
Dion diam mendengar ucapan Revan yang masih berdiri di hadapannya dengan tatapan dingin, tak lupa kedua tangan yang terkepal dengan kuat.
"Kau tahu hal apa yang paling ingin aku lakukan padamu sekarang?" ucap Revan, menjeda ucapannya lalu berjongkok di hadapan Dion, "Aku ingin membunuhmu!"
Dion tetap diam mendengar hal itu, ia tahu jika ia salah. Revan yang melihat Dion diam tanpa bersuara, bangkit dari duduknya dan berjalan melewati Dion kembali ke ruangan adik iparnya.
"Kau mengecewakan kepercayaanku, Dion!" ucap Revan, sebelum benar-benar menghilang dari tempat itu.
***
Revan berjalan memasuki ruang rawat, mencoba tersenyum sambil melangkahkan kakinya mendekati sofa.
Pria itu mendudukkan diri di samping istrinya, dan tiba-tiba menyenderkan kepalanya di bahu Rania.
Rania menatap suaminya yang kini memejamkan mata sambil menidurkan kepala di pundaknya, sedang Ana dan Arian yang melihat hal itu saling menatap satu sama lain, lalu kembali fokus pada Jayden yang mengerjapkan matanya dengan polos.
"Oh iya, di mana Dion?" Tanya Ana, membuat mata Revan yang terpejam kembali terbuka.
Revan mencoba menampilkan senyum pada ibunya, meski sebenarnya ia ingin memaki Dion.
"Mungkin sudah pergi bersama dengan Aunty Sarah dan Uncle Rafael," jawab Revan lalu merenguh pinggang istrinya, memeluk Rania dari samping sambil membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya itu.
Rania hanya diam dengan wajah memerah, menyadari arah pandang kedua mertuanya. Sedang suaminya yang tidak tahu malu itu, sudah semakin mengeratkan pelukannya tanpa peduli dengan tatapan yang mengarah padanya.
"Astaga, Revan. Kasihan istrimu itu, wajahnya sudah memerah seperti tomat," tegur Fania yang masih setia berdiri di samping brankar Vivian.
Rania hanya tersenyum canggung dengan pipi yang merona bak kepiting rebus, sedang Revan sedikit mendogakkan kepalanya lalu mencium pipi istrinya tiba-tiba.
"I love you, Honey." ucap Revan manja, kembali membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya.
Rania semakin mematung, menatap bergantian orang-orang yang duduk di hadapannya. Arian yang melihat hal tersebut, hanya bisa tercengang lalu beralih menatap istrinya yang fokus mengendong Jayden.
"Eh!" Ana tersentak saat tiba-tiba suaminya mengambil Jayden di gendongannya.
"Gendong keponakanmu dulu, sayang." ucap Arian, memberikan Jayden pada Reana.
__ADS_1
Reana mengerjapkan matanya beberapa kali, menatap bayi kecil di gendongannya lalu menatap ayahnya yang kini memeluk ibunya dari samping.
"Daddy!" rengek Reana, tak percaya dengan apa yang ia lihat. Sang ayah memberikan Jayden padanya agar bisa bermesraan dengan ibunya.
"Sebentar sayang," ucap Arian, tak peduli dengan rengekan putrinya dan tetap memeluk erat pinggang istrinya dari samping sambil membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya. Persis seperti yang dilakukan oleh Revan.
Carlson mengelengkan kepala melihat hal itu, lalu beralih menatap istrinya yang sama sekali tak menoleh padanya. Ana hanya bisa terkikik geli melihat tingkah laku suaminya yang seperti anak kecil.
"Jangan salahkan aku, salahkan Putramu yang memamerkan kemesraan di hadapanku," ucap Arian masih membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya.
Revan yang mendengar hal itu, seketika menoleh menatap ayahnya yang sedang bermanja sepertinya.
"Aku anaknya Mommy? Bukan anaknya Daddy?" tanya Revan, merasa sedikit aneh saat sang ayah mengatakan 'Putramu' pada ibunya.
Arian menoleh pada Revan tanpa melepas pelukannya, menatap datar wajah anaknya yang sebelas dua belas dengannya.
"Ya tidak juga! Kamu fikir tanpa bantuan Daddy kamu bisa ada di perut Mommymu selama sembilan bulan?" Arian balik bertanya.
Revan mengernyitkan alisnya, berniat untuk kembali bermanja pada istrinya. Tapi sebuah suara yang memekakkan telinga terdengar di tempat itu, membuat empat pria di dalam ruangan itu saling menatap satu sama lain.
Dengan cepat Rania melepaskan pelukan suaminya, beralih mengambil putra kecilnya digendongan Reana.
"Cup cup cup, sayang. Jangan nangis, mommy ada di sini." ucap Rania, mencoba menenangkan putra kecilnya yang semakin menangis keras.
"Sepertinya dia ingin minum susu, Rania." sahut Ana, melepaskan pelukan Arian dari perutnya dan menghampiri menantu berserta cucunya.
"Em," Rania terlihat gugup, menatap para pria yang ada di dalam ruangan itu. Ana yang menyadari hal tersebut, menatap suami dan putra pertamanya.
"Kalian bisa keluar sebentar?!" Tanya Ana, lebih tepatnya perintah pada para pria itu.
"Ayo, Arian." ucap Carlson, menarik paksa tangan sahabatnya keluar dari ruangan itu.
'Aduh cucuku sayang, kakek belum selesai bermanja dengan nenekmu.' batin Arian, seolah Jayden mendengar ucapannya.
"Kalian berdua juga!" ucap Ana pada kedua putranya.
__ADS_1
"Aku tidak akan mengintip," sahut Revin yang kini menidurkan kepalanya di pangkuannya istrinya.
"Aku sudah melihatnya sekali," ucap Revan yang enggan untuk keluar dari ruangan itu.
Ana menghela nafas pasrah, sedang Rania segera mendudukkan diri kembali di samping suaminya lalu mulai membuka dua kancing atasan yang ia kenakan.
Tangis Jayden mula mereda, mulai meminum asi dengan lahap dengan bibir yang bergerak begitu cepat. Sepertinya bayi kecil itu sangat lapar.
Di tengah keasyikan bayi kecil itu meminum ASI, tiba-tiba tangan kanan Revan bergerak menyentuh dada Rania, hingga put**g yang dihisap oleh Jayden terlepas dari bibirnya. Membuat bibir bayi kecil itu bergerak seolah tengah menghisap put**g sang ibu.
Revan tersenyum melihat bibir putranya, masih setia menjauhkan payud**a istrinya.
'Ya Tuhan,' batin Reana, menepuk keningnya melihat tingkah sang kakak.
Tiba-tiba bayi kecil itu kembali menangis membuat Revan terkejut, dan semakin terkejut kala tangannya dipukul pelan oleh Istrinya yang kini menatap tajam padanya.
"Hehe," cegiran halus terbit di bibir Revan sambil mengusap punggung tangannya.
Revan hanya diam saat melihat adik perempuannya berjalan mendekatinya, tersentak saat kerah bajunya ditarik hingga membuat ia berdiri dari duduknya.
"Reana," ucap Revan, mencoba meraih tangan adiknya yang memegang kerah bajunya.
Reana tak peduli dengan ucapan sang kakak yang memanggil namanya, ia terus saja menarik kerah baju kakaknya hingga keluar dari ruangan itu, membuat Arian dan Carlson yang duduk di kursi tunggu, terkejut menatap ke arah mereka.
"Wah, putrimu galak juga, Ran." ucap Carlson, menatap Reana yang masih menarik kerah baju Revan semakin menjauh dari ruang rawat Vivian.
Arian hanya diam melihat hal itu, lebih fokus menatap kartu di tangannya. Saat ini ia dan Carlson tengah bermain kartu sembari menunggu Jayden selesai minum susu dari tempatnya.
Revan terus berjalan mundur, mengikuti langkah kaki adiknya yang menarik kerah bajunya semakin menjauh dari ruang rawat Vivian.
Revan bernafas lega saat sang adik melepaskan kerah bajunya, ia berbalik menatap Reana yang kini berdiri sambil menatap mesin penjual minuman otomatis.
Revan terdiam saat melihat sesuatu yang janggal di tangan adiknya, dengan cepat ia meraih tangan Reana membuat gadis itu tersentak.
"Reana!" ucap Revan, menatap horor pada adiknya.
__ADS_1