
Pukul 7 malam.
Mobil sedan hitam berhenti tepat di depan rumah, Revin keluar dari mobil sambil sesekali menghela nafas kasar lelah mengurus masalah perusahaan yang tiba-tiba sulit untuk ia atasi.
Ia berjalan masuk ke dalam rumah, dengan Revan yang mengekor di belakangnya.
"Sayang aku pulang!" Teriak Revin saat tiba di ruang tamu, sedikit terkejut hanya mendapati sang kakak ipar di sana.
"Kakak ipar, Vivian mana?" tanya Revin, menatap ke segala arah untuk mencari keberadaan istrinya.
"Eh, aku fikir dia menghampirimu di perusahaan?" Rania berbicara dengan nada terkejutnya sambil mengendong putra semata wayangnya, yang kini tengah minum susu dengan lahap pada dot yang ia pegang.
"Apa?!" pekik Revin, kedua matanya terbelalak mendengar hal itu.
"Tapi seharian ini Vivian sama sekali tidak datang ke perusahaan, Honey." sahut Revan, berjalan melewati Revin dan mendudukkan diri di samping istrinya.
Rania yang mendengar hal itu terkejut, menatap suaminya yang juga tengah menatapnya.
"Tapi dia tidak pulang sejak siang tadi," ucap Rania, kini mulai panik.
"Dia mengatakan ingin ke mana?" tanya Revin, mencoba menstabilkan degup jantungnya yang mulai berdetak tak beraturan karena panik.
"Ke minimarket yang berada tidak jauh dari rumah," jawab Rania cepat. Seketika Revin berbalik dan berlari keluar dari rumah dengan cepat.
Revan hanya diam melihat hal itu, ia ingin membantu tapi tidak akan baik jika meninggalkan Rania sendiri di rumah. Ia mengambil perlahan ponselnya, mengirim pesan pada beberapa bawahan yang ia tugaskan berjaga di sekitar rumah.
Tidak lama setelah ia mengirim pesan pada bawahannya, beberapa detik kemudian pesan balasan masuk ke ponselnya.
"Maaf, Tuan. Tadi saya mengangkat telfon hingga pergi sedikit menjauh dari tempat persembunyiannya, jadi tidak melihat Nyonya Vivian keluar dari rumah."
Revan semakin terdiam melihat pesan itu, matanya menyipit sempurna lalu menoleh pada istrinya.
'Sepertinya ini akan sedikit sulit,' batin Revan, menghela nafas kasar.
Sementara itu, Revin terus berlari menjauh dari rumah sang kakak, mendekati sebuah minimarket yang berada tidak jauh dari rumah.
Ia segera membuka pintu minimarket dengan cepat, membuat beberapa orang yang ada di dalam sana terkejut, menatap Revin dengan tatapan sulit diartikan.
__ADS_1
"Permisi, apa siang tadi ada wanita hamil yang datang ke sini?" tanya Revin pada sang kasir wanita itu, mengabaikan tatapan aneh seorang ibu-ibu di sampingnya.
"Siang tidak ada, Tuan. Tapi kalau tadi sore ada," jawab sang kasir, seketika Revin merogoh saku celananya, membuka kata sandi pada ponselnya dan memperlihatkan foto Vivian.
"Wanita ini, kan?" tanya Revin, sambil memperlihatkan foto Vivian di depan wajah sang kasir.
Wanita itu mengangukkan kepalanya, lalu berbicara, "Iya, Tuan. Tapi dia sudah pulang sejak sore tadi. Saat selesai membayar belanjaannya, dia segera keluar untuk pulang. Tapi setelah dia keluar, tiba-tiba saya melihat mobil hitam melewati minimarket ini."
Revin mematung mendengar penjelasan sang kasir, tangannya mencekram kuat benda pipih di tangannya, menelan kasar salivanya dengan rahang yang mengeras.
"Terima kasih," ucapnya singkat, segera berbalik untuk keluar dari minimarket tersebut.
"Segera menyebar dan cari istriku sampai kalian menemukannya!" teriak Revin saat sang bawahan mengangkat telfonnya di seberang telfon.
Ia kembali berlari ke ara rumah dengan perasaan yang tak karuan, mulai putus asa akan keadaan istrinya yang entah berada di mana.
Saat Revin berniat masuk ke dalam rumah untuk menemui kakaknya, tiba-tiba ponselnya berdering menandakan pesan masuk. Ia menghentikan langkahnya di ambang pintu, membuka sandi ponselnya dan melihat pesan masuk dari nomor tak dikenal itu.
Mata Revin terbelalak saat melihat sebuah foto yang dikirim oleh nomor tak dikenal tersebut, terlihat jelas pada foto itu di mana istrinya berdiri dengan tangan yang diikat di sisi kanan dan kiri sebuah tiang.
Tanpa berfikir dua kali, Revin berbalik mendekati mobil. Segera masuk dengan terburu-buru dan menyalakan mesin mobil, melajukan kendaraan roda empat itu keluar dari pekarangan rumah, menuju tempat yang ia yakini tempat keberadaan istrinya sekarang.
Sepuluh menit kemudian.
Revin mengerem mobilnya secara mendadak disebuah dermaga, segera membuka pintu dan keluar sambil berlari ke arah kanan, tempat di mana posisi istrinya berada.
Revin terus berlari hingga dari kejauhan melihat Vivian yang berdiri dengan kedua tangan terikat, tak lupa raut wajah lemah wanita hamil itu.
"VIVIAN!" teriak Revin dan memekik saat sebuah timah panas berhasil mengenai lengan kanannya, menembus jas dan kemeja hitam yang ia kenakan.
"ARGH!" Revin menghentikan langkahnya, bersimpuh di tanah sambil meringis dan menyentuh lengannya yang terus mengeluarkan darah segar.
Revin menatap tajam pada satu persatu pria yang berjalan keluar dari tempat gelap dengan topeng yang melekat di wajah mereka, Revin hanya diam saat tujuh orang itu mulai mengarahkan pistol padanya, bersiap untuk menarik pelatuk pistol di tangan mereka.
"Vivian," panggil Revin lirih pada sang istri yang terlihat begitu lemah di sana.
"Beraninya kalian!" geram Revin dan terkejut saat tiba-tiba sesuatu yang tak terduga terjadi.
__ADS_1
DOR!
ARGH!
Salah satu pria itu memekik saat peluru mengenai lengan kirinya, membuat semua rekan-rekannya serentak menatapnya. Sedang Revin yang melihat hal itu, hanya diam menatap hal yang terjadi di hadapannya.
DOR!
"ARGH!"
Sebuah peluru kembali mengenai salah satu pria itu, dan kini tepat mengenai kepala pria tersebut, membuat enam orang yang tersisa menatap sekeliling dengan waspada.
Revin seketika menoleh dan mendogak, menatap ke arah bangunan tinggi yang berada tidak jauh dari dermaga itu, menyipitkan mata untuk melihat jelas seseorang yang tengah membidik sebuah senapan ke arah para pria di hadapannya.
'Apakah dia membantuku?' batin Revin, bangkit dari duduknya untuk menghampiri istrinya.
Enam orang yang melihat hal tersebut, kembali berniat mengarahkan pistol ke arah Revin, tapi sebuah peluru kembali mengenai salah satu rekan mereka tepat di kepala.
DOR!
DOR!
DOR!
Satu persatu pria itu tumbang dengan peluru yang tepat menembus tengkorak kepala mereka, hingga kini hanya menyisakan satu orang.
"Sialan!" umpat pria itu, lalu berniat menembak ke arah Revin.
DOR!
Pistol di tangan pria itu terjatuh dari tangannya saat sebuah peluru mengenai tepat jantungnya.
Revin mengabaikan hal itu, ia lebih fokus membuka ikatan tali pada lengan istrinya tanpa peduli pada luka di lengannya.
"Maafkan aku, maafkan aku." ucap Revin sambil membuka ikatan pada lengan istrinya. Ia terdiam saat melihat cairan putih mengalir dari kaki istrinya.
***
__ADS_1
Seorang wanita berpakaian serba hitam dengan topeng yang menutupi setengah wajahnya, bangkit dari posisi tengkurapnya. Berdiri sambil memegang sebuah senapan angin yang ia gunakan beberapa detik yang lalu.
"Hanya ini yang bisa aku lakukan," ucapnya, kembali memasukkan senapan itu pada tempatnya dan segera turun dari bangunan tersebut sebelum ada yang melihatnya.