
Reana menelan kasar salivanya mendapati tatapan tajam sang kakak padanya, tatapan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya dari diri kakaknya.
"Reana, katakan kenapa tanganmu bisa seperti ini?" Tanya Revan, menekan setiap ucapannya sambil menatap dingin pada adiknya.
"Bu-bukan apa-apa, kak." ucap Reana, mencoba menarik tangannya dari cekalan sang kakak.
Revan menggertakkan giginya, ia tak percaya dengan ucapan adiknya itu. Menatap horor pada adiknya memukul mesin di belakangnya, membuat Reana tersentak dan memejamkan mata karena terkejut.
"Kau berbohong pada kakak, Reana! Katakan sejujurnya!" Ucap Revan, lagi-lagi menekan setiap ucapannya.
"A-aku tidak berbohong atau menyembunyikan sesuatu, kak. Su-sungguh," cicit Reana, ia kini takut melihat ekspresi wajah kakaknya.
Tangan Revan gemetar, terkepal kuat mendengar ucapan adik perempuannya itu. Ia sangat yakin, luka di punggung tangan Reana. Luka kecil dan goresan itu bukan tanpa sebab, dan Revan sangat tahu hal itu.
"Katakan ... KATAKAN YANG SEBENARNYA REANA!" bentak Revan membuat gadis itu memejamkan mata sambil menundukkan kepala. Seumur hidupnya, ini kali pertama Revan membentaknya.
"A-aku ti-tidak bisa kak," lirih Reana mulai mengigit bibir bawahnya untuk menahan tangisnya.
"Brother!" Revan menoleh saat mendengar suara familiar memanggilnya, ia hanya menatap datar pada Revin yang kini menatap tajam padanya. Bergegas pergi dari tempat itu, meninggalkan Reana yang masih menunduk sambil menahan tangisnya.
Revin menghela nafas kasar melihat hal itu, ia berjalan mendekati adiknya lalu membawa gadis itu ke pelukannya. Tadi ia hanya ingin keluar untuk membeli sesuatu yang diinginkan oleh istrinya, tapi di tengah perjalanan ia malah melihat sesuatu yang membuat keningnya mengerut.
"Sudah, tenanglah. Jangan menangis," ucap Revin, mengusap lembut rambut adiknya dan terdiam saat melihat goresan dan luka kecil di punggung tangan adiknya.
Revin hanya bisa menghela nafas pelan, mencoba untuk mengabaikan hal itu. Mengingat jika adiknya tengah menangis sekarang ini.
Sedang Revan berjalan kembali mendekati pintu ruang rawat Vivian, mati-matian menahan amarahnya yang tiba-tiba meledak melihat luka dsn goresan kecil di punggung tangan adiknya. Berbagai kemungkinan yang sempat ia usir dari benaknya, kembali datang tanpa henti hingga membuat ia menggertakkan giginya.
'Sialan! Kenapa? Kenapa dia juga harus masuk ke dalam dunia gelap itu?!' batin Revan, mengepalkan kedua tangannya.
Sesampainya di depan pintu ruang rawat Vivian, Revan menghentikan langkahnya dan mencoba untuk menstabilkan emosinya yang meledak mengingat hal yang adiknya lakukan di belakangnya.
Semua mata tertuju pada pintu yang tiba-tiba terbuka, menatap Revan yang kini terlihat menahan kekesalannya.
Revan mendudukkan diri sambil mencoba mengatur deru nafasnya yang tidak beraturan, membuat Arian yang sudah duduk kembali di samping Ana mengeryitkan alisnya melihat ekspresi putra pertamanya itu.
"Ada apa, Revan?" tanya Ana, menatap curiga pada putranya.
"Uncle Carlson dan Aunty Fania ke mana?" tanya Revan, mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Sudah pergi beberapa menit yang lalu ke bandara, katanya harus buru-buru untuk kembali ke Negara C." jelas Ana, meski tahu jika putranya sengaja mengalihkan pertanyaannya.
'Sebenarnya ada apa dengannya?' batin Ana, bertanya pada dirinya sendiri.
Setelah mengangukkan kepala mengerti, Revan kini menunduk menatap lantai sambil menautkan kedua tangannya yang bertumpu pada kakinya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Rania, merasa khawatir dengan suaminya.
"Ah, iya. Baik-baik saja, bagaimana jika kita pulang sekarang?" Tanya Revan, menoleh pada istrinya.
Arian dan Ana menatap Revan dengan penuh kecurigaan, putra pertamanya itu bahkan belum berada di sana selama dua jam dan kini ingin segera kembali? Apa terjadi sesuatu? Sepasang suami istri itu mulai khawatir dengan hal yang terjadi, hingga membuat putra pertama mereka bertingkah aneh seperti sekarang.
Rania mengernyitkan alisnya, lalu mengangguk mengerti membuat Revan tersenyum manis padanya.
"Mom, Dad, Vivian ... kami pamit duluan. Besok kami akan datang berkunjung lagi ke sini." ucap Revan, pada tiga orang itu lalu mengambil alih Jayden di gendongan istrinya.
"Ayo!" ajak Revan, melangkah lebih dulu keluar dari ruangan itu, diikuti oleh Rania yang membungkukkan setengah badannya ke arah sang mertua lalu mengikuti langkah kaki suaminya yang bertingkah aneh hari ini.
Saat Revan dan Rania keluar dari ruangan rawat Vivian, mereka berpapasan dengan Revin dan Reana yang berniat masuk ke ruang rawat.
"Kak," panggil Reana yang diabaikan oleh Revan.
Gadis itu menyentuh dadanya yang terasa sesak, tidak sanggup menerima jika sang kakak pertama mengabaikannya.
"Dia hanya marah sebentar, tidak lama lagi juga akan mereda." ucap Revin, mencoba menenangkan adiknya itu.
Reana mengangukkan kepalanya mengerti, melangkah beriringan dengan Revin memasuki pintu ruang rawat di hadapan mereka.
***
Di tengah perjalanan pulang, Rania tak henti-hentinya menatap sang suami yang hanya diam dengan tatapan fokus ke jalan.
"Ada apa? Jika ada masalah, cerita padaku. Jangan memendam semuanya sendiri." ucap Rania, menatap Revan sambil mengendong tubuh putra kecilnya.
Revan menghela nafas pelan, menatap Rania sekilas dan kembali fokus pada jalan.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya merasa lelah akhir-akhir ini, terlalu banyak hal mengejutkan yang membuat aku pusing." ucap Revan, tak ingin menceritakan yang sebenarnya pada istrinya itu.
Rania mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti, lalu tersenyum simpul pada suami. Mengulurkan satu tangannya dan mengusap punggung suaminya.
__ADS_1
"Pelan-pelan saja, semuanya pasti akan segera selesai." ucap Rania, mencoba untuk menyemangati Revan.
Revan mengangukkan kepalanya menoleh pada Rania dengan senyum di wajahnya.
"Iya sayang," ucap Revan yang dibalas senyuman oleh Rania.
Lima belas menit kemudian.
Revan menghentikan mobilnya tepat di depan rumahnya, segera keluar dari kursi kemudi, mengitari mobil dan membukakan pintu untuk Istrinya.
"Ayo, sayang. Atau perlu aku mengendongmu, my queen?" tanya Revan sambil menaikkan sebelah alisnya, tak lupa senyum kecil khas di bibirnya.
Rania terkekeh pelan melihat hal itu, mengeleng sambil melangkah keluar dari mobil. Ia mulai merasa jika mood suaminya mulai membaik.
"Kamu masuk lebih dulu, aku ingin menelfon seseorang." ucap Revan, lalu berjalan sedikit menjauh sambil menghubungi nomor seseorang di ponselnya.
Rania mengangguk mengerti, melangkah mendekati pintu sambil sesekali melirik Revan yang terlihat begitu serius berbicara dengan seseorang di seberang telfon.
"Cari siapapun itu! Aku ingin kalian menemukan Informasi bagaimanapun caranya!" ucap Revan penuh penekanan pada seseorang di seberang telfon.
***
Pukul 11 malam.
Bruk!
"Argh!" Tubuh seorang pria dihempaskan dengan cukup kasar ke lantai gudang yang dingin, pria itu mencoba mendudukkan diri sambil menyeka darah di sudut bibirnya.
"Katakan! Kau sedekat apa dengan Nona? Apa kamu yang membuat ia melakukan hal itu?" tanya seorang pria, berdiri dengan tatapan tajam pada pria yang duduk di lantai.
"Aku tidak melakukan apapun, Anda tahu dan Anda juga yang meminta saya untuk menjaganya bukan?" pria itu balik bertanya, menatap berani orang yang lebih tua darinya itu.
"Aku sudah mengirim pesan pada Nona, mungkin sebentar lagi akan datang."
***
Reana mendudukkan diri pada sofa di dalam ruangan kakak iparnya, menatap kosong pada sang kakak kedua yang terlelap pada sofa di hadapannya.
Ia tersentak saat tiba-tiba terdengar suara dering ponselnya, menandakan pesan masuk. Dengan cepat ia meraih benda pipih itu, dan terdiam melihat pesan yang tertera di sana beserta foto.
__ADS_1
Seketika Reana bangkit dari duduknya, berlari keluar dari ruang rawat itu dengan terburu-buru hingga membuat Revin yang tertidur, terbangun dari tidurnya.
"Reana, mau ke mana dia?" tanya Revin pada dirinya sendiri sambil mengusap matanya.