening istrinya itu.


"Aku pergi dulu ya, kalau ada sesuatu segera telfon aku," ucap Revan dan Rania hanya menganggukkan kepalanya.


Revan tersenyum, lalu meraih jasnya yang ada disofa dan segera berjalan mendekat kearah pintu keluar.


"Jangan lupa untuk minum susunya!" ucap Revan yang berada diambang pintu,sedikit berteriak pada istrinya itu.


"Iya, hati-hati dijalan!" balas Rania yang juga sedikit mengeraskan suaranya.


Revan menghentikan langkahnya saat melihat sebuah koper yang berada didepan pintu masuk rumahnya.


"Koper siapa ini?" tanya Revan pada dirinya sendiri, lalu menoleh kedalam rumah.


Karena penasaran, Revan kembali melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah dengan membawa koper itu.


Rania mengernyit saat melihat suaminya yang kembali masuk kedalam rumah dengan koper yang ia tarik masuk, mendekat kearahnya.


"Ini koper siapa?" tanya Revan yang kini berada disamping sofa yang diduduki oleh Rania.


"Eh," Rania tersentak lalu mengedikkan bahunya, tanda tidak tahu.


Revan, semakin mengernyitkan alisnya, lalu menoleh kearah tangga. Revan berjalan mendekat kearah tangga untuk naik ke lantai dua, ia ingin memeriksa sesuatu.


Revan berjalan mendekat kearah pintu kamar adiknya, instingnya mengatakan jika Revin tahu soal koper didepan pintu itu, Revan merasa familiar akan koper itu, tapi ia lupa milik siapa.


Revan menghentikan langkahnya saat tiba didepan pintu kamar Revin dan berniat untuk memengang knock pintu, tapi seketika ia menghentikan tangannya saat samar-samar mendengar suara aneh dari dalam kamar, meski tidak jelas.


Wajah Revan berubah datar, kini ia mengerti tentang sarapan pagi tambahan yang di maksud adiknya itu.


'Dasar adik sialan, harusnya kau mengambil koper istrimu terlebih dahulu, baru memulainya. Benar-benar tidak sabaran,' batin Revan lalu berbalik untuk kembali ke lantai dasar.


Rania menoleh saat mendengar suara langkah kaki seseorang yang menuruni anak tangga, ia menatap suaminya yang berjalan kearahnya dengan wajah datar tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Rania penasaran.


"Tidak apa-apa. Sepertinya kamu tidak akan sendiri lagi di rumah, jadi aku bisa sedikit tenang meninggalkanmu untuk ke perusahaan," ucap Revan lalu mencium kening Rania lagi.


"Aku pergi dulu," ucap Revan, lalu berlari kecil keluar dari rumah.


Rania hanya terdiam melihat suaminya itu, lalu menoleh pada koper disampingnya.


'Terus koper ini punya siapa?' ucap Rania dalam hati, bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Rania mengelengkan kepalanya, lalu kembali fokus pada tv dihadapannya memilih acuh dengan pemilik koper yang entah siapa.


* * *


Pukul 10 pagi.


Revan masih berkutak dengan berbagai dokumen dihadapannya, hingga terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangannya.


Tok! Tok! Tok!


"Selamat pagi tuan," sapa seorang pria berjas hitam rapi yang kini berdiri dihadapan meja kebesaran Revan, yang tidak lain adalah sekertarisnya sekaligus tangan kanan Revan.


Revan hanya berdehem menanggapi sapaan selamat pagi dari tangan kanannya itu, yang bernama Vin.


"Saya mendapat beberapa informasi yang anda minta tentang Tuan muda Dion," ucap Vin, membuat Revan menghentikan tangannya yang tengah menandatangani dokumen dihadapannya.


Sudah dua bulan berlalu sejak pernikahannya dan Rania, dan juga sudah ada satu Minggu sejak pertemuan terakhirnya dengan sang adik, Reana.


Dua hari yang lalu Revan meminta pada Vin untuk mendapat informasi rahasia milik Dion, dan akhirnya hari ini ia mendapatkannya.


Revan menatap Vin dengan tatapan serius, dengan menyangkat dagunya dengan tangan kanannya.


"Jelaskan, info apa yang kau dapatkan!" ucap Revan dengan raut wajah datarnya.


Sebenarnya Revan bisa saja mengabaikan hal kecil seperti ini, tapi saat ia menatap lama mata Reana, ia dapat menemukan rasa cinta yang tulus dan besar pada Dion dan pria itu tidak jauh berbeda dengan Reana. Yang menjadi penghalang antara Reana dan Dion, adalah Revin.


Ia tahu, jika saudara kembarnya itu keras kepala, dan bahkan akan melakukan apapun untuk melindungi Reana, sedang Revan akan melalukan apapun untuk membuat adiknya bahagia.

__ADS_1


Vin menghembuskan nafasnya sebelum mulai membaca beberapa informasi tentang Dion, ia sedikit ragu untuk mengatakan hal yabg tertulis dikertas informasi itu.


"Kenapa kau lama sekali! Kau tahu, aku tidak suka menunggu," ucap Revan datar dan Vin malah menghembuskan nafasnya membuat Revan mengernyit.


"Saya ... sedikit ragu untuk membacanya. Jadi ... mungkin akan baik jika anda sendiri yang membacanya tuan," ucap Vin dengan kepala menunduk.


Vin berjalan perlahan semakin dekat dengan meja kebesaran Revan, lalu meletakkan lembaran informasi Dion dihadapan bosnya itu.


Revan menghembuskan nafasnya, lalu kemudian membaca setiap kata yang tertulis dikertas itu. Awalnya raut wajah Revan biasa-biasa saja, dan semakin lama berubah menjadi terkejut setengah mati.


Revan mendogak dan menatap Vin yang hanya menundukkan kepalanya takut, takut jika mendapat amukan dari atasannya itu.


"Kau serius dengan hal ini?" tanya Revan mencoba memastikan hal yang ia baca, jujur ia terkejut melihat hal itu.


Vin mendogak dan menatap Revan yang juga menatapnya, lalu perlahan ia menganggukkan kepalanya membuat mulut Revan sedikit terbuka.


Revan memijit pangkal hidungnya, rasanya ia ingin memukul meja kebesarannya sekarang juga. Revan mencoba mengatur nafasnya yang tidak beraturan, mendadak ia ingin memukul kepala Dion dan Revin.


"Aku akan memberi pelajaran pada Revin, lalu pada Dion," lirih Revan yang masih didengar oleh Vin.


Ia kembali membaca lembaran informasi itu, dan lagi-lagi ia dibuat terkejut dengan apa yang ia baca.


BRAK!


Vin tersentak saat tiba-tiba Revan memukul meja dengan keras hingga menghasilkan bunyi yang mengema diruangan itu, untung saja ruangan Revan kedap suara, jika tidak maka mungkin sekertaris wanita yang duduk diluar akan terkejut.


"Apa-apaan ini?! Dia melakukannya saat berusia enam belas tahun! Yang benar saja!" ucap Revan marah, dengan tangan yang terkepal kuat.


"Buatkan aku kopi, Vin!" titah Revan, dan dengan cepat Vin berjalan keluar dari ruangan Revan, membuat kopi untuk atasannya itu.


"Bagaimana bisa dia melakukan hal itu! Pantas saja Revin marah," ucap Revan dengan mengusap wajahnya kasar.


Revan melirik kearah ponselnya tang tergeletak disampingnya, ia dengan cepat meraih benda pipih itu lalu menghubungi nomor seseorang.


"Datang ke cafe xxx pukul tiga sore nanti, ada yang ingin aku beritahu padamu," ucap Revan, lalu memutuskan panggilan sepihak.


'Jika memang kau mencintai Reana, maka aku akan membuat Revin merestui mu. Tapi jika kau hanya ingin mempermainkan adikku, maka aku akan memukulmu tanpa ampun,' ucap Revan dalam hati, yang ditujukan untuk Dion.

__ADS_1


__ADS_2