LOVE SON OF THE RULER

LOVE SON OF THE RULER
KABAR DARI NEGARA S


__ADS_3

Revan memeluk erat tubuh istrinya, semua orang didalam ruangan itu terdiam saat menyadari jika Rania telah siuman. Ada sedikit rasa tenang di hati mereka, sedang Revin merasa sedikit canggung menatap kakak iparnya itu. Ia takut jika Rania mendengar ucapannya tadi.


"A ... a-a-aku baik-baik saja." Lirih Rania dengan lemah, dan tersenyum kecil pada Revin saat Revan melepaskan pelukannya.


Revin membalas itu dengan senyum, senyum canggung untuk pertama kali dibibirnya pada Rania. Arian, Ana dan Vivian mendekat kearah brangkar Rania, tersenyum bahagia melihat Rania.


Arian memencet tombol disamping brangkar Rania, untuk memanggil dokter memeriksa keadaan menantunya itu.


Tidak lama kemudian, dokter datang dengan satu perawat yang mengekor dibelakangnya. Semua orang sedikit melangkah mundur dari brangkar, kecuali Revan.


Dokter wanita itu memeriksa keadaan Rania, seutas senyum terbit dibibirnya. Semakin membuat keluarga itu bernafas lega.


"Keadaan Nyonya Rania sudah mulai membaik, untuk sementara Anda jangan terlalu banyak bergerak Nyonya. Agar sesuatu yang tidak diinginkan, tidak terjadi," nasehat sang dokter, lalu berpamitan keluar dari ruangan rawat itu, membiarkan perawat menyelesaikan sisanya.


Sang perawat keluar dari ruangan saat selesai melakukan tugasnya, Revan mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya, menempelkan kening mereka berdua.


"Jangan keluar dari rumah lagi, aku tidak ingin hal buruk terjadi lagi. Jadi ku mohon, dengarkan aku. Aku akan menemanimu selama masa kehamilan kamu di rumah, dan mengerjakan pekerjaan kantor dirumah juga," ucap Revan, masih dengan menempelkan kening mereka. "Jangan membantah!" Tegas Revan, saat melihat bibir istrinya sedikit terbuka untuk berbicara, dan pastinya menolak hal yang ia ucapkan tadi.


"Tapi ..."


"Tidak ada tapi-tapian." Kekeh Revan, menatap lekat manik mata istrinya itu.


"Iya," jawab Rania patuh, kemudian beralih menatap Vivian yang berdiri disamping Revin dengan mata berkaca-kaca.


Dengan lemah Rania mendorong wajah suaminya menjauh, lalu tersenyum kecil pada Vivian. Memberi isyarat pada gadis itu untuk mendekat padanya.


Vivian berjalan mendekat kearah brangkar Rania, lalu memeluk tubuh kakak iparnya itu, bersamaan dengan tangisnya yang pecah.


"Maaf ... maafkan aku," ucap Vivian disela-sela tangisnya.


"Tidak apa-apa. Kamu tidak bersalah, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Aku baik-baik saja," ucap Rania, menatap lekat wajah adik iparnya itu, lalu menyeka air mata dipipi Vivian.


Rania terdiam sejenak, saat sesi pelukan antara dirinya dan Vivian selesai. Ia sedikit menunduk menatap perut ratanya, menoleh perlahan kearah Revan yang masih setia berdiri disamping brangkarnya.


"Dia kuat, sama seperti kamu," ucap Revan, yang menandakan jika anak mereka baik-baik saja.

__ADS_1


Rania menangis haru mendengar hal itu, ia fikir akan kehilangan bayinya.


"Sudah, jangan menangis. Beristirahatlah, atau kamu ingin makan sesuatu? Minum susu atau air putih?" Tanya Revan, yang hanya mendapat gelengan kepala dari Rania.


"Aku ingin beristirahat sebentar." Ucap Rania, lalu mengenggam pergelangan tangan suaminya.


"Jangan lakukan apapun, aku tidak ingin hal buruk terjadi lagi," ucap Rania pelan, kemudian memejamkan matanya untuk tidur.


Jantung Revan berdetak dua kali lebih cepat mendengar ucapan Rania, lalu menoleh kearah Revin yang duduk disofa samping kedua orang tuanya.


Revin menghembuskan nafasnya saat tatapan matanya dan sang kakak bertemu. Meski ia ingin sekali mencari orang itu sampai ketemu, tapi melihat kakaknya yang melarangnya untuk melakukan hal itu. Maka dengan berat hati ia akan mencoba melupakan masalah tersebut.


'Sialan! Sejauh manapun kau bersembunyi, suatu saat nanti pasti aku akan menemukanmu. Jika bukan diriku, maka keturunan keluarga Li yang akan menemukanmu,' batin Revin, dengan mengepalkan tangannya.


***


Pukul 7 malam.


Revan tengah menyuapi Rania, sedang Arian terlihat terdiam sejenak dan menghembuskan nafas pelan.


Revan menghentikan tangannya yang menyuapi istrinya bubur, sedang Revin menghentikan tangannya yang memainkan ponsel pintarnya. Ana mengenggam erat tangan suaminya, menguatkan suaminya itu.


"Tadi pagi ... Daddy menerima telfon dari Negara S, kakek Daenji ... sakit parah," ucap Arian, menundukkan kepalanya berusaha menahan air matanya.


Revan dan Revin terkejut mendengar ucapan dari ayah mereka itu, waktu seolah berhenti sejenak.


Ana mengusap punggung suaminya itu, memeluk erat dari samping. Ia tahu, jika keadaan suaminya saat ini begitu lemah. Meski tidak terlalu akur dengan kakeknya itu, tetap saja Arian merasa terpukul mendengar kabar tersebut. Bahkan Rafael dan Carlson sudah ada di Negara S, di kediaman Daenji bersama dengan Houyang.


"Dia mengatakan, ingin bertemu dengan kalian sebelum menutup matanya. Tapi melihat keadaan Rania sekarang, biar mommy dan Daddy yang pergi. Kalian tetap disini," ucap Arian berusaha menahan sesak didadanya.


"Aku ikut, dad." Sahut Revin yang kini bangkit dari duduknya.


Arian menatap putra keduanya itu, lalu menatap kearah Revan yang menunduk disamping Rania.


"Kalian pergilah, aku akan menjaga Rania disini. Setelah sampai disana, lakukan panggilan video agar grandpa bisa melihat aku dan Rania juga," ucap Revan, meski sebenarnya ia ingin menemui kakeknya buyutnya itu secara langsung. Tapi keadaan benar-benar tidak memungkinkan baginya.

__ADS_1


Kenapa? Kenapa semua hal tak diinginkan malah terjadi secara bersamaan.


"Baiklah, kami akan berangkat besok. Maaf karena harus meninggalkan kalian berdua," ucap Arian, mendapat gelengan kepala dari putranya.


"Tidak apa-apa, Dad." Jawab Revan, memaksa senyum kecil dibibirnya.


***


Esoknya.


Pukul 10 pagi.


Revan memapah tubuh Rania keluar dari kamar mandi, lalu mengendong tubuh istrinya itu untuk naik ke atas brangkar.


"Seandainya saja hal itu tidak terjadi. Mungkin kita bisa pergi bersama dengan Daddy pagi tadi," ucap Rania lirih dengan wajah sedihnya.


Revan menyentuh pipi istrinya itu, lalu tersenyum kecil.


"Jangan berkata seperti itu, aku tidak suka mendengarnya," ucap Revan.


Tiba-tiba ponselnya berdering, dengan cepat Revan meraih benda pipih diatas meja samping brangkar Rania, lalu mengangkat telfon itu.


"Brother, segera ambil laptop."


Revan memutuskan panggilan sepihak, lalu berlari mengambil laptop diatas meja didepan sofa, membawanya mendekat kearah brangkar Rania.


Revan membuka laptopnya, melakukan panggilan video pada adiknya itu. Revan dan Rania terdiam melihat pria paruh baya yang begitu lemah terbaring diatas tempat tidur pada layar laptopnya.


"Grandpa," panggil Revan lirih, dan terlihat Daenji tersenyum lemah dengan bibir pucatnya.


Revan menatap semua orang yang terlihat pada layar laptopnya, ada Reana yang telah terisak disamping Daenji, dan Houyang yang berdiri disamping Reana.


Hanya Revin yang tidak ada dilayar laptopnya, yang menandakan jika pria itu yang tengah memegang laptop saat ini.


"Akhirnya ... aku bisa melihatmu," ucap Daenji dengan suara lirih dan senyum kecil yang tak pernah pudar dibibir pucatnya.

__ADS_1


"Aku ... sangat senang mendengar kabar bahagia itu dari Arian. Selamat ya, Rania dan Revan." ucap Daenji dengan senyum bahagia dibibirnya. Semua orang yang mendengar hal itu menutup mulut mereka dengan tangan, berusaha menahan tangis yang ingin keluar dari bibir mereka. Sedang Reana sudah mulai terisak keras sambil menggenggam erat tangan kakeknya itu.


__ADS_2