LOVE SON OF THE RULER

LOVE SON OF THE RULER
PESAN TERAKHIR


__ADS_3

"Sore, sayang." ucap Revan, sembari melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya. Menaruh kepalanya di pundak kanan Rania.


Rania tersentak saat tiba-tiba Revan memeluknya dari belakang, mengagetkan dirinya yang tengah menghias kue ulang tahun untuk putranya.


"Kakak membuat aku terkejut tahu," ucap Rania, membuat Revan terkekeh dan semakin mengeratkan pelukannya, menatap tangan istrinya yang begitu telaten menghias kue ulang tahun Jayden yang akan dirayakan malam ini.


"Sini, biar aku bantu." ucap Revan, melepaskan pelukannya dari pinggang istrinya.


"Tidak usah. Sebentar lagi ini selesai, sebaiknya segera telfon Daddy dan Mommy." usul Rania melanjutkan kembali kegiatan menghias kuenya yang tertunda.


Revan mengangguk mengerti, merogoh saku celana kain berwarna hitam yang ia kenakan. Ia baru saja pulang dari perusahaannya, masih mengenakan jas hitam yang sejak pagi ia gunakan.


Revan menarik salah satu kursi di meja makan, mendudukkan diri sambil menatap Rania yang memunggunginya. Sudut bibir Revan sedikit naik hingga menciptakan senyuman manis, melonggarkan sedikit dasi yang ada di lehernya sambil memegang ponsel di telinganya.


Sementara itu, Arian tengah duduk di ruang keluarga. Sudah rapi dengan kaos putih dan celana pendek selutut berwarna hitam. Persis seperti remaja, meski sebenarnya umurnya sudah tidak semuda itu lagi, tapi penampilan Arian saat ini benar-benar mirip dengan kedua putranya saat tengah bersantai.


Arian mendudukkan diri pada sofa tunggal di ruang keluarga, meraih remote tv dan menyalakan tv besar tidak jauh darinya. Ia menolehkan kepala saat tiba-tiba ponselnya berdering di atas meja, menampilkan nama sang putra pertama di sana. Dengan cepat ia meraih benda pipih itu, mengangkat telfon dari Revan sambil memindahkan saluran tv.


"Halo, ada apa?" Tanya Arian, masih fokus pada layar tv hingga mengernyitkan alisnya saat sebuah berita kecelakaan sedang disiarkan di salah satu stasiun tv.


"Dad, apa Jayden ada di dekat Daddy?" Tanya Revan di seberang telfon, memastikan sebelum berbicara pada ayahnya. Acara ulang tahun yang akan digelar malam nanti, masih menjadi rahasia untuk Jayden kecil, karena itu Revan ingin memastikan keberadaan putranya. Apakah ada di dekat sang ayah atau tidak.


"Tidak ada, dia pergi bersama Mommymu jalan-jalan di luar. Seperti mereka ...." Arian mengantung ucapannya, menyipitkan mata saat mendengar suara sang penyiar berita di tv.


"Dad," panggil Revan di seberang telfon, saat Arian tak kunjung melanjutkan ucapannya.


Sedang Arian tetap diam, menyimak baik-baik berita itu hingga melihat jelas seorang perawat yang mengendong anak laki-laki memasuki ambulance dengan tergesa-gesa.


"ANA!" teriak Arian seketika, mengagetkan Revan di seberang telfon. Dengan cepat Arian keluar dari rumah, segera mendekati mobilnya untuk ke rumah sakit.

__ADS_1


Sedang Revan, memandang aneh layar ponselnya, di mana sang ayah baru saja memutuskan panggilan sepihak setelah berteriak memanggil nama ibunya. Mendadak perasaan Revan tidak enak, ia menelan kasar salivanya dan terkejut saat tiba-tiba mendengar suara yang cukup mengagetkannya.


Revan mendogak, segera bangkit mendekati Rania yang kini terlihat begitu terkejut dengan kue ulang tahun yang hancur di lantai.


"Astaga!" Pekik Rania, segera berjongkok untuk membersihkan kue ulang tahun yang berserakan di lantai itu, hancur hingga tak berbentuk lagi.


"Ada apa?" Tanya Revan, ikut berjongkok menatap wajah panik Rania.


"Tidak apa-apa. Tiba-tiba a-aku merasa tidak enak. Bagaimana keadaan Jayden? Dia masih ada di rumah Mommy dan Daddy, kan?" Tanya Rania, mendadak ia ingin segera bertemu dengan putranya.


"Iya dia ...." Revan menghentikan ucapannya saat tiba-tiba ponsel di tangannya bergetar hebat, ia segera mengangkat telfon dari adiknya itu, "Ada apa?" tanya Revan, to the point pada Revin.


"MOMMY DAN JAYDEN MASUK RUMAH SAKIT, REVAN!" teriak Revin di seberang telfon, terdengar jelas deru nafas adiknya yang menandakan jika Revin tengah berlari saat ini.


Revan mematung, tangannya gemetar memegang ponselnya. Sementara Rania yang melihat hal itu, menatap penuh tanya pada suaminya, lalu menguncang kedua pundak Revan.


Tanpa menjawab, Revan bangkit dari duduknya. Menarik pergelangan tangan istrinya lembut keluar dari rumah dengan terburu-buru.


"Kak, ada apa?" Tanya Rania, setengah berlari mengikuti Revan.


Tanpa menghentikan langkahnya, Revan menjawab "Mommy dan Jayden masuk rumah sakit!"


Kedua mata Rania terbelalak mendengar hal itu, dengan cepat ia masuk ke kursi samping kemudi, sedang Revan segera masuk ke kursi kemudi. Menyalakan mesin mobil dan melaju dengan kecepatan tinggi ke rumah sakit.


***


Sementara itu, di rumah sakit. Arian yang tiba lebih dulu, segera membantu perawat mendorong brankar istrinya ke ruang operasi, begitupun dengan Jayden.


Dengan panik Arian mendorong brankar Ana, menatap wajah istrinya yang berlumuran darah dengan luka di mana-mana.

__ADS_1


Nafas Ana terdengar tersengal-sengal, membuat Arian mengigit bibir bawahnya penuh ketakutan.


Arian menghentikan langkahnya tepat di depan ruang operasi, ia tersentak kala tiba-tiba Ana meraih tangannya, membuat para perawat menghentikan brankar tepat di depan ruang operasi.


Sementara Jayden sudah masuk ke ruang operasi sejak tadi, karena ambulance yang membawa Jayden tiba lebih dulu.


Arian mendekat pada Ana, lalu menunduk dan menempelkan keningnya pada kening istrinya. Tak peduli dengan darah yang menempel di keningnya.


"Bertahan sayang, kamu akan baik-baik saja." ucap Arian, mencoba menahan tangisnya dan kembali memberi isyarat pada para perawat untuk mendorong brankar masuk. Tapi Ana mengeleng pelan sambil mencekal pergelangan tangan Arian.


Di saat itu, tiba-tiba datang seorang Dokter, mendekat Arian dengan tergesa-gesa.


"Tuan," ucap sang Dokter dengan nafas yang tak beraturan. Arian menoleh menatap Dokter itu dengan raut wajah yang sulit diartikan.


Perlahan Arian ingin melepaskan tangan Ana yang mencekal pergelangan tangannya, membiarkan perawat mendorong brankar itu masuk agar operasi segera dilakukan.


"Ada apa?" Tanya Arian, sesekali menelan kasar salivanya.


"Tuan Muda Jayden membutuhkan donor jantung segera, apa Anda bisa mendapatkan donor jantung secepat mungkin. Jika tidak, maka nyawa Tuan Muda Jayden dalam bahaya." jelas sang dokter. Sesekali menelan kasar salivanya saat keluar dari ruang operasi, untuk segera memberitahukan Arian tentang hal itu, meninggalkan beberapa rekannya yang tengah menangani anak laki-laki itu.


Arian terdiam, setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Ia tersentak saat tiba-tiba seorang Dokter keluar dari ruang operasi tempat Ana berada, menghampiri dengan menahan Isak tangisnya.


"Istri Anda ... ingin menemui Anda, Tuan." ucap dokter itu, tanpa menunggu. Arian segera masuk dan menghampiri Ana yang masih mengenakan pakaiannya yang penuh darah.


Arian segera menghampiri brankar itu, berdiri di samping Ana dan meraih tangan istrinya.


"Tenang sayang, jangan panik. Kamu pasti akan baik-baik saja, aku akan di sini jika kamu takut untuk operasi sendirian." ucap Arian, tanpa henti mencium punggung tangan istrinya.


"Maafkan ... a-aku." lirih Ana dengan nafas tersengal.

__ADS_1


__ADS_2