
Kenta terbangun dari tidurnya dengan nafas yang memburu dan keringat di tubuhnya.
"Hanya mimpi…ya…itu hanya mimpi…" Kenta menyentuh keningnya yang berdenyut. Berharap bahwa mimpi yang dialaminya hanyalah sebuah kecemasannya akhir-akhir ini.
Kenta bangun dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Ia tidak tahu jam berapa ia bangun sekarang. Setelah selesai dengan urusannya di kamar mandi, Kenta keluar dari kamar mandi dan mencari ponselnya.
Setelah membuka ponselnya, banyak pesan masuk dari para bodyguard ayahnya yang ia perintahkan.
Flashback On
"Ada apa datang kemarin, Ken? Tidak biasanya kau menghampiri ruang kerja ayah." Ayah Kenta bangun dari kursi kebesarannya dan memilih duduk di sofa untuk meladeni anak laki-laki satu-satunya.
Kenta yang melihat ayahnya menuju ke sofa pun mengikuti langkah ayahnya.
"Apa Kenta boleh meminjam beberapa bodyguard ayah?" Tanpa berbasa-basi Kenta langsung menjelaskan alasan kedatangannya.
"Untuk apa?" Ayah Kenta sudah tahu bahwa anaknya ingin meminta bantuan padanya, karena tanpa diketahui Kenta selama ini ayahnya selalu mengawasi Kenta dari jarak jauh.
__ADS_1
"Untuk mencari sahabat Ken."
"Ayah pikir itu bukanlah alasan yang kuat." Ayah Kenta sengaja ingin mengujinya.
"Lalu apa yang harus Ken lakukan agar ayah mengizinkan Ken meminjam beberapa bodyguard?" Dan Kenta pun menyadari hal itu.
"Pertama, seberapa pentingnya dia untukmu sampai kamu berani memilih untuk meminjam beberapa bodyguard untuk mencari sahabatmu itu. Kedua, kenapa tidak kau cari sendiri saja dengan kemampuanmu? Dan terakhir, apa keuntungan ayah jika ayah menyetujuinya?" Ayah Kenta mulai mengangkat kakinya dan menyenderkan tubuhnya sambil menyilang tangannya di dada.
Kenta berusaha agar ia benar-benar bisa mendapatkan izin ayahnya untuk mencari Nara. "Aku akan mendapatkan izin ayah bagaimanapun caranya." Teguh Kenta dalam hati.
'Informasi apa yang sudah kalian dapatkan?' Kenta mengetik pesan kepada beberapa bodyguard yang ia suruh.
'Target berada di rumah sakit dan sedang mengalami masa kritis tuan muda.' Jawaban dari salah satu bodyguard itu sukses membuat Kenta melebarkan matanya dan tanpa sengaja menjatuhkan ponselnya.
Hari masih menunjukkan pukul 2 malam dan Kenta yang mendapatkn berita buruk tentang Nara langsung bersiap pergi ke lokasi rumah sakit yang diberitahukan oleh bodyguard ayahnya.
"Mau kemana malam-malam begini Ken?! Kau tidak lihat sekarang jam berapa?!" Sejujurnya ayah Kenta baru saja mau pergi ke kamar untuk tidur setelah selesai melaksanakan sholat Sunnah, namun karena mendengar suara langkah kaki yang cepat di dalam rumahnya ia memilih untuk pergi mencari tahu asal-usul suara itu.
__ADS_1
"Nara kritis yah!" Kenta yang saat itu tidak bisa berpikir jernih tanpa sengaja berteriak kepada ayahnya dan langsung pergi keluar rumah.
Ayah Nara yang masih terkejut pun hanya mematung melihat kepergian anak lelakinya. Suara yang Kenta hasilkan membuat seisi rumah bangun dan langsung menuju ruang tamu. Mereka sangat prihatin terhadap tuan mudanya yang begitu meng-khawatirkan sahabatnya. Ya, para pelayan mengenal baik siapa yang disebut Kenta. Karena saat kerja kelompok, Nara yang saat itu tersesat di dapur malah memilih untuk membantu pelayan untuk membawa makanan untuk tamu teman-teman Kenta.
Saat itulah ayah, ibu, dan adiknya Kenta memilih untuk menghampiri Kenta. Mereka tahu betul bagaimana perasaan Kenta saat ini, dan tahu betul apa yang akan Kenta lakukan saat mendengar berita itu.
*****
Beberapa tahun yang lalu.
"Apa sebegitu pentingnya kah arti persahabatan? Sampai membuatmu berubah seperti sekarang ini. Jika benar begitu…aku berharap bahwa aku tidak akan pernah punya sahabat suatu saat nanti." Harapan seorang bocah kecil berumur 7 tahun itu terdengar begitu memilukan di telinga kedua orang tuanya yang tidak sengaja mendengar.
Ibu dari bocah itu menghampirinya yang sedang duduk di kursi piano. "Tidak semua persahabatan seperti itu sayang…kamu salah jika karena persahabatan bisa membuat seseorang berubah. Mereka hanya butuh waktu untuk menerima hal itu. Bukan berarti mereka menyerah untuk berjuang." Ibu dari bocah lelaki itu memeluknya yang sudah mulai menitikkan air mata.
"Aku merindukan dirinya yang dulu bu…aku sangat merindukannya…kembalikan ia yang dulu…!" Bocah lelaki itu menangis sekencang-kencangnya di pelukan ibunya.
"Ia akan kembali seperti dirinya yang dulu sayang…pasti. Pasti ia akan kembali."
__ADS_1