
Bel sekolah telah berbunyi tanda sekolah akan dimulai. Dan seperti biasa di hari Senin akan diadakannya upacara bersama semua para siswa-siswi dan guru-guru sekolah tersebut. Nara yang masih belum mendapatkan satu teman pun berjalan sendirian dengan gontai ke arah lapangan tempat akan diadakannya upacara.
"Kelasku yang mana Ya Allah…" Nara memperhatikan semua barisan di lapangan, tetapi ia tidak tahu dimana barisan kelasnya.
"Hei!" seorang perempuan menepuk bahu Nara dari belakang yang membuat Nara tersentak dan langsung menoleh ke arah belakangnya.
"Y-ya…? A-ada yang bisa kubantu…?" gagap Nara.
"Sedang apa kamu disini? Kenapa tidak ikut berbaris?" perempuan tersebut bertanya.
"A-aku gak tahu dimana aku harus berbaris…aku juga tidak tahu kelasku yang mana…" jawab Nara sambil menundukkan pandangannya. Nara merasa sangat gugup saat berhadapan dengan orang baru, dan reaksi itu sudah menjadi reaksi biasa.
"Kamu kelas berapa?" perempuan itu bertanya kembali.
__ADS_1
"Kelas 8 C…" Nara masih tetap menundukkan pandangannya.
"Berarti kita sekelas! Ayo ikuti aku! Tidak perlu gugup, aku gak gigit kok." perempuan itu mengedipkan satu matanya kepada Nara sambil menarik tangan Nara mengikuti dirinya.
Saat Nara dan perempuan itu sudah berbaris di kelasnya perempuan itu kembali bertanya.
"Ngomong-ngomong aku tidak pernah melihatmu sebelumnya, atau kamu itu murid baru? Oh iya, perkenalkan namaku Neva Anindita" Neva mengulurkan tangannya kepada Nara. Nara yang melihat tangan Neva tidak langsung menjabatnya dan malah menatap lama tangan itu, setelah beberapa saat akhirnya Nara memberanikan diri untuk menjabat tangan Neva.
"Tidak perlu takut Nara, relaks saja" Neva menjawab sambil tersenyum simpul kepada Nara. Nara yang melihat hal tersebut ikut menarik bibirnya untuk tersenyum.
"Ya…terima kasih Neva, sungguh…" Nara lagi-lagi tersenyum membuat Neva merasa bahwa senyum Nara sangatlah indah. Bukan maksudnya Neva jatuh hati, hanya rasanya ia merasa bahwa senyum Nara itu terlihat sangat berbeda dengan senyum orang-orang yang dikenalnya. Seperti senyum yang menandakan sangat ikhlas dan bahagia?
Lamunan Neva buyar dengan suara mic yang dinyalakan oleh para guru pertanda upacara akan segera dimulai. Neva dan Nara masih berjabat tangan dan hal itu tak luput dari pandangan Gaza.
__ADS_1
"Hei hei, kalian ngapain jabatan tangan? Astagfirullah jangan-jangan…" sebelum Gaza menyelesaikan ucapannya Neva langsung menendang kaki Gaza dengan belakang kakinya yang beralaskan sepatu.
"Aw aw aw! Nev! Kotor celana gue heh!" gaduh Gaza dengan suara bisikan agar tidak terdengar murid lain.
"Rasain! Siapa suruh mikir yang enggak-enggak! Orang cuman lagi kenalan malah pikirannya kesana!" cibir Neva. Saat Neva menendang kaki Gaza saat itu juga Neva melepaskan jabatan tangannya dengan Nara secara pelan.
Nara yang melihat perdebatan di antara keduanya hanya bisa diam, Nara takut kalau dia salah bicara sedikit saja ia bisa terkena semprotnya juga.
"Gue kan cuman bercanda Nev! Kasar amat si jadi cewek, ntar gak ada yang suka nangess!" goda Gaza sambil mengelus-elus celananya yang kotor terkena tendangan sepatu Neva.
Neva tidak menjawab, ia hanya menatap Gaza dengan pandangan horrornya dan itu sukses membuat Gaza langsung bungkam lalu memilih untuk memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Masalah nih…" bisik Gaza dalam hati.
__ADS_1