
Terdengar nafas Daenji yang mulai tidak beraturan, membuat semua orang diruangan itu mulai mendekat padanya.
"Aku ... ada beberapa ... pesan untuk Revan, Revin, Reon dan Carlos. Serta Dion juga," ucap Daenji dengan nafas yang mulai melemah.
Hening, mereka mulai memasang telinga baik-baik. Siap mendengar ucapan Daenji, terutama untuk empat pria itu.
"Nanti ... saat cicit kecilku lahir ... didiklah mereka dengan baik ... jangan terlalu keras dan jangan terlalu ... lembut juga," Daenji menjeda ucapannya, berusaha mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum melanjutkan ucapannya.
"Agar suatu saat nanti ... mereka ada di jalan yang benar ... tidak seperti Arian ... Rafael ... Carlson," ucap Daenji menatap satu persatu pria itu. Meski tidak memiliki hubungan darah dengan Rafael maupun Carlson, tapi Daenji sudah menganggap mereka sebagai cucunya.
"Kakek takut ... saat mereka lahir ... dengan sifat seperti kalian ..." Lagi-lagi Daenji menjeda ucapannya, menatap Revan dilayar laptopnya yang terlihat menunduk sambil terisak. Dan Revin yang sudah gemetar menahan tangisnya.
Reon dan Carlos memalingkan wajah mereka kearah lain, air mata mereka sudah jatuh membasahi pipi mereka.
"Kakek sudah tidak ada ... untuk mendidik mereka lagi, terlebih ... jika mereka laki-laki," lanjut Daenji, dan tangis diruangan itupun pecah.
Daenji beralih menatap Vivian, lalu tersenyum lemah dan mencoba mengangkat satu tangannya memberi isyarat pada Vivian untuk mendekat padanya.
Vivian duduk bersimpuh disamping tempat tidur, Daenji menaruh pelan tangannya diatas kepala Vivian. Mengusap dengan sayang rambut gadis itu.
"Kamu masih terlalu muda ... tapi kakek berharap agar ... kamu segera mengikuti jejak kakak iparmu. Aku tidak ingin ... Houyang juga tidak melihat ... cicit kecilnya seperti aku," ucap Daenji dengan tawa renyah lirih dari bibirnya.
Vivian menganggukkan kepalanya mendengar hal itu, perlahan-lahan Daenji beralih kearah Houyang.
"Hanya itu ... yang ingin aku sampaikan pada kalian. Aku mulai mengantuk," lirih Daenji dengan deru nafas yang mulai terasa berat. "Aku ... tidur dulu ya. Houyang ... Aku ... tidur ... dulu," ucap Daenji, mulai memejamkan matanya perlahan dan hembusan nafas terakhirnya.
Tangis mulai terdengar keras dikamar itu, Reana terisak dengan masih menggenggam tangan Daenji. Sedang tubuh Revin bersimpuh seketika dengan masih memegang laptop.
***
Dokter wanita membuka pintu ruangan rawat dan terkejut saat suara tangis begitu keras mengema didalam kamar itu, beberapa pasien yang berjalan diluar ruangan rawat Rania menoleh dengan aneh kearah pintu yang sedikit terbuka, karena sang dokter yang berdiri mematung diambang pintu.
Tangis Revan pecah seketika, ia tidak peduli kalau tangisnya akan menganggu orang lain. Rania menangis disamping Revan, berusaha mengusap punggung Revan dengan tangannya yang gemetar karena menangis.
***
__ADS_1
Sore menjelang, di kediaman Daenji lebih tepatnya diruang tamu. Semua orang hanya duduk termenung, pemakaman sudah selesai sejak jam dua siang tadi, dan orang-orang yang datang untuk melayat pun sudah pulang.
Kini rumah itu terasa sepi, Arian masih memakai pakaian yang ia gunakan saat pemakaman tadi. Begitupun dengan semua seluruh keluarganya.
"Papa dan mama akan tinggal disini untuk sementara waktu, mengurus semuanya bersama Anson dan Kimso," ucap Ryung memecah keheningan itu.
Anson yang merupakan cucu angkat Daenji hanya diam termenung, ia tidak mampu berbicara sepatah kata pun dari bibirnya. Kakek yang mengadopsinya, merawatnya dan membesarkannya. Kini telah pergi, ia melirik sekilas kearah Arian yang masih terdiam dengan wajah sembab.
"Kami akan pulang satu Minggu lagi," sahur Reon, mewakili dirinya dan sang istrinya. Dan juga Carlos yang duduk disampingnya.
"Revin," panggil Ryung pada cucunya itu.
"Aku akan kembali ke Negara A. Kakak ipar tidak bisa menenangkan brother sendirian," sahutnya, ia tahu kakaknya akan bersedih lebih lama jika ia tidak pulang.
"Baiklah," sahur Ryung, lalu mengusap pundak Naina yang duduk disampingnya.
Arian menghembuskan nafas pelan, memejamkan matanya sejenak lalu melirik kearah Houyang yang termenung.
Hal yang paling membekas dihati seseorang adalah rasa kehilangan.
Selalu ada disisi mereka selagi kita bisa menyayangi mereka, karena maut tidak ada yang bisa menebaknya.
***
Sebulan berlalu sejak kematian Daenji, aktifitas mulai kembali normal. Sesekali Revan dan Revin merenung dan berkunjung ke Negara S.
Ryung dan Naina memilih menetap disana, mengurus semua aset keluarga Su. Memindahkannya atas nama Anson, meski Anson selalu menolaknya. Karena ia merasa tidak bisa menerima hal itu, tapi bukan Ryung namanya jika tidak bisa membuat Anson menurut.
Hanya sebagian properti yang dipilih oleh Anson, sebagiannya lagi jatuh pada cucu-cucunya.
Sementara Arian dan Ana tinggal bersama dengan Houyang, menemani Houyang yang sudah terlalu lama tinggal sendiri dikediaman utama keluarga Li. Dan juga untuk menikmati waktu bersama dengan kakeknya itu.
***
Pagi yang cerah. Namun suasana tidak sesuai dengan pagi ini, Revin masih setia tinggal serumah dengan kakaknya. Sedang Revan sejak kejadian itu mulai mengerjakan semua pekerjaannya dari rumah, hanya sekali dalam seminggu ia pergi ke perusahaannya. Melimpahkan sisanya pada adik kesayangannya.
__ADS_1
Revan memasak sarapan pagi hari ini, lantaran melarang sang istri untuk berdekatan dengan hal yang disebut dapur. Sifat posesifnya semakin menjadi sejak kejadian itu, dan berakhir seperti sekarang.
"Anakmu akan posesif tingkah tinggi nanti brother," ucap Revin yang berjalan mendekat kearah lemari pendingin, untuk mengambil air minum.
"Peduli amat." Ucap Revan santai, mendapat tatapan aneh dari adiknya itu.
"Sebaiknya kamu pergi ke rumah sakit," ucap Revan yang kini mematikan kompor lantaran masakannya telah matang.
Revin mengernyit mendengar hal itu, lalu menatap kearah kakaknya.
"Untuk?"
"Memeriksa kesehatanmu, agar durasi mainmu lebih panjang," ucap Revan santai lalu memberikan spatula pada Revin.
"Selamat menatap sarapan pagi," ucap Revan, lalu berjalan mendekat kearah pintu dapur sembari melepaskan celemeknya.
Revin mendengus kesal mendengar hal itu, lalu segera meletakkan gelas air putihnya dan berniat untuk memindahkan omelet buatan kakaknya ke piring, serta beberapa makanan lainnya.
"Revin," panggil Vivian yang baru saja memasuki dapur, berjalan lemah kearah Revin.
"Iya, sayang. Ada apa?" Ucap Revin, berbalik dengan omelet pada piring ditangannya.
Vivian terdiam melihat omelet dipiring ditangan Revin, meneguk salivanya dengan susah payah.
"Tadi ada yang menelfon di ponsel kamu, tapi aku ngga angkat karena udah keluar dari kamar," ucap Vivian, masih dengan menatap lekat omelet yang kini Revin letakkan dimeja makan.
"Ya udah, aku keatas dulu ya," ucap Revin, lalu bergegas ke kamarnya untuk mengambil ponselnya.
Tidak lama kemudian.
Revin menuruni anak tangga, berjalan santai kearah dapur dan terdiam melihat Revan dan Rania yang berdiri diambang pintu dapur.
"Kenapa cuka berdiri disini?" Tanya Revin, mendapat tatapan malas dari kakaknya. Sedang Rania menundukan kepalanya menahan senyum dibibirnya melihat raut wajah masam suaminya itu.
Revin tidak peduli akan hal itu. Namun saat matanya tertuju pada meja makan, ia terdiam membisu dan mengatupkan bibirnya agar tak mengeluarkan kata-kata mutiara yang menyakitkan.
__ADS_1