
Revan dan Revin terdiam saat sesuap nasi berserta lauknya masuk ke dalam mulut mereka. Dua pria itu menguyah perlahan makanan itu, dengan raut wajah menahan rasa pahit, meski sudah diolah sedemikian rupa, tapi rasa pahitnya masih ada.
Revan dan Revin menatap Arian yang juga menatap kearah mereka.
'Daddy!' batin Revan dan Revin, berteriak memanggil Arian.
Revan dan Revin melirik kearah Carlos yang terlihat begitu lahap memakan makan malamnya.
'Carlos sialan! Beraninya kau menipu kami!' batin Revan dan Revin, yang sudah kesal dan siap memberikan pelajaran pada Carlos.
"Felisia, Carlos kenapa? Aku fikir dia tidak suka memakan makanan itu, terlebih Carlson juga tidak menyukai sayuran itu," ucap Arian, pada Felisia yang tengah mengunyah makanannya.
"Itu paman, kata dokter itu wajar. Karena saat ini aku juga tengah mengandung, tapi yang ngidam malah Carlos bukan aku," ucap Felisia dengan tersenyum kecil dibibirnya.
Revan dan Revin terdiam mendengar hal itu, dan kini menatap tidak percaya pada Carlos.
"Apa?" tanya Carlos dengan mulut yang menguyah, saat melihat kedua sahabatnya menatap kearahnya.
Revan dan Revin mengelengkan kepala mereka, membuat Carlos terdiam dengan kening yang mengerut.
Makan malam itu berlangsung dengan keadaan hening, Arian berserta kedua putranya memakan makan malam dengan sesekali meminum air putih. Sungguh menyiksa.
Dua puluh menit kemudian.
Semua orang tengah duduk diruang tamu rumah Revan, sedang sang tuan rumah tengah membersihkan piring-piring kotor bekas makan mereka tadi dengan wajah datar.
"Cuci yang bersih, Revin!" ucap Revan pada Revin yang tengah mencuci piring.
"Iya, brother," sahut Revin malas, dan mulai menggosok piring itu mengunakan spoon.
Di ruang tamu, Carlos dan Felisia bangkit dari duduk mereka berpamitan untuk pulang ke rumah.
"Kalau begitu, aku dan Felisia pamit pulang dulu, paman, bibi." ucap Carlos dengan tersenyum pada Arian.
"Iya, hati-hati dijalan," ucap Ana, dan diangguki oleh sepasang suami istri itu.
"Jaga dirimu ya," ucap Carlos pada Vivian, lalu segera berjalan ke pintu keluar.
__ADS_1
"Vivi, Rania, Daddy dan mommy pamit pulang juga ya," ucap Ana, dan kedua menantunya pun mengangguk mengerti.
"Hati-hati dijalan, Daddy, mommy," ucap Vivian dan Rania bersamaan.
Vivian bangkit dari duduknya, membuat Rania mengernyit heran. Vivian segera mendekat pada Reana, dan menarik pelan lengan gadis itu.
"Ada apa, Vi?" tanya Reana, yang kini berdiri diambang pintu, sedang Arian dan Ana sudah berada didekat mobil.
"Aku cuma mau bilang sesuatu, jangan pendam semua masalah sendiri ya. Cerita padaku, agar separuh bebanmu terlepas, aku janji tidak akan menceritakannya pada Revin atau pada siapapun," ucap Vivian, setengah berbisik pada Reana.
Reana terdiam, lalu tersenyum pada Vivian dan mengangguk.
"Terima kasih," ucap Reana, lalu kembali melangkahkan kakinya kearah mobil ayahnya.
Vivian terdiam melihat hal itu, ia merasa jika Reana terlalu memendam masalahnya sendiri, hingga membuatnya kurang tidur. Dapat Vivian lihat jelas dari lingkaran hitam yang ada dibawah mata Reana, yang ditutupi oleh bedak hingga tidak terlalu terlihat.
Revan kini duduk disamping Rania, karena pekerjaannya didapur telah selesai. Ia menatap Revin, yang berdiri dengan menatap kearah luar lebih tepatnya kearah Vivian yang berbicara dengan Reana tadi.
"Kau tidak duduk, Revin?" tanya Revan, membuat Revin tersentak lalu segera duduk disofa tunggal diruang tamu itu.
"Revin!" panggil Revan, memecah keheningan sesaat itu.
Revin menatap kearah Revan, lalu mengernyitkan alisnya.
"Apa yang akan kau pilih. Kebahagian Reana atau keras kepalamu?" tanya Revan tiba-tiba, membuat tiga orang itu menatap bingung kearahnya.
"Apa maksudnya Brother?" tanya Revin dengan raut wajah yang kini berubah datar.
"Hanya bertanya saja," jawab Revan dengan raut wajah santainya.
Revin menghembuskan nafasnya, lalu menjawab pertanyaan kakaknya itu.
"Tentu saja kebahagiaan Reana, tapi ...," Revin mengantung ucapannya, lalu menatap serius pada kakaknya. "Aku akan memilih keras kepalaku jika kebahagian Reana dipertaruhkan," lanjutnya, yang tahu jika kakaknya tengah menanyakan hal itu, hal yang tidak ia setujui.
"Waktunya masuk kamar sayang," ucap Revan pada Rania, lalu kembali menatap kearah Revin.
"Cobalah untuk memaafkan kesalahannya. Jika karena keras kepalamu Reana harus menjadi korbannya, maka jangan salahkan aku melayangkan tanganku ke wajahmu," ucap Revan datar, lalu mulai berjalan beriringan dengan Rania ke tangga.
__ADS_1
"Apa kau membiarkan seorang wanita lain menyentuh milikmu, brother?" tanya Revin, kini atmosfer diruang tamu itu berubah menjadi tegang.
Revan menghentikan langkahnya saat hampir naik ke tangga, lalu menoleh pada Revin.
"Tidak, hanya Rania saja yang pernah menyentuhnya," ucap santai Revan, membuat wajah istrinya merona merah. "Tapi kebahagiaan Reana adala prioritas nomor satu, jika dia tidak keberatan dengan hal itu. Maka untuk apa kau keberatan!" lanjutnya, lalu kembali melangkah naik ke tangga bersama Rania.
Revin menundukkan kepalanya, dengan tangan yang terkepal kuat. Vivian yang melihat hal itu segera menghampiri suaminya, dan mengusap punggung Revin perlahan.
"Tidak ingin ke kamar? Kita lakukan lagi yang tadi pagi, bagaimana?" bujuk Vivian, membuat Revin mendogak dan menatapnya.
"Yakin ingin melakukannya lagi?" tanya Revin, kini suasana hatinya sudah kembali normal.
"Kau fikir aku bercanda," ucap Vivian dengan melipat kedua tangannya didada.
"Jangan menyesal," ucap Revin, lalu mengendong tubuh mungil Vivian ala bridel style menaiki anak tangga untuk ke kamar mereka.
* * *
Pukul 00:00 malam.
Di suatu tempat, digudang tua didalam hutan. Dua puluh orang lebih tengah berdiri dan saling menatap satu sama lain, lalu fokus pada seorang pria yang tengah duduk dengan kedua tangan terlipat didepan dada.
"Sudah mendapat informasi?" tanya pria itu dingin, pada salah satu bawahannya.
"Sudah tuan," ucap sang bawahan, dengan kepala menunduk. "Sesuai dengan apa yang beredar, kalau kedua pewaris keluarga Li telah menikah. Dan informasi baru yang aku dapat tadi sangat menguntungkan bagi kita," ucap sang bawahan dengan tersenyum penuh arti.
"Apa informasi yang kau dapatkan tadi?" tanya pria itu, masih dengan raut wajah dinginnya.
"Istri dari pewaris utama keluarga Li, tengah mengandung, tuan. Jika kita bisa mendapatkan wanita itu, dan menjadikannya sandera besar kemungkinan akan membuat rencana Anda berhasil sepenuhnya," ucap snag bawahan, membuat senyum licik terbit di bibir pria itu.
"Apa yang kau katakan ada benarnya. Tapi ... ada rumor yang beredar, jika mereka memiliki kelompok kuat yang melindungi mereka," ucap pria itu, membuat semua bawahannya yang berada ruangan itu terdiam.
"Tapi tidak ada salahnya jika mencoba," ucap pria itu, dan kembali tersenyum licik.
"Persiapkan semuanya, besok kita akan menjalankan rencana penculikan pada wanita itu," ucap pria itu, dan dengan cepat semua bawahannya mengangguk patuh.
'Kita lihat, bagaimana caramu melindungi wanita milikmu itu,' batin pria itu, dengan senyum licik yang tak lepas dari bibirnya.
__ADS_1