
Revin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi ke rumah sakit terdekat, sesekali menoleh pada sang istri yang terlihat begitu kesakitan di sampingnya.
"Sabar sayang, sebentar lagi kita sampai." ucap Revin, semakin menambah kecepatan mobilnya.
"Sa-sakit, kak! Sa-sa-sakit!" lirih Vivian, mencekram kuat punggung kursi mobil tempat duduknya.
"Iya, sayang. Tahan sedikit lagi, kita akan sampai." ucap Revin, mencoba untuk tetap tenang meski khawatir melihat cairan putih yang masih mengalir di kaki sang istri.
Sepuluh menit kemudian.
Setibanya di depan rumah sakit, Revin segera keluar dari mobil, mengitari mobil dan membuka pintu mobil untuk Vivian. Ia segera mengendong tubuh mungil berbadan tiga itu ala bridel style memasuki lobi rumah sakit.
"Dokter! Dokter!" teriak Revin, yang mulai panik.
Dua perawat pria segera mendorong brankar mendekati Revin, dengan cepat pria itu menurunkan istrinya perlahan di atas brankar dan segera membantu sang perawat mendorong brankar itu ke ruang UGD.
Semua orang yang berada di lobi rumah sakit, menyingkir saat melihat perawat mendorong brankar dengan terburu-buru, mendekati ruang UGD.
Revin melepaskan tangannya yang memegang brankar, menatap penuh cemas pada pintu ruang UGD yang tertutup.
Revin hanya diam saat melihat seorang Dokter wanita berjalan masuk ke ruang UGD dengan terburu-buru, Revin hanya mampu mengusap kasar wajahnya dengan sesekali menelan kasar salivanya.
Beberapa menit berlalu, tapi Revin masih setia mondar-mandir di depan ruang rawat, menanti sang Dokter keluar dari sana. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan ponsel di saku celananya, yang tiba-tiba bergetar menandakan panggilan masuk.
"Ha-halo brother?" ucap Revin dengan suara bergetar.
"Kau di mana?"
"Di rumah sakit, brother." jawab Revin, mulai mendudukkan diri di kursi tunggu dengan tangan gemetar memegang ponsel di telinganya.
"Rumah sakit?! Kau sudah menemukan Vivian?"
"I-I-iya, sekarang dia ada di ruang UGD. Brother, bagaimana ini?" ucap Revin, rasa panik mulai menguasai dirinya.
"Tetap tenang Revin, aku akan menelfon Daddy dan Mommy. Kau tenang dan katakan di mana rumah sakit tempat kalian berada."
Revin mulai mengatakan lokasinya dengan suara bergetar karena cemas, sesekali bangkit dari duduknya dan mondar-mandir tanpa henti di depan ruang UGD.
__ADS_1
"Baiklah, tunggu di sana."
Panggilan terputus bersamaan dengan terbukanya pintu ruang UGD dengan sang Dokter wanita yang mendekat menghampiri Revin.
"Dok!" ucap Revin, seketika menghampiri sang dokter.
"Kita harus segera melakukan operasi, Tuan. Nyawa ibu dan bayi Anda berada dalam bahaya, tindakan operasi harus segera dilakukan untuk menyelamatkan mereka, atau salah satu dari mereka." jelas sang Dokter dengan raut wajah seriusnya.
Revin mematung mendengar hal itu, ia menelan kasar salivanya dan menundukkan kepala lemah. Mengigit bibir bawahnya untuk menguatkan diri.
"Selamat istri saya, Dokter." ucap Revin, menatap Dokter wanita itu dengan mata berkaca-kaca, "Tapi jika bisa ... selamatkan juga bayi kecil kami." lanjutnya, memohon sambil mengatupkan tangannya di hadapan sang Dokter.
"Kami akan berusaha, Tuan. Segera urus administrasinya, kami akan segera melakukan operasi," jelas sang Dokter dengan cepat diangguki oleh Revin.
Di tempat lain, di waktu yang bersamaan.
Seorang wanita keluar dari sebuah taksi tepat saat tiba di depan rumahnya, ia berjalan memasuki Mansion milik orang tuanya dengan mencoba tersenyum manis di bibirnya.
"Daddy! Mommy!" teriaknya, terkejut saat melihat kedua orang tuanya berjalan dengan terburu-buru mendekati pintu utama.
"Dad, Mom, ada apa?" tanya Reana, seketika menjatuhkan tas yang ia bawa.
Reana yang mendengar hal itu, terdiam sejenak dan segera mengikuti langkah kedua orang tuanya, membuka pintu belakang mobil dan masuk.
Dua puluh menit kemudian.
Arian, Ana dan Reana memasuki lobi rumah sakit dengan terburu-buru, menghentikan langkah tepat di depan meja resepsionis untuk bertanya.
Setelah mendapat informasi yang mereka inginkan, dengan cepat melangkahkan kaki mereka mendekati lift untuk tiba di ruang u
operasi.
Ting!
Pintu lift terbuka, tiga orang itu segera melangkahkan kakinya keluar dari lift, berjalan mendekati Revin yang terlihat duduk di kursi tunggu depan ruang operasi.
"Revin!" teriak Ana, membuat putra keduanya menoleh menatapnya.
__ADS_1
"Mom!" Ucap Revin, memeluk pinggang sang ibu yang kini berdiri di hadapannya.
"Tenang sayang, semuanya akan baik-baik saja." ucap Ana, menenangkan putranya yang kini memeluknya dengan erat.
"Mom, aku tidak ingin kehilangan mereka." lirih Revin, semakin menenggelamkan wajahnya di perut sang ibu yang ia peluk dengan erat, meluapkan semua rasa khawatir dan cemas yang melanda hatinya.
"Tenang sayang, semuanya pasti akan baik-baik saja. Tenangkan dirimu, jangan cemas." ucap Ana, mengusap rambut tebal putranya.
Arian hanya diam melihat hal itu, sesekali melirik ke arah pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat dengan lampu berwarna merah di atasnya, sedang Reana diam lalu berjalan dan mendudukkan diri di samping kakaknya.
"Tenang kak, Vivi pasti akan baik-baik saja. Begitupun dengan baby kalian," ucap Reana, mengusap punggung kakaknya yang gemetar dengan senyum di wajahnya.
"I-I-iya," jawab Revin, melepaskan pelukannya pada perut sang ibu, dengan mata yang sedikit berair karena menangis.
Dua jam kemudian.
Empat orang itu masih setia menunggu di depan ruang operasi, hingga tiba-tiba pintu ruang operasi terbuka, menampilkan seorang Dokter wanita yang keluar dengan baju khas berwarna biru muda.
Seketika Revin bangkit dari duduknya, menghampiri sang Dokter dengan berjuta pertanyaan.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok? Operasinya lancar, kan? Keadaannya sekarang baik-baik saja, kan? Dan bagaimana dengan ... bayi kami?" tanyanya dengan nada sedikit ragu diakhir kalimatnya.
Dokter itu tersenyum lembut setelah melepas masker yang menutupi setengah wajahnya, menepuk pelan bahu pria muda di hadapan.
"Operasi berjalan lancar, Tuan. Dan selamat, dua baby Anda sehat. Anda bisa melihat keadaan Istri Anda saat sudah berada di ruang rawat, kalau putra dan putri kecil kalian ada di ruang khusus. Karena mereka lahir sebelum waktunya, jadi harus menjalani beberapa perawatan khusus." jelas sang dokter dengan senyum di bibirnya.
Revin bernafas lega mendengar hal itu, mengusap air mata di sudut matanya dan mengucapkan terima kasih tanpa henti pada dokter wanita di hadapannya.
"Terima kasih Dokter, terima kasih," ucap Aron membungkuk di hadapan sang Dokter.
"Sama-sama, Tuan. Semua ini karena doa Anda dan kehendak yang atas, kalau begitu saya permisi dulu." ucap sang dokter, mendapat anggukan kepala dari Revin.
Arian dan Ana saling menatap satu sama lain dengan air mata bahagia yang jatuh membasahi pipi mereka, begitupun dengan Reana hingga dering ponselnya membuat ia tersentak.
Ia meraih benda pipih itu, raut wajahnya berubah saat melihat siapa yang mengirimkan pesan padanya.
"Kau sekarang ada di Negara A?"
__ADS_1
Reana hanya membaca pesan singkat itu dengan perasaan kesal dan rindu yang menyatu di waktu bersamaan.
'Aku membencimu!' batin Reana lalu kembali tersenyum saat sang kakak menoleh padanya.