
Arian mengelengkan kepalanya mendengar ucapan lirih dari bibir istrinya, air mata yang sejak tadi ia tahan kini berjatuhan di pipinya.
"Ku mohon, jangan katakan itu. Kamu akan baik-baik saja. Percaya padaku, aku akan segera keluar dan memanggil dokter agar operasinya segera di lanjutkan. Aku akan menemanimu di sini jika kamu takut," ucap Arian, semakin mengenggam erat tangan istrinya yang penuh darah itu.
Ana mengeleng pelan dengan tatapan sayu, dengan susah payah ia mengangkat satu tangannya yang bebas lalu menyentuh pipi Arian, membuat pria itu mendongak dan menatapnya dalam.
"A-aku benar-benar mi-minta maaf. A-aku hanya bisa menemanimu sampai di sini," ucap Ana lirih dengan suara terbata, tersenyum kecil di bibirnya.
Arian tetap mengelengkan kepalanya, air matanya semakin deras membasahi pipinya.
"Tolong, ku mohon jangan ucapkan itu. Kita akan tetap bersama hingga dua atau lima puluh tahun ke depan. Jadi ku mohon, jangan katakan apapun. Aku akan segera memanggil dokter," ucap Arian mencoba pergi meninggalkan Ana, tapi wanita itu tetap menggenggam erat tangannya. Mengisyaratkan pada Arian untuk tetap di sampingnya.
Arian diam, lututnya lemas seketika. Ia bersimpuh di samping brankar Ana. Menjatuhkan kepalanya di samping tubuh penuh luka istrinya itu.
"A-aku benar-benar minta maaf, a-aku sangat mencintaimu." lirih Ana yang masih di dengar oleh Arian.
Pria itu sedikit mendogak, mengulurkan satu tangannya yang bebas untuk menyentuh pipi istrinya. Mengusap lembut pipi yang dipenuhi darah segar itu.
"Aku juga sangat mencintaimu." balas Arian.
Ana tersenyum kecil di bibirnya, kembali mengerakkan tangannya menyentuh tangan Arian yang ada di pipinya.
"Te-terima kasih telah memberikan kebahagiaan tanpa henti padaku selama ini. A-aku sangat bahagia menjadi istri dari pria penyayang sepertimu, kak Arian." tangis Arian semakin pecah mendengar ucapan lirih Ana, ia mengigit bibir bawahnya agar suara tangisnya tak terdengar dengan bulir air mata yang semakin deras membasahi pipinya.
'Siapapun kau! Akan aku cari dan ku bunuh kau sialan!' batin Arian, bersumpah dalam hatinya akan menemukan dalang dari kejadian ini.
"Ja-jangan lakukan apapun, ku mohon. Ja-jangan biarkan tanganmu menyentuh darah lagi."
Arian terkejut mendengar hal itu, ia menatap lekat wajah istrinya yang kini menatapnya penuh permohonan.
"A-Ana ...."
"Jangan lakukan, ku mohon. A-aku tidak ingin tanganmu di penuhi darah karema balas dendam. Cukup dahulu saja, sekarang jangan ..." lirih Ana semakin membuat Arian mematung.
"Kamu ...." Arian menghentikan ucapannya saat Ana mengedipkan mata dalam padanya.
"A-aku sudah tahu jika kak Arian memiliki hubungan dengan Mafia." Nafas Arian tercekat, rahasia yang selama ini ia sembunyikan dari Ana, ternyata sudah diketahui oleh wanita itu.
"Maaf, maafkan aku. Semua ini salahku, maafkan aku." ucap Arian, penuh penyesalan, terus mencium punggung tangan istrinya tanpa henti. Seolah tengah meminta maaf atas perbuatannya.
Ana mengeleng pelan, mencoba menyentuh kedua pipi suaminya, membuat pria itu fokus menatap wajahnya.
"To-tolong jangan lakukan apapun. Anggap hal ini tidak pernah terjadi, anggap semua ini adalah kecelakaan biasa. Lupakan semuanya, berjanjilah padaku." Arian hanya menganggukkan kepalanya, mematuhi ucapan istrinya. Memendam dendam di dalam hatinya.
Ana tersenyum lembut, membuat tangis Arian semakin deras. Perlahan bibir mungil Ana terbuka untuk mengucapkan sesuatu, membuat Arian semakin fokus menatap wajah istrinya.
"Sekali lagi te-terima kasih. Berkat kakak, aku bisa merasakan menjadi ibu dan istri yang paling beruntung di dunia. Kasih sayang yang kak Arian berikan tidak akan aku lupakan. Maafkan aku karena hanya bisa mendampingimu sampai di sana, jaga anak-anak kita dengan baik. Dan katakan pada Reana ... agar menjadi istri yang baik. Katakan agar ia tidak keras kepala, dan juga ..." Ana mengantung ucapannya, menuntun tangan Arian ke dadanya, lebih tepatnya jantungnya.
Arian diam, menatap Ana penuh tanya dengan air mata yang tak henti jatuh ke pipinya.
"Berikan ... ja-jantungku pada Jayden. I-ini adalah ha-hadiah terakhirku untuk ulang tahunnya. Ka-katakan padanya, ka-kalau aku sangat menyayanginya." lirih Ana dengan suara terbata.
Arian mengelengkan kepalanya, menunduk dengan Isak tangis tertahan.
"Se-sekali la-lagi ma-ma-maafkan a-a-aku," ucap Ana terbata, masih menyentuh pipi suaminya yang menunduk dengan Isak tangis tertahan.
"A-Ana sa-sangat me-mencintai k-k-kak A-Arian."
__ADS_1
Arian terdiam saat tangan Ana yang menyentuh pipinya, jatuh ke atas brankar. Ia mendogak menatap mata Ana yang kini terpejam.
"AAAAA! ANA!" teriak Arian dengan tangis yang semakin pecah di dalam ruang operasi itu.
Air mata terus membasahi pipinya, mengenggam erat tangan dingin istrinya yang kini meninggalkan ia untuk selama-lamanya.
"Ana! Ana!" panggil Arian, berharap agar Ana menjawab panggilannya. Tapi hanya kesunyian yang ia dapatkan, tak ada jawaban.
Sedang di ambang pintu ruang operasi, Revan dan Revin berdiri kaku menatap hal yang kini ia lihat. Sang ibu yang terbaring dengan mata terpejam di atas brankar dan sang ayah yang menangis tanpa henti.
Tubuh kedua lelaki kembar itu membeku di tempat, perlahan air mata jatuh membasahi pipi mereka. Dari setetes yang perlahan-lahan menjadi deras. Menangis tanpa suara.
Rania hanya bungkam, berjalan melewati suami dan adik iparnya, mendekati brankar tempat sang ibu mertua yang selalu menyayanginya seperti anak kandung.
"Mommy," panggil lirih Rania membuat Arian yang menoleh menatapnya.
Rania berjalan mendekati brankar ibu mertuanya, seketika memeluk tubuh dingin Ana dengan tangis yang pecah.
Perlahan Arian bangkit dari duduknya, berjalan dengan gontai mendekati pintu ruang operasi. Di mana kini putranya menunduk dengan air mata yang jauh terus menerus di pipi.
Arian berjalan mendekati dokter yang sejak tadi berdiri di sana, dan kini menangis tanpa suara.
"To-tolong lakukan operasinya," ucap Arian sambil melewati sang dokter mendekati kursi tunggu di depan ruang operasi.
Dengan perlahan dokter itu mengangguk mengerti, memejamkan mata untuk menenangkan diri dan memberi isyarat pada perawat untuk menyiapkan semua yang dibutuhkan untuk operasi.
Sedang di ruang operasi lain, setetes air mata jatuh dari kedua mata Jayden yang tertutup rapat. Dengan nafas yang mulai naik turun, membuat beberapa dokter yang ada di dalam sana, mulai panik.
***
Dua jam kemudian.
Langkah kaki terdengar mendekat ke arah mereka dengan cepat, menghampiri mereka dan kini berdiri tepat di depan Arian.
Arian mendogakkan kepalanya, menatap wajah putrinya yang terlihat lelah berlari. Tanpa sadar Arian mengigit bibir bawahnya, menatap wajah Reana yang begitu mirip dengan Ana membuat ia kembali menangis tanpa suara.
"Daddy ... di mana mommy?" Tanya Reana dengan nafas yang tak beraturan karena berlari. Ia baru saja tiba di Negara A, setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam dari Negara B mengunakan jet pribadi milik keluarga Li.
Arian tak menjawab, ia hanya mampu menundukkan kepalanya dengan mengusap kasar wajahnya. Tidak mendapat respon dari sang ayah, membuat Reana beralih pada kakaknya.
"Kak Revan, di mana Mommy? Dan bagaimana keadaan Jayden?" Tanya Reana, degup jantungnya mulai tak beraturan.
Tiba-tiba pintu ruang operasi terbuka, beberapa dokter keluar dari ruang operasi, menghampiri Arian.
"Operasi berjalan lancar, Tuan Arian. Tuan Muda Jayden melewati masa kritisnya, ia akan segera di pindahkan ke ruang rawat. Dan kami minta maaf karena tidak bisa menyelamatkan ..." Dokter itu menjeda ucapannya, tak sanggup melanjutkannya.
Sementara Arian, Revan, Revin dan Rania kembali menangis mendengar hal itu. Senang dan sedih di saat yang bersamaan. Semua perasaan mulai bercampur aduk di benak mereka.
Dengan cepat Reana menghampiri dokter itu, "Bagaimana keadaan Mommy saya dokter? Operasi untuk dia juga berjalan lancar, kan?" Tanya Reana dengan tergesa-gesa.
Sang dokter hanya diam, tak dapat menjawab pertanyaan itu. Membuat Reana geram dan menarik keras baju berwarna hijau biru muda yang dikenakan oleh dokter tersebut.
"Katakan, bagaimana keadaan Mommymu!?" teriak Reana tepat di depan wajah dokter itu.
"MOMMYMU MENDONORKAN JANTUNGNYA UNTUK JAYDEN, REANA!" Teriak Arian, menatap penuh kesedihan pada putrinya yang kini mematung karena ucapannya.
Reana menghempaskan dengan kasar tubuh dokter itu, berlari cepat mendekati ruang operasi dan membukanya. Tubuhnya mematung saat melihat sebuah brankar di dalam ruangan Operasi itu, dengan kain yang menutupi seluruh tubuh sang pasien.
__ADS_1
Ia melangkah masuk perlahan, menghentikan langkahnya di samping brankar itu. Sedang Jayden sudah dipindahkan ke ruangan lain.
Tangan Reana terulur, menyibakkan kain itu dan kini terlihat jelas di depan matanya. Sosok yang merawatnya sejak kecil, memberikannya kasih sayang dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya. Sosok yang bahkan tak marah meski ia melakukan kesalahan. Kini sosok itu telah memejamkan mata, bahkan tak membuka mata saat Reana menyingkirkan kain yang menutupi wajahnya.
"MOMMY!" teriak Reana, seketika ia bersimpuh di samping brankar sang ibu, menangis sejadi-jadinya sambil menggenggam erat tangan ibunya yang dingin untuk menyentuh wajahnya.
"Mommy! Mommy jangan tinggalkan Reana! Mommy bilang mau melihat Reana menikah, kan? Bangun Mommy! Bangun. Jangan tinggalkan Reana!" ucap Reana dengan tangis yang pecah hingga perlahan-lahan kehilangan kesadarannya.
Satu jam kemudian.
Jayden telah siuman, kini ia tengah duduk di atas brankar sambil menatap satu persatu orang yang ada di dalam ruangan itu. Anak laki-laki itu mengeryit saat melihat wajah semua orang di dalam sana, sembab seperti habis menangis dalam waktu lama.
"Mommy, Nenek mana?" Tanya Jayden yang kini beralih menatap Rania. Sejak tadi ia ingin menanyakan hal itu, karena tak kunjung melihat sosok Neneknya.
"Nenek baik-baik saja, kan, Mom?" Tanya Jayden lagi.
Rania diam, tak mampu untuk menjawab pertanyaan polos dari putranya itu. Ia tersentak saat melihat sang ayah mertua yang kini berada di sisi lain brankar putranya.
"Iya, dia baik-baik saja. Selamat ulang tahun, Jayden." ucap Arian, mengusap puncuk kepala cucunya dengan menahan air mata yang kembali mengenang di pelupuk matanya.
Anak laki-laki itu diam, kini ia menatap serius pada kakeknya.
"Aku ingin bertemu dengan nenek!" titah Jayden, tak ingin dibantah.
Semua orang diam, Arian menghela nafas pelan sebelum mengendong Jayden dan membawa cucu kecilnya itu keluar dari ruang rawat dengan Rania yang berjalan membawa infus Jayden.
Kening anak laki-laki itu mengernyit kala ia tiba di depan ruangan khusus, Arian melangkah masuk diikuti oleh Rania dan berhenti tepat di samping sebuah brankar.
Jayden hanya diam menatap brankar di hadapannya itu, lalu menatap wajah sang kakek yang kini kembali dibasahi oleh air mata.
Dengan perlahan tangan Arian terulur membuka kain yang menutupi wajah Ana. Jayden terdiam dengan mata terbelalak melihat hal itu, ia menelan kasar salivanya lalu menatap bergantian Arian dan Rania lalu menatap tiga orang yang telah berdiri d ambang pintu. Ayahnya, Unclenya dan Auntynya.
"Nenek sudah pergi meninggalkan kita Jayden dia sudah ada bersama Tuhan di atas sana. Melihat kita dari kejauhan, tapi jangan khawatir. Karena Nenekmu sangat menyayangimu, dan dia akan selalu ada di sisimu." ucap Arian, tersenyum dengan air mata di pipinya, sambil menunjuk pelan dada Jayden.
Anak laki-laki itu diam, air mata lolos membasahi pipi chubbynya. Air matanya terus lolos tanpa henti di pipinya. Hari ulang tahunnya yang ke enam, hari yang seharusnya bahagia berubah menjadi duka. Salah satu orang yang ia sayangi pergi, meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Perlahan tangan Jayden terulur menyentuh dadanya, tempat di mana kini jantung Ana berdetak di dalam dirinya. Suara tangisnya pecah, ia memukul dadanya kuat, membuat semua orang panik dan berusaha menghentikan Jayden.
'Aku benci! Aku benci diriku sendiri!'
"Aku akan tetap melakukannya, meski harus melanggar permintaannya!" Jayden Li.
Cinta di pertemukan karena takdir dan akan berpisah karena takdir pula.
"Hari-hariku kelam, tidak ada yang bahagia. Senyumku hanya palsu pada keluargaku. Senyum tulus ku lenyap, dan tangis ku menghilangkan sejak ia pergi. Tidak ada hari ulang tahun bagiku, karena itu hanyalah hari yang buruk dalam hidupku!" Jayden Li.
~Tamat~
***
Wah, ngga terasa udah end aja๐คญ. Loha para pembaca, semoga terhibur dengan endingnya. Terima kasih karena telah membaca dar episode satu hingga sekarang, dan senang tiasa mendaratkan likenya๐คญ. So, sesuai janji ya. Tapi mungkin ngga sekarang. Aku akan lanjutin cerita Reana dan Dion, mengupas semua tentang dua sejoli itu.
Oh iya, setelah itu lanjut ke cerita Jayden ngga nih?๐คญ๐
__ADS_1
Karena mulai besok, aku cuti lagi dari Noveltoon/Mangatoon. Mau fokus menyelesaikan yang di sebelah dan menerbitkan buku baru juga, jadi sampai bertemu lagi entah kapan๐คญ๐๐คง๐ญ๐๐๐๐
Papay, sampai jumpa lagi ๐