LOVE SON OF THE RULER

LOVE SON OF THE RULER
PENUH TANYA


__ADS_3

Pukul 10:05 pagi.


Revin membuka pintu kamarnya dengan kepala yang basah, ia menoleh sekilas pada Vivian yang masih tertidur diatas tempat tidur.


Revin tersenyum kecil, lalu segera menutup pintu dan berjalan mendekat kearah tangga untuk turun ke lantai dasar.


Revin mengeryit saat tiba di dapur dan mendapati Rania yang tengah mengaduk secangkit teh.


"Kakak ipar?" ucap Revin membuat Rania tersentak dan menoleh pada Revin yang menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Eh, Revin?! Kamiu tidak pergi kerja?" tanya Rania lalu meletakkan cangkir tehnya diatas meja dan berjalan mendekat kearah lemari pendingin.


"Tidak, ingin menemani Vivian seharian ini," ucap Revin membuat Rania terdiam lalu menoleh pada adik iparnya itu.


"Vivian? Dia ada di rumah ini?" tanya Rania dengan raut wajah terkejutnya.


Revin menganggukkan kepalanya cepat, lalu berjalan ke depan kompor, memasak makanan untuk istrinya yang sebentar lagi akan terbangun dari tidurnya.


"Owh, pantas saja ada koper didepan pintu tadi pagi, ternyata kopernya Vivian toh," ucap Rania dengan senyum kecil dibibirnya.


Revin hanya tertawa kecil mendengar ucapan kakak iparnya itu, sedang Rania segera berjalan keluar dari dapur untuk ke ruang tamu, dengan buah apel, jeruk, anggur, dan stroberi dipiring yang ia bawa ditangan kanannya dan tangan kini yang memengang cangkir tehnya.


* * *


Vivian mengeliatkan diatas tempat tidur dengan meraba tempat tidur disampingnya, ia membuka matanya saat menyadari jika suaminya sudah tidak ada disampingnya.


Vivian menundukkan kepalanya dengan fikiran melayang ke mana-mana, sebenarnya Vivian pulang lebih cepat karena mendengar kabar tentang istri kakaknya yang tengah hamil muda. Ia merasa membuat Revin tertinggal karena belum juga mengandung, atau meraskana gejala-gejala aneh saat hamil.


Vivian turun dari tempat tidur, lalu berjalan kearah kamar mandi dengan terus menyentuh perut polosnya.


"Aku berharap agar segera ada bayi kecil disini," ucap Vivian dengan senyum diwajahnya, lalu masuk kedalam kamar mandi.


Lima belas menit kemudian.


Vivian keluar dari kamar mandi, dan seketika menyadari jika suaminya belum membawa kopernya ke kamar. Ia menghembuskan nafas kasar, lalu berjalan mendekat kearah lemari pakaian dan membukanya lebar-lebar.


Vivian mengambil kaos hitam dan celana panjang milik Revin, lalu berniat memakainya tapi tersadar jika pakaian dalamnya ada dikoper.

__ADS_1


Vivian berjalan mendekat kearah pintu kamar dan membukanya sedikit. Dan tiba-tiba berteriak memanggil nama suaminya itu.


"REVIN! Koper ku masih ada di bawah, tolong bawa keatas dong!" teriak Vivian dengan mengeluarkan kepalanya dipintu.


Revin tersenyum kecil melihat tingkah lucu istrinya.


"Tidak perlu berteriak, honey. Aku sudah ada disini," ucap Revin lalu menarik koper itu kehadapannya dan Vivian.


"Makasih, honey," ucap Vivian lalu menarik koper itu masuk kedalam kamar dan menguncinya.


"Pintu tidak perlu dikunci juga sayang," lirih Revin dengan mengelengkan kepalanya dan berbalik untuk turun ke lantai dasar.


Beberapa menit kemudian.


Revin dan Rania tengah duduk santai diruang tamu, dengan menonton film yang tengah tayang ditv. Vivian berlari kecil menuruni anak tangga, dengan memakai kaos kebesaran milik suaminya, dan juga celana panjang kebesaran milik suaminya.


"Selamat pagi, kakak," sapa Vivian yang kini duduk disamping Rania.


"Pagi menjelang siang juga, Vivian," ucap Rania dengan menaik turunkan alisnya, membuat wanita disampingnya tersenyum kikuk dengan mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Makan disini dong. Kalau didalam sendirian, ngga enak," ucap Vivian dengan tersenyum lebar pada suaminya.


Revin bangkit dari duduknya dan berjalan kearah dapur, sedang Vivian asyik menonton Tv dengan Rania.


"Vi," panggil Rania tiba-tiba, membuat wanita itu menatap kearahnya.


"Iya, kak?" tanya Vivian dengan menatap Rania.


"Semoga segera menyusul ya," ucap Rania dengan mengusap puncuk kepala Vivian.


Vivian tersenyum lalu memeluk Rania dari samping.


"Makasih, kak. Semoga yang didalam sini sehat selalu," ucap Vivian dengan tangan mengelus perut rata Rania.


"Makasih. Katanya nanti mommy mau datang berkunjung, dengan Daddy juga. Ah, Reana juga," ucap Rania tanpa menoleh pada Vivian yang raut wajahnya perlahan-lahan berubah.


'Bagaimana keadaan Reana ya? Apa hubungannya dengan Dion berjalan lancar?' ucap Vivian dalam hati, bertanya-tanya lalu menoleh pada Revin yang meletakkan piring dengan nasi lengkap dengan lauk pauknya dihadapan Vivian.

__ADS_1


"Makasih, sayang," ucap Vivian, lalu mengambil alih piring itu dan menyuapi nasi ke mulutnya.


"Sama-sama," ucap Revin dan mendudukkan diri disofa tempatnya tadi, lalu kembali fokus pada tv.


Vivian menatap Revin dengan tatapan sulit diartikan, ia bertanya pada dirinya sendiri. Kenapa suaminya tidak ingin merestui Reana dengan Dion, apa ada masalah yang tidak diketahui olehnya? Sungguh membuat Vivian bingung, hingga tidak menyadari jika Rania bangkit dari duduknya dan berpindah ke sofa lain.


"Eh, kakak kenapa?" tanya Vivian yang heran saat melihat Rania yang sudah duduk disofa yang sedikit jauh darinya.


Rania mengelengkan kepalanya, lalu mengambil buah apel untuk ia makan.


"Aku rasa dia tidak terlalu suka dengan aroma makanan yang kamu makan, honey. Bukankah itu hal wajar, saat wanita tengah hamil," ucap Revin lembut dengan tersenyum pada Vivian.


Vivian menganggukan kepalanya, lalu kembali melahap makannya tanpa berniat untuk berbicara. Ia berharap agar segera ada tanda-tanda kalau dia tengah hamil.


* * *


Pukul 3 sore.


Revan tengah duduk santai disalah satu cafe yang biasa ia tempati untuk bersantai. Ia menoleh saat mendengar suara kursi yang ditarik dan duduklah seorang pria yang berusia dua puluh tahun dihapadannya.


"Ada apa?" tanya pria itu, yang tidak lain adalah Dion. "Kenapa sampai memesan satu cafe seperti ini?" tanya Dion dengan menatap aneh pada pria dihadapannya. Ia menatap sekeliling yang sepi tanpa pengunjung, membuat dirinya menyimpulkan jika Revan sudah memesan tempat itu sore ini.


"Hanya ingin berbicara denganmu tanpa ada suara berisik," ucap santai Revan, lalu meletakkan map diatas meja.


Dion mengernyit melihat hal itu, lalu menatap Revan yang seolah memberinya isyarat untuk membuka map itu.


Dion membaca lembar dengan lembar kertas yang ada di map itu, hingga tanpa sengaja ia membaca sesuatu yang mengingatkannya akan hal yang ingin ia lupakan.


Dion kembali membaca ulang kertas itu dan terkejut saat menyadari jika kertas itu berisi data-data tentang dirinya.


"Apa-apaan ini?" tanya Dion dengan menatap Revan yang hanya berwajah datar.


"Kau benar-benar melakukan hal itu dengan seorang wanita?" tanya Revan santai, meski sebenarnya tangannya sudah gatal ingin memukul Dion.


Dion terdiam sejenak, lalu menundukkan kepalanya dengan menghela nafas panjang.


"Iya," ucap Dion dan seketika sebuah pukulan mendarat dipipinya.

__ADS_1


__ADS_2