
Dion menyentuh pipinya yang terasa begitu panas karena tamparan keras Reana padanya.
"Jangan menyentuhku!" geram Reana, menatap penuh benci pada Dion yang hanya diam menatapnya.
Dion menghela nafas pelan, menatap mata Reana lalu menarik pelan pergelangan tangan gadis itu mengikuti langkah kakinya.
"Lepaskan! Lepaskan aku sialan!" teriak Reana, berusaha melepaskan diri dari Dion yang entah akan membawanya ke mana.
Dion tak peduli dengan pemberontakan yang dilakukan oleh Reana, pria itu terus saja menarik tangan Reana hingga mengikutinya ke taman yang ada di depan rumah sakit.
"Lepaskan Dion Sang!" sarkas Reana.
Dion melepaskan cekalan tangannya, menatap dingin wanita yang kini berdiri di hadapannya dengan tatapan kesal padanya.
Reana mencoba mengatur nafasnya yang tidak beraturan karena pria di hadapannya, rasa rindu dan benci kembali bercampur aduk di benaknya. Ia ingin memeluk tubuh Dion, orang yang begitu ia cintai. Tapi sisi lain dirinya menghentikan niatnya, mengingat hal apa yang dilakukan oleh Dion saat itu.
"Dengarkan dulu penjelasanku, semua ini tidak seperti yang kau lihat atau dengar. Percaya padaku, apa kamu fikir aku tenang membiarkan kesalahpahaman ini berlanjut hingga sekarang? Aku tersiksa Reana!" ucap Dion, menatap Reana yang memalingkan wajahnya ke arah lain.
Dion menunduk sambil mengacak rambutnya frustasi, hingga perkataan Reana membuat ia terdiam seketika.
"Kau pantas mendapatkannya," ucap dingin Reana dengan wajah datar menatap Dion.
Pria itu mendogak, menatap sayu pada Reana. Sungguh hal ini sangat menyiksanya, bahkan membuat tidurnya tidak tenang setiap malam.
"Ya, aku pantas mendapatkannya. Tapi ku mohon, dengarkan sekali saja penjelasanku." ucap Dion, memohon pada Reana.
Gadis itu tetap diam, berbalik untuk segera pergi meninggalkan Dion sebelum kakak keduanya mencarinya.
"Ku mohon untuk pergi dari tempat itu, di sana sangat berbahaya Reana." ucap Dion serius, menghentikan langkah kaki Reana.
"Kau lupa?! Aku ada di posisi sekarang karena dirimu sialan! Karena dirimu menorehkan luka di hatiku terlalu dalam, membuat aku mengambil keputusan itu! Jangan bersikap pedul padaku, jika dirimulah yang menyebabkan luka besar di hatiku!" ucap Reana dengan air mata yang berhasil lolos membasahi pipinya. Setelah sekian lama tidak air mata berhenti membasahi pipinya, kini bulir bening itu kembali jatuh dengan bebasnya.
Dion bungkam, Reana benar-benar sulit untuk percaya padanya. Jika sekali saja wanita itu mau mendengar penjelasannya, mungkin semuanya bisa selesai sejak dulu. Tapi sayangnya tidak semudah itu, karena Reana adalah wanita keras kepala.
Dari kejauhan, seorang pria yang tengah mengendong bayi mungil, menatap aneh hal yang terjadi di taman rumah sakit. Ia mengeryit penuh curiga melihat hal itu, terutama air mata yang menetes membasahi pipi adiknya. Tanpa sadar ia menggertakkan giginya, ingin memukul wajah pria itu, tapi ia urungkan mengingat jika masalah asmara adiknya tidak boleh ia campuri terlalu jauh.
"Kak," panggil Rania pada sang suami yang diam menatap ke arah taman sejak tadi.
__ADS_1
"Eh, iya." sahut Revan, seketika tersenyum sambil menghampiri Rania yang telah menunggunya di pintu lobi rumah sakit.
"Ada apa?" tanya Rania saat sang suami berdiri di sampingnya.
"Tidak ada apa-apa." jawab singkat Revan, lalu menarik pergelangan tangan istrinya memasuki lobi sambil mengendong tubuh mungil putranya.
Revan dan Rania berjalan keluar dari lift sambil menggendong Jayden mendekati pintu ruang rawat tempat Vivian berada. Setibanya di depan pintu, Rania segera membuka pintu dan tersenyum saat semua mata mengarah padanya.
"Selamat pagi," sapa Rania pada sang mertua dan beberapa orang lain di dalam ruangan itu.
"Pagi," sahut semua orang di dalam ruangan itu.
Revan dan Rania berjalan mendekat sofa, tempat Ana dan Arian duduk.
"Halo, Uncle." sapa Revan sambil mendudukkan diri di sofa, menyapa Rafael dan Carlson yang berdiri di samping brankar.
"Halo juga, Revan. Oh iya, kamu tidak berniat membuat dua adik untuk Jayden?" tanya Rafael, sambil menatap bayi laki-laki di gendongan Revin.
Arian menatap aneh sahabatnya, seolah ingin melemparkan sebuah cangkir ke kepala Rafael. Menantunya bahkan baru melahirkan satu Minggu yang lalu, dan sahabatnya itu sudah membahas hal yang tidak seharusnya dibahas.
Revan yang mendengar ucapan Rafael, hanya mampu tersenyum dengan perasaan dongkol. Coba saja yang berbicara seperti itu adalah Revin, mungkin dia sudah memberikan hadiah pada adiknya itu. Hadiah dalam maksud lain.
"Wah Revin, mau benar-benar kuat. Sekali buat jadi dua," ucap Rafael, yang entah mengapa bangga pada putra sahabatnya.
Kini bukan hanya Arian yang menatap aneh pada Rafael, tapi Carlson juga. Ia seakan ingin mengubur sahabatnya itu sekarang juga.
Arian dan Carlson saling bertukar pandang satu sama lain, lalu menganggukkan kepala mereka bersamaan. Tanpa aba-aba, tiba-tiba Carlson menarik kerah baju Rafael keluar dari ruangan itu, diikuti oleh Arian sambil mengusap kepalan tangannya.
Para istri yang melihat hal tersebut, hanya diam sambil mengerjapkan mata beberapa kali. Begitupun dengan dua pasang suami istri itu. Hingga tiba-tiba Revin menatap kakaknya, lalu menaik turunkan alisnya, membuat Revan mengumpat dalam hati.
'Adik sialan!'
"Oh iya, Reana mana, Mom?" tanya Revin, yang kini menyadari jika adik perempuannya tidak ada di ruang rawat itu.
"Tadi dia keluar," ucap Ana, menjawab pertanyaan putra keduanya sambil mengendong tubuh mungil cucu pertamanya. Sedang ibu Jayden, tengah berdiri di samping brankar Vivian, menatap bayi perempuan yang ada di pelukan adik iparnya.
Revin mengernyitkan alisnya mendengar hal tersebut, lalu mencari sosok pria yang selalu membuat ia kesal.
__ADS_1
'Sial!' batin Revin, mengertakan giginya. Jika saja putra kecilnya tidak ada digendongannya, mungkin dia akan keluar dan mencari adiknya.
"Oh iya, kalian sudah memberikan nama pada mereka?" tanya Revan, menyadarkan punggungnya pada sandaran sofa tempat duduknya.
Seketika emosi Revin sirna mendengar hal itu, menatap sang istri yang juga tersenyum padanya.
"Tentu saja, nama mereka itu Viano dan Viana." ucap Revin, sambil menaik turunkan alisnya pada Revan.
"Siapa yang lahir lebih dulu?" tanya Revan, membuat Revin terdiam lalu menatap wajah istrinya.
Revan tersenyum penuh kemenangan melihat ekspresi bingung di wajah adiknya, untunglah dia hanya membuat satu.
"Yang perempuan lahir lebih dulu, Tuan." sahut sang suster yang diam sejak tadi di samping brankar Vivian, berjaga untuk membawa kembali bayi itu ke tabung khusus saat tiba waktunya.
Revin kembali tersenyum penuh arti pada kakaknya, membuat Revan seakan ingin melempar bantal sofa pada adiknya.
Tiba-tiba pintu ruang rawat terbuka, menampilkan Arian, Carlson dan Rafael memasuki ruangan. Revan dan Revin mengernyit saat melihat Rafael memasuki ruangan sambil mengusap kepalanya.
'Eh, ada apa?' batin saudara kembar itu, menatap aneh pada Rafael.
***
Percakapan Revan dan Revin berserta author.
Revin:"Makasih, Thor. Untung brother kamu kasih satu dan aku dua."
"Sama-sama, tapi tolongin nanti kalau Abang kamu ngamuk ya."
Revin:"Siap Thor."
Revan:"Woy, Thor! Sini kamu, beraninya melakukan hal ini padaku!"
"Eh, Bambang tolongin! Abang kamu ngamuk."
Revin:"Aku ngga lihat."
"Revin Bambang ðŸ˜"
__ADS_1